Sabda Batari

Sabda Batari
Penjelasan Awal Peperangan


__ADS_3

Hembusan angin disertai suara ombak yang memecah batu karang.. Langit berwarna abu menandakan hujan akan datang memberikan berkahnya. Tangan mengepal ternyata tak memperdulikan jika Luka yang berada ditangan ini kembali terbuka sehingga darah pun tetap mengalir meski pun ku coba untuk menutupinya dengan menggunakan kain yang terikat sempurna. Kembali menatap pada tubuh tak bernyawa, aku menolehkan pandanganku pada Caka yang juga mengeluarkan darah segar dari dalam tubuhnya mencoba untuk menahan sakit yang dideritanya.


Berlari dengan membawa dan menarik kereta kuda yang digunakan Guindra, pasukan Bhattara pun mengangkat Caka menuju kedalam dan kami pun segera berkendara dengan segera mungkin menuju klinik pengobatan milik Guan Lin. Dengan sigap Dong Ming dan Jun Hao langsung berlari menyiapkan sebuah ruangan dengan Xia He dan Bao Yu yang mempersiapkan peralatan pengobatan mencoba untuk menyelamatkan Caka.. Terlihat mereka begitu sigap dengan para bantuan para Bhattara yang membantu mereka, sehingga aku dapat menemani Caka walau hanya beberapa saat sebelum Caka dibawa kedalam ruangan itu.


“ Ke.. Kemu, ning..!”


Caka tiba tiba menggenggam tangan kemuning dengan erat


“ Berhentilah berbicara, simpan tenagamu Caka! Tenanglah, kau akan baik baik saja.”


Ucap kemuning yang membalas genggaman tangan Caka


“ Su.. Surat.. Di, balik.. Sarung Pedang, ku...”


“ Baiklah, baiklah.. Sudah! Apa ini untukku? Aku akan membacanya! Sekarang, simpanlah tenagamu”


Kemuning yang memperlihatkan sebuah surat ditangannya kepada Caka


“ Berjanjilah... Kau, harus.. Memba.. Canya.......”


Caka yang tiba tiba tak sadarkan diri dengan terlepas genggaman tangannya


“ Caka?. . . .Tidak, Tidak... Caka bangunlah... GUAN LIN, DONG MING, JUN HAO!!”


Kemuning yang mulai histeris dengan berteriak kepada mereka


Guan Lin, Dong Ming, dan Jun Hao pun langsung mengangkat Caka kembali dibantu para Bhattara yang mencoba menyelamatkan Caka.. Berdiri terdiam tanpa bersuara, hati pun menangis lirih melihat kondisi Caka yang semakin terlihat melemah.. Apa hanya ini yang bisa aku lakukan? Bagaimana bisa hari ini berakhir dengan kejadian seperti ini, dikala aku membayangkan kemungkinan akan dirikulah yang berada di posisi Caka saat ini.


“ Kemuning, kemarilah.. Luka ditanganmu...”


Ucap Bao Yu yang terduduk pada sebuah kursi, membawa kotak perlengkapan obat ditangannya


“ Aku tidak apa apa.”


“ Jika darahmu terus mengalir, kau akan kekurangan darah dan membuat dirimu melemah.. Bukankah masih banyak hal yang harus kau lakukan?”


Xia He yang menepuk pelan pundak kemuning dengan tatapan iba


“ Kau benar.. Maafkan aku..”


Kemuning yang tertunduk berjalan kearah Bao Yu dan mengobatinya


Sepanjang Bao Yu mengobati Lukaku yang terasa semakin sakit karena luka yang tak kunjung pulih, aku teringat pada niat awal kami yang tidak ingin menimbulkan perhatian berlebih sehingga terbongkarnya penyamaran kami. Dengan sigap aku meminta bantuan para Bhattara untuk pergi bersamaku membawa kereta kuda milik Guindra meski pun balutan ditangan ini masih belum terikat sempurna.. Aku melihat kearah ruangan tempat Caka sedang melakukan pengobatan dengan berdoa dan kembali memusatkan perhatian dan pandanganku, aku berjalan bersama 3 orang Bhattara disampingku menuju kearah tebing dimana Guindra terjatuh.


