
Detakan jantung yang berdebar dengan nafas yang tak beraturan, akan hati yang belum siap untuk merelakan namun tuntutan tanggung jawab berada tepat diujung jemari tangan. Bergetar dan semakin bergetar, Busur Panah ini mengarah menjadi tidak menentu karena Air mata yang tak kunjung berhenti. Tak sedikit pun dirinya mencoba menghindar namun berdiri dengan Tegap seolah siap menerima tancapan anak panah ditubuhnya.. Suara tangis pun tersambar bagai petir yang menggema, hingga dapat terdengar oleh siapa pun yang berada di sekitarku.
"AAARRRGGGHHH ATMA!!"
#SHUUTTTT
Teriakan kemuning yang melepaskan anak panahnya, terlewat tepat disamping wajah Atma
“ Kemuning..”
Ucap Atma yang menatap kemuning penuh iba
Terduduk dengan kepala yang tak mampu untuk melihatnya lagi, hanya itu yang dapat kulakukan untuk melepaskannya berlalu pergi menuju Dermaga dan kembali kedalam kapal. Luka ditangan ini seakan menjadi saksi bisu yang terasa begitu pedih, akan tindakanku yang kembali sebagai pengkhianat atas pelanggaran Sumpah yang kulakukan dihadapan Gusti Agung Ratu. Mencoba untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa pria yang kucintai bukanlah seperi apa yang dijelaskan oleh Guan Lin, aku berdiri kembali dengan tegap dan dengan lantang menghampiri Guan Lin lagi untuk meminta penjelasannya.
“ Katakan semua tanpa ada yang disembunyikan!”
Ucap kemuning yang mengarahkan Busur Panahnya kepada Guan Lin
“ Kemuning, aku sudah mengatakan semuanya kepadamu.. Tenanglah kemuning..”
Ucap Guan Lin yang berjalan maju mencoba mendekati kemuning
#SHUUTTT
“ Jika kau berani melangkahkan lagi kakimu. Maka dapat kupastikan anak panah ini tertancap bukan diatas tanah itu, melainkan disalah satu kakimu.”
Kemuning memberikan peringatan dengan melepaskan anak panah tepat dibawah kaki Guan Lin
“ Kemuning turunkan Busur panah itu.. Aku berjanji akan mengatakan semuanya kepadamu. Tenanglah kemuning.. Turunkan Busur itu dan biarkan aku mengobati luka ditanganmu terlebih dahulu.”
Guan Lin yang terdiam dan menadahkan tangannya kedepan kearah kemuning
Terdiam kembali dengan menurunkan Busur panahku karena merasa mereka bukanlah musuh bagiku. Segera Bao Yu dan Xia He yang bersembunyi di dalam pun keluar dengan membawa perlengkapan obat obat untuk mengobati luka ini.. Tak kala pandangan mata yang kosong ini terlihat begitu menarik perhatian mereka sehingga Bao Yu dan Xia He menggenggam erat tanganku dan memberikan semangkuk minuman herbal untuk mengembalikan tenagaku yang sempat terbuang tanpa penjelasan. Selepas mereka mengobatiku, tiba tiba Xia He pergi dan tak lama kembali terduduk disampingku dengan membawa sebuah benda ditangannya dan memperlihatkannya padaku.
Sebuah hiasan rambut yang sangat indah, namun terlihat sedikit kemiripan dengan hiasan rambut yang Atma berikan padaku.. Terdiam menatap Xia He, Bao Yu pun meninggalkan kami berdua untuk berbincang. Xia He terlihat sangat gugup dan kebingungan akan apa yang harus dia katakan padaku atau dari mana dia harus memulai untuk berbicara. Terdiam menunggu lama, akhirnya Xia He menggenggam erat tanganku kembali dan akhirnya menceritakan apa yang ingin dia katakan.
“ Hiasan Rambut ini, adalah tanda Guan Lin yang melamar wanita yang akan menikahinya dahulu..”
Ucap Xia He yang menatap kemuning dengan tersenyum
“ Apa? Bukankah kau dan Guan Lin..”
