
“ SIAL! BERANI SEKALI ANAKMU MENOLAK PERMOHONANKU?”
Guindra yang marah kepada Andaru dengan melempar gelas berisi air padanya
“ Ba.. Baguslah. Anakku tidak akan tertipu olehmu!”
Ucap Andaru yang sudah mulai terlihat lemah dengan kedua tangan yang terikat
“ Andai aku bisa langsung menghabisi nyawamu saat ini juga, pasti sudah ku lakukan itu!”
Guindra yang semakin kesal dengan mengarahkan pedang kepada Andaru
“ APA YANG KAU LAKUKAN?! TURUNKAN PEDANG ITU!”
Ucap Raksa yang memasuki ruangan
“ Ciihh! Muak sekali aku dengan semua ini! Apa kau tahu, Prabu Stira itu merasa dia yang memegang kendali saat ini.”
Guindra dengan kesal melempar pedangnya
“ Tapi melihatnya terdiam seperti itu, sepertinya Kemuning belum memberitahukan mereka apa isi dari Tasara itu, atau dia sendiri pun belum membacanya? Intinya, kita masih bisa melancarkan rencana kita sebelumnya.”
Ucap Raksa yang menunjuk Andaru dan menatap Guindra
“ Kau benar. Apa rencanamu dengan membiarkan para penduduk desa yang melarikan diri itu akan benar benar menguntungkan kita?”
Ucap Guindra kepada Raksa
“ Jika mau, sudah aku bunuh semua warga itu saat melewati hutan. Tapi ternyata Diajeng memiliki pemikiran lain yang sempurna dengan mengenalkan Pureswari kepada mereka. Aku yakin saat ini Kemuning pun sudah mengetahui siapa warga desa itu dan mencoba untuk membantu adiknya yang akan di anggap sebagai Pemberontak istana..”
Ucap Raksa yang terduduk diatas meja dengan senyuman penuh kelicikan
“ APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA ANAK ANAKKU?! TERHINALAH KALIAN!”
#BHUAAKKK
“ DIAM!! INI SEMUA TIDAK AKAN TERJADI JIKA KAU MENYERAHKAN LAHAN PERKEBUNAN DAN JUGA TENTARA TAMBAHAN YANG KUMINTA!”
Guindra memukul Andaru yang mencoba melakukan perlawanan menggunakan tongkat kayu
“ Kau bisa membunuhnya jika seperti itu. Aku tidak akan membiarkanmu merusak rencana kita kembali. Ingat itu!.”
Raksa yang merasa kesal berdiri dihadapan Guindra dan mengambil tongkat dengan paksa dan berlalu pergi meninggalkan ruangan
. . . . . . . . . . .
Sayap patahan sudah tidak bisa lagi terdengar, himbauan hati yang menjerit perih luruh tak menjurus pada jawaban yang masih belum terdapat jawaban pasti. Mencari jalan keluar seorang diri ternyata hanya akan membuatku semakin merasa tertekan tak beralasan. Namun selama itu perjuangan yang mengharuskanku untuk berkorban, aku pikir itu layak diperjuangkan demi kembalinya orang terkasih. Mencoba berjalan di keheningan malam kembali aku tersadar akan nyawa yang tidak dapat dipastikan apakah akan berakhir atau terus bernafas..
Langkah kaki kuda brataku tiba tiba terhenti disaat melihat 4 ekor kuda mencurigakan yang terhenti pada belokan jalan setapak menuju tempat para wanita dan anak anak itu berada. Mencoba untuk acuh tak acuh ternyata tidak berhasil untukku disaat hati ini selalu melakukan perlawanan batin yang membuat pilihan menjadi lebih sulit bagiku antara Ayahanda atau mereka yang sama sekali belum ku ketahui apa dan maksud dari kedatangan mereka semua sebenarnya. Tentu hati pun menyadari akan jebakan yang akan menimpaku jika aku bersikeras untuk terus memilih jalan ini.. Namun, bagaimana ini? Kenapa aku merasa harus berbelok arah menuju mereka?
“ Mau apa kalian?”
Ucap Kemuning pada 4 pria bertopeng
“ Ciihh.. Ternyata tidak ada yang bisa kami tutupi darimu! Kulihat kau seorang diri? Kemana kekasihmu yang tampan dan gagah itu?”
Ucap salah satu Penjarah Hutan dengan nada menyindir
“ Untuk menghabisi kalian? Percayalah, hanya dengan 2 Busur panahku.. Kalian tidak akan bisa bernafas lagi. Mau mencobanya?”
“ Dimana kau sembunyikan mereka? Jangan berpura pura tidak tahu!”
Ucap seorang Penjarah lainnya dengan mengarahkan ujung pedang pada kemuning
“ Ternyata kalian sudah menyadari mereka di sini, tapi masih belum tahu tempat mereka bersembunyi. Benar?”
