
" Dey... anak berumur sepuluh tahun? Setahuku dia harusnya umur lima tahun atau 6 tahun. Tapi... tadi itu aku benar-benar lihat dia punya pertumbuhan yang aneh, dia sangat cepat ".
" Oh, ya? ".
" Hmm, mungkin. Tapi... apa itu cuma perasaanku saja kali ya...? ". Ucap Rio ke Bu Veronica sambil membantu merapikan barang di meja kasir. Bu Veronica adalah pengurus kasir toko mainan itu.
" Tidak Rio. Kamu tidak salah... tapi memang perkembangan tinggi badannya memang berbeda dari yang dulu. Mungkin dulu badannya terlalu pendek jadi terlihat lebih muda dan imut kan. Ya, namanya anak jaman sekarang kalo soal tinggi badan itu sangatlah mudah dan cepat, apalagi di kalangan remaja laki-laki ". Jawab bu Veronica menasihati Rio.
" Ohh iya ya bu, hehe. Oh iya, aku ingin kasih hadiah untuknya dan kakaknya kalau mereka kesini lagi ahh ". Semangat Rio.
" Iya iya terserah kamu. Ketuamu juga mengizinkannya kan, haha ". Tawa pelan ibu Veronica yang separuh baya itu.
---
Hari Senin
" Topinya jangan sampai ketinggalan K' Vin ".
" Ya! ".
' Syut Syut Syut '. Kayuhan sepeda yang begitu cepat.
" Jam berapa Dey! ". Teriak Vin sambil mengayuh sepeda dengan kencang.
" Jam 06.40 K'Vin... Ayo cepat, nanti kita terlambat ".
Panik mereka, hari Senin mereka harus mengikuti upacara. Jika terlambat mereka harus berdiri di tengah lapangan untuk menerima hukumannya.
" K'Vin! Bekal aku ketinggalan... π£ ". Sadar Dey.
" HAH!? Serius!? Tapi ini mau sampai, Dey! ". Jawab Vin antara kesal dan bingung menjadi satu.
Ayah bilang, kalau kami makan tanpa makanan yang sudah di syaratkan oleh ayah, nanti yang ada kami mengalami kejadian yang fatal. Pikir Vin dalam hati.
" K'Vin... apa aku nanti jajan aja ya di kantin? ". Tanya Dey sekenanya.
" JANGAN BODOH!! ". Marah Vin dan langsung mengerem sepedanya.
" Ah! ". Kaget Dey.
" Kamu lari aja Dey! K'Vin nyusul, cepat bawa sepedanya ". Vin menyerahkan sepedanya ke sang adik.
" Tapi... K'Vin bagaimana? nanti K'Vin,,,Β ". Omongan Dey terputus.
" UDAH SANA CEPAT!! ". Bentak Vin.
" Hah! I-iya, tapi K'Vin... sepedanya, pakai K'Vin ". Dey menyodorkan sepeda.
" JANGAN NANTI KAMU TERLAMBAT!! ". Marah Vin sambil melototi Dey adiknya sendiri.
Vin pun berlari meninggalkan sang adik, Dey juga mulai menjauh perlahan.
" Hiks hiks hiks... maafkan aku K'Vin... harusnya aku tak usah bicara kalau aku gak bawa bekel... harusnya kita datang tepat waktu... ". Sesal Dey.
TRINGg... β±β±β±
" Dey ayo! ". Alex menarik tangan Dey, mereka langsung berlari menuju lapangan upacara.
K'Vin... apa K'Vin sudah sampai? Batin Dey Khawatir.
---
" Hei! Cepat kelas tujuh, turun semuanya!! ". Bentak pak Haryanto, wali kelas 7. A kelasnya Vin.
" Oh iya ya pak ". Jawab Edzrad keluar kelas bersama kawan-kawannya.
" Tunggu Ed! ". Panggil pak Haryanto sambil memegang pundak Edzrad.
" Apalagi pak... kami mau turun! ". Sewotnya.
" Mana Vin?! ".
" Heh! Paling terlambat... dia kan lebih bandel dari kami semua, buktinya dengan beraninya dia warnain rambut jadi silver hahaha ". Nyinyir Jim.
" Hei sudah cukup! Kalian ini temannya, kenapa malah mengejeknya!? ". Marah pak Haryanto.
__ADS_1
" Heh! Temen itu harus jahat... Kalo gak jahat bukan temen namanya bwahwhabwha ππ ". Ejek Ebra, lalu ditertawai mereka semua.
Pak Haryanto menegaskan mereka berempat, untuk berbicara lebih sopan lagi. Setelah itu mereka tak diizinkan mengikuti upacara, melainkan berdiri di samping para guru dan petugas upacara.
---
Β Β Β Semua siswa disiapkan oleh pemimpin upacara dan guru yang bertugas.
