
Nadi berdetak dan jantung pun berdebar. Di tengah itu semua kepala yang tertunduk malu membuat pengakuan untuk permohonan maafku kepada orang terkasih atas menghilangkan barang pusaka warisan keluarga Maheswara. Tangan pun kembali bergetar tanda ketakutan hati yang tidak jelas akan jawaban seperti apa yang akan diberikan padaku.. Dengan sedikit mencuri pandang terlihat ketidakpuasan di wajah mereka saat ini yang sedang memandangku. Di pagi hari yang cerah ini, memberanikan diri datang menuju kediaman Mahapatih Danudara dan sebelum Atma bersungguh sungguh melakukan apa yang dikatakan dan dijanjikannya padaku, aku tidak ingin memulai jalinan suci ini dalam kebohongan yang terkesan indah namun terselip rasa kekecewaan..
Tersadar akan tingkah lakuku yang bodoh, sepasang kaki pun berjalan menuju kearahku membuat diri ini semakin merasa takut untuk tertungkul malu terlebih untuk berdiri tegap menatap wajah mereka yang akan menjadi orang tuaku lainnya yang menjadi bagian hidupku. Semakin berjalan mendekatiku, semakin aku merasa bergetar bahkan untuk bernafas pun terasa sulit kulakukan. Uluran tangan yang menjurus padaku, seakan pasrah dengan nasib yang akan menimpaku jika kekesalan mereka dilimpahkan dengan menghukumku saat ini. Namun ternyata...
“ Syukurlah ananda Kemuning kau baik baik saja.. Apa yang akan kami katakan kepada Ayahmu jika pulang nanti jika terjadi sesuatu padamu..”
Ucap Ratu Ayu Bahanuwati, ibunda Atma yang memeluk kemuning erat
“ Kenapa kau merahasiakannya saat mengetahui itu semua?”
Ucap Mahapatih Danudara yang menatap kemuning penuh khawatir
“ Ma.. Maafkan ananda.. serta maafkan atas kelancangan untuk bertanya, apakah Mahapatih dan Raden Ayu tidak merasa marah padaku?”
Kemuning mencoba mengatur jarak dengan Raden Ayu dan menatapnya
“ Barang itu memang harta berharga bagi keluarga kami. Tapi itu tidak sebanding dengan nyawa yang akan dikorbankan, terlebih padamu kemuning..”
“ Itulah yang ku katakan kepadanya ibunda.. Ayahanda.. Tapi, dia masih saja tidak percaya padaku!”
Atma yang tiba tiba memasuki ruangan, memberikan penghormatan kepada orang tuanya dan berjalan berlalu melewati kemuning dengan sedikit kesal terduduk disebelah ayahnya
“ Duduklah kemuning. Katakan padaku, apa saja yang kau ketahui tentang para Penjarah Hutan itu?”
Ucap Mahapatih Danudara yang diikuti Raden Ayu yang juga terduduk kembali
“ Gusti Mahapatih, Lokasi mereka tepat berada di Hutan bagian utara mengarah mendekati pantai laut selatan yang juga tak jauh dari dermaga..”
Ucap kemuning dengan sedikit menundukkan kepalanya
“ APA?! Pantas saja mereka dengan mudah mendapatkan peralatan perang dengan mudah!”
Mahapatih Danudara yang kesal dengan mengepal tangannya
“ Kakanda suamiku.. Katakanlah jika mengirim pasukan ksatria kesana, apa Patih Andaru akan bisa diselamatkan?”
Ucap Raden Ayu yang mengkawatirkan kondisi Ibunda kemuning yang melemah
“ Ibunda, mereka adalah pasukan khusus yang dilatih oleh istana. Tidak semudah itu jika kita ingin menyerang karena mereka berhasil menambah jumlah pasukannya!”
Atma yang merasa kesal dengan sedikit menundukkan kepalanya
“ Gerbang masuk mereka hanya berupa 2 buah Pohon Beringin besar, Gusti akan tahu itu jika Gusti melihat 2 buah patung dan Candi kecil yang digunakan mereka untuk upacara adat..”
