Sabda Batari

Sabda Batari
Kobaran Api Pertama


__ADS_3

Kobaran api terasa semakin panas saat ini. Hembusan angin membuat tubuhku kembali mengering sehingga akan dengan mudah api melahapku saat ini jika aku masih berdiam diri seperti ini. Tersadar akan adanya sumur di dekat lumbung, kembali semangat diri terkumpul untuk maju dan bertahan demi untuk membalaskan mereka yang seharusnya menerima pembalasan yang setimpal. Bangun dan berlari menuju dekat lumbung menuju sumur, kembali kubasahi tubuh ini agar dapat dengan mudah berlari keluar kembali. Namun dibalik pintu yang tertutup kayu yang masih belum terbakar, terdengar suara tangisan anak yang begitu sangat memilukan..


Tersadar akan suara itu, aku kembali berlari dan menendang pintu kayu dapur itu dan mendapatkan 2 orang balita dan 2 anak dengan seorang bayi yang masih mencoba bertahan hidup dengan kondisi ibunya yang sudah tidak bernyawa karena sayatan pedang. Dengan sigap menggendong bayi itu dan membawa keempat anak tersebut menuju sumur kembali dan membasahi tubuh mereka agar tidak mudah terbakar api. Melepaskan selendang dan menutup mulut dan hidung mereka hanya agar tidak terlalu menghirup asap hitam api, aku kembali berlari dengan membawa seorang bayi ditanganku yang masih terus menangis..


“ KEMUNING!!”


Atma yang muncul dari samping pintu belakang dan menarik tangan kemuning


“ Atma, selamatkan bayi dan dua balita ini karena kau berlari lebih cepat dariku”


Kemuning yang menyerahkan bayi itu pada Atma dan


“ Kau ikuti aku dari belakang, jangan terpisah jauh.”


Atma yang langsung mengikat bayi menggunakan sarung dibalik punggungnya dan menggendong dua balita dengan kedua tangannya


Kami berlari secepat kami menuju pintu keluar dari pondok ini, disaat kami akan berhasil melewati tembok bara api, seorang anak yang ku genggam tangannya terjatuh saat berlari bersamaku. Atma yang tidak menyadari aku yang terhenti mengikutinya dari belakang, mengurungkan niatku untuk memberitahu Atma dan langsung membantu anak tersebut. Kaki anak tersebut ternyata sudah terluka dan mengeluarkan darah hingga terlihat kesakitan. Kembali mencoba menggendongnya, dinding kayu pondok yang terbakar pun hancur dan menghalangi jalanku menuju pintu keluar, tidak ada lagi jalan selain memutar kembali ke depan dan melewati gerbang utama.


Kembali membasahi tubuh dengan air dari sumur yang kami lewati, aku berlari dan berlari melawan asat kabut dan kobaran api yang semakin terasa panas. Hingga akhirnya, seorang anak yang ikut  berlari bersama mengikutiku tidak sadarkan diri karena menghirup asap hitam tanpa aku sadari. Langsung mmberikan anak yang kecil yang terluka itu pada warga sekitar yang langsung membantunya, aku pun tanpa pikir panjang mencoba untuk segera berlari kembali.


“ TIDAK. HENTIKAN KEMUNING!”


Atma yang menarik tangan kemuning yang mencoba masuk ke dalam kembali


“ Anak kecil itu masih hidup Atma! Dia masih bernafas!”


“ Dimana kau tinggalkan dia?”


“ Aku tidak tahu karena aku berlari menggendong anak itu..”


“ Tunggu disini biar aku yang ma.. TIDAKK KEMUNINGGG!!”


Atma yang berteriak karena terlambat menghentikan kemuning yang berlari


Tidak lagi. Sudah cukup nyawa terbuang, aku tidak sanggup jika harus menerima beban dari mereka yang menundukkan tubuhnya padaku.. Senyuman mereka, sambutan hangat mereka yang tidak akan pernah aku lupakan! Tidak, kali ini akan aku balaskan dendam ini tidak perduli jika nyawakulah yang menjadi ancaman. Berlari masuk kedalam dengan asap hitam yang semakin pekat, membuat daya penglihatanku kabur dan merasa sulit untuk melihat sekitarku.. Dimana anak itu! Dimana anak itu! Berkali kali dengan kesal aku bergumam dalam hati merasa marah pada diri sendiri.


Kembali berbalik arah menuju gerbang pintu keluar, terlihat anak tersebut sedang terduduk lemas penuh ketakutan dibawah pohon menggunakan selendang yang kuberikan untuk menutup mulut dan hidungnya. Perasaan lega dengan berlari untuk segera menghampirinya dan berniat menggendongnya kembali, aku tidak menghiraukan batang pohon yang berada diatasku yang terkena sambaran api hingga patah dan berniat untuk menimpaku yang berada dibawahnya bersama anak ini..


“ TIDAK KEMUNING!!”


#CRAACKKK # BHUAAKK


Suara patahan batang pohon yang terbakar mengenai punggung Atma yang menahannya diatas kemuning


“ At.. Atma.. Kau...”


“ Cepatlah, aku tidak bisa menahan ini lebih lama!”


Atma yang merasa kesakitan mencoba menahan batang pohon yang terbakar


Kembali menggendong anak tersebut, Atma pun langsung menghempaskan batang pohon itu ke samping tempatnya berdiri. Terlihat peluh dengan menahan sakit, Atma langsung menarikku dan kami berlari menuju gerbang pintu keluar dan bersyukur kami pun selamat dalam kejadian ini. Kembali seorang warga datang menolongku untuk menggendong dan mengobati anak kecil ini, seketika genggaman tangan Atma terasa longgar dan lama kelamaan kulihat Atma seperti hilang keseimbangan hingga terkelungkup dan akhirnya jatuh diatas tanah dengan wajah pucatnya..


“ CAKA!! Tidak, tidak.. Atma bangunlah.. CAKA!!”


Kemuning yang berteriak meminta bantuan kepada Caka yang sedang menolong warga untuk memadamkan api


“ Apa yang.. ATMA!! APA YANG TERJADI??”


Caka yang terkejut ketika melihat luka di punggung Atma


“ Batang pohon.. Dia menahan batang pohon yang terbakar saat menolongku..”

__ADS_1


Kemuning yang menangis mencoba menjelaskan pada Caka


“ Kita ke Bale kesehatan sekarang!”


Caka langsung memapah dan setengah menggendong di balik punggungnya


Kami langsung berlari menuju kuda Brata dan segera membawa Atma ke Bale kesehatan istana untuk mendapatkan perawatan. Luka dan goresan yang kudapat saat ini sangat tidak bernilai di bandingkan dengan luka Atma yang mencoba untuk tidur terlungkup dengan menahan sakit menahan balutan pengobatan yang terasa menyiksanya.. Tangan kembali bergetar dengan hati yang gelisah mendengar suara Atma yang berteriak beberapa kali sedangkan aku tidak diperbolehkan untuk masuk melihat bagaimana kondisinya saat ini. Lagi lagi aku melakukan hal yang membuatnya dalam keadaan seperti ini! Lagi lagi aku membuat Atma terluka..


Di pertengahan malam, Atma sudah terdengar lebih tenang dengan tidak berteriak kembali. Aku semakin begitu mengkhawatirkan dirinya saat ini, mengapa aku masih belum dapat untuk menemui dan melihat kondisinya saat ini? Apa yang harus kulakukan?.. Berjalan menyusuri lorong pintu depan Bale kesehatan, terlihat kereta kuda yang baru datang dan kehadiran orang terkasih yang kembali mengkhawatirkan anaknya.. Dengan hanya melihat selintas kepadaku, mereka pun masuk kedalam mencoba untuk melawan perintah para Tabib kerajaan yang sedang mengobati Atma saat ini.


