
Terdiam menerima Titah Gusti Ratu yang bertanya kepada Ayahanda akan keputusannya akan mencabut gelar Prabu Stira dariku dan berniat menggantinya menjadi Kathamarawa membuat beliau meminta maaf dan merasa bersalah karena merasa mendahului titahnya. Namun sang Ratu mengerti akan perannya sebagai seorang ayah yang mengkhawatirkan kondisi anaknya dan juga menghukum anak tersebut jika melakukan kesalahan yang bahkan bisa mengakibatkan nama keluarga baik menjadi tercemar. Dengan tidak menjelaskan secara detail apa maksud dari hukumanku, akhirnya Ayahanda meminta Ratu untuk mengembalikan statusku sebagai Prabu Stira dan kembali menjadi prajurit wanita kepercayaan Gusti Ratu.
Tak menunggu waktu lama, tentu saya Sang Ratu pun langsung memberikan pengumuman kembali yang membuat mereka semua yang telah merendahkan dan mempermalukanku tertunduk malu hampir tak sanggup untuk menatapku saat ini. Acara pertemuan pun berakhir dengan meredanya kemarahan Ayahanda dan juga Ibunda yang merasa lega melihat ketegangan yang terjadi diantara kami.. Pureswari yang mencoba menenangkan Ibunda yang berdiri terasa lemas pun akhirnya tersenyum kembali bahkan mereka mengembalikan Busur Panah dan pedang yang khusus dimiliki olehku.. Entah hanya kepribadianku yang berbeda atau memang aku sudah terbiasa dengan diriku pada masa ini? Begitu aku melihat Busur panah dan pedang itu, entah mengapa aku merasa sangat senang seolah nyawa dalam hidupku kembali untuk bernafas..
“ Apa kalian akan langsung pulang?”
Kemuning yang mencoba mengejar Pureswari yang akan meninggalkan istana menuju kereta kuda
“ Ya Raka.. Ayahanda sepertinya ada tugas yang harus dikerjakan.. Sedangkan aku dan Ibunda akan menghadiri acara perjamuan di Bale Sintah sore ini..”
“ Baiklah, aku akan segera menyusul kembali setelah berbicara dengan Gusti Ratu”
“ Ya Raka.. Pureswari mohon pamit..”
Ucap Pureswari yang tersenyum dengan menundukkan kepalanya dan berlalu pergi
Dengan lambaian tangan Ibunda dan senyuman kembali diwajah Ayahanda, mereka pun berlalu meninggalkan istana. Seketika pandanganku teralihkan pada sebuah taman yang berada di depan istana dimana para Abdi istana sedeng berkumpul dan bersiap siap pulang kembali ke kediamannya masing masing.. Meskipun aku melihat mereka dengan mencoba untuk melupakan hal terjadi, sepertinya tidak berlaku untuk mereka yang masih saja menundukkan kepalanya dan seolah menghindari tatapan mataku. Merasa tidak ingin memperpanjang masalah, aku pun berjalan kembali menuju Aula utama Singgasana Gusti Ratu Tribuana untuk berbicara dengannya..
“ Gusti Agung Ratu.. Hamba datang menghadap..”
Ucap kemuning yang tertunduk dengan menaruh Busur panahnya
“ Denganmu, aku sudah tidak perlu lagi untuk berbicara sungkan. Kemuning, apa kau tahu tentang para penjarah hutan tengah? Kudengar mereka sempat menyerangmu?”
Ucap Sang Ratu kepada kemuning
“ Ya Gusti Ratu.. Apa Gusti Ratu akan memberikan tugas pada hamba mengenai hal ini?”
“ Aku ingin kau memberitahuku tentang kabar apa pun mengenai hal itu. Karena sepertinya ada Abdi istana yang bermain licik di belakangku hingga aku tidak bisa mempercayai siapa pun saat ini. Kemuning, apa kau bisa melakukannya?”
Mendengar Titahnya menjadi suatu kehormatan bagiku yang akan melayani istana dengan sepenuh hatiku seperti para Abdi istana lainnya yang memang tulus melayani Ratu. Dengan setengah bersujud dan mengambil Busur panahku, aku pun berlalu meninggalkan Bale aula utama ini untuk langsung menuju kediamanku. Namun ditengah halaman luas istana, langkahku terhenti disaat melihat Atma seperti sedang menungguku selesai berbicara dengan Gusti Ratu. Namun merasa tidak ada hal yang perlu kubicarakan dengannya, aku mencoba untuk mengacuhkannya namun Atma sama sekali tidak memperdulikan penolakanku dan berhasil membawaku menuju taman bunga di belakang istana..
