
Menjelang dini hari kondisi Atma mulai membaik bahkan demam nya pun menghilang, ditengah rasa kantuk yang sangat berat, aku mencoba untuk menyandarkan kepalaku di samping Atma agar saat aku terbangun aku bisa melihat wajahnya.. Hembusan angin pagi terasa sejuk mengenai kulit tubuh, sinar matahari pagi terlihat mulai terasa meyilaukan untuk pagi yang masih terbilang dini untuk membuka mata.. Belaian tangan hangat yang mengusap kepalaku terasa begitu sangat menyayangiku hingga aku pun tidak mau sedetik pun kehilangan moment ini dalam hidupku, sepertinya aku sudah terbiasa hidup pada masa ini mengingat kebiasaan lamaku yang menghilang pada masa yang berbeda.
Tak sadar menolehkan kepalaku dengan mata yang masih tertutup, kembali terasa bibir hangatnya yang mencium lembut padaku seolah memintaku untuk membuka mataku.. Belaian tangannya kembali menyentuh rambutku dan terasa genggaman tangannya yang menggenggam erat tanganku menandakan dia sudah terbangun dan terduduk di sebelahku.. Hembusan nafas lega dan mencoba menahan tangis dengan berpura pura masih tertidur ternyata dapat terbaca olehnya yang tertawa lepas melihat kelakuanku di pagi hari ini..
“ Kemuning, apa matamu masih sulit untuk terbuka? Perlu kubantu? Sepertinya Kerutan di dahimu semakin terlihat banyak”
Ucap Atma yang menyindir dengan tawa di wajahnya
“ Hentikan, kau membuatku merasa malu..”
Kemuning yang mencoba menutup wajah dengan kedua lengannya
“ Kau sudah seperti istriku, menjagaku semalaman bukan? Kalau begitu, aku mengharapkan kerja samamu sampai tutup usia nanti.”
“ APA MAKSUDMU?! BERBICARALAH DENGAN BENAR, SEOLAH KAU AKAN SELALU TERLUKA! ATMA TARIK KEMBALI UCAPANMU ITU”
Kemuning yang sedikit kesal langsung berdiri di hadapan Atma
“ Kau jelas tahu Resiko dari pekerjaanku bukan? Aku pun mungkin harus menyiapkan batinku jika Gusti Ratu memintamu untuk menjalankan tugas istana”
Atma menarik tubuh kemuning dan bersandar di bahunya
“ Penjarah itu tahu Tasara ada padaku. Tapi aku masih tidak bisa mengingat, dimana aku menyembunyikannya atau isi dari Tasara itu”
“ Jika mereka sampai bertindak seperti ini. Itu berarti menyangkut tentang rencana serta perjanjian siapa saja yang terlibat di dalamnya. Kemuning berjanjilah padaku, saat aku tidak bisa berada di sampingmu, kau jangan bertindak gegabah”
Atma yang melingkarkan tangannya pada kemuning dan menatap serius padanya
“ MOHON AMPUN GUSTI RADEN MAS DAN RADEN RARA, GUSTI RADEN PANJI MEMANGGIL RADEN UNTUK SEGERA MENUJU BALE DELOT”
Ucap salah satu penjaga di depan kamar kemuning
“ Apa ayahku ada disana juga?”
Ucap Atma kepada penjaga itu
“ Betul Raden Mas.. Gusti Mahapatih Danudara juga sedang menunggu Raden..”
Pandangan mataku dan Atma bertemu menandakan ada yang tidak beres kembali di sini.. Dengan segera aku kembali membantu Atma untuk mengoleskan obat terakhir pada punggungnya lalu membantu memakaikan jubah Bhattara dan kedua sarung pedang ksatria. Dengan berjalan tegap dan gagah, terlihat Atma masih mencoba menahan rasa sakit ditubuhnya.. Aku yang tidak dapat melakukan apa pun dan merasa bersalah hanya terdiam membantunya saat merasa hilang keseimbangan.. Menyadari rasa bersalahku padanya, dengan nafas yang tersenggah di wajahnya yang tampan, Atma menadahkan wajahku untuk melihatnya dan memberikan senyuman seolah mengatakan aku tidak apa apa, tenanglah.. Atma menarik nafas panjang dan dengan menggenggam tanganku berdiri tegap dan kami pun berjalan menuju Bale Delot..
Sesampainya disana, bukan hanya Ayahanda dan Mahapatih yang berada disana, melainkan Caka serta 2 orang Menteri Abdi Kasim dari istana yang sengaja menyempatkan waktunya untuk datang dengan memberikan informasi setelah menginterogasi 2 penjarah hutan tengah yang dijadikan sandera demi mengetahui siapa dan apa maksud dari semua yang terjadi. Atma yang mendengar kabar informasi yang di berikan langsung terkejut dengan berdiri seolah mencoba melakukan perlawanan mengingat salah satu orang penting yang melakukan tindakan penggelapan dibelakang istana tidak lain adalah kawan seperjuangannya dengan jabatan yang sama dengan Atma saat berada di medan perang..
“ BERITA APA INI?! Raksa Sadiwa adalah Prajurit Pilihan terbaik sama sepertiku! Tidak mungkin dia memilih bekerja bersama Guindra!”
Atma yang terlihat kesal menunjuk kepada Abdi Kasim istana yang terdiam tak berkata
“ Atma, Tenanglah! Sepertinya Raksa termakan hasutan Guindra dengan memutar balikkan fakta atas kematian ayahnya yang saat itu berperang bersamaku.”
Mahapatih yang terlihat begitu gusar melipat kedua tangannya kearah wajahnya
“ Tapi kita semua tahu bahwa ayahnya meninggal dengan sangat terhormat. Bagaimana mungkin Raksa salah paham dalam hal itu?”
Ucap Atma yang terlihat begitu kebingungan kepada ayahnya
“ Atma, saat itu para pemberontak menyerang secara tiba tiba disaat Mahapatih di panggil pulang menuju ibukota untuk menghadap Gusti Agung Ratu dan Raja, jadi ada kabar tersebar bahwa Mahapatih Danudara meninggalkan Ayah Raksa seorang diri untuk berperang..”
Ucap patih Andaru yang mencoba menjelaskan kepada Atma
“ Ditengah perjalanan, saat mendengr itu aku dan pasukanku langsung segera kembali dan berhasil melumpuhkan para pemberontak itu.. Namun, Ayah Raksa menghembuskan nafas terakhirnya”
Mahapatih Danudara yang terlihat begitu sedih dengan menundukkan kepalanya
“ Aku akan mencari Raksa dan menjelaskan semua ini padanya, lalu..”
“ BHATTARA RAKSA SADIWA SAAT INI DIANGGAP SEBAGAI PENGKHIANAT KERAJAAN BERSAMA LAKSAMANA GIUNDRA. SIAPA PUN YANG MENJALIN KOMUNIKASI DENGAN MEREKA, MAKA AKAN DIANGGAP SEBAI PEMBERONTAK KEPADA ISTANA.”
Ucap Abdi Kasim istana dengan lantang berbicara berdiri tegap
“ Apa kau bilang?”
__ADS_1
Atma yang terlihat marah namun mencoba menjaga emosinya
“ Serta jangan lupa jamuan makan siang di istana siang ini. Gusti Agung Ratu dan Raja menunggu kedatangan semua untuk berada di istana siang ini. Kami mohon pamit.”
Ucap Kasim Istana yang menundukkan tubuhnya dan berlalu pergi
Tangan yang mengepal dengan wajah terdiam penuh amarah begitu tersirat pada Atma saat ini. Bagaimana tidak, seorang kawan yang sudah seperti saudaranya sendiri dianggap sebagai seorang pemberontak setelah semua pendidikan, latihan keras, dan perjuangan yang mereka berdua lakukan. Aku pun sangat mengerti kegelisahan Atma saat ini hingga tidak berani untuk mengganggu dan mengatakan banyak hal padanya. Bahkan baik Ayahanda dan Mahapatih sekaligus ayahnya sendiri pun lebih memilih untuk terdiam dan meninggalkan Atma yang sedang dalam perasaan gelisah dan penuh amarah..
