
Dey dan Vin sudah menjalankan setengah semester di sekolah barunya.
Vin telah resmi memasuki geng Edzard dan kawan-kawannya, ia sudah terkenal akan ke kerenannya, tegas, bahkan gaya warna rambutnya, lalu Dey juga sudah semakin populer di sekolahnya, akan wajah imutnya, dan sifat penyabar, ramah, bahkan cerdik / pintar maupun kebijakannya.
Setiap Jum'at dan sabtu hanya setengah jam saja mereka sekolah, dari jam 07.00 pagi sampai jam 12.00 siang. Sabtu tidak belajar seperti biasanya, melainkan mereka mengikuti kegiatan pramuka dan mengikuti ekstrakurikuler. Vin ikut ekskul Basket dan Dey ikut ekskul Voly, mereka jago dengan olahraga mereka masing-masing.
Hari minggu pun tiba. Alarm pagi tak di matikan sama sekali, jarum jam menunjukkan pukul 07.00 pagi. Hanya Vindey Agoston yang telah terbangun.
Huuhh syukurlah... akhirnya selesai juga. Senang Agoston, ia telah sukses dalam menyelesaikan hutangnya pada Dey.
***Manusia Robot ketiga
.....Perempuan***
" Akan aku pakaikan dulu bajunya ". Tata Agoston memakaikan baju manusia robot ciptaan kedua, yang sebelumnya dibuat di tanggal, bulan, dan tahun yang sama.
" Baik. Jessie Nazalia Raina... Umur 10 tahun... anak yatim piatu. Adopsi dia, belum lama ini ". Omong Agoston sendiri ke manusia robot yang masih belum di aktifkan.
Batraimu sudah, seluruh memori sudah, termasuk memori cadangan, perkembangan otomatis sudah. Batin Agoston mengecek fisik dan kementalan manusia robotnya.
" Oke. Naza waktunya, kamu hidup sekarang ". Agoston mengaktifkan tombol on pada laboratorium-nya seketika manusia robot perempuan itu hidup perlahan.
Kali ini aku membuatnya dengan bongkaran mainan robot yang tak terpakai. Ku rangkai menjadi manusia robot perempuan sepertimu (Jessie), semoga kamu robot penengah dari kedua manusia robot aku sebelumnya. Kali ini rambutmu aku cat berwarna secerah matahari (kuning). Senyum Agoston memberi senyumannya ke Jessie Nazalia Raina.
---
" Ya ampun... anak-anakku lelah ya, seminggu sekolah. Pakai sepeda pula ". Ledek sang professor di depan meja makan. Yang sudah tertata rapi makanan dan minuman dengan menu-menu yang berbeda.
" AYAH!? ". Kaget Dey sambil melotot. Dengan wajah yang lembam karena kebanyakan tidur.
" Si-siapa yang menyiapkan semua ini!! ". Kaget Vin juga sambil melotot walau masih terasa kantuknya.
" Teman Dey ". Jawab ayah tersenyum.
" Ha!? ". Kaget Dey dan Vin.
" Iya. Besok dia akan menjadi anak baru, disekolahmu Dey. Beri tempat duduk bersama denganmu ya, Dey ". Senyum sang ayah sambil menyantap makanan.
" Siapa yah? ". Penasaran Dey.
" Nanti kamu juga tahu. Pokoknya dia akan jadi teman barumu sekaligus adikmu Vin ". Omong sang ayah menengok ke Vin.
" Adikku? Haha, ayah yakin? ". Vin mengangkat alis saking tak percaya.
" Iya Vin. Dia anak yang ayah adopsi, karena Dey ingin punya teman perempuan jadi... ayah coba carikan untukmu ". Senyum sang ayah lagi sambil mengelus Dey yang ada di sampingnya.
__ADS_1
" Jadi! teman yang perempuan yah? Asiikk aku punya teman yang perempuan dari ayah... ". Senang Dey jingkrak-jingkrak.
" Iya... ". Jawab sang ayah ikut senang melihat Dey. Vin hanya terdiam, ia malah duduk di kursi meja makan, dan sibuk menyantap satu persatu menu makanan dan minuman.
" Ayahh... besok aku mau bawa tas ini ya ". Teriak Dey berlari, dan menunjukkan ke sang ayah, tas Unicron berwarna merah muda.
" Iya iya boleh. Oh, iya. Kalian mau jalan-jalan? ayah ingin ngajak kalian sekalian refresing otak dan tubuh, karena kalian sudah cape sekolah kan? ". Tawar sang ayah.
" Tidak. Aku sama sekali tidak cape sekolah, aku senang ayah... aku senang, aku bisa punya teman banyak kayak Jessi, Alex, Karen, Varel, Bobby, Kevin, dan Acha. Hehe ". Cerita Dey ke sang ayah dan sang kakaknya.
Usai makan mereka segera berberes, lalu mandi, dan berangkat untuk jalan-jalan ke kota. Ya, walau kota adalah tempat mereka tinggal. Salah satunya perumahan elite yang ada di ujung kota.
---
Mereka berjalan melewati toko-toko di pinggir kota. Terlihat banyak toko mewah, elegan, maupun modern ada di kota itu. Bahkan banyak makanan cepat saji di cafe-cafe di pinggir kota tersebut. Jalanan disana juga sudah rapi, sejak lama mereka tinggal disana.
" Ayah! kita mau kemana? ". Tanya Dey sedikit mendongak ke sang ayah.
" Kemana ya?... Eee kalian pasti sudah bosan sama mainan kalian, kan? ". Ledek sang ayah yang memang memahami kedua robotnya.
" Iya yahh! aku mauu! ". Semangat Vin dan Dey.
Mereka langsung cepat memahami sang ayah yang ingin mengajak mereka ke toko mainan langganannya, Dey.
Mereka berjalan sambil mencari toko mainan.
" Ayah mau itu... ". Tunjuk Dey ketika hendak memasuki toko mainan, ia melihat di jendela kaca di toko itu terlihat mainan robot berdiri gagah menghadap jalanan.
" Kamu gak mau mobilan? ". Tanya sang ayah sedikit heran.
Tumben Dey... tertarik mainan lainnya. Batin sang professor.
" Aku mau itu ayah. Karena dia mau berteman denganku. Aku ingin jadi robot, robot itu bilang kalau kita itu sama ". Jelas Dey mengusap jendela kaca yang terpajang mainan robot berisi batrai.
Sang professor terdiam kaget. Ia menatap aneh ke sang anak dan mainan tersebut.
Ini yang membuatku membenci mainan robot bahkan boneka yang sudah berisi batrai, dan aliran listrik. Ini yang bisa mempengaruhi mereka, yang bisa merasakan kesamaannya ini sangat berbahaya kalau mereka tahu bahwa memang diri mereka adalah robot, sama seperti mainan itu. Kalian adalah anak mainanku, bukan anak manusia sungguhan. Lamun sang professor.
" AYAH!! Ayo! ". Panggil Dey menyadarkan sang ayah.
" Ayo yah. Kita masuk ". Ajak Vin juga menyadarkan sang ayah untuk segera membeli mainan baru.
" Oh iya! Ayo! ". Kaget sang ayah langsung tersenyum dan mengajak kedua manusia robotnya.
Mereka pun masuk ke toko mainan tersebut, para SPG di dalam pada menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
---
" Halo... Selamat datang kalian... Wahh sudah lama tidak berjumpa... ". Sambut mereka semua termasuk manajer yang ada di toko itu.
" Hai Dey ". Sapa manajer toko mainan langganan Dey. Rio namanya, ia sudah dianggap kakak Dey sendiri, selain Vin.
" K'Rio... ". Dey berlari ke pelukan Rio.
" Uuncch... gemas ". Gereget Rio mencubit pipi kenyalnya Dey.
" Auw ". Keluh Dey.
" K... aku mau beli mainan ". Kata Dey memberitahu ke Rio sebelum ditanya.
" Eih... kak Rio belom nanya. Tapi yasudah, kamu mau beli apa? mobilan? ". Tanya ramah Rio sembari senyuman. Dey menjawab dengan menggelengkan kepala dengan singkat.
" Lalu apa? ". Tanya Rio heran.
" Itu ". Tunjuk Dey dengan meluruskan pandangannya ke arah punggung kanannya.
Mata Rio mengikuti arah jari telunjuk Dey ke arah lemari kaca besar yang berada di samping pintu masuk keluar tokonya itu.
" Ha? ". Heran Rio langsung menatap Dey dengan bingung.
Ternyata jari telunjuk Dey tepat menunjuk ke arah mainan yang menghadap ke jalan raya di luarnya.
Mainan itu adalah Mainan Robot yang ia inginkan daritadi.
" Robot? kamu sekarang suka robot? kenapa? ". Heran Rio sekaligus bingung.
Ck... Dasar anak kecil... cepat sekali bosannya. Cengir Rio menatap Dey.
" Iya k... aku sangaaattt suka... robot itu. Dan robot itu bilang, kita ini sama, kita bisa berteman ". Senyum Dey lebar sambil memamerkan gigi putihnya yang bersinar.
" Kalian sama? berteman? ". Tanya Rio tak mengerti.
**Continued
_______________________________________
Like 🌟,
Comen 💬,
Share 📤,
__ADS_1
and be a
Royal Readers 👀**