Sabda Batari

Sabda Batari
Pembalasan Dendam


__ADS_3

Terdiam dengan mengandalkan kata hati, aku melepaskan kain yang masih membalut luka di pundakku dan memberanikan diriku untuk mengikuti kemana arah tujuan mereka saat ini. Seperti dugaanku mereka terhenti pada kediaman Diajeng dan terlihat Guindra menyusul menggunakan kereta kuda seolah akan menginap di sana. Dengan ini aku berpendapat, keamanan di lokasi para Penjarah Hutan itu tidak terlalu ketat mengingat Raksa dan Guindra sedang tidak berada di sana. Kembali menarik kuda brataku menjauhi kediaman Diajeng, aku pun segera menungganginya dan segera berlari secepat mungkin.


Perjalanan yang sedikit lebih jauh, membuatku sedikit merasa kelelahan mengingat luka di pundakku yang masih belum pulih.. Perbatasan hutan utara pun akhirnya aku lewati dimana hilir air sungai terhenti dan Pohon Bakau pun mulai terlihat dari arah yang sedikit lebih jauh dariku. Sesuai perkataan para wanita itu, aku berbelok pada mengarah mendekati pantai laut selatan yang juga tak jauh dari dermaga dimana hutan bagian utara masih tumbuh dengan lebat dan terlihat 2 Gerbang masuk mereka berupa 2 buah Pohon Beringin besar dengan2 buah patung dan Candi kecil yang digunakan mereka untuk upacara adat.


Tersadar melewati sebuah desa mataku tertuju pada Gubuk gubuk yang tidak terurus dan terlihat begitu menyengsarakan di sini. Bagaimana mereka dapat hidup dengan anak anak mereka dengan kondisi seperti ini? Pantas saja mereka pergi dan mencari tempat perlindungan dan bersyukur Pureswari mengetahui mereka.. Di pertengahan malam menuju dini hari, terdengar teriakan ramai seperti sekelompok orang sehabis berpesta semalaman, apa itu para Penjarah Hutan tengah?


. . . . . . . . . . . . .


“ Kain ini.. Ini adalah kain yang digunakan untuk membalut luka di pundak Raka!”


Ucap Pureswari yang terkejut menemukan kain kemuning di lokasi kebakaran


“ Untuk apa kemuning datang lagi kemari? Bukankah Tasara sudah kemuning berikan dan berada di istana?


Caka yang merasa kebingungan menghampiri Atma dengan memasuki area lokasi kebakaran


“ Dia, membuntuti seseorang. Lihatlah, ada beberapa jejak bekas kaki disini.”


Atma yang menekuk lututnya dan menunjukkannya pada Caka


“ Kau benar. Siapa yang dia ikuti?”


“ Pureswari, semalam apa ada hal yang kemuning katakan padamu?”


“ Tidak ada Raden Mas, kami hanya bercakap seperti biasa.. Namun.. Namun, pada senja aku bermaksud menemui Raka dan mengunjungi kamarnya dan melihat sesuatu dibawah tempat tidurnya. Aku bertanya, namun Raka tidak menjelaskannya padaku..”


Ucap Pureswari yang mencoba mengingat dan merasa khawatir


“ Tentu saja dia tidak akan memberitahumu. Karena saat ini dia sedang berada di tempat yang berbahaya.”


Ucap Atma yang kembali berdiri dengan wajah penuh serius


“ Jangan bilang Kemuning, seorang diri pergi menuju kesana?”


Caka yang menatap Atma mencoba tidak percaya dengan apa yang di lakukan kemuning


“. . . . . . . . . .”


Atma yang terdiam mendengar pertanyaan Caka dengan masih memberikan wajah penuh keseriusan


“ Apa? Kemana Raka saat ini?... Raden Mas?.. Caka?.. Kemana Raka kemuning pergi?”


Pureswari yang khawatir menatap Atma dan Caka meminta penjelasan dari mereka


“ Kemuning. Saat ini dia, sedang berada di lokasi Para Penjarah Hutan.”


Caka yang menjelaskan menatap Pureswari dengan tatapan sedih dan dalam


“ Apa?”


Menjelang dini hari semua sama persis seperti apa yang dijelaskan para wanita itu tentang keadaan di tempat ini, dimana semua orang mabuk berat bahkan tidak sadarkan diri dan tertidur di tanah yang beralaskan tanah dan atap langit. Tersadar api unggun yang mereka buat mulai tak bercahaya, aku berjalan mengitari Lumbung yang menjadi tempat penyimpanan mereka dan melihat Ayahanda  pada sebuah batang kayu kokoh terikat dengan kedua tangan yang membentang bahkan terlihat luka cambuk di punggung dan kedua tangannya.. Air mata pun tak sadar menitik tak kunjung terhenti, dengan berjalan mencoba tak bersuara, aku berjalan mendekati Ayahanda dan membawa sekendi tempat minum untuk melepaskan dahaga yang terlihat begitu menyiksanya dengan bibir yang begitu kering dan pucat.


“ Kemuning?... Kemuning anakku, apa ini kau nak?”


Ucap Patih Andaru mencoba mengembalikan kesadarannya setelah meminum air yang dibawa kemuning dengan berbisik


“ Ya Ayahanda.. Ini aku, kemuning.. Minumlah, Ayahanda.. terlihat....”


Kemuning yang masih menangis mencoba menahan suaranya dan memberikan minuman pada ayahnya


“ Aku tidak apa apa. Kemuning, kau se..”


“ APA KALIAN SELALU SAJA SEPERTI INI? BANGUN! KUBILANG BANGUN!”


Terdengar teriakan Guindra yang marah dari Gerbang masuk


“ Kalian ini seperti sampah yang tidak berguna. Bangunlah kalian semua.”


Ucap Raksa dengan nada dan wajah yang datar


“ Kemuning, pergilah!”


Patih Anadaru yang berbisik kepada kemuning


“ Tidak! aku masih bisa menyelamatkan Ayahanda saat ini!”

__ADS_1


Kemuning yang masih menangis, kesulitan membuka ikatan tangan Ayahnya


“ Anakku, pergilah. Kau sudah mengetahui lokasiku, datanglah dengan membawa bala bantuan. Kau harus keluar dari sini dengan selamat! Ingat itu kemuning. Sekarang pergilah!”


Ucap Patih Andaru yang sedikit membentak Kemuning


“ Aku... Aku pasti.. Pasti akan kembali menyelamatkanmu! Tunggulah aku Ayahanda..”


Kemuning menundukkan kepalanya mencoba menahan emosinya


“ Aku tahu itu.. Pergilah nak.”


Patih Andaru yang tersenyum melihat kemuning yang kembali berlari mengitari lumbung dan masuk ke dalam hutan kembali


Tangan yang mengepal, hati yang tergores, dan mulut yang terbungkam. Berlari menuju kuda brata yang kusembunyikan sedikit lebih jauh dari lokasi, akhirnya kembali aku tunggangi dan berlari secepat mungkin menuju perbatasan kota. Sinar matahari mulai terlihat dan semua pun begitu terlihat indah di pandang mata.. Namun tidak untukku yang masih saja menahan air mata ini dengan mencoba bersikap layaknya seorang ksatria wanita yang menunggangi kuda brata ini hingga akhirnya aku pun sampai di perbatasan kota kembali dan segera berlari menuju istana kembali untuk menemui Gusti Agung Ratu. Namun malangnya, Gusti Agung Ratu sedang tidak berada di istana bersama Raja dan Mahapatih Gajah mada mengurus permasalahan pemberontakan yang terjadi.


Terdiam berdiri tak berkata, dan seolah bingung.. Aku kembali berjalan melewati Bale Kesehatan namun teringat akan masa hukumanku yang diberikan oleh Mahapatih Danudara yang tidak mengijinkanku untuk bertemu dan melihat kondisi Atma hingga sampai Atma pulih dan kembali seperti semula.. Bagaimana ini? Tanganku masih saja bergetar mencoba menahan jeritan hati yang sangat memerlukan Bahu yang ku butuhkan hanya untuk bersandar melepaskan penat dan lelah yang tak kunjung usai ini..


Berjalan kembali menuju kuda Brata dan menunggangi menuju pusat keramaian kota yang sudah mulai terlihat kesibukan warga yang melakukan aktivitas mereka seperti biasa, terhenti pada sebuah rumah makan dan aku pun turun untuk memberikan kudaku pada penjaga yang akan memberikan makanan dan minuman untuknya. Terlihat semua orang yang sedang menyantap makanan, namun kenapa aku merasa sunyi tak bernyawa?


“ Kemari.”


Ucap seorang pria yang menarik tangan kemuning


#SHREEKKK #BRAAKKK


Suara bantingan pintu yang tertutup dalam sebuah ruangan


“ Atma? Kenapa kau bisa berada di sini? Kau.. Sudah tidak apa apa? Ba, bagaimana kondisimu?”


Kemuning melihat Atma dengan seksama memastikan kondisinya


“ Kau, menangis?”


Atma yang menyentuh lembut wajah kemuning


“ . . . . . . . . .”


Kemuning yang terdiam mendengar pertanyaan Atma


“ Bagaimana kondisi ayahmu?”


Kemuning yang terkejut langsung menatap Atma


“ Berhentilah membuatku khawatir. Tidak bisakah kau menungguku dan kita pergi bersama?”


Atma langsung memeluk erat kemuning


“ Aku tidak tahu kapan bisa bertemu denganmu, yang kutahu hanya.... Atma, aku teringat sesuatu yang harus kuberitahukan padamu!”


Kemuning yang tiba tiba menarik tubuhnya dari pelukan Atma dan menatapnya


“ Kita bicara di dalam bersama Caka dan Pureswari.”


Atma langsung menarik tangan kemuning, membuka pintu, dan berjalan masuk


“ RAKA!”


Pureswari yang langsung berlari memeluk kemuning


“ Kau tidak apa apa?”


Tanya Caka kepada Kemuning


“ Kalian berdua tenanglah, aku tidak apa apa..”


Kemuning tersenyum pada Caka dan Puresari dan duduk dalam 1 meja bersama mereka


“ Ada apa Kemuning? Apa yang ingin kau katakan padaku?”


Ucap Atma kepada Kemuning


“ Prana. Nama pria yang tercantum dalam Tasara yang belum kita ketahui itu adalah nama Kakak Diajeng. Dia menggunakan nama kakaknya agar tidak ada yang merasa curiga padanya karena Prana sudah lama meninggal bukan?”


“ Kau yakin?”

__ADS_1


Ucap Atma serius kepada kemuning


“ Aku mendengarnya sendiri saat mengikuti mereka secara diam diam ke lokasi kebakaran kemarin. Ya, aku mendengar jelas apa saja yang mereka katakan. Saat aku berada di Lokasi para Perjarah Hutan pun aku sempat melihat Diajeng turun bersama Raksa dari kereta kudanya..”


“ Mereka pasti sedang merencanakan sesuatu saat ini. Kita harus bertindak cepat!”


Ucap Caka kepada Atma dengan tatapan serius


“ Ra.. Raka.. Maafkan aku bertanya, bagaimana kondisi Ayahanda?”


Pureswari yang khawatir memelas meminta kemuning memberitahunya


“ Tubuh ayahanda sudah mulai melemah, bahkan terlihat sedikit lebih kurus.. Bahkan kulitnya memerah karena pancaran sinar matahari..”


Ucap kemuning sembari menundukkan kepalanya


“ Aku ingin kau menceritakan bagaimana lokasi atau denah tempat itu kemuning.”


Dengan beralaskan sebuah meja, aku pun menjelaskan tentang lokasi persembunyian mereka dan bagian bagian dari tempat itu. Semua informasi yang bisa kulihat dan kudengar, aku ceritakan semua kepada mereka yang masih mendengarkan pembicaraanku dengan sangat serius. Namun, karena lokasi mereka yang lebih dekat kearah Dermaga, aku merasa ada persembunyian alat alat tempur yang mereka sembunyikan yang dapat membahayakan kami jika kami tidak tahu bagaimana mereka akan membalas serangan kami, mengingat sebuah Granat kala itu menghancurkan setengah dari Bale kediamanku dan membunuh orang orang kepercayaanku.


Atma sempat terdiam seolah berpikir. Aku tahu Atma terkenal sebagai pemimpin strategi dalam setiap medan perang, sehingga tak heran jika Atma memiliki kedudukan lebih tinggi dari jabatan ksatria lainnya. Keahliannya dalam seni bela diri dan menggunakan pedang, sudah tidak lagi diragukan terlebih Atma seperti memiliki suatu ikatan pada kuda bratanya sehingga setiap Atma beraksi bersama kudanya, seolah gerakannya tidak terlihat.


