
**Peringatan!!!
Please, jangan skip chapter ini. Cerita bukan diulang melainkan ada selipan cerita di dalamnya**.
_______________________________________
'Bruk '.
" HAI!! ". Sewot Vin ke seorang gadis yang terlihat lebih muda darinya.
" Ma-maaf... ". Kata gadis itu yang habis menjatuhkan barang-barang dari rak, lalu membereskan semua barang-barangnya dengan sangat tergesa-gesa. Ketika gadis itu langsung berdiri dan hendak pergi.
" Itu barangnya masih tersisa ". Omong pelan Vin melihat sisa barang yang tadi ditabrak oleh gadis berambut panjang itu.
Tapi, karena suara Vin pelan gadis itu tak mendengarnya. Akhirnya Vin secara reflek malah menjadi menghalangnya pergi dengan cara.
" WOOYY!! ". Menarik rambut panjang teriyap gadis itu.
Berteriak sambil menjengutnya.
" Auuww ". Gadis itu langsung terjatuh karena tak seimbang dengan badannya yang lebih kurus dan kecil dibanding Vin.
Tapi Vin tidak ada maksud untuk membuat gadis itu terjatuh.
" Ya ampun. Gitu doang jatoh ". Langsung menyodorkan tangan kanannya.
Lagi-lagi secara refleks, ia ingin cepat menolongnya.
" Iisshh hiks hiks hiks ".
Tapi... gadis itu malah menangis
" Lho! Hai, kenapa? aku gak bermaksud menjatuhkanmu ". Vin langsung jongkok dan memegang pundaknya.
Ya ampunn sesakit apa sih ditarik rambutnya! Lebay deh! Batin Vin melihat gadis itu yang berada dihadapannya.
" Gue... gak mau... gue gak mau... ". Tangisnya tanpa Vin tahu sebabnya.
" Apanya yang gak mau? ". Bingung Vin langsung the to point dan melepaskan sentuhan tangannya dari pundak gadis itu.
" Gak mau... gak mau sekolahh ". Teriak isakan gadis itu.
" Ha? S-sekolah? memang kenapa? ". Kaget Vin langsung duduk di depan gadis itu yang masih meringkuk.
" Gue... benci sekolahh... gue BENCIii... sekolah!!! ". Teriak gadis itu ke wajah Vin.
" MEMANG KENAPA!! ". Kesal Vin lagi dan langsung mendorong gadis itu sampai terjungkal.
Lagi, lagi dan lagi Vin hanya reflek.
" Huaaaa ππ hiks hiks ". Gadis itu langsung menangis makin kejer.
" Eehhh...sorry sorry... ". Reflek Vin langsung cepat menolongnya lagi.
" Lagian... kamu... Eh! lo... ngapain sih pake teriak ke muka gue ". Omong Vin sambil membantu gadis itu untuk berdiri.
" Maaf... karena gue lagi kesel sama orang tua gue... jadi gue cepet marah, apalagi elo yang tiba-tiba narik rambut gue dan terus lo malah dorong gue... ". Gadis itu berhenti menangis dan malah bercuhat kepada Vin.
" Ooohhh. Ewwmmm... tapi kalo boleh tau, emang lo kenapa gak mau sekolah? Kenapa lo benci sekolahh? ". Penasaran Vin.
Rasa penasaran Vin tak tertandingi.
" Itu... karenaa gue selalu dibully disana... ". Gadis itu langsung menundukkan kepalanya dan wajahnya langsung tertutup dengan rambut panjangnya.
Buli!! Apa itu buli? Bingung Vin.
" Hiii ". Nyiyir Vin.
" Kenapa lo jijik sama anak yang suka di bully?! ". Gadis itu sedikit mendongak dan wajahnya masih tertutup dengan rambut panjang hitamnya hanya terlihat mata kanan dan hidungnya.
" Bukan... gue... serem ngeliat lo, habis gue kayak pernah lihat lo di televisiπΊ tapi... yang di televisiπΊ banyak darahnya, kalo lo gak ". Lagi-lagi dengan sangat jujur Vin tak segan mengatakan hal yang sebenarnya.
" Hooo... ". Gadis itu mengangguk-anggukan kepala dan
__ADS_1
" Hi hi hiiiiiii.... ". Ia malah sengaja menakuti Vin dengan rambut panjangnya itu.
Gadis itu sengaja mendekati Vin agar Vin berteriak, tapi itu membuatnya gagal. Ia malah di tempeleng dengan Vin.
" Kassaarr ". Marahnya.