Kereta kuda pun kami hancurkan dengan membuangnya jatuh kedalam jurang sehingga tak terlihat kepingannya sedikitpun karena hanyut terbawa deru arus pantai yang ganas. Merasa tugas kami sudah selesai, kami berjalan untuk menuju klinik kembali namun dipertengahan jalan kereta kuda milik Raksa dan Bhanurasmi terlihat dari kejauhan dengan beberapa Perjarah Hutan tengah di belakang dan depan mereka dengan jumlah yang banyak seolah mencoba untuk melakukan perlindungan berlebih. Sepertinya mereka sudah tahu akan kondisi Guindra saat ini.


Kami berempat pun bersembunyi dibawah semak semak tinggi dengan mematikan api obor yang ada ditangan kami. Seketika pasukan itu pun melewati kami dan kereta kuda pun terhenti tepat dimana kami menjatuhkan kereta kuda Guindra beberapa saat lalu. Tersadar akan bahaya yang mendekat, kami semakin menundukkan tubuh kami hingga hampir sejajar dengan tanah sehingga kami bisa mendengar apa yang dikatakan oleh mereka semua. Namun tiba tiba...


“Aa.. Apa itu Raksa? Benarkah itu Raksa?”


Ucap salah satu Bhattara kepada kemuning dengan terkejut saat melihat pintu kereta kuda yang terbuka dengan Raksa dan Bhanurasmi yang keluar secara bersamaan


“ Benar. Kenapa kalian, terlihat begitu terkejut?”


Ucap kemuning yang juga terlihat kebingungan


“ Karena dia, seseorang mendapatkan kesulitan dan disalahpahami hingga harus menanggung semuanya seorang diri. Begitu juga dengan kami yang mendapat kesusahan saat itu, dimana kami pergi berlayar bersama dan tertipu olehnya!”


Ucap Bhattara lainnya terlihat sangat kesal


Aku tahu pasti ada yang disembunyikan disini! Aku tahu Atma bukan pria seperti itu.


“ Pasukan Bhattara Tertipu? Lulu, yang kalian maksud dengan disalah pahami itu, adalah Atma. Bukan begitu?”


Tanya kemuning kepada ketiga Bhattara


“. . . . . . . . . . .”


Para Bhattara yang terdiam mendengar pertanyaan kemuning

__ADS_1


“Kalian tidak ingin memberitahukannya padaku?”


“ Prabu Stira dengan hormat.. Melebihi kehormatan kami, sebaiknya membaca surat yang diberikan Caka. Jika memang perlu menjelaskan lebih, maka akan kami jelaskan semuanya..”


Ucap Salah satu Bhattara kembali kepada kemuning


Terdiam dan mencoba untuk menahan diri untuk bertanya kembali kepada mereka, perhatianku kini lebih tertuju pada percakapan yang dilakukan oleh Raksa dan juga Bhanurasmi. Dengan memegang sebuah pedang pada salah satu tangan mereka seolah siap untuk bertempur jika sesuatu terjadi, dapat aku pastikan saat ini juga bahwa mereka berdua merasa gelisah dengan ketakutan yang terlihat jelas.


“ Kalian yakin disini dia jatuh?”


Ucap Raksa kepada pasukan para Penjarah Hutan


“ Ya, seorang wanita menjuruskan beberapa kali anak panah padanya meski jarak keduanya terlihat jauh. Sepertinya wanita itu bukan wanita sembarangan!”


Ucap Pemimpin para Penjarah Hutan tengah


“ Bulu ujung anak panah yang kalian berikan padaku, berwarna hitam merah.. Apa benar panah itu berasal dari salah satu anak buahmu yang terbunuh?”