Pureswari pun datang menyusul ditemani Caka di belakangnya dan memelukku dengan erat seraya untuk menenangkanku. Dia pun menyerahkan pakaian untuk ku kenakan melihat semua pakaian yang ku kenakan saat ini basah, kotor, bahkan terobek pada sisi sisi kain.. Merasa malu dengan menundukkan kepalaku, aku mencoba untuk mengganti pakaianku terlebih dahulu, namun tiba tiba seorang tabib kerajaaan berjalan keluar bersama Mahapatih Danudara dan Raden Ayu dan aku pun segera menghampiri mereka.


“ Ba, bagaimana kondisi Atma?”


Tanya Kemuning yang terlihat pucat


“ Luka bakar nya tidak begitu parah, hanya saja robekan akibat batang pohon yang terbakarlah yang membuatnya kesakitan. Tenanglah, biarkan istirahat selama 2 atau 3 hari.. Hamba mohon pamit Gusti Mahapatih, Raden Ayu.. Prabu Stira..”


Ucap Tabib istana kepada kemuning dan menundukkan kepalanya kepada Danudara dan istrinya serta kepada kemuning


“ Kemuning..”


Raden ayu yang langsung menatap kemuning


“ KESALAHAN BEGITU BESAR, PANTAS MENDAPAT HUKUMAN!”


Kemuning yang langsung menunduk tubuhnya kepada Raden Ayu dan Mahapatih


“ Kemuning, anakku.. Ibunda sudah mendengar semuanya dari Caka, jadi ka..”


“ Kami memutuskan untuk menghukummu dan juga Atma.”


“ Suamiku?... Kakanda, apa yang...”


“ Aku tahu kalian melakukan hal yang baik, tapi tanpa berpikir panjang kalian bertindak terlalu gegabah dan kulihat ini bukan yang pertama kalinya. Jadi aku memutuskan untuk tidak diperbolehkan untuk bertemu dan melihat keadaan Atma sampai dia sembuh dan renungkan perbuatanmu tanpa menghadap ke istana kembali beberapa waktu!”


Ucap Mahapatih dengan tegas dan menatap tajam kemuning yang masih tertunduk dihadapannya


“ Hamba.. Tidak diperbolehkan untuk.. Bertemu dengannya?”


“ Aku tidak akan mengulangi perkataanku untuk kedua kalinya!”


Mahapatih Danudara yang langsung menarik Tangan istrinya meninggalkan kemuning yang masih tertunduk dan Bale kesehatan


Mendengar titah ini bagai kutukan bagiku. Bagaimana mungkin aku tidak bisa melihat kondisinya yang terbaring seperti itu karenaku? Apa aku begitu terlihat tidak mempunyai hati nurni sehingga dapat dengan mudah pergi dan datang begitu saja seperti angin yang tak diundang untuk berhembus. Atma, apa yang harus aku lakukan saat ini? Haruskah titah ini aku langgar kembali dan melihat kondisimu saat ini? Tapi.. Jika kulakukan itu bagaimana denganmu? Apa kau juga memiliki perasaan yang sama sepertiku atau hanya aku yang kembali melakukan hal bodoh yang hanya dapat menyusahkanmu kembali. Ditengah kegelisahan hati ini, hanya mereka berdualah yang selalu datang untuk mendukungku...


“ Raka, kau terlihat pucat.. Gantilah pakaianmu terlebih dahulu atau kau ingin pulang?”


Ucap pureswari yang membantu kemuning untuk berdiri


“ Kita.. Pulang menuju Bale kediaman saja..”


Ucap kemuning yang berjalan dengan lemas dibantu Pureswari


“ Kau juga terluka, aku yakin Mahapatih dan Raden Ayu memiliki alasan yang ma..”


“ Tidak apa apa Caka.. Ini memang kesalahanku! Aku yakin mereka hanya tidak ingin aku dan Atma melakukan hal yang gegabah kembali.. Terlebih karena Atma tidak bisa menolak dengan apa yang aku katakan padanya.. Jadi, aku cukup mengerti.”


