
“ Atma, kau terlalu memaksakan diri. Setidaknya makanlah!”
Ucap Caka yang mengkhawatirkan kondisi Atma
“ Aku baik baik saja. Pergilah.”
Ucap Atma yang masih memperhatikan sebuah Map lokasi di mejanya
“ Semenjak kepulangan kita atas kemenangan menangkap Guindra. Kau seperti menjadi bukan seperti dirimu yang tenang dan berpikir jernih.”
“ Hentikan. Keluarlah dari ruanganku.”
“ Kau adalah Laksamana juga Bhattara! Tidakkah kau lihat anak buahmu mengkhawatirkanmu?”
“ Pergi Caka, selagi aku masih bisa berkata baik padamu.”
“ Kematian Diajeng saat kau menemukan jasadnya memang sangat memilukan! Karena kemuning dia...”
#BHUUAAKKKK #TRAAAKKK #CREAAKK
Suara pukulan Atma yang memukul pintu kayu disebelah Caka hingga terlepas
“ Dia masih hidup. Kemuning masih hidup. BERHENTI BERBICARA SAAT KAU TIDAK MENGERTI APA PUN!!”
Teriak Atma dihadapan Caka dengan penuh amarah
“ AKU TAHU! Aku tahu Atma, bagaimana melihat seseorang yang kita cintai terluka bahkan tidak ada yang bisa kita lakukan untuknya. AKU TAHU ITU ATMA! Karena dari itu aku ingin mengatakan padamu, ISILAH TENAGAMU ITU UNTUK MENEMUKAN KEMUNING! BERPIKIRLAH DAN BERSIKAPLAH SEPERTI BIASANYA! KAU TIDAK AKAN MENEMUKANNYA DENGAN AMARAH DIHATIMU!”
Caka yang terbawa emosi mendorong Atma yang terdiam menatapnya tak bergeming
“ Aku, apa yang aku lakukan?! Kenapa jadi seperti ini.”
Atma yang membalikkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya membelakangi Caka
“ Atma, aku dan semua pun memiliki keyakinan bahwa Kemuning masih hidup. Karena itu, kita cari bersama dan meminta keterangan lebih lanjut kepada Guindra.”
Caka yang menepuk pundak Atma dengan semangat juang
“ Aku sudah melakukannya. Menurutku sepertinya mereka hanya alat yang dikendalikan seseorang, karena mereka sendiri pun terkejut saat aku menanyakan beberapa pertanyaan pada mereka.”
“ APA?? Lalu, menurutmu siapa dibalik semua ini?”
“ Hanya seseorang Abdi yang pernah bekerja di dalam istana yang bisa melakukan hal ini. Selama ini kita di tipu seolah dibelokkan kepada Guindra serta Diajeng. Karena sosok inilah yang tahu betul kondisi di dalam dan di luar istana. Bahkan mungkin pernah melakukan percakapan atau tahu mengenai kita. Hanya itu menurut pengamatanku saat ini.”
“ Atma, jika begitu kita lakukan pemeriksaan kembali tempat kemuning yang terjatuh bersama Diajeng. Aku yakin, sesaat sebelum kejadian, kemuning pasti mengetahui sesuatu.”
“ Aku pernah menyusuri disekitar pesisir pantai. Tapi, daerah itu merupakan wilayah yang sangat ramai mengingat Pelabuhan Canggu, yang kedatangan para pedagang luar seperti Cina, India.”
“ Ap, apa? Jika begitu mungkin..”
“ Ya, pikiranku menjadi gelap dan tak jelas begitu membayangkan kemungkinan kemuning yang di temukan tak sadarkan diri dan dibawa dengan kapal mereka keluar menjauh dari wilayah ini.”
Atma kembali menundukkan kepalanya dengan tangan yang mengepal
“ Aku akan membawa pasukanku menemanimu. Kudengar Kapal kerajaan akan berlayar menuju Pelabuhan Canggu. Bagaimana jika kita memohon ijin kepada Gusti Agung Raja dan Ratu?”
“ Sudah kulakukan. Besok pagi aku akan berangkat. Kau tidak perlu menemaniku, temanilah istrimu Pureswari yang masih sangat membutuhkanmu.”
Atma yang tersenyum menepuk pundak Caka dan berjalan melewatinya
. . . . . . . . . . . . .
Mencoba mencari celah lawan bukanlah hal yang mudah. Terlebih bagi Bhanurasmi yang juga mengerti tentang teknik berperang dan semua pelatihan yang sama sepertiku saat berada di istana. Kembali melihat laporan yang diberikan para Assisten Guan Lin yaitu Dong Ming dan Jun Hao, akhirnya membuahkan hasil disaat terdengar bahwa akan ada kedatangan sebuah kapal dari istana yang akan melakukan kunjungan kemari mewakili Gusti Agung Raja dan Ratu yang tidak bisa datang karena masih menangani pemberontakan Sedeng dan Keta.
Terduduk diatas sebuah bangku dengan menghadap lautan, meskipun saat ini aku sudah bisa berlari namun kepala ini pun tertunduk dengan melihat luka yang membekas disekitar kakiku yang masih belum menghilang. Serta pundakku yang terasa membeku saat mencoba menarik Pedang atau Busur panahku. Hati kembali terasa berat disaat panggilan kasih dari seseorang tidak bisa ku gapai dan ku balas. Rintihan kerinduan yang tidak akan pernah berakhir yang akan menemaniku hingga waktu yang tak menentu.
#PRAAANNGGG #TRAANGGG
Suara Piring dan kendi berisi air yang terjatuh dan pecah di dekat kemuning
__ADS_1
“ Apa kau baik baik saja bu?”
Ucap kemuning yang langsung berlari membantu seorang wanita paruh baya
“ Kau.. Bukan berasal dari masa ini.. Wanita cantik dan pemberani sepertimu, akan kembali dan menemukan kebahagianmu sendiri.”
Ucap wanita paruh baya tersebut saat kemuning menggapai tangannya untuk membantunya berdiri
“ Ma, maaf.. Apa yang ka..”
“ NENEK! Maafkan hamba, hari ini hamba sedang tidak sehat, karena itu Nenek hamba menggantikan hamba bekerja untuk membersihkan tempat ini..”
Ucap seorang wanita yang membungkukkan tubuhnya kepada kemuning yang diikuti oleh wanita paruh baya tersebut
“ Baiklah, tidak apa apa..”
Ucap kemuning dengan tersenyum
“ Akan hamba bereskan tempat ini, namun hamba mohon diri untuk membawa Nenek hamba terlebih dahulu kembali ke gubuk kami..”
“ Silahkan..”
Wanita itu pun langsung menarik tangan dan memapah neneknya yang juga tertunduk melewatiku. Dengan sedikit melihatku, wanita paruh baya tersebut tersenyum seolah sangat mengenalku dan tahu siapa dan mengapa aku berada disini. Berdiri tercengang melihat dan mendengar apa yang ada dihadapanku barusan, Bao Yu dan Xia He menghampiriku dan menanyakan kondisiku saat melihat pecahan pecahan yang berada dihadapanku. Dengan tegas mengatakan aku tidak apa apa, mereka pun percaya dan mengatakan bahwa saat ini aku harus mengikuti mereka. Dengan tidak bertanya lebih, aku pun langsung mengikuti mereka dan menutup wajahku kembali dengan selendang yang diberikan Xia He padaku.
Dengan berjalan keluar, seketika kulihat beberapa pasukan yang berpakaian sama seperti para Penajarah Hutan itu berdiri didepan Gerbang masing masing Kediaman seolah memperhatikan dan melihat, menunggu kehadiran kami yang berjalan melewati mereka tanpa berbicara sedikit pun.
“ Hari ini Canthibirawa akan membagikan hasil panen kembali.. Jika terdengar kabar bahwa ada satu rumah yang tidak mewakili untuk datang, maka pasukan itu akan langsung masuk dan menghabisi nyawamu..”
Ucap Xia He dengan berbisik berbicara kepada kemuning sembari berjalan
“ Kalian semua? Bukankah hanya kalangan warga yang tidak mampu saja?”
Tanya kemuning pada Xia He dan Bao Yu
“ Golongan berada seperti kami, Canthibirawa hanya meminta kami untuk datang dan menanyakan beberapa pertanyaan seperti pemeriksaan kepada setiap warga yang dilakukan Menteri istana. Dengan begitu, dia tahu siapa yang datang dan pergi atau yang mencurigakan baginya.”
“ Karena itu, kalian membawaku kemari?”
“ Ya, dengan membawamu langsung kemari dan pasukan itu melihatmu maka kecurigaan mereka akan menghilang dan tidak akan terjadi masalah. Itu mereka datang, diamlah!”
Ucap Xia He pada kemuning
Terlihat mereka berjalan dengan memegang pedang ditangan mereka.. Saat ini aku tidak membawa Pedang dan Busur panahku sehingga penampilanku sangat dengan mudah berbaur dengan mereka yang berada di Golongan kaum berada. Sedangkan rakyat biasa, terlihat menundukkan tubuh mereka dan berada di barisan yang berbeda denganku saat ini. Para warga terlihat sangat antusias dengan pembagian panen ini, namun aku melihat ada beberapa warga yang terlihat tidak menyukai seolah keberatan dengan apa yang dilakukan ini.
“Kemuning lihatlah kereta kuda itu.. Di dalamnya terdapat Canthibirawa yang kudengar bersama seorang kekasihnya bernama Anubhawa..”
Ucap Bao Yu pada Kemuning dengan berbisik
“ Dia... Memiliki seorang kekasih?”
Ucap kemuning terkejut
“ Ya. Banyak kabar yang beredar bahwa kekasihnya adalah seorang ksatria kerajaan yang berhenti dari kedudukannya secara tiba tiba dengan alasan yang tak diketahui.”
Ucap Xia HE
Pintu kereta kuda pun terbuka, meski wanita itu memakai kain untuk menutupi wajahnya, tidak salah lagi dia adalah Bhanurasmi. Tak lama terlihat sosok pria Gagah dibelakang yang menjadi kekasihnya yang sama sama menggunakan kain untuk menutupi wajahnya, yang tak lain adalah Raksa yang juga mengganti namanya menjadi Anubhawa.
Bhanurasmi adalah salah satu kesepuluh calon Prabu Stira yang sama sepertiku. Kami berlatih bersama dan bahkan aku dan dia masuk ke dalam tiga besar kesayangan Gusti Agung Ratu saat bertanding ilmu bela diri. Persaingan kami begitu sengit bahkan tanpa sadar kami melukai diri sendiri mengingat pertarungan yang harus kami lakukan agar bisa menjadi seorang Prabu Stira. Diakhir dari kesepuluh calon, tersisa 3 orang terakhir yang bertahan selama pertandingan itu dan diberikan Simbol Gantungan Kerajaa lalu mengikat sumpah Abdi kepada Gusti Agung Ratu.
“ Lihatlah yang menggantung pada selendangnya, bukankah itu sama persis dengan yang kau punya kemuning?.. Saat ini setelah mereka membagikan hasil panen ini, mereka akan pergi menuju Dermaga Pelabuhan Canggu..”
Ucap Bao Yu dengan berbisik kepada kemuning
“ Kemuning.. Tunggu, kau mau kemana?”
Ucap Xia He dengan berbisik menarik selendang yang dikenakan kemuning
“ Maaf, aku perlu melihatnya lebih dekat untuk memastikan.”
__ADS_1
“ Kemuning jangan! Kemuning!!”
Ucap Bao Yu dengan sedikit meninggikan suaranya namun masih berbisik
“ Kalian kembalilah lebih dahulu, tenang saja aku tidak akan menimbulkan masalah..”
Kemuning yang tersenyum dan berlalu pergi
Kenanganku pada masa ini kembali terngiang disaat aku, Bhanurasmi, dan Dharawi yang lulus menjadi Prabu Stira. Aku dan Dharawi memiliki hubungan yang baik bersama ketujuh lainnya calon Prabu Stira mengingat ini hanyalah sebuah kompetisi adil dengan hati yang lapang, pikiran dan hati yang jernih. Namun hingga suatu malam, pemahaman kami semua tidak sama dengan apa yang dipikirkan oleh Bhanurasmi yang menganggap kami adalah musuhnya dan entah karena alasan apa mengajakku dan Dharawi pergi ke sebuah ladang padang rumput yang luas dan tanpa sadar mengarahkan Busur anak panahnya padaku dan juga Dharawi.
Ingatan ini begitu terlintas jelas dikenanganku disaat Bhanurasmi menarik Busur Panahnya kepada Dharawi dan aku, dimana kami tidak memiliki persiapan perlindungan diri sama sekali. Dengan sigap aku dapat melihat gerakan Bhanurasmi dan menghindarinya, namun tidak bagi Dharawi yang melakukan perlawanan dengan mengeluarkan pedang ksatrianya hingga berakhir 2 anak panah yang tertancap lurus di tubuhnya.. Aku yang hampir kehilangan akal, mencoba melawan Bhanurasmi dengan memanah tepat mengenai Pundaknya hingga dia pun tersungkur tersujud dihamparan rumput itu. Dengan berlari membawa Dharawi menuju Bale kesehatan, ternyata tidak berguna disaat Dharawi menghembuskan nafasnya dengan tersenyum padaku sesaat sebelum sampai di Bale kesehatan.
“ Dengar, jangan sampai ada kesalahan saat besok hari.”
Ucap Raksa kepada salah satu anak buahnya
“ Besok perwakilan Istana akan berkunjung kemari, jadi lakukan hal yang semestinya dan seperti biasa kalian lakukan.”
Ucap Bhanurasmi kepada anak buah itu
“ Tenang saja, semua akan berjalan lancar. Bukankah ini hanya Abdi Menteri perwakilan dari istana saja? Kenapa kalian begitu khawatir? Jika kalian seperti itu, kalianlah yang membuat ini menjadi mencurigakan.”
Ucap anak buah tersebut kepada Raksa dan Bhanurasmi
“ Dengan hancurnya persembunyian utama, kondisi kita saat ini berada dalam bahaya. Ingatlah untuk selalu melakukan pemeriksaan, jangan sampai ada yang terlewat . Terlebih jika kalian melihat Atma atau Kemuning disini.”
Ucap Raksa dengan wajah serius kepada anak buahnya
“ Kau benar. Jika Atma atau Kemuning berada disini, segera habisi nyawa mereka dan bawa mayatnya tepat dihadapanku dan Raksa.”
Ucap Bhanurasmi kepada anak buahnya kembali
“ Baiklah, akan kami laksanakan.”
Ucap anak buah tersebut dan berlalu pergi
“ Dengan tertangkapnya Guindra, apakah dia akan membocorkan semua rahasia kita?”
Ucap Bhanurasmi kepada Raksa
“ Aku yakin saat ini dia masih memegang kepercayaannya pada kita yang akan menyelamatkannya. Karena itu dia masih menutup mulutnya. Tidakkah kau lihat, istana sampai saat ini belum melakukan hal apa pun?”
Ucap Raksa dengan menyentuh lembut wajah Bhanurasmi
“ Kalau begitu kita harus segera menyelamatkan Guindra!”
“ Ya kau benar. Kita harus membuat rencana baru untuk menyelamatkannya.”
Raksa menggandeng tangan Bhanurasmi dan membawanya masuk kembali kedalam kereta kuda
Terlihat jelas kini sudah bahwa kalian berdualah yang akan menjadi mangsa buruanku. Sudah cukup nyawa menghilang begitu banyak dan kesedihan serta tangisan yang tak kunjung usai dikarenakan hal yang menjadi tujuan kalian. Dengan melihat kereta kuda kalian yang berlalu pergi tepat dihadapanku saat ini, aku bersumpah kalian akan membayar semua ini dengan harga yang sangat mahal hingga kalian merasakan siksaan di dunia ini yang sangat pantas kalian dapatkan.
. . . . . . . . . . . . . .
Pagi menjelang siang, seperti apa yang dikatakan sebelumnya, terlihat kapal mewah, kokoh, dan kuat yang biasa digunakan oleh kerajaan. Dengan sambutan yang meriah dari para warga yang datang, kami semua berkumpul di Dermaga Pelabuhan Canggu untuk melihat kedatangan para Abdi istana yang agung. Jangkar pun terjatuh dan menghantam air laut dengan gemericik berlompat lompat menandakan kapal yang terhenti dan tangga turun pun terbentang. Beberapa barang diturunkan dari dalam kapal itu sebagai tanda penyampaian kebutuhan untuk para warga yang dibagikan secara sukarela berupa kain, peralatan dapur, atau hal keperluan rumah tangga yang sangat jarang didapatkan untuk kalangan rakyat biasa.
Melihat ini, aku pun tersenyum dengan belas kasih dan juga kepemimpinan Gusti Agung Raja dan Ratu yang adil, namun seketika senyuman ini berubah ketika melihat sesosok pria gagah perkasa dengan lantang berdiri tegap ditemani pedang ksatria yang menempel padanya, serta wajah mempesona yang dapat meluluhkan hati wanita mana pun..
“ Atma....”
Ucap Kemuning yang terkejut dengan nada pelan
Dengan berlari secepat yang kubisa sebelum semua orang semakin melihatnya, dengan selendang yang menutupi wajahku, kubuka selendang itu dan diantara kerumunan orang ini memberanikan diri dengan menarik tangan Atma menuju tumpukan kotak kayu yang berisi barang barang yang akan diberikan kepada warga hanya untuk menyembunyikannya agar tidak terlihat oleh para anak buah Raksa dan Bhanuresmi, atau pun para Penjarah Hutan..
“ Kemuning? Kau...”
Ucap Atma penuh terkejut saat melihat kemuning yang membuka selendangnya dan menutupi dirinya dan Atma
Tatapan mata yang saling bertemu setelah beberapa waktu yang hanya dapat memendam rasa rindu pun akhirnya dapat menjadi tangisan penuh bahagia disaat pelukan dan ciuman dari orang tercinta berada tepat dihadapan kita. Dimana kita bisa melihat dan mendengar suaranya, serta belaian tangan hangat yang lembut seolah waktu terhenti walau hanya untuk beberapa saat. Pada saat ini baru kita akan menyadari betapa pentingnya sosok tersebut saat kau merasa kehilangan walau hanya sesaat karena rasa sakit yang tak kan pernah hilang.
__ADS_1