Kemuning mencoba bersikap tenang dengan memegang anak panah di tangannya
“ KURANG AJAR! BERANI SEKALI KAU ME..”
#SHUUTTT #SHUUTTT #SHUUTT
Suara anak panah yang dilepaskan kemuning pada Penjarah Hutan
__ADS_1
Jika melayangkan jiwa bisa dengan mudah dilakukan pada masa ini, begitu juga dengan nyawaku.. Maka dengan lantang akan kuterima tantangan ini dengan mereka yang kehilangan nafasnya terlebih dahulu. Terbujur kaku dengan darah yang berurai dari tubuh mereka, membuat mata ini tidak mampu untuk melihatnya namun aku masih harus mencabut anak panah yang menancap pada tubuh mereka agar tidak ada yang tahu bahwa akulah yang menyerang mereka kali ini.. Kembali berjalan dan menunggangi kuda brata, aku kembali ke kediamanku dan mencoba untuk meminum segelas air hanya untuk sekedar menenangkanku.
Terduduk dengan tegap hingga matahari terbit, tidak sama sekali kucoba untuk memejamkan mata ini dengan Busur Panah yang selalu siap terarah pada ujung Pintu dan juga jendela kamarku. Terdengar para Penjaga dan Dayang yang sudah mulai sibuk dengan aktivitasnya hingga akhirnya aku dapat menurunkan Busur panah ini dan tanpa sadar tidur terlentang dengan nafas lega, bersyukur bahwa hingga detik ini aku masih bisa bernafas.. Pintu kembali terketuk dengan kegiatan pagi yang biasa kulakukan untuk membersihkan diriku..
Begitu sampai pada kolam pemandian, terlihat Ibunda dan Pureswari sedang membersihkan diri dan berbicara dengan sangat serius seolah mereka siapa akan apa yang akan terjadi pada mereka dalam waktu terdekat ini.. Tangan mengepal dan mencoba untuk tersenyum kulakukan dihadapan mereka yang akhirnya dapat kulihat senyuman kembali yang mengarah padaku diwajah mereka..
“ Sedang membicarakan apa?”
Kemuning yang terduduk di atas kolam pemandian
“ Anakku, Ibunda pikir bagaimana jika kita me..”
“ Tidak Ibunda. Kemuning tahu apa yang ada dipikiran ibunda saat ini.. Mereka adalah pasukan yang mendapatkan latihan dari istana. Bukan hanya Penjarah biasa yang ingin mencuri.”
Kemuning yang tersenyum memotong pembicaraan ibunda mencoba untuk menghentikan niat hati
“ Lalu.. Lalu bagaimana dengan ayahmu? Sudah hampir sepekan kemuning...”
Ibunda yang mulai menangis kembali
“ Ibunda, Raka juga pasti sedang memikirkan jalan terbaik bersama semua orang. Yang perlu Ibunda lakukan adalah menjaga kesehatan Ibunda untuk menyambut kepulangan Ayahanda nanti..”
Pureswari berbicara dengan lembut dan memeluk Ibundanya
“ Betul apa yang dikatakan Pureswari.. Ibunda, kemuning mohon tersenyumlah.. Karena dengan melihat senyuman ibunda, akan menjadi berkah bagi kemuning..”
“ Ma.. Maafkan ibunda.. Kemuning, anakku.. Kau adalah wanita tercantik dan tegar. Ibunda mohon agar kau memperhatikan keselamatanmu lebih dari apa pun.. Karena, jika aku sampai harus kehila..”
“ Kemuning tahu ibunda.. Kemuning tahu..”
Kemuning memeluk ibunda yang menangis
Selesai membersihkan diri kami masing masing dengan dayang yang selalu siap sedia membantu kami, setelah menyantap makanan pada pagi hari ini ibunda Atma beserta Caka kembali datang untuk memberikan dukungan dan juga mencoba untuk menghibur Ibunda.. Usai menyapanya, terlihat sang ibunda ingin mengatakan sesuatu padaku namun mencoba untuk menahannya, terlihat hanya tidak ingin memperburuk suasana mengingat hubunganku dan Atma yang terlihat menjauh selama sepekan ini.. Bahkan Atma sama sekali tidak berkunjung dan mencoba menemuiku layaknya Caka kepada Pureswari.. Melihat reaksiku yang juga tidak terlalu mempertanyakannya membuat Ibunda kami masing masing merasa khawatir akan hubunganku dan Atma.