Atma menundukkan tubuhnya sejajar denganku agar dapat melihat wajahku yang terduduk disalah satu kursi dengan mencoba menghindari tatapan matanya.. Aku tidak tahu sebenarnya bagaimana hubunganku dengan ksatria tampan yang menatapku saat ini di waktu sebelumnya, namun entah mengapa hati ini begitu sangat ingin menanyakan kabarnya bahkan ingin memeluknya meskipun aku merasa kesal dan begitu sakit hati padanya.. Atma pun hanya memandangku tak berkata, tak lama dia menyentuh wajahku lembut dengan salah satu tangannya dan mencium keningku dengan terdiam sejenak seolah mencoba memberitahuku bahwa dia sangat khawatir dan juga merindukanku..
“ Tanganmu baik baik saja? Kau tadi melepaskan anak panah dengan sangat cepat”
Atma yang langsung melihat kondisi kedua tangan kemuning
“ Hentikan, aku baik baik saja. Apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan padaku?”
Ucap kemuning yang masih merasa kesal dengan memalingkan wajahnya
“ Kemuning, kita sudah sepakat untuk tidak mengatakan kata MAAF satu sama lain karena menurutmu itu hanya akan membuat jarak. Tapi, Kali ini aku ingin meminta maaf padamu. Sungguh, aku memohon maaf darimu”
Atma menadahkan kedua tangannya diatas tangan kemuning dan menatap kemuning dengan penuh merasa bersalah
“ . . . . . . Apa kau. . . Baik baik saja?”
Kemuning yang akhirnya luluh menggenggam tangan Atma yang meminta maaf
“ Hanya mendapat luka goresan kecil pada tanganku akibat pencuri kecil”
Atma yang memperlihatkan tangannya yang terluka saat menolong kemuning malam itu
Ciuman hangat darinya saat ini benar benar begitu dapat meredakan Rasa lelah hati ini yang sudah lama merasa Gelisah akan jawaban ketidakpastian dan juga tindakan yang tidak perlu dilakukan.. Dengan saling menatap kembali satu sama lain, ternyata aku benar benar mengetahui bagaimana perasaanku yang begitu dalam padanya.. Atma membantuku untuk berdiri hanya agar dia dapat memelukku dengan erat seolah berbicara tidak akan membuatku merasa khawatir lagi kepadanya.. Namun disaat kami sedang melepas rindu, Diajeng datang dan seperti meminta perhatian Atma dengan bersujud dihadapanku memohon ampun akan maafku padanya..
Atma yang melihat Diajeng hingga tersujud padaku, langsung membuatnya berdiri bahkan mambantu Diajeng membersihkan dedaunan yang menempel pada selendang sarung yang dikenakannya.. Entah hanya perasaanku saja, atau memang Diajeng pun memiliki perasaan dalam kepada Atma melihat prilakunya padaku dan seolah memakai topeng disaat Atma berada di tengah kami.. Mencoba untuk membawa Atma pergi, Diajeng tiba tiba terjatuh dengan alasan kakinya terkilir dan tidak dapat berjalan. Atma langsung membantu Diajeng namun seolah tidak menghormatiku, Diajeng meminta Atma untuk menggendongnya menuju Bale kesehatan.. Dengan sifat Atma yang merupakan keturunan bangsawan, sangat tidak mungkin untuk menolak membantu Diajeng dan berlalu melewatiku begitu saja.
__ADS_1
. . . . . . . . . . .
“ Kakanda, Raden Mas Atma sudah lama tidak mengunjungi Kemuning kembali kemari.. Apa terjadi sesuatu pada mereka? Kemuning terlihat begitu gelisah dan murung..”
Ucap Raden Ayu ibunda kemuning yang membantu suaminya bersiap siap
“ Sudahlah, kita jangan ikut campur urusan mereka. Aku yakin mereka baik baik saja”
Ucap Raden Panji dengan senyuman mengambil sarung pedang dari istrinya
“ Apa kakanda akan mengijinkan jika aku mengajak anak anak untuk menginap di Bale Jinta?”
“ Sepertinya bagus mengingat banyak kejadian yang terjadi akhir akhir ini.. Baiklah, kalian aku ijinkan ke sana. Tapi aku hanya mengijinkan menginap 1 malam saja”
“ Terima kasih kakanda..”
