
Kelap malam hilang terganti dengan cahaya matahari yang begitu menyilaukan di pagi hari ini. Hening.. Semua hening, tidak ada yang berani berkata apa pun. Kondisi ibunda yang tiba tiba menurun karena merasa terkejut pun membuatnya mengalami demam yang hingga kini belum mereda.. Pureswari yang terlihat gelisah namun mencoba menutupinya di hadapan ibunda seraya hanya mencoba untuk menghibur ibunda setidaknya agar dapat menyantap beberapa suap makanan dan minuman.. Tabib istana yang memeberitahukan akan kondisi ibunda yang semakin melemah pada siang hari ini, membuatku semakin merasa tertekan dan bingung akan apa yang harus aku lakukan.
Tak lama terdengar rombongan ramai di depan gerbang pintu masuk dengan berita atas kehadiran Mahapatih Danudara dan Bhattara Caka yang berada di kediamanku untuk melakukan pemeriksaan dan juga melihat kondisi kami. Ibunda Atma, istri dari Mahapatih Danudara bahkan datang untuk melihat kondisi Ibunda dan mencoba untuk menenangkan dan menghiburnya.. Caka yang memeluk Pureswari dan membelai kepalanya dengan lembut pun begitu terlihat sangat teduh penuh kehangatan limpahan kasih sayang.. Namun hanya aku berdiri seorang diri di sini tanpa ada seseorang pun yang mencoba menanyakan kondisi atau bagaimana perasaanku saat ini.
Perasaan amarah, gusar, dan penasaran pun semakin membayangi pikiran yang menyempit bahkan membayangkan hal yang semestinya tidak perlu kulakukan. Namun, sesaat mendengar percakapan Pureswari dan Caka dari balik dinding ini, akhirnya aku pun mengambil keputusan yang aku tidak tahu ini baik atau tidak, tapi aku rasa sudah cukup bagiku untuk berpikiran terbuka dan menerima sikap menyudutkan yang Atma lakukan padaku.
“ Pureswari!”
Caka memanggil Pureswari dengan sedikit tegas untuk keluar ruangan dan menyerahkan sesuatu kepadanya
“ Hiasan rambut ini.. Bukankah ini pemberian Raden Mas Atma untuk Raka Kemuning? Bukankah hiasan ini...”
Ucap Pureswari yang kebingungan dan sedikit terkejut kepada Caka
“ Ya. Apa kemuning, menolak menikah dengan Atma?”
“ Tidak! Tidak mungkin. Raka begitu mencintai Raden Mas.. Aku tahu itu, Percayalah!”
Pureswari yang memegang tegas lengan Caka dengan tatapan tajam
“ Baiklah, berarti terjadi sesuatu diantara mereka. Tapi, dimana kemuning? Kenapa aku tidak melihatnya?”
“ Ya, kau benar Caka.. Tadi Raka kemuning masih berada disini. Kemana Raka?”
Ucap Pureswari kepada Caka dan melihat kearah seluruh area Bale kediaman
Aku sudah tidak lagi perduli dengan semua prihal percintaan yang semu, karena yang menjadi tujuan utamaku saat ini adalah menemukan Ayahanda sesegera mungkin. Tanpa pamit kepada mereka semua, aku menunggangi kuda brata dan berlari secepat mungkin menuju tempat persembunyian para wanita dan anak anak tempo hari tanpa Pureswari yang menemaniku. Akan aku dapatkan informasi dari mereka semua tentang dimana, apa, siapa, atau apa pun informasi mengenai para Penjarah Hutan Tengah yang dapat aku dapatkan. Mencoba untuk tetap berpikiran tenang tanpa terbawa emosi pun akhirnya dapat kulakukan meski berat bagiku untuk melakukannya.
“ GUSTI RADEN RARA KEMUNING, PRABU STIRA SEMOGA DI BERKATI”
Ucap beberapa wanita yang kembali tersujud dihadapan kemuning diikuti oleh yang lainnya
“ Bangun dan duduklah. Ada yang ingin ku tanyakan pada kalian semua..”