Ucap kemuning yang tersenyum lemas menjelaskan kepada Caka


“ Aku akan mengabarimu perkembangan apa pun mengenai Atma. Kau jangan begitu khawatir.”

__ADS_1


“ Aku tahu. Terima kasih banyak Caka..”


Berjalan menuju kereta kuda yang ditumpangi oleh Pureswari, akhirnya aku pun berlalu pulang meninggalkan Bale kesehatan dengan hati yang terasa berat. Meski ingin menangis dan menyesali perbuatanku ini, sungguh tidak pantas kulakukan karena seharusnya aku memang sudah siap akan resiko dari keputusan yang kuambil setiap detiknya meskipun aku tidak bermaksud membuat suasana dan keadaan menjadi seperti ini. Begitu sampai di Bale kediaman, terlihat Ibunda yang masih terbangun dan menungguku di Bale kediaman dan langsung mengahmpiri ketika melihatku masuk didampingin Pureswari yang membantuku..


Dengan tangisannya saat ini jujur aku pun merasa bersalah terlebih kehadiran Ayahanda yang masih belum dapat ditemukan dan kami tidak tahu bagaimana kondisi Ayahanda saat ini. Luka ditanganku pun di belai halus oleh Ibunda dan tak kuasa menahan tangisnya kembali ketika melihat bahuku yang juga terbalut kain karena terluka. Merasa tidak ingin melihat kondisi kesehatannya kembali menurun, aku membuka kain yang menutupi luka gores dan bakar akibat serbuk kayu yang terbakar terbawa angin, dan berdiri dengan tegap dan meyakinkankannya bahwa aku baik baik saja dengan menahan sakit dan senyuman kepadanya, hingga akhirnya Ibunda pun percaya dan kembali masuk kedalam untuk beristirahat.


. . . . . . . . . . . .


“ Raka, sudah 3 hari ini Raka tidak makan dan minum secara benar.. Apa Raka masih merasa sakit?”


Ucap Pureswari yang menghampiri kemuning yang sedang terduduk di halaman belakang


“ Aku tidak apa apa, tenanglah.. Luka ditanganku pun sudah mulai menghilang, aku hanya perlu melatih bahuku yang masih terasa kaku saat memanah..”


“ Jangan memaksakan kondisimu Raka.. Aku yakin Raden Mas Atma akan sangat ma..”


“ Dia akan marah padaku jika tahu aku memaksakan diri. Aku tahu itu wahai Rayi ku yang cantik..”


“ Lalu, jelaskan apa yang ada dibawah tempat tidurmu Raka? Apa kau akan pergi tanpa memberitahuku? Kemana kau akan pergi?”


Ucap Pureswari yang langsung terduduk disamping kemuning dan menatapnya tajam


“ Kau.. Melihatnya?”


“ Informasi apa yang Raka ketahui yang tidak kami ketahui? Apa Raka akan mencari Ayahanda? Seorang diri?”


“ Berhenti berpikiran berlebihan.. Apa kau tahu lokasi dimana para Penjarah Hutan Tengah itu?. Lumayan sangat jauh dari sini..”


Kemuning menyentil dahi pureswari dan tersenyum padanya


“ Baiklah, aku percaya padamu saat ini Raka.. Sudah malam, masuk dan beristirahatlah..”


Pureswari membalas senyuman kemuning dan berlalu pergi bersama Dayangnya


Maafkan aku Pureswari.. Tidak mungkin bagiku untuk memberitahukanmu tentang apa yang akan aku lakukan, karena ini akan sangat berbahaya terlebih untuk wanita lembut dan anggun sepertimu. Terlebih sampai saat ini pun aku masih menerima hukuman yang diberikan Mahapatih Danudara sehingga aku tidak perlu menjelaskan isi hati dan apa yang ada dipikiranku kepada Atma, kerena dia pasti akan sangat menentangku. Aku hanya berharap kau dapat menjaga Ibunda dan menghiburnya sebisamu sampai aku dapat menemukan Ayahanda kembali ke kediaman ini.. Berjalan menuju kamar dan menutup semua jendela, aku pun bersiap siap dan mengganti pakaianku agar tidak terlalu mencolok dan dapat bergerak bebas.


