Sabda Batari

Sabda Batari
Leburan Jiwa


__ADS_3

“ Kemuning? Ada apa? Kenapa kau terdiam, disaat aku bertanya padamu?”


Ucap Atma yang menatap kemuning penuh tanda tanya


“ Barusan aku..  Lupakan! Aku tidak ingin menimbulkan masalah baru..”


Kemuning yang memalingkan wajahnya dan mencoba berlalu pergi


“ Heyy. Heyy.. Kau masih marah padaku? Kemuning, Caka sudah menceritakan semua padaku. Aku akan mencari solusi lain dari masalah ini agar Raden Panji Andaru melupakan kekesalannya. Jadi, katakan padaku apa yang kau lakukan di tengah malam ini?”


Atma melingkarkan tangannya di pinggang kemuning dan memeluk kemuning dari belakang


“ Aku mendengar pembicaraan seorang pria dan wanita.. Mereka seperti dalang dari kejadian ini. Entah hanya perasaanku saja, tapi aku seperti mengenali suara mereka”


“ Siapa menurutmu? Ke arah mana mereka pergi?”


“ Entahlah.. Aku tidak yakin. Karenanya aku mencoba mengikuti mereka..”


Belum menyelesaikan pembicaraan kami, tiba tiba Caka menghampiri dan memberikan kabar mengejutkan lainnya yaitu terjadi perpecahan yang terjadi dan menjadi persaingan antara Mahapatih Gajah Mada dan Ra Kembar Sehingga Ratu Tribhuwana meminta Atma untuk segera kembali ke istana. Mendengar itu Atma kembali langsung bergegas dan bersiap siap setelah kembali berbicara dengan Caka dan meninggalkan beberapa prajurit tambahan disini untuk keamanan kami yang masih berada di luar jalur kota. Kembali dengan mencium keningku dengan lembut, dengan gagah berani Atma pun pergi dengan menunggangi kuda bratanya ditengah gelapnya malam.. Caka yang menepuk pundak ku kembali pun menyadarkanku untuk segera kembali ke Bale kesehatan..


Pagi hari menyapa dengan sinar matahari yang terlihat sangat cerah.. Ibunda yang sudah tersadar pun akhirnya menceritakan semua yang terjadi dan bagaimana usahaku dan Caka saat menolong mereka semua dan meminta Ayahanda untuk menghentikan kekecewaannya padaku. Pureswari bahkan terlihat menangis jika sampai Ayahanda memberikan hukuman kembali padaku disaat Pureswari yang memaksa untuk menghentikan kereta kuda dan berhenti sejenak. Terdiam tak berkata, Ayahanda hanya berdiri dengan gagah menatap keluar jendela yang terbuka. Tak lama Ayahanda pun memanggilku dan juga Caka ke dalam ruangan lalu dengan sedikit menundukkan kepalanya memohon maaf bahkan membelai kepalaku dengan lembut.. Ketegangan antara kami pun mencari dan kami langsung bersiap siap untuk kembali ke ibu kota.


“ Gusti Bhattara Caka.. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku merasakan ada yang tidak beres mengikuti kita. Jadi....”


Kemuning menghentikan kuda Caka yang akan berjalan keluar Bale kesehatan


“ Apa benar yang dikatakan Atma padaku?”


Ucap Caka yang turun dari kudanya dan berbicara berhadapan dengan kemuning


“ Aku masih belum yakin. Tapi aku tahu seseorang sedang mengawasi gerak gerik kita bahkan semua gerakan di istana pun terasa ada yang salah.”


“ Apa itu sebabnya Gusti Agung Ratu berbicara denganmu tempo hari?”


“ Ya.. Gusti Agung Ratu pun dapat merasakan ada yang tidak beres di dalam istananya..”


“ Apa akan terjadi peperangan kembali? Sepertinya kita harus bersiap siap.”