Kemuning yang terduduk tepat di tengah tengah mereka
“ Hamba tahu apa yang ingin Gusti Prabu Stira tanyakan pada kami.. Katakanlah, kami akan membantu sebisa mungkin..”
Ucap Seorang wanita lainnya dengan menundukkan kepalanya
“ Ayahandaku di culik oleh para Penjarah Hutan Tengah sebagai tebusan untuk melepaskan Ibunda dan juga Pureswari yang sudah menolong kalian. Jadi aku mohon katakan semua saat ini juga.”
“ Mohon ampun Gusti bertanya, apa Raden Rara Pureswari baik baik saja?”
Seorang wanita yang memberanikan dirinya untuk menatap kemuning
“ Ya, bersyukur dia baik baik saja”
Ucap kemuning dengan sedikit tersenyum pada wanita itu
“ Gusti, saat ini pasti Ayahanda Gusti Prabu Stira sedang di ikat di Wiradhata. Tempat di Aula terbuka di tengah hutan dengan tiang kayu kokoh yang membentang. Entah hujan atau terik matahari, kita akan dibiarkan terikat tanpa di berikan makanan atau minuman..”
“ Ap.. Apa kau bilang?”
“ Gusti Prabu Stira harus segera menyelamatkan Ayahanda Gusti. Lokasi mereka tepat berada di Hutan bagian utara mengarah mendekati pantai laut selatan yang juga tak jauh dari dermaga.”
“ Gerbang masuk mereka hanya berupa 2 buah Pohon Beringin besar, Gusti akan tahu itu jika Gusti melihat 2 buah patung dan Candi kecil yang digunakan mereka untuk upacara adat..”
“ Tapi Gusti, kami sarankan untuk datang pada tengah malam jika ingin kesana. Karena pada saat itu mereka selalu mabuk setelah jamuan makan malam bahkan terkadang hingga tak sadarkan diri karena minuman keras..”
Ucap para Wanita yang menjelaskan kepada Kemuning
“ Kenapa kalian memberitahukan semua ini padaku dengan mudahnya?”
Ucap kemuning dengan sedikit merasa curiga
“ Karena mereka semua merenggut kebahagiaan kami, Gusti Prabu Stira. Suami kami mereka bunuh bahkan anak kami pun ada yang menjadi korban. Harta dan rumah kami pun, mereka hancurkan.. Karena itu, tanpa malu hati.. Kami mohon.. Balaskanlah dendam kami yang tidak berdaya ini Gusti Prabu Stira.. Bunuhlah habis mereka semua..”
Ucap Seorang wanita yang menangis sedih namun berusaha tetap tegar dengan amarah menatap pada kemuning
__ADS_1
Terdiam melihat mereka semua yang terlihat memelas dengan pandangan membara penuh amarah namun tidak ada yang mereka dapat lakukan. Sepertinya berita yang tersebar sama sekali benar benar bertolak belakang melihat kondisi mereka saat ini. Tertunduk aku pun akhirnya mengerti apa yang dilakukan oleh Pureswari selama beberapa hari ini.. Dengan hanya mengandalkan harta yang dimilikinya untuk memenuhi isi perut mereka yang banyak ini, akan sangat tidak cukup mengingat rasa lapar dan dahaga yang mereka tahan selama perjalanan menuju kemari..
Dengan terdiam aku berdiri dan meninggalkan tempat ini dengan kondisi mereka yang masih tertunduk dan setengah bersujud padaku. Akhirnya dinding kokoh dalam diri ini pun runtuh juga.. Mencari toko persediaan bahan pangan terdekat serta lauk pauk dan menyewa sebuah gerobak kecil pun akhirnya aku lakukan. Aku pasti sudah kehilangan akal saat ini! Namun entah mengapa hati ini berkata sebaliknya sehingga tidak sanggup untuk menolaknya. Dalam perjalanan kembali menuju tempat itu, kembali melewati lahan persawahan pun aku lakukan hanya untuk mencoba menutupi gerobak kecil ini dengan tumpukan jerami padi agar tidak menimbulkan kecurigaan..