Kemuning yang mencoba menjelaskan kembali
“ Kau harus meminta keputusan Gusti Agung Ratu dahulu kemuning sebelum bertindak. Kau tahu itu bukan, karena kau adalah seorang Prabu Stira?!”
Ucap Mahapatih kepada kemuning
“ Serta jangan terlalu gegabah, Kemuning biar bagaimana pun kau adalah seorang wanita..”
Ucap Raden Ayu yang menatap kemuning khawatir
“ Baik, Gusti Mahapatih, Gusti Raden ayu, kemuning mengerti.. Tapi Gusti, mereka menyarankan untuk datang pada tengah malam jika ingin kesana. Karena pada saat itu mereka selalu mabuk setelah jamuan makan malam bahkan terkadang hingga tak sadarkan diri karena minuman keras..”
“ Bagus. Sepertinya kita memiliki celah. Ayahanda, bisakah kau menyerahkan tugas ini padaku?”
Ucap Atma yang langsung berdiri tegap dihadapan ayahnya
“ Tentu. Persiapkan semua dengan baik dan terencana.”
Dengan menundukkan kepalanya kepada ayahnya, Atma terlihat serius memandangku dan menganggukan kepalanya seolah berkata *Percayalah padaku. Ayahmu akan baik baik saja dan semua akan berjalan lancar. Melihat expresi Atma yang seperti itu padaku, akhirnya dapat membuatku tersenyum dan tertunduk mencoba untuk menjaga jarak pandang kami karena berada dihadapan orang tua yang dianggap agung.. Selesai dengan pembicaraan ini, tanpa pikir panjang Atma memberitahukan kami untuk segera bersiap siap menuju istana tanpa memberitahukan apa maksud dari perintahnya itu..
__ADS_1
Namun baru kali ini aku melihat Mahapatih Danudara dan Raden Ayu Bhanuwati langsung menuruti perintah Atma dan langsung berkendara dengan kereta kudanya menuju istana. Pertanyaan demi pertanyaan pun terbesit dikepalaku, jika hanya janji sumpah pernikahan, aku pikir cukup hanya dihadiri para orang terkasih dan tidak perlu sampai ke istana dan melibatkan Gusti Agung Raja dan Ratu dalam hal ini.. Atau, apa Atma akan menceritakan semua rencananya kepada Gusti Agung Raja dan Ratu?
Sesampainya kami di istana terlihat ibunda yang ditemani Pureswari dan Caka pun sudah akhir dan tersenyum kearahku, bahkan beberapa Menteri dan Abdi istana pun hadir dan sudah terduduk di ruangan utama singgasana, bahkan Diajeng pun hadir saat ini. Namun kenapa baik Atma, Mahapatih Danudara serta Gusti Agung Raja dan Ratu masih belum terlihat? Hati kembali berdegup kencang dan matapun mencoba mencari tahu tentang apa yang terjadi saat ini, hingga akhirnya...
“ GUSTI AGUNG RAJA DAN RATU MEMASUKI SINGGASANA ISTANA”
Ucap salah satu penjaga di depan gerbang aula singgasana
Terlihat Atma dan Mahapatih Danudara berjalan dibelakang mereka dengan begitu gagah dan tegap lalu terduduk tepat di bawah Gusti Agung Raja dan Ratu. Terlihat Gusti Ratu menatapku dengan tersenyum seolah merasa bangga padaku meski aku tidak tahu akan hal apa yang begitu membuat Gusti Agung tersenyum padaku saat ini.
“ Sepertinya aku tertipu dengan mendapatkan informasi palsu yang hampir merugikan kerajaan. Karenanya dengan ini, aku memutuskan untuk melakukan pemeriksaan dengan Mahapatih Danudara dan menempatkan Laksamana Bhattara Atma sebagai pemimpin komando pasukan perang garis depan.”
Titah Sang Raja dengan tegas
“ Aku juga memberikan wewenang kepada Prabu Stira untuk memimpin pasukan pemberani pria dan wanita, disaat dia membutuhkannya tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu.”