Mendengar Caka yang baru saja kembali dari medan perang yang bahkan tidak memberikan kabar dalam jangka waktu yang lama membuatku berpikir bagaimana jika Atma berada dalam posisinya nanti mengingat posisi Atma yang juga seorang Bhattara bahkan Laksamana muda. Gusti Ratu pun menjadi sangat sering memberi titah bersama Gusti Raja untuk bertemu di istana bahkan untuk memeriksa keadaan atau memang untuk melakukan perlawanan pada pemberontak yang mencoba mengambil alih istana.. Tersadar akan sosok Pureswari yang anggun dan begitu lembut, bagaimana bisa dia memendam rasa cinta dan kerinduannya itu disaat orang tercinta tidak dapat memberikan kabar bahkan keselamatannya pun tidak dapat kita pastikan. Begitu pun Ibunda yang terlihat Tegar setiap Ayahanda meminta Restu akan setiap tugas yang diberikan padanya..


Kereta kuda terlihat sudah siap dengan semua barang bawaan dan juga semua orang terlihat sudah berada di luar halaman Bale kesehatan. Kini bagiku untuk mempersiapkan semua kemungkinan hati dan juga Raga yang harus siap atas kemungkinan yang mungkin akan terjadi.. Mata tak sengaja teralihkan pada Diajeng yang sedang berbicara dengan Pureswari, entah mengapa wanita yang berbicara dengan sosok pria semalam.. Suara itu.. Sangat mirip dengan suara Diajeng. Tapi, jika memang dia, bagaimana dia bisa berada disini di saat semalam dia pergi bersama pria itu menuju perbatasan kota dan aku kembali ke Bale kesehatan mendahuluinya untuk melakukan penjagaan. Apa yang terlewat olehku saat ini?


Kereta kuda pun akhirnya bergerak dan dengan tambahan beberapa prajurit yang diberikan Atma, setidaknya aku dapat merasa lebih tenang. Dengan Caka berada di depan yang sudah terbiasa di medan perang untuk memberikan komandonya, aku pikir tidak akan ada masalah kali ini yang akan terjadi dan mungkin ini hanya perasaanku saja yang berlebihan atas semua yang terjadi. Kembali bergerak mengikuti alunan kecepatan kereta kuda yang di suguhkan pemandangan alam yang luar biasa indahnya, serta udara yang sangat sejuk dapat benar benar kami terbawa suasana.. Namun, ditengah itu semua, kembali kami mendapat kejutan yang jauh dari bayangan kami dengan datangnya Penjarah Hutan Tengah dengan jumlah yang banyak..


“ Siapa kalian dan mau apa kalian menncoba menghentikan kami?”


Ucap Caka dengan lantang diatas kuda bratanya


“ Ckckck.. Sepertinya komando pasukan kali ini berbeda meski pun mereka terlihat sedikit mirip. Apa kau keluarga Bhattara Atma?”


Ucap Salah seorang Penjarah hutan dengan menutup wajahnya


“ Bagaimana kau bisa mengenalnya? SIAPA KALIAN??”


Ucap Caka yang mulai menegakkan pedang ksatrianya menjurus kepada Penjarah Hutan


“ Kau terlihat tidak setenang Atma dalam menghadapi kami. Sepertinya dengan mudah kami bisa mengalahkanmu!”


Ucap seorang penjarah lainnya sembari tertawa menghina Caka


“ APA KAU BILANG?! HIYAAAHH!!”

__ADS_1


Caka yang tersulut emosi langsung bergerak diatas kudanya


“ TIDAK CAKA!! TUNGGU!! APA YANG KALIAN LAKUKAN? MAJU!!”


Kemuning yang terlambat menghentikan Caka yang tanpa persiapan dengan menghentak pasukan untuk berlari maju menuju Penjarah Hutan


Tidak perlu kujelaskan lagi, Caka yang tersulut emosi begitu sangat marah hingga tidak mendengarkanku berbicara. Setengah pasukan yang berlari pun langsung membantu Caka dan terlihat setengah dari Penjarah hutan tersebut dapat Caka hadapi dengan sangat mudah. Namun tanpa disadari dari balik bukit, beberapa Penjarah Hutan kembali menyerang dengan berlari sangat cepat hingga membuat kami terkejut. Teriakan yang membelah hutan hijau dengan bunyi pedang yang darah yang mengalir, dapat terlihat jelas kembali olehku saat ini. Tanpa berpikir panjang, tali busur yang sangat kuat dengan anak panah yang tajam, menembus angin hingga menusuk salah satu anggota tubuh.. Kembali mengatur nafas dan juga penglihatan mata yang melebar dengan struktur tubuh yang tepat, membuat bidikan lebih terarah meskipun angin berhembus kencang.


Satu persatu para penjarah hutan yang berlarian dapat aku kendalikan. Namun terlepas dari penglihatanku terlihat 6 orang Penjarah hutan yang berlari sangat kencang mencoba menyerang kereta kuda. Terdengar suara teriakan mereka dari dalam, dan hanya mengandalkan Ayahanda yang berada di dalamnya untuk melindungi mereka. Melihat itu dengan segera kuputarkan arah kuda brata berdiri tegap dengan berlari secepat mungkin menuju kereta kuda dan menolong mereka. Pertarungan menggunakan pedang pun sudah tidak dapat lagi di pungkiri, namun dengan ayahanda yang selalu dalam keadaan siap bertempur kami pun dapat dengan mudah menghadapai keenam Penjarah hutan tengah tersebut, hingga tanpa sadar..


#AAAKKKHHHH


#TRRAAANGGG


Suara teriakan Caka dan Pedangnya yang terjatuh dari tangannya


“ Tidak.. Tidak.. RADEN MAS CAKAAA!!”


Pureswari yang berteriak histeris dari balik jendela kereta kuda melihat pada Caka


“ JANGAN KELUAR!! SISA PRAJURIT HAMPIT KERETA KUDA DAN SEGERA PERGI DARI SINI!!”


“ SIAP GUSTI PRABU STIRA!!”


Para prajurit yang mengelilingi kereta kuda dan langsung berkendara pergi


Dengan kembali menunggangi kuda brataku, aku juruskan anak panahku kepada seorang lelaki yang menusukkan pedangnya pada perut Caka.. Satu demi satu gerakan secepat mungkin aku lakukan dengan berlari semakin kencang menghampiri mereka semua yang juga kereta kuda yang sedang kulindungi yang berada di depanku.. Para penjarah hutan tengah yang sudah terpojokkan pun akhirnya berlarian kesana kemari mencoba untuk melarikan dirinya. Namun disaat aku melihat kereta kuda sudah berlalu cepat menuju perbatasan ibu kota, kembali aku berbalik dan mengarahkan anak panah kembali kepada mereka hingga tidak ada satu pun para penjarah hutan tengah yang terlihat olehku. Dengan cepat menghampiri Caka, aku pun membantunya dengan melepaskan selendangku dan menutup luka diperut Caka untuk mengurangi pendarahannya..


“ Caka, kumohon bertahanlah. Bangun, pegang pundakku dan naiklah kembali keatas kudamu, kita kembali ke Bale kesehatan”


“ Tidak kemuning. Ba, bawa aku ke.. Ke Bale kesehatan yang berada di istana”


“ Tapi Caka, lukamu.. Darahmu mengalir dengan..”


“ Aku, aku akan bertahan.. Karena itu, kemuning.. Ki.. Kita segera menuju is.. Istana.”


Caka yang menepuk pundak kemuning dengan menundukkan kepalanya


Dengan tidak berkata lagi, aku segera membantu Caka untuk menaiki kudanya dengan sedikit menyandarkan tubuhnya condong kearah depan. Dengan segera kami berlari secepat mungkin menuju Bale kesehatan di istana. Begitu sampai, semua Tabib dan juga petugas kesehatan pun langsung membantu Caka yang kondisinya terlihat sedikit lebih lemah.. Aku menunggu dengan khawatir di luar bahkan terdengar suara teriakan Caka yang berteriak menahan sakit dari luar Bale kesehatan.. Kumohon, kumohon, kumohon entah kepada dewa, tuhan, atau apa pun itu doa ini kupanjatkan untuk kesembuhan dan juga tersadarnya kembali Caka seperti tidak terjadi apa apa..


Waktu ternyata berlalu lebih cepat, tak terasa menuju sore masih saja aku belum bisa melihat kondisi Caka yang masih berada didalam.. Tersadar terduduk dengan tangan dan lengan juga area wajahku yang masih bersimbah terkena darah.. Aku tertunduk tak berdaya bahkan tanganku kali ini bergetar tak karuan.. Pandangan mataku kabur seolah tertutup air mata yang kucoba untuk menahannya untuk tidak menitik membasahi pipiku.. Hingga akhirnya..