“ Hubunganku dan Guan Lin baru terjalin, ketika kami berada di negeri ini selepas pengasingan dan hukuman istana kepada kami. Tepat sebelum itu, dia mengembalikan Hiasan Rambut ini kepada Guan Lin yang akan pergi bersama kami dengan mengirim salah satu dayangnya ke kapal yang akan kami tumpangi. Guan Lin hilang akal hingga melawan beberapa pengawal dan berlari ke kediaman wanita itu.. Namun ternyata Wanita itu menikah dengan pria lain dihadapan Guan Lin..”
“ Aku mengerti apa yang dirasakannya..”
“ Kemuning, aku tidak tahu jelas apa yang terjadi.. Namun saat kami bekerja di istana, Atma datang bersama beberapa pasukannya dan menawakan hubungan kerja sama kepada istana yang akhirnya disetujui. Namun diakhir, Atma mengkhianati dengan membawa hampir seperempat alat alat perang milik istana pada tengah malam hingga Guan Lin pun hampir mendapatkan hukuman mati oleh istana..”
“ Tapi percayalah, aku sangat mengenal Atma.. Dia bukan pria seperti itu..”
“ Kemuning, saat kami sampai kemari.. Atma yang melakukan ini pada kami tanpa belas kasih, membuat kami semakin tersulut emosi ketika mendengar bahwa dia menjadi seorang Laksamana yang begitu disegani bahkan ditakuti..”
“ Lalu, kalian semua memutuskan untuk kemari?”
“ Ya. Karena terakhir terlihat oleh kami, kapal yang membawa peralatan alat alat perang itu, terhenti tepat dipulau ini..”
Tali temali yang kupikir sudah tersambung rapi, kembali terikat dengan simpul yang memerlukan waktu dan usaha kembali untuk merapikannya.. Terdiam mendengar penjelasan yang Xia He berikan, begitu terlihat kepolosan dengan kesedihan diwajahnya yang dapat kupastikan bahwa saat ini, Xia He sama sekali tidak mencoba untuk berbohong atau mengarang cerita. Begitu merindukan kampung halaman serta orang orang terkasih yang dia dan mereka rindukan, tanpa tahu kabar bagaimana kondisi mereka, apa mereka terluka, apa mereka baik baim saja, membuatku mengerti rasa kecewa yang begitu mendalam hingga aku pun tidak berani untuk bertanya lebih.
Tak lama Guan Lin datang dengan membawa sebuah laporan berbahasa Tiongkok yang terlihat simbol kedua kerajaan sebagai jalinan hubungan kerja sama yang baik. Aku menadahkan kepalaku kepada Guan Lin menatap dengan penuh terkejut karena secara tiba tiba Guan Lin membuka pakaiannya dan memperlihatkan Luka bekas Cambukan bahkan beberapa sayatan pedang di Punggung dan juga tangannya.. Terdiam tak bergerak dengan mengalihkan pandanganku darinya, Xia He berjalan menuju Guan Lin dan membantunya menutup kembali pakaiannya hingga Guan Lin dan Xia He terduduk kembali tepat disebelahku..
“ Xia He... Apa... Kau juga.. Mendapatkan luka.. Cambuk?”
Kemuning yang merasa ragu untuk bertanya dengan sedikit terbata bata saat berbicara
“ Ya. Kami semua yang berada disini mendapatkannya.. Selama beberapa hari kami terpaksa menerima hukuman seperti itu karena dianggap sebagai pengkhianat kerajaan..”
Ucap Xia He dengan menundukkan kepalanya
“ Maafkan aku.. Seharusnya aku tidak bertanya..”
__ADS_1
“ Kami sudah jauh lebih baik. Namun, kemuning. 1 hal yang harus kau tahu atas alasan kami berada disini adalah untuk menemukan alat alat perang itu dan membawa kembali menuju istana, sehingga dapat membersihkan nama baik kami dan kedudukan kami seperti semula.”