Entah ada angin apa pada pagi hari ini selepas menghabiskan hidangan pagi hari, Ibunda menyuruku dan Pureswari untuk bersiap siap menuju Balen Jinta. Di ingatanku, terdapat penginapan dengan lahan rumput dan bunga yang luas dan seperti ada aliran mata air jenih dan bening yang membentang mengelilinginya.. Disana juga aku sering sekali melakukan latihan memanah bahkan terdapat lahan tanah kosong berpasir yang biasa aku gunakan bersama Pureswari untuk membangun sesuatu atau pun menggambar apa yang kita inginkan.. Tak menunggu waktu lama, Pureswari bersama dayang kepercayaannya sudah berdiri di depan Bale Delod yang berada di area tengah rumah dengan barang bawaannya serta senyum di wajahnya yang cantik..
Seperti biasa, barang bawaanku sangat tidak bisa disamakan dengan Ibunda dan Pureswari. Mereka yang melihat betapa ringkas dan sedikitnya barang barang ini, tertawa dengan Ayahanda yang seperti sudah mengerti memnberikan setas panjang yang berisi anak panah yang dapat kupakai untuk berlatih memanah selama berada disana.. Berjalan menuju pintu gerbang keluar, terdengar suara pria yang sedang berbincang dari arah belakang. Dari belakang terlihat Ibunda dan Ayahanda seolah tersenyum senyum malu mencoba menutupi maksud hati mereka..
“ RADEN MAS ATMA DAN CAKA?? Apa yang kalian lakukan di sini? Apa akan bertemu ayahanda?”
Ucap Pureswari yang terlihat penuh cinta begitu melihat Caka di hadapannya
“ Mungkin akan pergi tanpa ada kabar lagi..”
Ucap kemuning yang masih terlihat ketus dan memalingkan pandangan dari Atma
“ Kau ini, sudah besar masih saja.. Raden Mas, maafkan kemuning.. Apa kita pergi sekarang?”
“ Tunggu ibunda, mereka ikut bersama kita dan menginap?”
Ucap Kemuning yang merasa keberatan
“ Saat ini keamanan sedang tidak baik. Dengan mereka ikut bersama kalian, setidaknya dapat mengurangi beban pikiran dan hatiku. Sudah, Sudah.. Sana pergilah!”
Ucap Raden Panji menghindari Kemuning yang mengerungkan wajahnya dengan menutup pintu kereta kuda
Dengan langkah berat aku melangkah menuju kuda brata yang selalu menemaniku dengan uluran tangan Atma yang mencoba membantuku untuk naik diatas kuda itu. Seolah tak melihat uluran tangannya, kaki ku langsung tertumpu pada pijakan plana kuda dan aku pun langsung terduduk di atas kudaku tanpa melihat Atma yang masih terdiam di hadapanku. Kami pun langsung pergi dengan menyesuaikan kecepatan kereta kuda dan juga sembari menikmati pemandangan selama mata ini membentang.. Keindahan alam pada masa ini memang terlihat sangat jauh berbeda dengan masa dimana aku berasal sehingga tidak bosan bosannya aku melebarkan arah pandanganku terlebih cuaca pada masa ini pun masih dapat terasa sejuk meskipun sudah siang hari.. Terlihat Atma mencoba untuk mengimbangi laju kudaku agar kami dapat berdampingan berjalan, namun entah mengapa saat ini aku sedang tidak ingin berbicara atau pun melihatnya, hingga tak terasa kami pun sampai di Bale Jinta.. Dengan sigap para dayang dan beberapa satria membantu membereskan barang barang dengan Ibunda dan Pureswari yang sibuk berbicara mengatur ini dan itu.. Sedangkan aku lebih memilih untuk menikmati langsung pemandangan ini dengan berjalan dan terduduk dibawah sebuah Pohon Bringin dengan daun daun yang menjuntai terlihat menyejukkan.
“ Apa, kau akan tertidur disini?”
Ucap Atma yang tiba tiba terduduk disebelah kemuning
“ Aku pergi dulu..”
Kemuning yang tiba tiba terduduk dan mencoba untuk beranjak pergi
“ Kemuning, bukankah aku sudah meminta maaf padamu?”
Atma yang menarik tangan kemuning mencoba menghentikannya
“ Apa... Kau perlu menggendongnya dengan mesra seperti itu?”
Ucap kemuning dengan nada sedikit masih terasa kesal
“ Kau marah.. Gara gara itu?. Kemuning, apa aku terlihat seperti pria yang suka bermain main dengan wanita hingga kau seperti ini padaku?”
__ADS_1
Atma menarik tubuh kemuning agar dia dapat menatap wajah kemuning dengan jarak dekat
“ ATMA?? KAU ADA DI SINI??”
Ucap seorang wanita
“ Diajeng?? Ba, bagaimana bisa kau...”