Titah Sang Ratu dengan tegas
“ SEMOGA GUSTI AGUNG RAJA DAN RATU SELALU DI BERKAHI”
Ucap semua yang berada di ruangan singgasana dengan membungkukkan tubuhnya
“ Ada pun Rangasa Dhayaka (Pasangan calon suami istri yang diijinkan melakukan pernikahan di istana atas restu Raja dan Ratu) yang ku umumkan sebelumnya, akan melangsungkan janji sumpah pernikahan sebelum pernikahan mereka berlangsung di hadapan kita semua.”
Ucap Sang Ratu yang menatap kepada Atma
“ KETETAPAN GUSTI AGUNG TAK AKAN TERBANTAHKAN”
Ucap semua yang berada di ruangan singgasana dengan membungkukkan tubuhnya
Janji sumpah pernikahan.. Di istana? Apa yang ada di pikiran Atma? Dengan melakukan janji sumpah ini sama saja dengan tidak diperbolehkan menikah dengan siapa pun kembali selama sisa hidupnya. Tidak perduli apakah salah satu pasangan itu meninggal dalam medan pertempuran sebelum melakukan pernikahan atau terpisahnya kedua pasangan karena akhirnya merasa tidak ada kecocokan, maka pasangan itu tidak diperbolehkan menikahi siapa pun kembali dengan siapa pun karena sumpah yang mereka ambil di dalam istana.
Banyak yang menganggap janji sumpah pernikahan ini terlalu berbahaya untuk keluarga besar dan untuk keturunan mereka sehingga mereka lebih memilih tidak melakukan janji sumpah pernikahan ini. Tapi, mengapa Atma yang mengetahui hal ini, berani mengambil resiko besar seperti ini bahkan terlihat Mahapatih Danudara dan Raden Ayu Bhanuwati pun mendukung dengan tersenyum padanya. Tersadar akan kehadiran wanita yang tiba tiba terduduk tak jauh dari tempatku, terlihat Diajeng dengan tegap dan juga terlihat begitu bahagia dengan keputusan yang diambil Atma saat ini.
Atma mengulurkan salah satu tangannya kearah Diajeng dan Kemuning
Kedua tangan yang mengepal dengan kepala yang tertunduk akhirnya hal itulah yang dapat aku lakukan. Rangasa Dhayaka yang dimaksud adalah Atma dan Diajeng, bukan aku atau pun wanita lain yang akan mendampingi Atma.. Semakin tertunduk dengan menerima Titah, aku pun mencoba untuk sedikit demi sedikit bergerak mundur dan membiarkan Diajeng untuk maju berdiri dihadapan Atma. Tak kuasa hati melihat lebih lama, aku membalikkan pandanganku menghindari apa yang akan menjadi luka hati lainnya yang akan menyiksaku.
Namun seketika semua orang bersuara dengan nada seolah terkejut dan tersadar tatapan mereka pun melihat tertuju kepadaku yang masih mencoba untuk menundukkan kepalaku. Terasa Pureswari dengan lembut menyentuh punggungku seolah memberitahuku untuk menegakkan kepalaku dan melihat dengan jelas apa yang ada dihadapanku.. Dengan memberanikan hati, aku pun menadahkan kepalaku keatas dan terlihat jelas Atma yang sedang mengulurkan tangannya kepadaku..
“ Ap.. Apa yang kau lakukan? Diajeng berada disana.”
Kemuning memberikan tatapan terkejut dan mengarahkan matanya pada tempat Atma sebelumnya berdiri
“ Diajeng?”
Ucap Atma yang terlihat kebingungan dengan masih mengulurkan tangannya pada kemuning
“ Atma berhenti melakukan hal konyol saat ini kau sedang berada dihadapan Gusti Agung!”
“ Apa aku terlihat sedang bercanda?”