Ucap Bhanurasmi kepada Pimpinan Penjarah Hutan


“ Ya, aku berlindung dan bersembunyi disaat Pasukan Bhattara Caka menyerang. Lalu saat wanita itu melepaskan anak panah pada Guindra, aku berlari dan mengambil salah satu anak panah itu dan memberikannya padamu.”


“ Jika benar yang kau katakan, tidak salah lagi dia adalah.. Kemuning!”


Ucap Bhanurasmi yang mengepalkan kedua tangannya


“ APA? Bukankah dia sudah terjatuh dari bawah tebing bersama Diajeng? Bahkan sampai saat ini belum terdengar lagi kabar mengenainya! Kau yakin?”


Ucap Raksa yang terkejut kepada Bhanurasmi


“ Saat kami bertiga mengambil sumpah menjadi Prabu Stira, Gusti Agung Ratu meminta kami untuk memililih Anak panah yang akan menjadi simbol diri kami masing masing. Anak panahku berwarna hijau kekuningan, Dharawi hitam putih, sedangkan Kemuning hitam merah.”


“ SIAL!! Apa itu berarti sekarang wanita itu berada di pulau ini?”


Ucap Raksa kembali dengan kesal


“ Hembusan angin sangat kencang dengan jangkauan mata yang sulit untuk melihat karena sinar matahari. Terlebih pohon pohon bercabang dengan daun lebat seperti ini. Kau juga bilang dia adalah wanita, bukan begitu?. Hanya Kemuning yang dapat menggunakan Busur Panah seperti itu, karena diantara kami bertiga, dialah yang terbaik.”


“ Tenang kakanda Raksa.. Aku yakin Kemuning pun cukup pintar karena sepertinya dia sudah melihat dan mengetahui aku disini. Aku yakin, dia bersembunyi disuatu tempat di pulau ini..”


“ APA YANG KAU TUNGGU?? CARI DIA SEKARANG!!”


Ucap Raksa yang marah kepada Parah Penjarah Hutan


“ TIDAK. Hanya aku. Dan harus aku yang melawannya. Jika kau tidak ingin kehilangan semakin banyak anak buahmu yang terbunuh, maka kakanda.. Percayalah padaku dan ikuti rencanaku. Karena aku sangat mengenalnya..”


Bhanurasmi yang melihat sekitar hutan dengan wajah tersenyum seolah mengetahui keberadaan Kemuning yang sedang bersembunyi


Terdiam mendengar Bhanurasmi yang berbicara seperti itu, menandakan dirinya memintaku untuk melakukan Bhumi Candrah Paritah. Salah satu sumpah yang diambil sebagai Prabu Stira jika salah satu dari kami membelot, dengan bertempur dimedan perang dengan melawan satu sama lain hingga salah satu dari kami mati terbunuh dan itu harus dilakukan oleh tangan kami sendiri, seperti yang dia lakukan sebelumnya kepada Dharawi saat membunuhnya dengan tidak berperasaan dengan alasan dan tanpa Titah apa pun yang jelas.


Baik aku dan Bhanurasmi, kini kami sudah mengetahui keberadaan diri kami masing masing sehingga dapat dengan jelas saat ini Bhanurasmi sedang mempersiapkan rencana mereka selanjutnya terlebih setelah aku membunuh Guindra dengan tanpa meninggalkan jejak sedikit pun atau pun pesan yang sempat terkirim untuk Raksa atau Bhanurasmi sebelum Guindra meninggal ditanganku. Dengan kembali masuk kedalam kereta kudanya, mereka pun berlalu pergi bersama dengan para Penjarah Hutan yang menurutku menuju lokasi tempat Alat alat perang tersebut disembunyikan.


Dua Bhattara tanpa menunggu waktu lama, langsung menawarkan dirinya untuk mengikuti mereka dari belakang guna mendapatkan informasi yang kami semua begitu sangat inginkan.  Meski merasa berbahaya, namun dengan keyakinan diri mereka padaku, aku pun memberikan ijin dan meminta mereka untuk berhati hati. Dengan terbagi dua, kami pun berpisah dan aku berharap semoga mereka berdua baik baik saja tanpa terluka sedikit pun.


Sesampainya di klinik pengobatan, terlihat Guan Lin, Dong Ming, dan Jun Hao terlihat begitu kelelahan dengan terduduk dan tersuguhkan beberapa minuman dan makanan bagi mereka. Aku berjalan mendekati mereka dan memberikan pandangan penuh tanya dan khawatir akan kabar yang kuharap dapat sesuai dengan yang aku inginkan..


“ Tenanglah. Dia sekarang baik baik saja.. Namun kondisi tubuhnya sangat lemah sepertinya dia akan tertidur seperti itu dalam beberapa hari.”


Ucap Guan Lin kepada Kemuning


“ APA? TIDAK MUNGKIN KARENA CAKA HARUS PULANG BERSAMA DENGAN KAMI SECEPATNYA!”


Ucap Bhattara yang pulang bersama kemuning


“ Kenapa kau terlihat begitu khawatir dan gugup? Bukankah seorang Bhattara, kokoh dan berani?”


Tanya kemuning padanya


“ Bukan itu, Laksamana saat ini pun pergi berlayar menuju cina secara tiba tiba hanya dengan sedikit pasukan Bhattara bersamanya! Lalu ha..”

__ADS_1


 #PRAAANNGGGG


“ Apa kau bilang? Katakan sekali lagi.”


Kemuning  menjatuhkan cangkir dari tangannya saat mendengar perkataan Bhattara tersebut


“ Apa benar Laksamana Atma pergi ke negeri kami?”


Ucap Guan Lin tiba tiba berdiri yang juga merasa tidak percaya


“ Sama saja dengan bunuh diri dengan dia melakukan hal itu. Untuk apa?”


Dong ming yang merasa aneh dengan menundukkan kepalanya


“ Ya. Aku pun tidak tahu bagaiamana nasibnya begitu sampai di sana! Terlebih dengan Caka sebagai Wali penggganti posisi Laksamana Atma. Posisi Pasukan Bhattara saat ini kosong dan kami tidak bisa bertindak semau kami sebelum ada Titah!.”


“ Apa kalian tahu untuk apa dia kesana seorang diri dengan sedikit pasukan?”


Tanya kemuning padanya kembali


“ Lebih baik, bacalah surat yang Caka berikan terlebih dahulu..”


Mengambil surat dari kamar yang Caka berikan padaku, aku pun membukanya di hadapan mereka semua saat ini. Selain surat tangan yang Caka tulis, ada 2 buah simbol yang melekat pada sebuah lembaran yang tertera seperti sebuah perjanjian. Mataku tertegun melihat salah satu simbol yang kuketahui bahwa simbol itu adalah milik istana kerajaan dimana hanya Gusti Agung Raja dan Ratu, atau seorang Mahapatih yang dapat menggunakannya.. Tiba tiba Guan Lin juga mengambil lembaran itu dari tanganku dengan wajah penuh terkejut dan memperlihatkannya kepada Dong Ming dan juga Jun Hao yang juga memberikan raut wajah yang sama seperti Guan Lin.


“ Ada apa? Katakanlah padaku..”


Ucap Kemuning dengan menatap kepada Guan Lin


“ Simbol ini.. Adalah simbol kerajaan kami. Dan hanya Menteri Istana tertinggi dekat kaisar yang dapat menggunakannya! Tidak mungkin, ini...”


Guan Lin yang menjelaskan dengan masih merasa terkejut


“ Ya, simbol ini pun milik istana kerajaanku dimana hanya seorang Mahapatih yang dapat menggunakannya selain Gusti Agung Raja dan Ratu.”


“ Apa hubungan perjanjian ini terjadi sebelum Atma berkunjung pada kami?”