" Siap grak! ". Teriak tegas pak Wendy.Β
" Lencang depan grak! Siap grak! ". Lanjutnya sambil mengatur barisan satu persatu.
" Mundur tiga langkah, istirahat ditempat grak! ".
" Satu Dua Tiga ". Hitung keras seluruh murid SD yang dipimpin oleh pak Wendy. Guru ketua PBB SD.
Ketika seluruh barisan telah rapi. Upacara pun segera dimulai. MC mulai mengambil bicara, mixcrofon telah terpasang di pipi kirinya dan siap di nyalakan.
" Test test ". Ia mengecek terlebih dahulu sebelum mulai berbicara.
Petugas Upacara untuk hari senin ini di tugaskan oleh siswa/siswi SMA kelas 2.D jurusan IPA.
" Bismillah. Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih Senin tanggal xx bulan xxxx tahun 2014 akan segera dimulai ". Suara lantang petugas MC upacara.
Vin belum juga datang dan itu membuat sang adik menjadi khawatir, gelisah dan terus merasa bersalah.
Perlahan pandangannya mulai buram karena telah tergenangi air mata yang sudah mulai terjatuh.
" Dey, kamu kenapa? ". Tegur Alex menenangkan Dey.
" K'Vin belum datang... ". Lirih Dey mengelap air matanya dengan lengan putihnya.
Alex yang melihatnya, dia langsung memberikan usapan ke badan Dey sembari senyuman hangat, lalu berkata.
" Sabar Dey, K'Vin segera datang ". Hiburnya.
" Hm ". Angguk Dey dengan cepat dan sedikit tersenyum tipis.
Upacara terus berjalan dari pengibaran bendera, mengheningkan cipta, pembacaan teks undang-undang, pembacaan janji siswa, pembacaan teks pancasila, amanat, pembacaan doa, laporan pemimpin upacara ke pembina bahwa upacara telah selesai, penghormatan terakhir ke pemimpin upacara, dan terakhir pengumuman-pengumuman.
" Ehem! ". Ia mulai berbicara di depan mixcrofon yang telah berdiri tegak dihadapannya.
" Baik, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ". Salamnya.
" Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh ". Jawab salam siswa/siswi kepada pak Joko.
" Sebenarnya saya disini, tidak ingin bicara apa-apa tapi... ".
" Kalo dia gak mau bicara apa-apa kenapa maju? ". Bisik Alex ke telinga Dey.
" Entah... ". Jawab Dey mengangkat kedua pundaknya.
" Tapi lebih baik di dengarkanlah, siapa tahu saja ini penting ". Jawab Dey lanjut dan juga membisikkan ke telinga Alex.
"... Tapi ini saya sudah berapa kali mengingatkan bahwa yang terlambat di hari senin pas upacara adalah perbuatan yang sangat tidak terpuji. Jadi lebih baik... kalian yang berdiri paling belakang, coba maju ke depan lalu berdiri sejajar dengan temanmu yang juga tidak pernah memperlakukan saya seperti gurunya (Edzard, dkk) ". Perintah pak Joko dengan tegas sambil menunjuk ke siswa laki-laki yang pada terlambat.
" K'Vin! ". Kaget Dey dari kejauhan melihat sang kakak yang berjalan menuju ke depan bersama siswa lainnya.
Ini baru kali pertamanya Vin terlambat dan dihukum dihadapan seluruh siswa/siswi dan para guru.
Pak Joko mengoceh, memarahi siswa yang terlambat hingga semua siswa menunduk takut, tapi hanya Vin yang tetap berani menegakkan kepalanya menghadap ke depan dan tanpa ada rasa bersalah sekalipun. Dan menatap tajam ke pak Joko.
" VIN!! Apa-apaan kamu! Gak ada sopan-sopannya sekali kamu menatap saya seperti itu! ". Bentak pak Joko ketika berada di hadapan Vin.
" Saya? Bapak juga! ". Balas Vin.
" Hei! Berani-beraninya kamu! Menjawab pembicaraan saya! Mau saya beri hukuman berat! ". Bentak pak Joko.
" Sebentar, osis tolong ambilkan gunting di kantor ". Dengan menahan marah pak Joko mengecilkan nada suaranya, dan langsung meminta osis mengambil gunting.
" Saya tak akan segan memotong rambutmu yang sudah sebahu lebih bahkan bewarna itu! ". Lanjutnya lagi.
Vin hanya terdiam dengan tatapannya yang masih terlihat tajam dan sinis.
Tak lama osis kembali dengan gunting yang sudah berada di tangannya, lalu diserahkan ke pak Joko. " Ini pak guntingnya ". Serah osis kepada pak Joko. Dan pak Joko mulai mengayunkan tangannya ke arah rambut Vin.
__ADS_1
' TAP '.
" Jangan seenaknya bapak! ". Tiba-tiba Vin dengan beraninya menahan tangan pak Joko yang sudah mendekati rambutnya.
" Kau tahu... perbuatan kau akan menjadi hukuman pidana, karena kau tidak akan tahu jika rambut ini dipotong dengan begitu saja, sebab itu akan menjadi pengalaman terburuk disekolah ini! ". Tatap Vin dengan alis tebal yang telah menyatu, kerutan dahi pun juga sudah mengerut.
" Hei! Jangan kurang ajar kamu ya! Maksud kamu apa, HAH! ". Marah pak Joko, tangannya telah di genggam erat oleh Vin dengan sangat kuat sehingga sulit untuk dilepaskan.
' BRAK '.Β Dengan kesal Vin mendorongnya dengan sangat kuat.
' GREP '. Kerah pak Joko ditarik kencang oleh Vin.
" Hei!Β Vin, STOP!Β ". Relai para guru dan siswa/siswi. Mereka melindungi keduanya.
" LEPAS! ". Marah Vin.
" Awas saja kalian! Siapapun yang berani memotong rambut ini, gue juga tak akan segan menyiksanya! ". Ancam Vin. Lalu mengambil tasnya dan langsung pergi menjauhi dari keramaian di lapangan itu.
Semua hanya terdiam kaget, tak ada yang berani mendekati Vin termasuk Edzard dan kawan-kawannya hanya tersenyum miring mengejeknya.
' Tep Tep Tep '.
" K'VIN! ".
' BRUK '.
Hanya seorang saja yang berani mendekatinya bahkan memeluknya dengan erat. Sang adiklah yang memeluk erat ke sang kakak.
" DEY! ". Sontak Vin.
" K'Vin kenapa... Kenapa K'Vin semarah itu? ". Melas Dey.
" Dey, dengarkan aku. Kamu harus ingat dan tahu! kita disini tidak bisa seenaknya berteman, mengenali banyak orang dan menganggap mereka semua adalah orang yang baik. Itu tidak Dey! tidak sama sekali! tidak ada manusia yang sesempurna itu, sebaik itu, tidak sama sekali ". Tegas Vin.
" Siapapun yang telah akrab dengan kita, aku pastikan orang itu akan menganggap kita hanya boneka robotnya saja! ". Yakin Vin.
" Kau mengerti maksudku? ". Tanya Vin.
Dey perlahan melepaskan pelukannya. Menatap jelas ke sang kakak dengan mata yang berkaca-kaca.
" K'Vin melemparnya (pak Joko) sangat jauh... ". Melas Dey lagi.
" Melempar? Tidak. Aku hanya mendorongnya, kok ". Tatap Vin bingung.
" Tidak K'Vin. Aku dan teman-teman melihat jelas kalau K'Vin melempar pak Joko sangat jauh. Alex temanku saja sampai bilang ' Dey apa kakakmu punya kekuatan super ya? ' lalu... Alex menjauh dariku karena dia takut kalau aku juga punya kekuatan super yang menyeramkan itu. Dan bukan cuman Alex yang menjauhiku tapi temang lainnya juga menjauhiku termasuk Jessi, ia sampai berteriak ' HOAahh jangan pernah mendekatiku! ' maka nanti aku tak tahu harus duduk bareng siapa ". Jujur Dey menceritakan semuanya ke sang kakak.
" Heh, kamu dijauhi karenaku? ". Tatap Vin kesal.
" Aku juga gak tahu... ". Tangis Dey menundukkan kepalanya. Air matanya sudah sangat deras hingga berjatuhan ke lengannya.
' BRUK '. Kali ini Vin mendorong sang adik tapi ke arah tubuhnya. Lalu memeluk sang adik.
" Aku sudah pernah bilang padamu, Dey. Aku punya rasa dendam padamu, tapi dendam itu akan ku lampiaskan ke orang yang lebih kejam dan keji nantinya. Aku juga yakin dari sekitar kehidupan kita pasti ada yang pembohong dan rasa yang sama seperti yang aku rasakan, orang itulah yang harus aku hancurkan, aku siksa, di dunia ini! Oh, iya kamu sudah dua kali mengkhawatirkan aku seperti ini. Terimakasih Dey, kamu sudah membuatku bisa tersenyum. Dan senyumku ini hanya dapat dilihat dengan orang yang dapat mengerti tentangku dan dapat mengkhawatirkanku lebih dari apapun ". Jelas Vin sembari senyuman hangat disertai tatapan terimakasih ke sang adik.
" Terimakasih juga K'Vin. Sudah belain aku demi aku membawa bekal ". Balas Dey dengan senyuman lebarnya. Dan mengambil kotak makannya yang menyangkut di tali tasnya Vin.
" Hm ". Senyum Vin melepaskan pelukan mereka.
---
' Ingat! balas dendam takkan mengubah apapun yang sudah terjadi '. - **Jessie
Continued
_______________________________________
Like π,
Comen π¬,
Share π€,
and be a
Royal Readers π**
__ADS_1