“ KEMUNING! Kau tidak apa apa? Lukamu? APA SAJA YANG TERLUKA?!”


Ucap Atma yang memeriksa wajah kemuning dan ketakutan melihat darah ditubuhnya


“ ii.. ini adalah darah Caka. Aku menolongnya, luka ku hanyajari jari yang tergores bulu anak panah yang tajam saat memanah tadi.. Tenanglah, aku tidak apa apa”


“ SYUKURLAH! SYUKURLAH! Aku hampir kehilangan akal saat mendengar kabarmu.”


Atma langsung memeluk kemuning dengan erat


“ Caka.. Bagaimana dengannya? Apa dia baik baik saja?”


“ Tenanglah. Dia pria yang tangguh, aku akan melihat kondisinya. Namun sebelumnya, bersihkan dirimu karena Gusti Agung Ratu dan Raja ingin bertemu denganmu saat ini”


Atma melepaskan pelukannya dan menyentuh wajah kemuning dengan lembut


“ Baiklah. Aku pergi sekarang”


“ Aku akan menyusulmu begitu memastikan keadaan Caka. Nanti tunggulah aku.”

__ADS_1


“ Baiklah..”


Kemuning yang tersenyum berjalan berlalu pergi


Selesai membersihkan diriku dan mengganti beberapa pakaian yang kotor agar terlihat sopan dihadapan Raja dan Ratu saat aku menghadap ternyata terlihat sudah berdiri Diajeng di dalamnya yang juga sudah melakukan kesaksian. Tak lama Gusti Agung Ratu yang bertanya khawatir akan kondisiku dan juga keluargaku memerintahkan Diajeng untuk meninggalkan kami. Aku menjelaskan dengan sangat detail dan juga apa saja yang terjadi kepada Ratu dan Raja. Mereka mendengarkanku begitu serius bahkan seolah berdiskusi bersama.. Tak lama mereka pun memberitahu bahwa ada seorang Abdi kepercayaan Raja yang baru saja dihukum karena mencoba menaruh Racun dalam minuman Raja.. Mendengar itu sontak aku pun bertanya tanya tentang ada apa dan rencana apa yang ada di belakang semua ini..


Sang Ratu yang berhasil mengetahui Racun itu, langsung memerintahkan untuk melakukan pemeriksaan setiap Abdi istana dan tidak boleh ada satu pun dari mereka yang diperbolehkan untuk keluar dari istana. Tak menunggu waktu lama dan belum menyelesaikan pembicaraanku dengan Gusti Agung Ratu dan Raja, seorang Abdi istana memohon ijin untuk masuk dan memberikan kabar buruk lainnya yang menimpaku..


“ Mohon Maaf Gusti Prabu Stira.. Salah seorang abdi di Bale kediaman Gusti Raden Panji Andaru di kabarkan terjadi penyerangan”


Ucap abdi tersebut dengan membungkukkan tubuhnya


“ Apa kau bilang?”


“ Keadaan tidak terkendali disaat beberapa pria bertopeng menerobos masuk bahkan beberapa penjaga dan dayang dikabarkan dibunuh”


Mendengar itu sudah tidak kuperdulikan lagi bagaimana kedudukanku dan juga rasa hormatku kepada Gusti Agung Raja dan Ratu dengan segera bangkir berdiri tegap, mengambil Busur panahku lagi dan segera berlalu pergi. Terlihat Atma sedang berbicara dengan Tabib kerajaan saat aku melewatinya dengan menggunakan kuda brataku. Dalam hati aku hanya bisa berkata, maafkan aku Atma.. Aku tidak bisa menunggumu saat ini. Kuharap kau bisa memaafkanku..


Aku berlari dengan secepat mungkin kudaku bisa menempuh kecepatannya untuk menuju Bale kediamanku.. Dengan nafas tersenggah di tengah senja indah ini, aku menerobos keramaian ibu kota dengan semua mata yang memandangku penuh tanya.. Tidak menghiraukan mereka semua dan hanya fokus pada pikiran dimana orang orang terkasih berada dalam bahaya disaat mereka sendiri pun masih dalam keadaan lelah dan lemas selepas kejadian kemarin.. Tidak akan aku biarkan jika sesuatu terjadi kepada mereka semua.. Aku akan menuntut balas jika itu sampai benar benar terjadi atau bahkan jika aku sampai harus kehilangan mereka semua..


Pintu gerbang yang sudah terbuka tak lagi tertutup dengan para penjaga yang bersimbah darah seolah menjadi tontonan menyerahkan oleh warga sekitar yang melihat ke kediamanku.. Dari belakang kudengar samar mereka semua berbicara seolah tidak ada harapan bagiku untuk bertemu dengan orang terkasih yang sebelumnya pun aku pernah kehilangan mereka dimasa yang berbeda..


“ Gu.. Gusti.. Raden.. Rara Kemuning.. Hamba, hamba mohon ampun gusti.. Beberapa pria membawa benda aneh di tangannya dan melemparkan kemari hingga terdengar suara keras, asap, dan api yang menyala.. Tidak ada yang bisa kami lakukan kepada benda itu..”


Ucap seorang penjaga yang selamat dengan penuh luka luka


“ Benda? Asap dan Api?.... Suara keras?”


Ucap kemuning yang mencoba membantu penjaga itu untuk terduduk


“ Ya Gusti Raden Rara.. Hamba melihat ada 2 benda yang dilemparkan kemari, lalu tiba tiba benda itu mengeluarkan asap dan percikan api yang sangat besar bahkan suaranya begitu menyakitkan”


Mendengar penjelasan dari penjaga ini tiba tiba aku teringat pada salah satu alat yang mematikan yang disebut dengan Granat. Pikiranku langsung melayang mempertanyakan apakah pada masa ini Granat sudah ada? Mengingat akan adanya hubungan kerjasama dengan tiongkok atau barat sepertinya salah satu alat itu berlabuh hingga sampai kemari.. Tidak mungkin rakyat biasa yang melakukan hal ini, berarti benar dugaan Gusti Agung Ratu ada Abdi dalamnya yang bermain di belakangnya terlebih membahayakan status istana saat ini.. Jika benar, aku harus segera memberitahukan hal ini agar segera menyelesaikannya..


Tunggu dulu, bagaimana bisa aku melupakan tujuan utamaku untuk melihat keadaan Ayahanda, Ibunda, dan juga Pureswari.. Tersadar dengan segera berlari dengan membawa Busur panah dan Pedang yang selalu menjadi teman terdekatku, dikejutkan dengan melihat semua di sekelilingku begitu hancu porak poranda.. Bahkan seorang Abdi Dayang yang selalu membantu dari awal kedatanganku kemari, terbujur kaku dengan penuh luka di tubuhnya.. Kaki yang terasa membatu dengan tangan bergetar mengingat senyuman dan pengabdiannya kepadaku..


“ Tidak... TIDAKKK... Empu Endok.. EMPU! Kumohon bangunlah... BANGUNLAH!!”


Kemuning yang menangis melihat Dayang kesayangannya sudah tak bernafas mencoba untuk memeluknya


memeluknya


“ Gusti Raden Rara..”


Ucap seorang Penjaga lainnya yang selamat dengan menundukkan kepalanya


“ Siapa.. Siapa yang MEMBUNUHNYA?!”


Kemuning menatap penjaga itu dengan penuh amarah dan nada yang meninggi


“ Mohon ampun Gusti Raden Rara.. Seorang pria bertopeng menghunuskan pedang kepadanya”


“ Tidak.. Tidak, Empu... Empu Endok. Bangunlah..”


“ Gusti Raden Rara, Silahkan menuju Bale Daja tempat Raden Panji dan Raden Ayu..”


“ Apa.. Mereka selamat? Syukurlah.... Syukurlahhh...”


Kemuning yang menangis dengan memeluk Dayang kesayangannya


Entah ini perasaan sedihkah atau amarahkah, yang merasukiku saat ini. Merasa begitu marah namun tidak bisa melakukan apa pun karena terlalu lelah untuk meluapkan itu semua..

__ADS_1


__ADS_2