Atma masih mengulurkan tangannya dan menatap kemuning sangat dalam
Terlihat dari kejauhan Diajeng sangat marah dan merasa dipermalukan. Tatapan Diajeng begitu menusukku seakan akan ingin membunuhku saat ini juga. Tersadar akan posisi Diajeng yang berdiri seorang diri dengan Atma yang meninggalkannya dan berjalan kearahku, membuatku merasa bingung karena mencoba mengerti perasaan Diajeng saat ini.. Namun mengingat semua hal yang sudah dia lakukan saat ini serta Atma yang menatap menunggu jawaban dariku, akhirnya aku pun memutuskan untuk menerima uluran tangan itu untuk berdiri dan berjalan menuju Aula Tengah Singgasana dimana Gusti Agung Raja dan Ratu dapat melihat kami dengan jelas.
“ Atma, apa yang kau lakukan?”
Ucap Diajeng yang berjalan menghampiri Atma dan kemuning dengan kesal
“ Dari awal sudah ku peringatkan padamu untuk tidak berbuat lebih jauh lagi. Serta, Diajeng.. Tugasku menggantikan kakakmu terbayar sudah.”
“ TIDAK ATMA! TIDAK! Kau tidak bisa melakukan ini padaku.. Aku, aku...”
__ADS_1
“ Hentikan Diajeng. Sejak awal kau juga tahu hanya kemuning yang ada dihatiku. Terlebih kau membohongi Gusti Agung Raja dan Ratu dengan menyampaikan berita yang tidak benar.”
Mendengar itu Diajeng terlihat terkejut dengan apa yang Atma katakan. Berjalan mundur, Diajeng menundukkan kepalanya dan melihat kearah Gusti Agung Raja dan Ratu yang melihatnya dengan tatapan penuh marah namun mencoba untuk menahannya. Sepertinya Atma berbicara sesaat sebelum menuju kemari dan menjelaskan permintaan prihal Diajeng kepada Gusti Agung Raja dan Ratu. Melihat mencoba menahan emosinya, Diajeng yang ketakutan menundukkan tubuhnya dan berjalan dengan setengah berlari meninggalkan Aula tengah Singgasana dan acara inti pun dimulai.
“ DENGAN INI, AKU ATMA MAHESWARA. SEORANG BHATTARA LAKSAMANA, MELAKUKAN JANJI SUMPAH PERNIKAHAN DENGAN PRABU STIRA BERNAMA DYAH KEMUNING BAHWA AKU AKAN MENIKAHINYA DISAAT SEMUA TUGAS TERPENUHI. JANJI SUMPAH INI AKAN AKU SEMATKAN DI ATAS BATU SUCI.”
Atma menyentuh sebuah Batu suci di hadapannya yang biasa digunakan dalam Upacara Adat
“ 1 LANGKAH 2 HATI. SEMOGA KALIAN DI BERKAHI”
Ucap semua yang berada di ruangan singgasana dengan membungkukkan tubuhnya
“ Dengan ini, kami merestuimu Rangasa Dhayaka.. Segeralah menikah dan lahirkan keturunan yang akan mengabdi kepada keluarga dan istana kelak.”
Ucap sang Raja menatap Atma dan kemuning
“ Aku pun merestui kalian semoga kekal. Jagalah kehormatan kalian dan menghormati satu sama lain..”
Ucap Sang Ratu dengan tersenyum kepada Atma dan kemuning
“ SEMOGA GUSTI AGUNG RAJA DAN RATU SELALU DI BERKAHI”
Ucap Atma dan Kemuning yang menundukkan tubuhnya
. . . . . . . . . . . . . . .
Senja menuju malam, acara pun selesai dengan di tutupnya acara jamuan makan malam, yang dimana aku merasa ada sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. Entah mengapa hati ini merasa tidak tenang. Kepulangan para anggota keluarga yang meninggalkan istana dengan Atma dan Caka yang masih bersama dengan Mahapatih Danudara dan Gusti Agung Raja terlihat berjalan kembali menuju Aula singgasana.. Kini tersisalah hanya aku dan Pureswari yang bersiap siap untuk menunggangi kuda brata untuk kembali pulang menuju Bale Kediaman. Senja pun dimakan oleh pekatnya malam dimana suasana terasa hening sekali dengan ketidakhadiran Ayahanda.. Bagaimana kabar Ayahanda? Berapa lama lagi aku harus menunggu untuk bisa menyelamatkannya.