Pintu Gerbang terbuka dengan mereka semua yang terlihat terkejut dengan apa yang kubawa saat ini, tak kala anak anak yang kegirangan bahagia hanya karena melihat sekarung beras pun ternyata dapat membuatku tersenyum.. Para ibu yang menarik tangan anaknya mencoba untuk bersikap sopan padaku pun akhirnya aku biarkan karena merasa bahagia dengan mereka yang loncat bagai kelinci kecil mengelilingi gerobak makanan.. Dengan memberikan isyarat kepada para wanita lainnya, akhirnya dengan menitikkan air mata dan tersenyum padaku mereka ambil satu persatu semua ini dan tidak memerlukan waktu lama untuk langsung memasak untuk mereka hidangkan..
“ Gusti Prabu Stira? Apa Gusti akan pergi?”
Ucap seorang anak gadis pada kemuning
“ Ya.. Ada apa? Ada yang ingin kau katakan?”
Kemuning mencoba menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan gadis itu
“ Gusti begitu cantik, anggun, dan berani. Jika besar nanti, aku ingin menjadi sepertimu..”
“ Aku juga! Wanita Cantik dan Berani, Gusti dapatkah mengajarkan kami?”
Ucap dua gadis yang berdiri dihadapannya
“ Baru kali ini aku mendengar ada yang menyebutku seperti itu.. Apa kalian tahu, mereka lebih sering mengatakan aku wanita yang keras kepala dan menyebalkan..”
Kemuning yang tersenyum dengan mengusap kedua kepala gadis itu
“ KINASIH! DARMAYA! DIMANA LETAK KESOPANANMU! GUSTI PRABU STIRA, MOHON AM..”
“ Hentikan tidak apa apa.. Jadi namamu Kinasih dan Darmaya? Nama yang indah.. Ini untuk kalian. Jagalah baik baik..”
Kemuning menghentikan sang ibu dengan menyerahkan Belati kecil dan selendang sutranya
“ Be.. Benarkah ini untuk kami? SEMOGA GUSTI PRABU STIRA SELALU DI BERKAHI..”
Ucap sang Gadis dan Ibunya dengan setengah tersujud pada kemuning
“ Aku dan Pureswari tidak akan selalu berada disini. Sumur timba pun sudah dapat kembali digunakan.. Persediaan makanan sengaja aku persiapkan untuk kalian selama seminggu ke depan. Sebisa mungkin kalian jangan menimbulkan masalah yang mencurigakan..”
“ BAIK, GUSTI PRABU STIRA..”
“ Serta terima kasih sudah memberitahuku informasi yang sangat kubutuhkan. Aku pamit dulu, jagalah kesehatan dan keselamatan kalian.”
“ SEMOGA GUSTI PARBU STIRA SELALU DI BERKAHI..”
Ucap mereka semua dengan tersujud kepada kemuning
Berjalan keluar dari tempat ini entah mengapa aku merasa begitu hangat dan juga seolah suatu kebahagiaan dapat kurasakan meskipun tidak terlihat hanya dapat dirasakan.. Tersenyum selama perjalanan pulang, tiba tiba tersadar akan perkataan mereka yang memberikan informasi padaku mengenai lokasi dimana para Penjarah Hutan Tengah itu berada. Aku menunggangi kudaku menuju istana untuk memberitahukan berita ini kepada Gusti Agung Raja dan Ratu, namun ternyata mereka masih belum kembali bersama Mahapatih Gajah Mada menyelesaikan permasalahan pemberontakan, akhirnya aku memutuskan untuk pulang kembali ke Bale kediamanku..
Tersadar akan banyaknya pasukan tambahan yang berada di depan Bale kediamanku, terlihat Para Penjarah Hutan Tengah yang sedang menyamar menjadi Abdi istana. Ingin rasanya aku melakukan perlawanan pada mereka yang hanya berjumlah 6 orang, namun aku penasaran akan siapa yang mereka kawal menuju kemari.. Berjalan masuk seolah tidak mengenali mereka, aku pun akhirnya melihat Guindra yang sedang berbicara dengan Mahapatih Danudara dan juga Caka di Bale Delot aula tengah rumah.