Namun aku pun sangat yakin melihat expresi lain dari Atma yang dia berikan saat ini bahwa sebagai Abdi istana yang sudah berada dibawah sumpah, tidak mungkin baginya untuk melawan titah serta Atma pun menyadari akan tindakan egois dan berbahaya yang dilakukan Raksa untuk memberikan konsekuensi dari pilihan yang diambil dalam hidupnya.. Atma hanya merasa ingin menolongnya dari jurang gelap yang mengelabuhinya hingga terjebak masuk di dalamnya, namun Atma tidak diberikan kesempatan untuk melakukan apa yang dia maksudkan..
Mereka semua menepuk pelan pundakku dan memberikan pandangan agar aku segera bersiap siap menuju istana dan membiarkan Atma seorang diri terlebih dahulu untuk mendinginkan hati dan pikirannya.. Aku pun sangat mengerti akan hal itu karenanya aku mengikuti mereka dan menunggu Atma di gerbang utama pintu masuk hingga Atma yang berjalan keluar sesuai keinginannya.. Menunggu adalah hal yang membosankan karena penuh ketidak pastian dan rasa sesak di dada yang terus bertanya tanya pada jawaban yang belum tentu sesuai dengan harapan kita.. Namun, begitu aku melihat Atma yang berjalan kearahku dan terlihat senyuman sedih diwajahnya, dengan menggenggam tangannya kami pun bersama sama menuju istana untuk jamuan makan siang..
“ Kudengar keberanian Prabu Stira pada kejadian di kediamanmu.. Meski pun ikut merasa prihatin akan musibah yang kau dan keluargamu alami, namun aku begitu bangga padanya..”
Ucap Gusti Ratu kepada Patih Andaru dengan menunjuk kearah kemuning yang tertunduk
“ Benar Gusti Agung Ratu.. Hamba merasa terhormat akal pengakuan ini..”
Ucap Patih Andaru yang menundukkan kepalanya
“ Beberapa waktu lalu Prabu Stira melakukan kesalahan hingga berujung dipermalukan. Namun sekarang dengan cepat dia memutar semua itu dan semua kebanggaan ada untuknya..”
“ Gusti Agung terlalu memuji hamba.. Hamba hanya menjalankan tugas..”
Kemuning yang menundukkan tubuhnya bersikap menghormati Gusti Ratu
“ Katakan, bagaimana kondisi Ksatria Bhattara terbaikku, Atma Maheswara saat ini?”
Ucap Gusti Agung Raja kepada Atma
“ Hamba pun sudah membaik berkat pertolongan yang diberikan pada hamba..”
Atma yang juga ikut membungkukkan tubuhnya kepada Gusti Raja
“ Syukurlah jika begitu.. Aku berharap kita semua dalam keadaan sehat dan tidak kekurangan apa pun. Terlepas dari semua perselisihan yang terjadi, semoaga hubungan ini erat terjaga.”
Ucap Gusti Agung Ratu dengan Anggun kepada semua tamu jamuan makan siang
Ucap semua tamu undangan yang menundukkan kepalanya kepada Gusti Raja dan Ratu
“ Baiklah, baiklah.. Silahkan menikmati hidangan pada siang hari ini..”
. . . . . . . . . . . . . . . .
Jamuan makan siang pun berakhir dengan pertunjukan musik dan tari yang dilakukan oleh Diajeng dan juga Pureswari bersama juru seni lainnya yang terlihat masih tertunduk malu jika secara tidak sengaja bertatapan mata denganku. Melihat mereka seperti itu, setidaknya dapat membuatku tersenyum dengan tingkah laku mereka yang seperti salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa.. Pureswari begitu gemulai saat menari dan memainkan alat musik dengan alunan nada yang indah, terlihat kebahagiaan di wajahnya saat ini begitu melihat Caka yang masuk ke dalam Bale utama jamuan makan siang.. Atma pun tersenyum padanya, seolah berkata syukurlah kau baik baik saja. Semua pun menjadi tersenyum satu sama lain dalam jamuan makan siang ini..
