Robot The Humans

Robot The Humans
Kehilangan Jejak


__ADS_3

3 Tahun Kemudian...


" Jika kita ingin memperbaiki sesuatu. Kita harus memperbaiki dengan perasaan yang sangat dalam... dalam... dalam... dan menuju hati yang sangat dalam... agar kita tak membuat perbuatan yang fatal dalam melakukan hal itu untuk menjadikan kehidupan kita, menjadi seseorang yang baik dan benar layaknya manusia... atau manusia robot <\= dalam hatiΒ  ". Kata sang profesor kepada seluruh muridnya tentang ilmu pengetahuan, ia baru saja telah di terima sebagai guru swasta di sekolah menengah pertama. Sedangkan siswa siswi hanya terdiam mendengar penjelasan dari sang profesor, karena tak mengerti apa yang di maksudnya.


Sebelum memberi penjelasan di hadapan para siswa.


" K.... k... K'Vin! ". Teriak Dey khawatir karena ia melihat sang kakak berbaring di tempat tidurnya dengan tempo yang sangat lama.


" Dey... ". Panggil sang ayah yang melihatnya menangis.


" Sini nak... ayah bilangin ke kamu, kak Vin tidak apa-apa. Dia hanya sakit... besok dia akan sempurna dari sebelumnya, ya... ". Mengelus kepala Dey.


Dey hanya menundukkan kepalanya. Dia berharap bisa cepat bermain bersama dengan sang kakaknya itu. Karena 2 tahun berlalu sang kakak hanya berbaring dan memejamkan matanya, di atas kasur.


Kini pertumbuhan pada diri Dey telah, meningkat 2 kali lipat yang harusnya 5 tahun tapi kini ia berumur 10 tahun. Peningkatan pada robot satu ini sangatlah luar dugaan.


Ketika Dey terdiam, dia hanya merenggutkan dahinya dan sang ayah meninggalkan pergi untuk mengajar sebagai guru di sekolah barunya untuk mengajar.


---


Di Sekolah sang profesor mengajar

__ADS_1


Waktu istirahatnya pun tiba. Sang profesor keluar dari gerbang sekolah, ia bermaksud untuk mengganjal perutnya dengan camilan di warung depan sekolah.


Tapi dari kejauhan ia malah melihat seseorang yang seperti tak asing lagi baginya.


*Dari Kejauhan


" Farn! Farn! Tunggu ibu! ". Teriak ibu itu yang mengejar-ngejar sang anak lelakinya yang sedang mengerutkan dahinya.


Seperti pernah melihatnya. Batin sang profesor melihat sang ibu itu dari kejauhan.


" Apaan sih! Anda bisa gak sih, gak ganggu kehidupan dunia saya ini? Asal anda tau saja ya, saya ini bukan boneka robot... SAYA INI MANUSIA YANG PUNYA HARGA DIRI ! Jangan sampai harga diri saya menghilang karena anda! ". Bentak anak itu sambil menunjuk-nunjuk ke sang ibunya.


" Anda tau apa yang saya inginkan? yang saya inginkan hanya seorang ayah. Satu saja yang saya inginkan... bila ingin anda saya masih dipelukkan anda. Saya tak akan membantahmu seperti ini karena memang ayah itu tak pernah bersalah, ayah hanya ingin anda menghargai saya, ayah ingin saya menjadi orang sukses. Jadi, Apa salahnya kalau saya ingin melakukan hal itu? Tidak ada salahnya kan? ". Omong panjangnya sambil bernada keras pada sang ibundanya.


Dari kejauhan itu menjadi perhatian masyarakat sekitar bahkan sang profesor. Dengan ucapan-ucapan itu sang profesor berpikir bahwa kehidupan di dunia manusia ini tidak baik di lihat dengan makhluk yang juga bisa merasakan perasaan itu, dan ia merasa menyesal telah menghidupkan kedua manusia robot yang nanti akan merasakan ke kejaman dunia. Karena manusia dengan manusia saja bisa saling tak menghargai satu sama lain, apa jadinya bila nanti manusia biasa bersama manusia buatan (Robot).


" Farn! Farn! ". Ibu itu berlari mengejar sang anaknya.


Setelah melihat kejadian itu, sang profesor terus merenungkan pikirannya hingga di perjalanan pulang.


Apa... ku hancurkan saja manusia manusia ciptaanku, ya? tapi mereka sudah bertahun-tahun hidup bersamaku. Nanti siapa yang akan menemaniku... Tapi apa boleh buat, itu yang harus kulakukan daripada semua kehidupan mereka menjadi mengacaukan dunia. Apalagi dunia mengetahui tentang mereka yang bukan manusia. Renungan sang profesor di dalam mobil Taksi pesanannya.

__ADS_1


Tak lama ia telah sampai di rumahnya, ia bersiap untuk membujuk mereka agar semua rencananya berhasil. Tapi... semuanya gagal, ketika ia memasuki rumahnya itu.


" Dey! Vin! ". Panik sang profesor mencari manusia robot itu yang tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sekalipun.


Ya ampun.. Apa ini maksudnya? Apa aku harus tetap menghidupkan mereka? Apa maksud dari semua ini... apa aku harus membesarkan mereka layaknya manusia? tapi... Bagaimana jika mereka tau? kalau mereka itu bukanlah manusia... . Cemas sang profesor.


Sang profesor tak tinggal diam begitu saja, ia langsung membawa peralatan di tasnya untuk membongkar mereka sambil mencari keluar rumahnya, tapi alhasil dia tidak menemukan kedua manusia robotnya.


Continued


_______________________________________


Like 🌟


Comen πŸ’¬


Share πŸ“€


and be a


Royal Readers πŸ‘€

__ADS_1


__ADS_2