Berjalan meninggalkan mereka dan tidak ingin merusak suasana karena kehadiranku diantara mereka, aku berjalan menuju kamar dan memutuskan sesuatu yang sangat penting. Mencoba membawa beberapa sedikit perlengkapan kembali dengan Busur panah dan juga Pedangku, aku berjalan kembali menuju kediaman tempat Pureswari berada secara diam diam, dimana Caka sudah meninggalkan kediaman kami dikarenakan urusan pekerjaan yang tiba tiba datang mendesak.
“ Boleh aku masuk?”
kemuning yang tersenyum di depan pintu masuk kamar Pureswari
Pureswari yang menghampiri dan menarik kemuning masuk
“ Pureswari duduklah disini, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
Ucap kemuning yang menarik tangan pureswari
“ Ad.. Ada apa Raka? Kau terlihat serius sekali?”
“ Dengarkan aku dengan sangat bijak.. Pureswari, semalam para Penjarah Hutan berhasil menemukan jalan menuju kediaman para wanita dan anak anak dari desa, namun aku berhasil menghentikannya dan kembali kemari..”
“ Ap.. Apa? Raka, apa kau... Kenapa kau tidak memberitahu Caka tadi?!”
“ Dengan memberitahu bahwa kau adalah Pemberontak istana?”
“ AKU TIDAK PERDULI! Jika memang aku harus dihukum mati oleh istana. Namun aku tidak akan sangup jika juga harus menerima kabar akan kehilanganmu seperti Ayahanda yang hingga kini tidak ada kabar! Tidak Raka!”
Pureswari yang merasa kesal langsung berdiri menatap kemuning
“ Duduklah.. Pureswari, saat ini aku mencoba memindahkan mereka ke pondok kediaman milikku. Meski tidak sebesar seperti sekarang, namun cukup untuk menampung mereka terlebih pondokku jauh lebih nyaman untuk mereka..”
“ Tapi Raka, pondok itu berada sedikit jauh dari sini meski pun masih dalam 1 kota..”
“ Aku tahu. Karena, tidak mungkin membawa mereka menggunakan jalur kota, aku akan mengitari hilir arus sungai. Dan aku tidak ingin kau ikut serta kali ini. Cukup aku saja.”
“ Apa? Tidak.. Tidak!”
Pureswari yang menggeleng gelengkan kepalanya langsung berdiri membelakangi kemuning
“ Pureswari dengarkan aku! Keselamatan mereka saat ini dalam bahaya, aku masih memerlukan informasi dari mereka prihal lokasi dan bagaimana para Penjarah Hutan itu..”
“ Apa.. Raka, menemui mereka tanpa sepengetahuanku?.... Raka, kau menyembunyikan sesuatu.. Apa kau berniat untuk..”
“ Ya. Aku sudah tahu dimana lokasi Ayahanda saat ini, namun karena kondisi Ibunda dan begitu tahu keselamatan mereka terancam, aku mengurungkan niatku dahulu..”
__ADS_1
“ Tidak Raka. Aku tidak setuju..”
“ Aku kemari bukan untuk meminta restu darimu. Namun, anggap ini sebagai ancaman dariku padamu.”
“ Raka, kau berniat menggantikan posisiku sebagai Pemberontak istana? Tidak, ini salahku! Kenapa harus kau yang...”
“ Aku pergi sekarang.. Pureswari berjanjilah jaga Ibunda dan jangan sampai ada yang mengetahui hal ini. Berjanjilah padaku!”
“ Tidak.. TIDAK RAKA!! RAKA!!”
Pureswari yang berteriak mencoba menghentikan kemuning yang berlari
. . . . . . . . . . . . . .
Mengetahui kabar buruk yang akan menimpa mereka kembali, tanpa pikir panjang dan menunggu lama, mereka pun langsung mengerti apa maksud dari penjelasan yang kuberikan pada mereka semua.. Dengan sangat hati hati dan mncoba untuk tidak berisik menimbulkan keributan, mereka pun sudah siap kembali untuk melakukan perjalanan yang hanya mengandalkanku saat ini. Jujur terlalu banyak jumlah mereka saat ini jika hanya aku yang menjaga mereka saat ini. Dengan mengandalkan jalan hilir arus sungai, bagi wanita yang masih terbilang muda dan anak anak pasti akan mudah melewati area jalan tempuh, namun bagi wanita yang terbilang sudah berumur.. Pasti akan sulit baginya untuk melewati jalan menanjak dan sedikit berbatu.
Tersadar akan kondisi mereka yang rata rata memasuki usia yang sudah terbilang tidak muda lagi, kembali aku dikejutkan dengan beberapa wanita yang baru terlihat dengan membawa bayi.. Tangisan bayi akan membahayakan jika melalui jalur tersebut karena hilir arus sungai sangat dekat dengan area hutan yang lebat dimana terkadang hewan buas masih terlihat.. Kemana aku harus membawa mereka saat ini? Adakah jalan yang lebih aman untuk mereka lalui? Pengalihan pandanganku menjadi fokus akan rencanaku selanjutnya saat melihat kereta kuda berukuran sedang terpajang dengan kondisi yang masih sangat layak untuk digunakan. Namun kendala lainnya muncul disaat hanya seekor kuda brataku saja yang menarik kereta kuda ini pasti tidak akah sanggup! Lalu...
“ Apa kau berencana melakukan semua ini sendiri tanpa meminta bantuan calon suamimu?”
Atma yang datang menunggangi kuda bratanya
“ GUSTI RADEN MAS ATMA.. BHATTARA LAKSAMANA, SEMOGA DI BERKAHI..”
Ucap semua wanita dan anak anak dengan setengah bersujud kepada Atma
“ Kemuning. Kuakui nyalimu sungguh luar biasa..”
Ucap Caka yang menyusul dibelakang Atma dengan Pureswari di belakangnya
“ BHATARA CAKA DAN RADEN RARA PURESWARI, SEMOGA DI BERKAHI..”
Kembali para wanita dan anak anak setengah bersujud melihat Caka dan Pureswari yang datang menunggangi kudanya
“ Ka.. Kalian.... PURESWARI?!”
Kemuning langsung menatap kesal pada Pureswari yang bersembunyi dibelakang Caka
“ Jangan salahkan dia.. Lagipula kau membutuhkan setidaknya 2 kuda untuk menarik kereta itu”
Ucap Caka yang tersenyum kepada kemuning
“ Apa yang ada dipikiranmu dengan menggantikan Pureswari seb..”
“ P E R G I L A H.”
Ucap kemuning yang menghentikan Atma berbicara dengan tatapan amarah
“ Tidak. Kau juga tahu aku keras kepala bukan?”
Atma turun dari kudanya dan berdiri tepat dihadapan kemuning
“ Lucu sekali pria ini. Setelah menyudutkanku sekarang dia datang untuk mendukungku? Terlebih tidak ada satu kabarpun darinya untukku! Untuk siapa sebenarnya kau datang kemari?!”
Kemuning dengan kesal berjalan melewati Atma
Hembusan angin tiba tiba terasa kencang disaat Atma menatapku dengan wajahnya yang jika ingin kuakui betapa aku sangat merindukannya. Terdiam tak berkata, baik aku dan Atma hanya memandang satu sama lain yang hanya membuang buang waktu secara percuma. Tersadar akan mereka semua yang sedang menatap kearah kami, aku pun langsung menarik kuda brataku yang diikuti oleh Atma yang juga mengikatkan kudanya pada kereta kuda.. Kembali tanpa berkata kami berdua pun bekerja sama seolah tanpa berkata kami dapat mengerti apa yang ingin Atma lakukan dan apa yang ingin aku lakukan pun membuat kami saling mengisi satu sama lain.
Kereta kuda pun berjalan dengan membawa bayi dan juga wanita paruh baya di atasnya dikawal oleh Caka dan Pureswari yang menunggangi kuda di depan sebagai komando selama perjalanan. Sedangkan Atma memilih untuk menemaniku berjalan bersama sisa dari warga desa dan juga membantu mereka selama perjalanan mengitari hilir arus sungai hingga akhirnya kami sampai pada pondok tempat peristirahan pribadi milikku. Mereka terlihat begitu bahagia ketika melihat tempat tinggal mereka terlihat lebih layak dengan kenyamanan fasilitas yang lebih baik. Aku pun dapat tersenyum melihat mereka saat ini yang terlihat bahagia..
Tersadar akan pondok yang dekat dengan aliran arus sungai, terlihat beberapa anak bermain berlarian kesana kemari tanpa perjagaan orang tua mereka. Aku yang melihat pun langsung berlari untuk memperingati mereka namun malangnya saat anak terakhir berhasil melewatiku, jembatan ini rubuh hingga akhirnya aku terbawa aliran arus sungai yang deras. Setidaknya inilah ingatan terakhirku saat ini......
“ GUSTI.. GUSTI.. GUSTI RADEN MAS!!”
Ucap 2 orang anak laki laki yang menarik narik tangan Atma
“ Ada apa? Apa terjadi sesuatu hingga kalian terlihat gusar?”
Ucap Caka yang bertanya kepada anak tersebut diikuti Pureswari dibelakangnya berjalan menghampiri Atma
“ RADEN RARA.. GUSTI, GUSTI PRABU STIRA.. JEMBATAN RUBUH DAN, DAN TERJATUH..”
Ucap seorang anak menjelaskan dengan nafas tersenggah setelah berlari
__ADS_1
“ APA?? Atma tunggu..!! ATMA!!”
Caka mencoba mengejar Atma yang langsung berlari kearah jembatan sungai