Dalam perjalanan pulang, Atma yang bertemu dengan salah satu Abdinya menghentikan laju kudanya dan berbicara dengannya, sedangkan aku memutuskan untuk segera kembali menuju Bale kediaman mencoba untuk Tasara yang aku sembunyikan di dalam kamarku. Namun begitu penjaga mengambil kudaku dan aku berjalan masuk ke dalam, teralih pada sesosok anak lelaki kecil yang seolah mengawasi kediaman kami dari kejauhan dengan begitu serius hingga tidak menyadari kehadiranku yang melihatnya.. Tersenyum melihat tingkah anak itu, aku berjalan mendekatinya namun masih saja anak itu tidak berguming karena terlalu fokus melihat kearah berlawanan denganku..
“ Adik kecil, apa yang sedang kau lihat? Apa kau mencari sesuatu disana?”
Ucap kemuning yang melipat kedua kakinya agar sejajar dengan anak itu dan menunjuk ke arah kediamannya
“ Aku.. Aku... MAAFKAN HAMBA!!”
Ucap anak kecil yang tiba tiba menutup matanya dan dengan tangan yang bergetar mengacungkan setongkat kayu kearah kemuning mencoba untuk memukulnya
“ Ap.. apa..??”
Kemuning yang terkejut dengan melihat kearah tongkat tanpa persiapan
“ APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN? IKUT AKU.”
Atma menangkis tongkat itu dan melemparnya, lalu menarik tangan anak kecil itu
“ Tunggu Atma.. ATMA TUNGGU!”
Kemuning yang berdiri dan menarik tangan Atma
“ Ada apa kemuning? Anak ini mencoba menyerangmu.”
__ADS_1
“ Atma, jika dia memang berniat melukaiku, dia tidak mungkin menutup matanya.. Anak ini hanya ketakutan saja..”
“ Kau tidak merasa ada yang aneh dengan anak ini? Kemuning kau terlalu polos! Aku akan membawa anak ini ke Thawa Jana (Penjara khusus pasukan Bhattara).”
Tali yang mengikat pada tanagn kecil dan langsung mendudukkan anak itu diatas kuda brata, Atma pun berlalu pergi.. Mencoba untuk menghentikan Atma yang masih terbawa emosi sangat tidak mungkin kulakukan saat ini, akhirnya aku memangil kembali penjaga untuk membawakan kembali kudaku dan dengan segera aku menyusul Atma ke Thawa Jana. Suatu tempat dimana para ksatria yang sudah memiliki pangkat berkumpul bahkan mereka diberikan hak langsung oleh Gusti Agung Ratu dan Raja untuk melakukan interogasi kepada para penjahat tanpa harus melalui Menteri Kasim Istana terlebih dahulu. Terlihat dari kejauhan anak itu begitu ketakutan namun mencoba untuk menyembunyikannya hingga sampailah kami di Thawa Jana..
Seperti dugaanku pandangan mereka saat ini begitu terheran heran, karena berdasarkan aturan seorang wanita tidak di perbolehkan untuk masuk ke dalam sini kecuali keadaan darurat atau terpaksa.. Merasa saat ini adalah saat yang seperti itu, aku langsung mengikuti Atma masuk ke dalam dan seolah semakin menjadi jadi mereka semua seperti menyindir kami seolah kami suami istri yang sedang bertengkar karena kenakalan anaknya, terlebih pangkat Atma disini merupakan pimpinan dari mereka semua yang sangat di segani.
“ Apa kau tahu saat ini kau berada dimana?”
Ucap Atma yang baru memasukkan anak kecil itu ke dalam penjara
“ Jika kau tidak ingin aku di sini, maka lepaskan anak itu biar aku yang mengurusnya..”