Simbol yang diberikan padaku oleh Gusti Agung Ratu untuk menarik pasukan yang kuperlukan disaat aku membutuhkan dan simbol atas kepemimpinan yang dapat aku gunakan sengaja aku sembunyikan dalam pakaianku dan hanya akan mengeluarkannya disaat aku memang memerlukannya. Baiklah, entah apa hati ini siap atau tidak, aku harus pergi malam ini juga menuju persembunyian para Penjarah hutan tengah tersebut.


Berjalan melalui pintu belakang, aku menarik kuda brataku agar tidak menimbulkan kegaduhan yang dapat membangunkan semua orang terlebih penjaga yang sedang bergantian berjaga. Berjalan hingga sedikit menjauhi Bale kediaman, saat akan menunggangi kuda brata, pandanganku teralihkan pada Diajeng bersama 2 orang pria yang berjalan menuju lokasi kebakaran pondok tempat para wanita dan anak anak yang kusembunyikan. Mengikutinya dan mencoba bersembunyi untuk mengetahui apa maksud Diajeng beserta 2 pria yang sedang bersamanya saat ini.


“ Kau yakin? Lalu bagamana bisa kau menemukan tempat ini?”


Ucap salah satu pria kepada Diajeng


“ Tidak mungkin aku mengetahuinya dari kemuning karena dia sangat peka dan sulit terlihat gerakannya. Jadi aku membuntuti Pureswari, Rayinya..”


Diajeng yang berjalan mengitari lokasi kebakaran dengan senyuman di wajahnya


“ Ternyata kau lebih licik dari pada yang ku kira..”


“ Ayolah, kau pikir aku wanita lemah dibalik tembok istana? Aku berpikir dengan Atma yang menjadi suamiku, mungkin aku akan seperti itu dan melupakan semua ini. Namun, karena Atma juga ternyata mempermalukanku terlebih kemuning! Wanita itu! Aku akan membunuhnya!”


Diajeng tiba tiba mengarahkan pedang pada salah satu pohon dengan amarahnya


“ Kematian Rakamu, Prana. Bukan salah kemuning, melainkan Atma. Kau terlalu mencampur adukkan masalah.. Tapi, itu yang aku sukai darimu..”


“ Kita lancarkan rencana kita selanjutnya. Raksa, aku yakin kemenangan ada ditangan kita.”


Raksa?.. Jadi, pria itu adallah rekan seperjuangan Atma di medan perang dan mendapatkan gelar kehormatan yang sama seperti Atma dan Caka, adalah pria itu? Apa yang kudengar ini.. Tunggu dulu, Prana? Dimana aku pernah mendengar nama itu? Dengan kembali bersembunyi di atas pohon, aku memutar ingatanku yang akhirnya teringat akan salah satu anggota yang ikut serta dalam pemberontakan yang ditulis dalam Tasara. Prana adalah.. Kakak Diajeng? Jadi, Diajeng sekarang menganggap kakaknya terbunuh akibat Atma karena yang menolak cintanya? Diajeng juga yang menjadi dalang dibalik kebakaran pondok ini dan terbunuhnya pada wanita dan anak anak itu.


Wanita macam apa yang memiliki hati seperti itu? Selain Patah hati, kecemburuan, ternyata ambisi dapat membuat seseorang menjadi gelap mata dan hati pun membatu hingga terlihat seperti binatang liar yang tidak memiliki akal pikiran. Karena itu, aku... Akan menuntut balas padamu! Bersiaplah.

__ADS_1


__ADS_2