Atma menatap Diajeng dengan penuh kebingungan
“ Aku sedang ingin menenangkan hatiku dan Cuma disini penginapan dengan pamandangan yang indah.. Lalu.. Mau sampai kapan kalian berpelukan seperti itu?”
Ucap Diajeng menjelaskan dengan penuh amarah dan senyuman palsu yang ramah
“Bagus sekali. Kalian berbincanglah sesuka hati.”
Kemuning kesal dengan langsung melepaskan tangan Atma dan berlalu pergi
“ Kemuning tunggu..!! KEMUNING!!”
Atma mencoba mengejar kemuning namun Diajeng menarik tangannya
Kenapa keadaan bisa sangat terjadi dengan begitu pas sekali semua tertata sangat rapi. Mencoba untuk mengalihkan pikiranku dengan terduduk bersama Ibunda, Pureswari, dan Caka pun dapat membuatku setidaknya mendinginkan hati ini yang terasa panas.. Hingga kedatangan Diajeng yang begitu dihormati Ibunda karena merupakan Guru kesenian Pureswari saat di istana. Ibunda pun mengajak Diajeng untuk ikut bersama kami untuk menyantap jamuan makan malam di senja yang indah ini.. Dengan terduduk disebelah Atma, aku terdiam dan menundukkan wajahku yang juga berada disebelahnya.. Tangan hangat yang menggenggam erat tanganku dengan hangat dapat terasa jelas berbicara padaku agar aku tidak merasa cemburu dan bahwa hanya aku lah wanita yang dia cintai dengan berpura pura berbicara dengan mereka semua seolah jarak memisahkan kami..
Menjelang malam, aku sama sekali tidak bisa tertidur lelap hingga akhirnya memutuskan untuk memanah di lahan yang disediakan penginapan. Berjalan dengan membawa busur panah ditanganku, pikiranku masih terganggu hal dengan adanya kehadiran Diajeng yang hadir secara tiba tiba dalam hidupku seolah merasa aku adalah Rival terberatnya.. Kali ini apa aku melupakan sesuatu? Ingatan apa yang terlewat olehku saat ini hingga Diajeng berprilaku seperti ini padaku? Mengatur nafas dan menitikkan titik fokus benda yang berada di hadapanku hingga pecahlah 3 kendi di tanganku malam ini dengan jarak dan letak posisi yang berbeda beda.. Berjalan kembali, kaki pun terhenti saat melihat Diajeng yang berdiri dihadapanku yang juga membawa Busur panah di tangannya..
“ Baru aku tahu Kathamarawa pandai memakai Alat itu. Sepertinya Gusti Ratu salah memberikan Gelar padamu”
Ucap Kemuning yang seolah menyindir Diajeng yang juga terlihat kesal padanya
" Prabu Stira yang perkasa dengan semua orang begitu sangat menghormatinya. Tapi tidak untukku!"
Ucap Diajeng sembari mengambil anak panahnya dan mempersiapkan busur panahnya dengan wajah dingin
" Aku tahu. Aku pun tidak memintamu melakukan itu padaku."
Kemuning yang berdiri tegap mencoba menahan emosinya
“ Sampai kapan kau akan terus menggunakan Tusuk konde hiasan di Rambutmu itu?”
Ucap Diajeng dengan Nada kesal
“ Atma yang memberikannya sendiri padaku tanpa aku memintanya. Apa kau tahu arti da..”
# SSHHHEKK
Suara anak panah yang melewati Wajah kemuning dan mengenai Rambutnya yang terurai panjang
“ Apa kau sudah hilang akal? APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU SAAT INI!”
Kemuning yang merasa kesal langsung membalas dengan menarik anak panahnya dan mengenai selendang Diajeng yang berada di pundaknya hingga terobek
“ ADA APA INI?? APA YANG KALIAN LAKUKAN??”
Atma yang tiba tiba datang memegang tangan kemuning untuk menurunkan Busur panahnya
Ya, teruslah bersandiwara dengan terluka dan menjadi korban yang memalukan! Sungguh tak habis pikir dan memuakkan sekali hal yang kau lakukan saat ini Diajeng. Tatapan mata Atma yang tajam meminta penjelasan dariku akan aku acuhkan saat ini karena hati dan pikiran ini begitu panas membara mengarah kepada wanita yang berpura pura terduduk lemas dengan menangis di hadapanku menggunakan topeng kepolosan hanya untuk mendapat simpatik atau merebut rasa sayang.. Apa saat ini Diajeng mengibarkan bendera merah padaku? Karena aku tidak akan mundur bahkan untuk salah langkah pun.
__ADS_1