Ucap Guan Lin dengan wajah penuh serius
“ Aku mengerti. Itu juga merupakan salah satu dari sekian tugas yang menjadi tanggung jawabku.. Aku akan membantu kalian. Peganglah janji ini.”
Kemuning yang mengulurkan tangannya kepada Guan Lin seraya untuk berjabat tangan
Senyuman pun dapat terlihat dari wajah mereka saat ini.. Setidaknya demi mengembalikan kondisi istana seperti sedia kala dan juga menghentikan Raksa juga Bhanurasmi, aku pun dapat mengetahui apa yang terjadi dibelakang semua ini karena jauh dari dalam lubuk hatiku saat ini masih berkata Atma tidak mungkin melakukan hal ini. Aku sangat mengenalnya! Kabar mengenaiku saat ini yang dianggap sebagai penghianat istana sepertinya tidak akan dengan mudah tersebar mengingat Atma yang pergi entah kemana.. Atau terlalu bodoh baginya, jika kembali ke istana dan berkata jujur kepada Gusti Agung Raja dan Ratu..
. . . . . . . . . . . . .
“ APA KAU BILANG? GUAN LIN?? Lalu, Dong Ming dan Jun Hao pun berada disana?”
Ucap Caka dengan penuh terkejut
“ Ya. Prabu Stira pun ditemukan dan dalam keadaan baik baik saja. Tidak perlu kukatakan kembali bagaimana Prabu Stira bertindak kepada Laksamana Atma ketika mendengar kabar itu..”
Ucap salah satu Bhatttara yang pergi bersama Atma
“ Lalu kemana Atma? Kenapa aku tidak ada melihatnya saat ini?”
“. . . . . . . . . . .”
Bhattara tersebut terdiam mendengar pertanyaan Caka
“ Apa, Atma berlayar hanya dengan 3 orang Bhattara menuju Tiongkok?”
Ucap Caka kembali dengan wajah penuh kesal
“Laksamana Atma, hanya menyuruhku untuk menyampaikan ini kepadamu, serta memintamu untuk mengurungkan niat sebelum Laksamana kembali ke istana.”
Ucap Bhattara tersebut dengan menundukkan kepalanya
“ Tidak mungkin aku berdiam diri disaat Atma yang menanggung semua ini! Tidak, sudah cukup! Beritahu dimana posisi kemuning, aku akan berlayar menuju kesana.”
Ucap Caka yang langsung bersiap siap
“ Aku hanya akan mengatakan yang sebenarnya kepada kemuning. HANYA PRABU STIRA YANG DAPAT MENYELAMAATKAN ATMA SAAT INI! Kau juga tahu itu bukan?”
Caka yang terlihat panik dengan menghentakkan pedangnya ke meja
“ BHATTARA CAKA..! BHATTARA CAKA..!”
Terdengar suara teriakan dari seorang Abdi dari utusan istana dengan penuh ketakutan
“ Ada apa?”
“ HORMAT BHATTARA, ledakan kembali terjadi dan itu di dalam istana. Lumbung peristirahatan untuk kuda kuda hancur berdampingan dengan penjara dimana Guindra berada!”
“ APA? Jangan berani kau sampaikan kabar.. Gunidra.. Dia...”
“ Terlihat beberapa para Penjarah Hutan Tengah membantunya melarikan diri.”
Ucap Abdi tersebut dengan ketakutan yang membungkukkan tubuhnya
#BRRAAAKKK #TRAAAKKK
“SIAL KAU GUINDRA!! Raksa, tunggu pembalasanku!!”
Caka yang terbawa emosi membanting meja hingga hancur berantakan
. . . . . . . . . . . . . .
Kabar mengenai ledakan yang terjadi didalam istana pun tersebar dengan sangat cepat dan sampai kepadaku dari para pedagang setelah melakukan pelayaran ke ibu kota. Tangan mengepal dengan penuh amarah kembali menyulut api dalam diriku yang mencoba untuk melakukan pemberontakan. Jika saja aku sudah mengetahui dimana lokasi tempat persembunyian alat alat perang itu, mungkin saat ini baik Bhanurasmi dan Raksa sudah berada di dunia yang berbeda dengan beberapa anak panah yang kulepaskan pada tubuh mereka!