Ucap Dong Ming kepada Bhattara tersebut


“ Ya. Dan saat itu Atma belum menjabat sebagai Laksamana, melainkan sama sepertiku dan Caka, yaitu seorang Bhattara.”


Ucap Bhattara itu yang menatap pada mereka semua


Tanpa berbicara banyak lagi, aku langsung membaca surat yang Caka berikan padaku dan begitu terkejutnya aku ketika membaca kenyataan dari cerita yang tersembunyi..


*Kemuning, Atma tidak bersalah. Perjanjian gelap itu terjadi dibelakang istana saat Mahapatih Kamandaka menjadi dalang bersama Laksamana Guindra saat berkunjung untuk menjalin hubungan perdagangan lebih baik dan dukungan keamanan bagi kedua istana kerajaan  dengan berlatih pasukan secara bersama sama. Mahapatih Kamandaka selaku Ayah Raksa terbutakan dengan bujukan salah satu Menteri tertinggi yang berada di istana saat di Cina dengan perjanjian sejumlah kekayaan dan alat alat perang yang lebih baik dan lebih mematikan dimana mereka pun melakukan perjanjian jual beli kepada bangsa eropa.


Namun begitu mereka kembali, tiba tiba terjadi pemberontakan perang wilayah, dimana Mahapatih Danudara mengirimkan hingga berujung menewaskan Mahapatih Kamandaka. Entah apa yang merasuki Raksa, namun Guindra tiba tiba memberitahukan kami sebuah Titah hubungan kerja sama sehingga kami harus berlayar kembali ke Negeri Cina. Semua tampak berjalan lancar bahkan dengan perwakilan istana Komandan Guan Lin beserta pasukannya yang menyambut kami.


Selepas dari itu, Atma dan beberapa pasukan Bhattara ditinggalkan begitu saja oleh Guindra yang berlalu pergi dengan kapal istana membawa semua peralatan perang pada tengah malam dan mengirimkan kabar akan kenaikan derajat Atma yang menggantikan posisi Guindra sebagai Laksamana, dimana Atma dan kami kala itu yang harus menanggung segala perbuatannya. Aku mengetahui rencana Guindra namun memilih menutup mulut karena Guindra mengancam akan membunuh kedua orang tuaku, namun meskipun aku sempat bekerja menjadi anak buah Guindra, kedua orang tuaku tetap Guindra bunuh. Kemuning, Atma tidak bersalah sedikit pun dalam hal ini.


#BHRAAKKK #TRAAAKKK


“ Aku.. Aku melepaskan anak panahku padanya..”


Kemuning yang tiba tiba hilang keseimbangan karena terkejut terduduk dibangku dengan tangan bergetar dan tatapan kosong


“ Tapi kau sengaja melesatkannya tepat melewati wajah Laksamana. Kami melihat yang kau lakukan saat itu tapi membiarkanmu karena Laksamana memerintahkannya. Namun, kami juga mengerti bagaimana posisimu saat mengetahui berita tersebut sebelum mengetahui sebenarnya..”


Ucap Bhattara tersebut kepada kemuning


“ Huang Wei. Menteri kaisar saat itu adalah Huang Wei.”


Ucap Xai He kepada Guan Lin dan Dong Ming


“ Bukankah dia diasingkan oleh kaisar karena sering berjudi dan mempermalukan kaisar?”


Ucap Jun Hao kembali


“ Sepertinya saat Kamandaka dan Guindra datang, Huang Wei menyambut mereka di tempat hiburan malam dimana tidak akan menimbulkan kecurigaan pihak prajurit kaisar!”

__ADS_1


Guan Lin yang merasa kesal dengan memegang sarung pedangnya


Pandangan mata yang saling menatap satu sama lain atas berita yang tidak masuk akal dan penuh kelicikan, sehingga membuat kami salah paham dan mengarahkan pedang satu sama lain karena merasa kebenaran ada dipihak kami namun ternyata pihak lawanlah yang menang.


__ADS_2