" Salah sendiri nakutin ". Ketua Vin.
" Hooo oohhh.... lo takut yaaa?? ". Ledek gadis itu langsung mendekat lagi dengan Vin, Vin pun kabur dari gadis itu agar ia tidak melakukan hal kasar padanya.
" Hihihiiii.... mau kemana kauuu ". Ledek gadis itu yang tetap tak menyerah agar membuat Vin takut.
---
Adduuhh gue ngumpet mana ya?. Panik Vin mencari-cari tempat persembunyian.
" Itu! ". Katanya bahagia, ia melihat dus besar.
Baru kaki terangkat. Malah tiba-tiba ada suara Dey yang menegur Vin dengan nada yang cukup keras.
" K'VIN!! ngapain? mau masuk ke situ... K'VIN!! ayo bantu aku pilih tas, sepatu, kaos kaki, emmm... baju seragam, gesper dan,,, ".
" Diam! ". Vin memotong omongan Dey yang nantinya akan semakin panjang.
" K... tapi,,, ". Omongan Dey terputus lagi.
" Diammm... ". Vin melototi Dey dengan tatapan sangat tajam. Vin pun masuk ke dalam dus besarnya.
" K... tapi... ayah menyuruhku buat ajak K'Vin memilih barang yang K'Vin inginkan. Kan K'Vin pingin sekolahh ". Omong Dey dengan polos.
Sekolah?? Dia... sekolah dibuli Apa itu buli?Β Ketika batin Vin berjalan atau berpikir tiba-tiba menglihatannya malah berubah menjadi Mbah Google.
Di penjelasan itu menjelaskan
~ Penindasan atau bullying adalah Suatu tindakan sewenang-wenang antara pihak lebih kuat kepada pihak yang lebih lemah. Tindakan tersebut berupa kekerasan, ancaman, atau paksaan yang bersifat memaksa dan mengintimidasi.
Perilaku penindasan atau bully sudah muncul di usia sekolah ~
Oohh Penindasan atau Bullying. Paham paham. Vin mengangguk-anggukan kepala.
Ternyata...
" Haii, gondrong. Sudahlah gue cape nihh ". Gadis itu langsung menguncir rambutnya.
Gadis itu malah menyerah.
---
" Gak... gak mauu!! ". Teriak Vin keluar dari dalam dus.
" Gak mau? Gak mau pilih perlengkapan sekolah? ". Bingung Dey.
" Hehh... ". Sebal Vin.
" Aku gak mau sekolah! ". Marah Vin.
" K' Vinnn... tapi bukankah K'Vin yang mau sekolah? ". Bingung Dey.
Dey sungguh memaksa, tapi aku tahu dia sebenarnya juga tidak ingin sekolah hehe. Vin hanya menyengir sedikit.
" Gak... mauu!! Gak mau sekolah!! ". Teriak Vin sengaja.
Ketika aku dipertanyakan seperti itu, memang rasanya diriku ini sangat tidak menyukai dirinya, rasanya benci dengan dirinya (Dey). Tapi, karena aku sadar kalau dia adalah adikku. Jadi... kupendamkan rasa dendamku ini dan aku akan melampiaskannya pada seseorang yang lebih kejam nantinya. Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri, aku tak akan melukai dirinya lagi, aku akan menjaga adikku (Dey). Karena aku sayang dia.
" Memang kenapa? jelaskan sama ayah, kenapa kamu berubah pikiran? ". Memegang pundak Vin untuk menyakinkan nya.
Ayahh... aku masih mencurigaimu, tentang waktu itu, apa kau benar-benar memilih antara kami berdua? Sebanarnya siapa yang aku sayang, lebih sayang aku atau Dey? Batin Vin menatap sang ayah.
" Itu karena,,, ". Pembicaraan Vin terputus.
" Karena gue ingin satu sekolah sama lo gondrong ". Tiba-tiba gadis itu muncul dan menunjukan wajah sebenarnya.
" Hah? ". Vin mengangkat kedua alisnya karena bingung serta kaget.
__ADS_1
Siapa dia? Apa dia anak yang tadi? Kenapa ada wajahnya?
" Memang kamu siapa? ". Tanya sang ayah.
" K' Vin... hebat. K..k... sudah punya teman perempuan, Dey saja belum ". Cengir Dey dan lagi-lagi matanya berbinar-binar bahagia.
Oohh jadi ini, ini yang namanya perempuan ? aku kira perempuan itu makhluk apa, ternyata cuma rambut dan wajahnya saja yang berbeda. Pertanyaanku waktu itu berarti sudah terjawab, thanks ya Dey. Dalam hati Vin melirik ke perempuan itu dan Dey (sang adik).
" Hehe iya aku teman barunya gondrong, namaku Falleysia. Eemm... panggil saja Eysi(dibaca eisi). Oke ". Eysi mengedipkan mata sebelahnya ke Vin.
Ooohhh iya benar. Dia anak yang tadi, rambutnya sudah benar. Buktinya dia memberi kedipan mata padaku, aku tahu itu pasti kode. Tapi... kode apa ya?
" Baiklah. Terserah kamu saja Vin, kamu mau sekolah apa tidak. Ayah hanya mendaftarkan Dey dan teman barumu ini ". Kata sang ayah berpura-pura marah dengan Vin. Tapi Vin tetap menghiraukannya, mereka terdiam dengan cukup lama... lama... alias sangatlah lama.
Mereka saling diam, tidak ada satupun yang mau ambil bicara terlebih dahulu. Waktu semakin berjalan.
π
π
π
π
π
Jarum jam telah menunjukkan pukul lima sore. Mereka terdiam di tempat duduk di samping toko yang berada di dalam pasar tradisional itu. Sudah berjam-jam hanya Vin yang tetap berdiri di dalam toko, tanpa bergerak sekalipun.
" Ayollaaah K'Vin... jangan lama... aku mau sekolah bareng k..k... ". Rengek Dey sambil menghampiri sang kakak, dan memegang tangan kiri Vin sambil menggoyang-goyangkan.
Sekolah gak ya? tapi... aku takut. Kalau aku dan kamu (Dey) dipisahkan nantinya. Apalagi ayah! ayah kan pilih kasih pada kita, Dey. Omong Vin sendiri dalam hati tak berani mengungkapkannya.
" Oohh jadi nama lo Vin. Tapi... kayaknya gue lebih seneng manggil lo gondrong deh, heheπ. Boleh ya?? ". Ledek Eysi yang juga menghampiri sang manusia robot gondrong, Vin.
Aish... ini perempuan, ngapain sih masih disini! bikin makin gak selera dengannya.
Vin hanya tetap terdiam garang dengan menyatukan kedua alisnya, dan ekspresi datarnya itu. Membuat banyak orang takut dengan ekspresi datarnya itu, karena akan membuat wajahnya semakin garang.
" Ya sudah... kalau kamu tidak mau sekolah. Lebih baik yuk Dey, Eysi belanja perlengkapan kalian duluan ". Hela nafas sang ayah telah menyerah, ia juga sedikit melirik ke sang anak yang memiliki ego yang tinggi. Terlihat wajah Vin masih terlihat gengsi kepada mereka.
Heh! Ayah kan memang pilih kasih pada kami! Jadi, terserah ayah. Ayah mau sekolahkan siapa saja, bodo amat! aku sudah tahu yang ayah pikirkan. Ayah ingin mengetesku kan? aku anak memiliki ego atau tidak? Kalau aku lebih memilih untuk menjadi manusia yang memiliki ego yang tinggi, biar banyak manusia lain takut padaku. Batin Vin yang membenci ayahnya sendiri.
" Eysi boleh juga om? Yeeyy asiikkk ". Teriak Eysi yang umurnya tak jauh dari Dey (adik Vin).
Hm. Imut. Diam Vin sedikit menatap Eysi.
" Iya. Tentu ". Senyum sang ayah.
" Yeeyy ayo kamu. Kamu Dey kan? ayo ikut aku, kita belanjaa ". Senang Eysi, ia langsung menarik tangan Dey. Dey pun berlari mengikuti jejak teman kakaknya itu.
Sedangkan sang kakak hanya memberengutkan dahinya. Tetap memilih dirinya untuk terdiam dan cemberut.
Aiish... Dey!!! Kenapa aku gak di ajak sih! Marah Vin dalam hati sambil melihat keduanya bersenang-senang.
Ternyata kamu terlalu gigih, nak. Kamu lebih memilih menjadi anak yang sangat egois sekali... . Batin sang profesor yang masih melirik ke arah robot manusianya itu.
Heh. Dasar! Kenapa lagi dia menatapku? Pasti, dia merencanakan sesuatu. Curiga Vin dalam hati.
---
'Keegoisanmu... hanya dapat menyiksa dirimu saja. Ya, karena... tidak ada seorang pun yang tahu apa isi dalam memorimu dan hatimu itu'. - Eysi
**Continued
_______________________________________
Like π,
Comen π¬,
Share π€,
and be a
__ADS_1
Royal Readers π**