Aku tahu kedatangannya kali ini pasti tidak benar, ada hal yang diinginkan darinya atau hal yang menjadi tujuan lain dari dirinya. Apa dia masih tidak menyadari bahwa kami semua sudah menyadari bahwa dia adalah salah satu Laksamana yang terlibat dalam perdagangan Gelap dan berniat menghancurkan kerajaan? Tebal muka dan penuh keberanian sekali pria ini! Seolah tidak terjadi apa pun, dia terlihat begitu sedih akan apa yang menimpa keluargaku saat ini. Jika aku tidak memikirkan demokrasi serta rencana yang ayahanda, Mahapatih Danudara, beserta Atma dan Caka.. Sudah aku tarik Busur panah ini untuk melenyapkannya dengan mudah.
“ Sugguh kabar terburuk pada masa ini. Selain kemarau yang melanda dengan para pemberontak yang selalu mencari masalah.. Kini Patih yang disukai dan dicintai oleh Warga dan istana di culik entah kemana perginya.”
Ucap Guindra dengan menundukkan kepalanya dengan terlihat bersedih
“ Bukankah sebaiknya saat ini kau berada diperbatasan membantu mengatasi pemberontakan bersama Gusti Agung Raja dan Ratu beserta Mahapatih Gajah mada?”
Ucap Mahapatih Danudara kepada Guindra dengan tegas
“ Aku? Tidakkah kau lihat aku sudah tua dan tidak lagi berguna? Bagaimana jika terjadi adalah aku menimbulkan masalah bagi mereka semua?”
“ Lalu, ada keperluan apa kau kemari?”
“ Ijinkan aku ikut serta bersama pasukanmu untuk mencari Patih Andaru. Seperti yang kau tahu, aku dan Andaru sudah bersahabat dan tidak terhitung jasa kami dalam medan perang.”
“ Andaru tidak pernah mengatakan padaku bahwa kalian bersahabat!”
Mahapatin Danudara berjalan mendekati Guindra yang terlihat gelisah
“ TIDAK.”
__ADS_1
Ucap Kemuning yang tiba tiba hadir diantara mereka
“ Kau?? Berani sekali kau datang kemari?! Tidakkah kau lihat kami sedang berbicara?”
Ucap Guindra dengan sedikit kesal pada kemuning
“ Mohon ampun Gusti Mahapatih.. Hamba keberatan jika Laksamana Guindra ikut andil dalam proses pencarian Ayahanda!”
Kemuning yang tegas berbicara dengan menundukkan kepalanya
“ Kau? Kau berani sekali mengatakan ini dihadapanku?”
Guindra yang menatap penuh amarah kepada kemuning
“ Lalu, Laksamana ingin hamba mengatakan dan melakkukan apa?”
“ BERANI SEKALI WANITA HINA INI!! PENJAGA!!”
Guindra yang berteriak memanggil penjaganya
“ Dia adalah seorang Prabu Stira dan akan menjadi menantuku. Jadi, kau lah yang harus menjaga mulutmu Guindra.”
Ucap Mahapatih Danudara kepada Guindra
“ Gusti Mahapatih.. Gusti membelanya saat ini?”
“ Kemuning, katakan alasanmu untuk tidak ingin melibatkan Guindra dalam hal ini?”
Ucap Mahapatih Danudara kepada Kemuning
“ Ti, tidak ada Gusti. Mohon ampun.. Bagaimana pun hamba tidak ingin Laksamana Guindra ikut campu dalam proses pencarian ini.”
Kemuning dengan tidak bisa berkata lagi membungkukkan tubuhnya
Tatapan mata penuh aura membunuh dan merasa terhina olehku begitu terlihat jelas dimata Guindra saat ini. Mahapatih Danudara masih belum memberikan pendapatnya, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diriku dari hadapan mereka berdua.. Namun, seketika Guindra merasa Mahapatih Danudara setuju akan pendapatku saat ini dengan tidak membawa Guindra masuk ke dalam pasukan ini, membuat Guindra pun memutuskan untuk langsung pergi tanpa mengatakan apa pun lagi, bahkan dengan sedikit melirikkan pandangannya saat melewatiku.
Terlihat pada mereka para Penjarah Hutan Tengah itu pun merasa kesal saat Guindra mengatakan bahwa aku merasa keberatan dengan kehadirannya beserta pasukannya yang berniat membantu menemukan Patih Andaru yaitu Ayahanda. Sungguh tak habis pikir olehku, apa sebenarnya yang ada di pikiran mereka saat ini dengan berprilaku seperti ini? Tubuh yang terdiam dengan kedua tangan yang mengepal tanpa sadar kulayangkan pada mereka semua yang sedang menatapku saat ini. Tersadar akan tindakanku yang akan menimbulkan kecurigaan, akhirnya aku membalikkan tubuhku dan masuk kedalam Ruangan Ibunda yang masih terlihat menahan sakitnya..
Tabib istana pun akhirnya memberitahuku dan Pureswari agar Ibunda selalu diperhatikan suhu tubuhnya mengingat saat ini demam ibunda yang sudah lebih membaik namun ada kemungkinan akan demam kembali jika tidak ditangani dengan benar.. Mendengar ini Pureswari pun menangis kembali dan Caka pun mencoba untuk menghiburnya. Ibunda Atma yang masih berada disamping ibunda pun terlihat sangat sedih tak mampu berkata apa pun. Merasa tidak ingin mengganggu mereka, akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari ruangan dan menuju halaman belakang. Terduduk dengan termenung sendiri seorang diri, membuatku memikirkan apa yang harus aku lakukan saat ini?
“ Tekananmu sungguh besar. Tidak ingin membaginya?”
Ucap Caka yang tiba tiba berdiri dihadapan kemuning
“ Temanilah Pureswari, dia sangat membutuhkan kehadiranmu dibandingkanku..”
“ Pureswarilah yang menyuruhku kemari. Katakan, apa kau menolak lamaran Atma?”
“ Kau menemukan hiasan rambut itu?”
“ Ya, kau menaruhnya atau tak sengaja menjatuhkannya?”
“. . . . . . . . “
Kemuning yang terdiam mendengar pertanyaan Caka
“ Kemuning, Atma sudah kuanggap sebagai kakak kandungku sendiri, jadi aku tahu jelas bagaimana dia itu. Prihal anak yang mencoba memukulmu, Atma sengaja menaruhnya didalam penjara karena melihat dua orang pria yang sepertinya sedang mengawasi anak itu dari kejauhan. Atma justru berusaha melindunginya karena jika dibiarkan mungkin nyawa anak itu...”
“ Ap.. apa? Kenapa dia tidak mengatakannya padaku?”
“ Lalu prihal Diajeng, kau ingin tahu kenapa Atma begitu memperhatikannya?”
“ Apa ada hal yang tidak aku ketahui?”
“ Saat kami kecil, kami bermain disebuah hulu sungai layaknya anak laki laki bermain pedang, berlarian kesana kemari. Hingga seseorang dari kami terjatuh kedalam sungai dan... Tidak dapat diselamatkan nyawanya. Saat itu, anak yang tenggelam itu adalah kakak diajeng yang sedang bermain pedang bersama Atma. Merasa bersalah, Atma terus menyalahkan dirinya sendiri hingga saat ini dan menggantikan tugas kakaknya yang meninggal kepada Diajeng. Dia tidak mempunyai perasaan apa pun padanya, hanya padamu kemuning.. Percayalah.”
Ucap Caka yang tersenyum dengan menaruh hiasan rambut disamping kemuning dan berlalu pergi berjalan menuju Pureswari
Apa yang sudah kulakukan? Apa aku melakukan suatu kesalahan?
__ADS_1