Berjalan mengitari halaman belakang, kaki pun terhenti disaat terdengar suara teriakan dan orang yang terdengar seperti berlarian kesana kemari dan tampak begitu panik seolah sesuatu yang buruk sedang terjadi. Kaki pun berlari menuju Gerbang pintu masuk dimana terlihat kebulan asap disertai warna merah jingga dari kobaran api yang terlihat mengganas. Tersadar akan pondok kediamanku yang berada disana, tanpa berpikir panjang aku langsung kembali membawa kuda brataku dengan secepat mungkin menuju pondok kediaman yang menjadi tempat berlindung para wanita dan anak anak itu.
“ API MENYEBAR!! API MENYEBAR!!”
Ucap seorang warga yang mencoba membawa kendi air secara bergantian menyemburkan ke arah pondok bangunan
“ Tunggu, apa yang terjadi?”
Ucap kemuning pada salah satu warga
“ Gusti Raden Rara, saya melihat beberapa orang pria menunggangi kuda berlari dari pondok itu dan tak menunggu lama api pun menyebar dengan cepat..”
Ucap seorang warga yang menundukkan tubuhnya mencoba untuk menjelaskan
“ Maaf, berikan kendi air itu padaku!”
Kemuning yang mengambil paksa kendi berisi air dari warga tersebut dan menyiramkan kepada seluruh tubuhnya hingga basah kuyup
Berlari menerjang pertahanan pagar api yang mulai menyambar perbatasan pintu masuk, terlihat api melahap semua dengan sangat cepat bahkan aku tidak tahu apa yang kulihat saat ini dihadapanku yang terhalang asap debu hitam yang menyesakkan untuk bernafas.. Memberanikan diri dengan menendang Gerbang pintu masuk, akhirnya aku melihat pemandangan yang begitu memilukan hati.. Semua wanita paruh baya sudah tergeletak tak bernyawa dengan luka disekitar perut dan leher mereka.. Kembali pandangan pun teralih pada lumbung dimana terdapat bayi dan juga anak anak yang tergeletak tak bernyawa.. Hampir kehilangan akal sehat namun mencoba untuk menahannya, tersadar pada Abdi dan juga Dayang yang setia menjaga Pondok kediamanku yang ikut terlihat tak bernyawa bersama para wanita lainnya.
“ Tidak.. Apa.. Apa yang terjadi kepada kalian..? Siapa yang dengan tega melakukan ini semua..? Terlebih, apa kesalahan kalian semua..?”
Kemuning yang terdiam bagai patung ditengah tubuh tak bernyawa dengan kobaran api yang terus menyala
Kini baru kutahu bahwa semua nyawa akan menjadi tidak berarti disaat hasrat akan kekuasaan tidak di sertakan dengan kemampuan hati untuk mengukur kadar kemanusiaan yang terdapat dalam diri pribadi kita masing masing. Peluh melihat semua ini dengan mengingat senyuman dan perjuangan mereka untuk bertahan hidup, kenapa begitu membuat hati ini tersayat bagai beribu ribu pisau di lemparkan kepadaku. Tawa anak anak yang berlarian itu, kini sudah tidak dapat lagi kulihat.. Ucapan terima kasih dengan tubuh membungkuk yang menghormatiku, sungguh tidak pantas kudapatkan. Tangan yang bergetar dan mata yang berlinang air mata pun sudah tidak dapat lagi kubentung di tengah hembusan angin yang membuat kobaran api semakin melahap tempat ini..
“ KEMUNING!! KAU DIMANA?! KEMUNING!!”
Ucap Atma yang juga menerjang api dan menerobos masuk kedalam
“ ATMA, KEMUNING BERADA DI DALAM DEKAT LUMBUNG!!”
Caka yang berteriak dengan memanjat keatas atap pondok
Terdengar suara yang memanggil manggil namaku saat ini.. Apa aku masih memiliki hak untuk membalaskan rasa sakit hati dan dendam di hati ini?
__ADS_1