Kemuning yang menarik tangan Atma dan menatapnya tajam
“ Gusti Laksamana Atma, kau tidak akan pernah menang jika melawan seorang istri.. AAHAHHAA”
“ Betul. Aku saat di medan perang dapat dengan mudah mengatasi kesulitan, tapi begitu berhadapan dengan istriku entah mengapa sulit sekali..”
Ucap kedua buah anak Atma dengan jahil tertawa
“ Hentikan, kami belum menikah. Dan kau, pulanglah”
Atma yang melewati kemuning berjalan menuju ruangannya
“ Apa kau mau bertaruh siapa yang menang?”
“ Tidak perlu.. Laksamana pasti kalah dengan Prabu Stira yang cantik itu.. Laksamana sangat mencintainya kan..”
Ucap anak buah lainnya yang ikut tertawa jahil melihat Atma dan Kemuning
Memang aku tahu, saat ini aku sangat tidak pantas dengan berprilaku seperti ini.. Tapi, aku tidak bisa membiarkan Atma melakukan interogasi pada anak kecil yang masih di bawah umur hanya karena mencoba memukulku! Tidak tahukah Atma sebagaimana kerasnya pukulan anak usia 6 tahun yang menutup matanya karena tidak mempunyai pilihan lain untuk membela dirinya meski pun ketakutan? Atma benar benar sungguh keterlaluan jika melakukan interogasi pada anak ini..
“ Masih belum mau pergi? Kemuning, haruskah ku ikat dirimu dan menaruh dalam kereta kuda?”
Ucap Atma yang berbalik menatap kemuning di ruangannya
“ Silahkan, cobalah! Aku tahu kau sangat mampu melakukan itu padaku, silahkan saja.. Tapi, kau akan melihat akibat dari perbuatanmu nanti.”
Kemuning membalas tatapan Atma dengan penuh serius
Terdengar sangat jelas saat ini olehku mereka semua yang sedang berbicara dan seolah melakukan taruhan akan siapa yang akan menang di antara kami. Atma pun juga terlihat menyadari kelakuan para anak buahnya yang jahil dan mencoba untuk menggodanya seolah itu adalah moment langka yang harus mereka abadikan. Namun Atma tiba tiba menarik tubuhku dan dengan paksa seolah ingin menciumku namun terhenti dengan jarak yang begitu dekat hingga dapat terasa olehku hembusan nafasnya dihadapan mereka semua yang sedang melihat ke arah kami.. Merasa malu, aku menendang kakinya dan memukul tubuhnya menggunakan sapu yang berada di ujung ruangannya..
“ Atma, kau begitu MENYEBALKAN!! Kau sengaja melakukannya bukan?”
Kemuning yang mendorong Atma dan masih memegang sapu ditangannya mengarah kepada Atma
“ Kemuning, tenanglah dan taruh kembali sapu itu”
Ucap Atma yang menepakkan kedua tangannya seolah memohon kepada Kemuning
#HYAAAHHHH
#BHUAAAKK #AARRGGHHHH
Suara kemuning yang berteriak memukul Atma kembali, menggunakan sapu di tangannya
“ AHAHAHAHA... Bagus Raden Rara, pukul kembali..”
“ Sudah ku bilang, Laksamana tidak akan menang melawannya.. AHAHAHA”
Dengan tertawanya mereka semua saat ini terlihat seperti kami melakukan suatu lawakan yang sangat lucu dihadapan mereka semua.. Bahkan Atma pun terlihat tersenyum saat menundukkan wajahnya saat ini. Menyebalkan sekali pria ini..
“ Lihat saja! Aku akan kembali untuk mengambil anak itu!”
Kemuning yang mengancam dengan mengacungkan sapu kepada Atma lalu menjatuhkannya dan langsung berlari pergi
“ Wahai Laksamana, kalian belum menikah tapi sudah seperti ini.. Bagaimana jika menikah nanti? Bersiaplah Laksamana.. Kau akan menjadi sepertiku.. AAHAHAHA”
__ADS_1
Ucap seorang anak buah Atma dan akhirnya mereka semua tertawa bersama sama