Kesal, Marah, bagai api tersulut minyak yang semakin berkobar menjalar melapap semua yang ada dihadapannya. Hati yang berontak dengan pikiran yang gelisah saat mendengar Guindra berhasil melarikan diri dan dapat kupastikan saat ini, Guindra sedang dalam perjalanan menuju kemari untuk mendapatkan perlindungan. Tersadar akan itu, aku pun langsung kembali menuju klinik pengobatan dan berbicara dengan Guan Lin serta Dong Ming dan Jun Hao.
“ Tidak mungkin kemuning! Apa kau ingin menyerang mereka ditengah hutan?”
__ADS_1
Ucap Dong Ming kepada kemuning dengan terkejut
“ Ya.. Apa tidak mungkin?”
“ Lahan terjal dan berbukit tentu saja akan menyulitkan kita. Hutan sekitar sini berbeda dengan Hutan yang mengelilingi pusat kota.”
Ucap Jun Hao mencoba menjelaskan kepada kemuning
“ Apa tidak ada yang dapat kita lakukan? Kalian tentu tahu, jika Guindra kembali kemari maka kekuatan mereka bertambah dan mereka akan melancarkan serangan berikutnya!”
Kemuning yang kesal namun merasa bingung
“ Ada satu cara.”
“ Apa itu Jun Hao?”
Ucap Guan Lin yang menatapnya
“ Sekitar hutan menuju pesisir laut memiliki medan tanah yang landai, dengan kereta kuda yang mereka kendarai pasti akan sedikit kesulitan dan harus perlahan melewatinya. Itulah kesempatan kita! Namun, sisi lain.. Sekitar Hutan itu begitu dekat dengan tebing yang terhubung langsung ke lautan. Jadi kita perlu sangat berhati hati.”
Jun Hao yang menjelaskan dengan sangat serius dan memberikan arahan tempat lokasi
Guan Lin dan Dong Min pun menatapku. Saat ini mereka menunggu keputusan apa yang akan aku berikan dengan pendapat mereka yang juga terdengar berbahaya untuk keselamatan diri kami sendiri. Namun, dengan ketetapan hati dan melihat kearah Pedang dan Busur panah yang menempel pada diriku, memberikan semangat dan keyakinan bahwa aku pasti akan bisa menangani ini walau hanya bersama 3 pejuang lainnya yang juga akan ikut membantuku..
Tanpa memerlukan waktu lama, Xia He dan Bao Yu pun datang seolah mendoakan mereka yang akan pergi dengan tidak adanya kepastian untuk keselamatan diri untuk kembali. Begitu juga aku yang tertunduk meyakinkan diriku sendiri dengan tersenyum pada mereka yang kutahu bagaimana perasaan menahan lirih melihat orang yang kita cintai akan pergi menuju tempat yang berbahaya dan meninggalkan dengan ketidak penuh pastian.
Mengendarai kuda sudah sangat tidak mungkin bagi kami melihat lahan tanah yang landai dan berbahaya jika melakukan hentakan yang cukup keras. Kami berempat pun berlari sepanjang hutan di pesisir bukit menuju lokasi yang dimaksudkan oleh Jun Hao. Terdiam dan menunggu kedatangan mereka, akhirnya menjelang senja terdengar suara deritan kereta kuda dengan hembusan nafas serta telapak kaki kuda yang kuat semakin mengarah cepat kearah kami..
“ Apa kalian siap? Kemuning, sekarang waktunya..”
Guan Lin menatap kemuning untuk bergerak sesuai rencana mereka
“ Baiklah!”
Melebarkan pandanganku mencari sebuah pohon yang dapat menjadi tempat terbaik untuk dapat membidik anak panah secara tepat, aku berlari dan dengan segera memanjat pohon itu hingga tertutup dedaunan lebat. Menunggu dengan Busur panah ditanganku, Guan Lin, Dong Ming dan Jun Hao pun sudah berada diposisi mereka dan menunggu isyarat dariku. Mata semakin melihat tajam melihat mereka yang berlari dengan sangat kencang kearah kami dengan banyaknya Penjarah Hutan Tengah yang mengawal Guindra saat ini.
#PHWWEEIIITTT # #PHWWEEIIITTT
Suara isyarat yang diberikan kemuning
Menghembuskan nafas panjang dan mengikat erat luka ditanganku dengan kain, kembali aku merentangkan Tali busurku dengan kokoh dan stabil. Bernafas dengan stabil dengan arah pandangan yang mengarah menjurus pada salah satu roda kereta kuda yang sedang melaju kencang. Kembali aku lepaskan dua buah anak panah hingga membuat gundukan lompatan yang membuat kereta kuda terhenti dan Guindra pun terlihat keluar dari dalam kereta kudanya..
Namun belum sempat aku memberikan isyarat lainnya kepada Guan Lin, Dong Ming dan Jun Hao. Terdengar suara pasukan kuda dengan bendera istana yang dengan gagah berkibar dan pasukan yang berteriak seolah menghentakkan bumi hingga terguncang..
“ Ca.. Ka..??”
Aku menarik ulur Busur panahku kembali begitu melihat Caka melaju melewati para Bhattara di depannya dengan pedang ditangannya memberikan komando penyerangan yang perkasa. Pasukan kuda brata dan para Bhattara pun terlihat semakin mendekati Guindra dan para Penjarah Hutan yang begitu terkejut melihat kehadiran pasukan Caka yang tanpa mereka sadari, membuat mereka berlarian mencoba menyelamatkan hidup mereka. Tersadar akan posisiku yang semakin kuat, aku kembali melepaskan anak panahku kepada Para Penjarah Hutan yang mencoba melarikan diri bersama Guan Lin, Dong Ming dan Jun Hao yang menyerang mereka menggunakan pedangnya.
Di penghujung sisa pasukan para Penjarah Hutan terakhir yang bertahan, mereka mencoba untuk mengelilingi Guindra dengan membuat lingkaran kecil, mencoba untuk melindunginya.. Tersadar pada Caka yang masih berada diatas kuda bratanya menuju kearah Guindra, kembali aku melepaskan anak panah kepada Penjarah Hutan itu sehingga Caka dapat dengan mudah menghampirinya. Para Bhattara pun menyerang para Penjarah Hutan hingga mereka tersudut.
“ GUINDRA..!!”
Teriak Caka yang menghunuskan pedang ksatrianya kepada Guindra
#TRAANGGG #TRAAANGG #BRUUAAAKK
Hentakan pedang Guindra yang mencoba melakukan perlawanan, berakhir dengan terjatuhnya Guindra dari kereta kuda
“ Kau pikir ini sudah selesai? Caka, kau jauh dibawah Atma dalam menghadapiku! MATI KAUU!!”
#DOORRR #DOOORRR
Suara tembakan yang dilepaskan Guindra kepada Caka dengan mengenai Dadanya
Terlihat Laras sentaja api dengan asap melekat keluar dari ujung yang memercikkan sedikit api saat melepaskan peluru kepada Caka.. Tubuh membeku dengan mulut yang terkunci dan amarah yang tak dapat kukendalikan. Melompat dengan berdiri tegap diatas tanah, aku kembali berjalan dengan tidak ada keraguan sedikit pun menuju Pria berhati hitam itu. Dengan Busur Panah ditanganku, aku...
“ GUINDRA!!!”
#SHUUUTTTT #SHUUTTTT #SHUUTTTT #SHUUUTTT
__ADS_1
Suara anak panah yang dilepaskan kemuning beberapa kali kepada Guindra yang berjalan mundur hingga tanpa sadar berdiri didekat tebing dan terjatuh diatas Batu Karang yang tajam
Melihat dengan hati bergemuruh, detik sesaat pria itu menghembuskan nafas terakhirnya. Akhirnya membuatku berhati dingin, atas hilangnya rasa bersalah karena menghilangkan nyawa seseorang.