
Tatapan matanya menjurus tajam kepadaku. Pertarungan antara Ksatria Pemberani dengan para Penjarah Hutan yang tersudutkan pun terhenti melihat aku dan Bhanurasmi yang berdiri diantara mereka semua dengan Busur panah dan Pedang ditangan kami masing masing. Hembusan angin pun semakin kencang ditengah malam ini yang secara tiba tiba kilatan petir menyambar dengan suara dentuman keras yang menggerak jiwa yang mendengarnya, namun tidak sedikit pun bagi aku atau Bhanurasmi merasa takut dan mundur, walau hanya satu langkah saja..
Ditegah gemuruh Petir yang menyerang dengan kilatan ini, Bhanurasmi memainkan tangannya seraya mencoba untuk menipu lawan musuh akan Busur panah atau pedang yang akan dia gunakan pertama kali saat melawanku. Peraturan dalam Bhumi Candrah Paritah, jika salah satu lawan menggunakan alat yang berbeda dengan lawan maka itu akan dianggap sebagai kekalahan secara mutlak karena dianggap tidak sanggup untuk melakukan perlawanan. Dengan teliti, aku mencoba membaca gerakan Bhanurasmi saat ini hingga terhitung hitungan yang akhirnya....
“ Setunggal.. Kalih.... TIGO!!”
Mahapatih yang menghitung untuk memulai perlawanan antara kemuning dan Bhanurasmi
#SHUUTTT #SHUUTTT #SHUUTTT #SHUUTTT #SHUUTTT
#SRUUKKKK
Suara balasan lemparan anak panah yang diarahkan kemuning dan Bhanurasmi yang berujung tergoresnya pundak kiri kemuning
“ Ada apa Prabu Stira? Kemampuan memanahmu berkurang? Mengecewakan!”
Tawa hina Bhanurasmi kepada kemuning
#SHUUTTT #SHUUTTT #SHREEEKKK
Kemuning yang tiba tiba melepaskan anak panah kepada Bhanurasmi hingga berujung terobeknya Rok Sarung Bhanurasmi hingga membuatnya tersungkur diatas tanah
“ Setidaknya dengan pundak yang terluka ini, aku dapat membuatmu bersujud dihadapanku.”
kemuning berbicara dengan kokoh berdiri menahan rasa sakit di pundaknya
“ MATI KAU KEMUNING!! HIYAAAHHHH!!!”
“ KEMARILAH BHANURASMI! LAWAN AKU!!”
Busur panah pun terlempar pada hamparan ilalang yang habis terbakar api. Kilatan petir semakin terasa mengitari kami disaat kami memutuskan untuk melawan satu sama lain menggunakan kuda ksatria dan pedang yang sangat tajam tanpa perisai sama sekali.. Langkah kaki berjalan maju dan mundur, kemudian dorongan dan usaha diri untuk menahan tebasan pedang Bhanurasmi, terlihat begitu kemarahan dalam dirinya saat ini yang mengarah tajam kepadaku. Mulutnya semakin berkata tidak jelas dan semakin menekanku untuk melepaskan pedang ditanganku dan mengarahkannya tepat disamping leher kananku.
Pedangnya semakin mendekat dan mendekat hingga mulai menggores kulit saat tersadar melihat pantulan diri dari pedang yang digunakan Bhanurasmi saat ini. Mengerahkan sekuat tenaga, dengan menendangnya tepat diperutnya dan menyikut Rahangnya dengan kuat, akhirnya dapat membuatku melarikan diri darinya yang terlihat begitu kesakitan.. Tersadar akan pedangku yang terlepas, aku berlari mengambil pedang itu, namun Bhanurasmi secara tiba tiba mengarahkan anak panahnya kepada Mahapatih Danudara yang tidak memiliki perlawanan dan pertahanan sama sekali.
#SHUUTTT
“ TIDAK!!”
Kemuning yang berlari dengan gerakan cepat, bediri tepat dihadapan Mahapatih dengan membelakanginya dengan akhir Busur Panah tepat tertancap pada dada kiri kemuning
“ KEMUNING...!!!”
Teriak Mahapatih Danudara yang mencoba berlari kearah kemuning
“ Tidak Gusti. Diamlah ditempatmu..”
#TRAAKKK
Kemuning kembali berdiri sekuat tenaga, mematahkan anak panah di dadanya
“ Masih bisa berdiri? Mengagumkan kemuning..”
Melihat padanya yang tertawa ditemani para anak buahnya, aku kembali mengatur hembusan nafasku dan menutup mata dalam hitungan detik dan kembali Busur panah kembali pada tanganku. Dengan Bhanurasmi yang melakukan ini, maka secara peraturan dia suka kalah dan aku mempunyai hak untuk membunuhnya tanpa mendapatkan hukuman apa pun.. Dengan keyakinan diri, aku mencoba menarik Tali Busur ini disaat mereka sedang menertawakanku.
“ BHANURASMIII...!!”
#SHUUTTT #SHUUTTT #SHUUTTT
Suara anak panah yang dilepaskan kemuning hingga tepat mengenai dada, kaki, dan tangan Bhanurasmi
Terbujur kaku tak bersuara.. Tatapannya kini sudah tidak lagi menatap mataku melainkan menatap kekasihnya yang juga sudah tak bernyawa. Kaki melangkah dengan darah yang kembali mengalir terasa begitu menusuk hingga terkadang aku tidak berani untuk bergerak kembali.. Lagi lagi seketika hujan turun dengan deras membasuh noda merah di tubuh kami yang mengeluarkan banyak darah..
“ Bu, bunuhlah.. Aku sekarang juga kemuning..”
Bhanurasmi dengan setengah bersimpuh menundukkan kepalanya
“ Katakan alasanmu.. Kenapa aku lakukan ini?”
Kemuning yang mengarahkan pedangnya kepada Bhanurasmi
“ Seperti yang kau tahu, aku bukan berasal dari keluarga Bangsawan sepertimu, dan... Aku membencimu kemuning!”
“ Setelah semua yang kita lalui? Ku kira kau adalah teman terbaik yang sudah kuanggap sebagai saudariku. Sampai hati kau, Bhanurasmi.”
“ Ayah dan ibuku jatuh sakit saat pemilihan Prabu Stira di istana.. Namun aku bersikeras untuk hadir dan melawan kalian berdua, terlebih kau yang memiliki keahlian lebih dari kami berdua! Melihatmu bahagia, merupakan hal yang memuakkan untukku..”
“ Hanya... Karena itu saja, kau.. Melakukan semua ini?”
__ADS_1
“ Pemerintahan kerajaan harus dihentikan! Apa kau tidak merasa terkekang di dalamnya?”
“ Tapi bukankah istana begitu sangat mendukungmu dengan hadiah berlimpah dan kesejahteraan untuk keluargamu ?”
“. . . . . . . . . .”
Bhanurasmi yang terdiam mendengar perkataan kemuning
“ Maafkan aku.. Aa...”
#SRUUKKKK #UURRGGHHH
“ Bha.. Bhanurasmi?”
Kemuning yang terkejut saat Bhanurasmi menusukkan pedang yang berada ditangan kemuning kedalam tubuhnya
“ De.. Dengan begini.. Semua da.. Dapat terbayar. Kemu, ning.. Maafkan.. Aku........”
Bhanurasmi yang menghembuskan nafas terakhirnya
Entah mengapa dan apa yang menjadi penyebab aku menitikkan air mataku saat ini? Apa karena rasa iba? Atau mengingat kenangan kami saat bersama memasuki istana dengan penuh tangis dan tawa, sakit dan senang, serta perih dan kasih sayang.. Dari awal, aku hanya menginginkanmu terbelenggu di penjara hingga akhir hidupmu, namun aku masih dapat melihatmu atau setidaknya memberikan apa yang tersisa dariku untukmu.. Namun ternyata semua berjalan tidak harus sesuai dengan apa yang kita inginkan dan kita impikan..
Kembali berjalan dengan memalingkan muka karena tak ingin melihat tubuh tubh tak bernyawa, baik yang kukenal atau tidak kukenal.. Ternyata tubuh ini pun memiliki batas lebih untuk bertahan menahan rasa sakit yang tak kunjung menghilang.. Busur panah Bhanurasmi masih menancap tajam di pundakku, semakin membuatku merasa sesak untuk bernafas.. Penglihatanku pun semakin buram dengan kepala yang berputar putar.. Apa, ini juga merupakan akhir hidupku? