Robot The Humans

Robot The Humans
Salam Kenal


__ADS_3

" Halo semua... salam kenal. Saya Ervino Gazella Rhakaf, saya pindah dari Prance, Perancis. Umur saya 12 tahun ". Kata Vin memperkenalkan diri, tanpa senyuman hanya ada ekspresi datar.


Sebelum Vin ke gedung sekolahnya, ia harus mengikuti sang ayah yang mengantarkan sang adiknya (Dey).


" Ayah. Aku takut... ". Rengek Dey.


" Kenapa takut, nanti kamu juga terbiasa ". Jawab sang ayah sambil mengusapkan tangannya ke pipi Dey yang telah dibasahi air matanya.


Mereka bertiga pun ke kantor SD terlebih dahulu, untuk mengkoordinasikan kelasnya Dey. Dey dan Vin menunggu diluar kantor, sedangkan ayah sedang berdiskusi dengan teman-temannya di dalam kantor.


" Ayah, guru SD dan SMP ya, k...? ". Tanya Dey ke Vin yang hanya memalingkan pandangan pada Dey.


" K'Vin, Kenapa? K'Vin marah padaku? ". Bingung Dey menatap sang kakaknya. Yang hanya menengok ke arah kiri.


" Eemmm ". Vin pun menengok ke kanan dan menatap Dey.


" Kakak... tidak marah padamu ". Omong Vin langsung menatap Dey.


Apa K'Vin masih tidak mau sekolah? aku juga K'Vin... karena aku takut dengan yang lain. Batin Dey sambil menatap sang kakak dengan penuh tanya.


Dey pun tersenyum, sambil menjawab singkat " Oohh ".  Dan menggoyang-goyangkan kakinya yang lebih pendek dari Vin.


" Kenapa kamu tersenyum? ". Tanya Vin sambil melirik sinis ke Dey.


" Karena K'Vin gak marah sama aku ". Cengir Dey bahagia sambil mengeluarkan ekspresi polosnya itu.


" Heh! ". Nyinyir Vin.


" Iya. Aku tidak marah denganmu, tapi... aku benci denganmu ". Ucap Vin jujur, lagi-lagi tanpa harus mengeluarkan ekspresi marah ataupun senang, hanya ada ekspresi datarnya saja.


Dan Dey pun langsung terdiam,  menundukkan kepala. Vin melanjutkan pembicaraannya.


" Aku benci padamu ".


" Hah? K...Vin... ". Goyangan kaki Dey langsung terhenti.


" Aku sangattt benci denganmu sudah lama sekali. Aku menyimpan dendam ini, Dey ". Vin menatap Dey, kali ini ia menatap dengan tatapan tajamnya.


Terlihat Dey terdiam membeku, tak berani menatap sang kakak (Vin).


" Tapi, kamu gak perlu khawatir Dey... kebencian ini tak akan aku lampiaskan ke dirimu, karena kamu telah menungguku selama bertahun-tahun, bahkan kamu menyeretku demi aku hidup kembali, karena dari situ aku tahu kau tak punya rasa dendam padaku. Jadi... aku tetap melindungimu Dey, kamu juga tak perlu takut. Kalau aku marah padamu tak ada harganya, karena kemarahanku padamu tidak seberapa parahnya seperti aku marah pada orang lain nantinya ". Jelas Vin panjang.


Dan senyuman Dey pun kembali muncul. Tak lama, sang profesor  pun keluar dari kantor dan menyambut kedua anak buatannya.


" Aku di kelas mana, ayah? ". Semangat Dey menghampiri sang ayah.


" Kamu kelas 5.B, Dey ". Jawab sang ayah lembut.


Agoston dan Vin pun mengantarkan Dey ke kelasnya, terlihat Dey sangatlah gugup dan tidak percaya diri apalagi ketika ia belum memasuki kelasnya itu, ia merengek minta pulang. Dengan bersyukur, ia masuk dan mendapatkan teman yang ia inginkan yaitu seorang perempuan.


" Kamu disini saja ya, Dey ". Kata gadis kecil itu membereskan tempatnya yang berserakan dengan buku-buku komiknya.

__ADS_1


" I-iya ". Ia pun duduk disebelah kanan perempuan itu.


" Oh, iya. Salam kenal ". Katanya menyodorkan tangannya.


" Ha? I-iya. Baiklah ". Dey menerima salaman teman perempuannya.


" Aku Jessica Verandia, panggil saja Jessi ". Senyumnya yang sangat manis dengan lesung pipi kanannya itu.


" Jessi?? ". Kaget Dey mendengar nama yang pernah ia dengar sebelumnya.


Apa aku pernah mengenalnya? tapi kalau aku mengenalnya, secara otomatis penglihatanku bisa mendektesi dirinya. Apa mungkin karena namanya yang begitu kebetulan? Apa karena aku terlalu kangen dengan Jessie ku itu? Batin Dey sambil menundukkan kepala.


" Hai, Dey. Apa kamu suka komik? ". Tanya Jessi ramah.


" Komik? ".


Apa itu komik? Pikir Dey dan seketika penglihatan dan memorinya pun jalan seperti yang diucapkan sang ayah.


Apa itu Komik?


- Penjelasan Mbah Google -


     'Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. Biasanya, komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks'.


Wahhh... ayah benar. Ayah mempercanggihku. Artinya aku bisa dapat banyak teman! Senang Dey yang merasa kagum.


" Haha, kamu beneran tidak tau komik? ". Menyakinkan Dey. Dey hanya terdiam.


" Tunggu. Jangan bilangin tapi jelaskan ". Jawab Dey terlihat berbeda.


" Kenapa? Kan sama aja ".


" Bedaa bilangin itu sangat terkesan kasar dan tidak baku, lalu kalau jelaskan itu suatu penjelasan yang jelas bahkan panjang, begitu pula akan terkesan lebih lembut dan baku atau formal ". Jelas Dey.


" Wooo aku belom ngerti kayak gituan, lho! Oohh, mungkin kamu raja buku yaa?? jangan-jangan kamu benar-benar kutu buku atau raja buku lagi. Cieee ". Ledeknya sambil mencubit-cubit kecil di bahu kiri Dey.


" Auw auw auw sakitt ".


" Aciee ciee yang raja buku mah bedaa, hehe ". Ledeknya lagi sambil tertawa.


" Wahh siapa itu yang raja buku? ". Tanya teman lainnya.


" Ini si anak barruu ". Comel Jessi yang masih mencubit-cubit Dey.


" Woooww seriuss, kalo gitu coba dong ajarin aku ini ". Kata satu teman lainnya sambil berlari ke arah Dey, dan menunjukan buku matematika pada Dey.


" Aahhh aku gak tau, biar nanti saja aku beritahu, lagipula ibu guru masih didepan ". Nasehat Dey ke temannya.


" Yaaa... yaudah deh ". Lesu Jessi dan temannya. Dey hanya tersenyum melihatnya.


---

__ADS_1


Jam istirahat pun tiba


" Sambil makan yuk, belajarnya ". Senyum anak itu yang membawa buku matematika.


" Iya lebih baik makan. Daripada sakit ". Senyum Jessi.


" Iya. Aku bawa bekal ". Jawab Dey mengeluarkan bekalnya.


" Wow kamu bawa bekal? lauknya apa? ". Tanya Jessi melongok ke bekal Dey yang telah di buka.


" Lauk? ". Dey kebingungan, ia tak mengerti apa itu Lauk.


" Aku bawa lauk telur dong... pakai sambal spaghetti. Lezat lho rasanya... Hehe ". Pamer temannya Jessi, si kacamata (anak lelaki yang membawa buku matematika).


" Wooow enak tuh, berarti rasanya spaghetti dong? ". Tanya Jessi penasaran. Anak lelaki itu pun tersenyum, lalu memberi potongan telur saus spaghetti untuk Jessi.


" Dey mau? ". Tanya si kacamata.


" Hhmm ".


" Yaudah gak usah malu-malu Dey ". Senyum Jessi.


" Aku... tak ada lauknya ternyata ". Jawab Dey malah sedih ketika melihat bekalnya.


" Hahaha kamu Dey... kenapa harus sedih donat juga sudah lezat, apalagi coklat pada donatnya menggoda banget haha, boleh satu ya? atau aku setengahan sama Jessi? ". Kata si kacamata memberi semangat ke Dey.


" Dey... senyum dong... lagian bekal gak harus pakai lauk tau ". Jessi juga memberi semangat ke Dey.


" Gak harus pakai lauk? ". Senyum Dey mulai mengembang lagi.


" Iya gak harus ". Serempak Jessi dan si kacamata.


" Yaudah ini untuk kalian ". Dey langsung membelah donat coklat, lalu memberi sarang satu untuk mereka.


     Di istirahat itu Dey, Jessi, dan si kacamata atau Alex namanya. Mereka pun belajar sambil makan bukan berarti belajar makan ya...


Hehe


**Continued


_______________________________________


Like🌟,


Comen 💬,


Share 📤,


and be a


Royal Readers 👀**

__ADS_1


__ADS_2