Akhirnya dengan segala gagasan dan pemikiran, akhirnya kami memutuskan untuk pergi tanpa membawa bala bantuan atau pasukan khusus seperti pasukan yang diberikan oleh Gusti Agung Raja dan Ratu untukku dan juga Atma. Berkendara menunggangi kuda kembali pun aku lakukan bersama Atma dan juga Caka, dengan Pureswari sebagai bidak penengah jika sesuatu terjadi pada kami.. Angin malam kembali menerpaku, namun kali ini aku tidak merasa takut sama sekali atau pun ragu karena Atma dengan gagah selalu berada disampingku dan juga mendukungku.


“ Aku akan memanjat pohon ini untuk melihat kondisi saat ini.”


Ucap Atma yang siap siap untuk memanjat pada salah satu batang pohon beringin besar


“ Tidak Atma. Kau masih sedikit terluka, aku yakin kau akan sedikit kesusahan.. Bagaimana jika kita bertiga naik keatas?”


Ucap kemuning yang menghentikan Atma dan mencoba memberikan masukan


“ Baiklah, aku setuju.”


Ucap Atma yang langsung menolong menopang kemuning untuk memanjat dengan di susul Caka di belakangnya


Keheningan malam pun pecah dengan gelak tawa para Penjarah Hutan yang sibuk melakukan pesta jamuan makan malam.. Bahkan saat ini terlihat Guindra, Diajeng, bahkan Raksa pun hadir terduduk ditengah jamuan makan malam yang mewah. Sepertinya mereka sedang merayakan sesuatu atau pun sedang merencanakan sesuatu kembali. Mata pun teralihkan pada Ayahanda yang masih terbujur semakin melemah dengan kedua tangannya yang terikat..


“ Kemuning, apa kau siap? Apa pudakmu masih terasa sakit?”


Ucap Atma yang menatap kemuning


“ Aku tidak apa apa.. Sesuai rencana aku akan memanah tali itu dari atas sini dan mencoba menjaga kalian dari kejauhan..”


Kemuning yang menganggukan kepalanya dengan memegang Busur panah di tangannya


“ Lumbung yang akan kita bakar ada disebelah Aula dan di dekat pohon itu. Caka, kau bergerak lebih dulu.”


“ Baiklah!”


Caka yang mengganggukkan kepalanya langsung melompat menuruni pohon


“ Atma, tunggu.. Berhati hatilah..”


Kemuning yang mencium pipi Atma dan menatapnya dengan sangat dalam


“ Lindungi aku, Oke?”


Ucap Atma yang tersenyum dan langsung melompat menuruni pohon menyusul Caka


Dengan Busur panah ditanganku, akhirnya aku bersiap siap untuk melepaskan beberapa anak panah dan berharap bidikanku tepat mengenai tali yang mengikat ayahanda saat ini.. Dengan mulai terbakarnya sebuah kayu, Atma dan Caka pun berpencar membawa api itu dan mulai membakar atap Lumbung yang terbuat dari jerami yang terbakar.. Hanya memerlukan waktu yang tidak begitu lama, api pun mulai berkobar dan aku pun langsung memanah tali yang mengikat ayahanda.


Atma pun langsung berlari dan berhasil membawa ayahanda masuk kedalam hutan sebelum mereka semua menyadari kobaran api saat ini. Namun tanpa disadari, ada 2 orang Penjarah Hutan yang masih terjaga dan berniat membunuh Atma, Caka, dan Ayahanda dari belakang. Sontak dengan cepat aku kembali melepaskan kedua anak panahku dan akhirnya kami pun dapat berhasil menyelamatkan Ayahanda dan segera kembali ke perbatasan ibu kota..


“ KURANG AJAR! SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN INI PADA KITA?!”


Ucap Guindra yang merasa marah setelah berhasil memadamkan api


“ Siapa lagi?.. Tidakkah kau mengenal anak busur panah ini?”


Ucap Raksa yang menarik busur panah dari salah satu penjaga yang sudah tak bernyawa


“ KEMUNING..!! AKAN AKU BUNUH KAU!!”


Ucap Diajeng yang tersulut amarah dengan berteriak

__ADS_1


. . . . . . . . . . . . .


Menjelang dini hari, terlihat Ibunda berdiri dengan wajah pucatnya dan menunggu kedatangan kami.. Begitu Ibunda melihat Ayahanda, Ibunda pun berlari dan segera memeluk Ayahanda dan menangis tiada hentinya. Setidaknya pada masa ini, aku masih bisa menemukan bahwa nyawa seseorang masih bisa bernilai dan berharga tak perduli berapa harga yang harus kau bayar.


__ADS_2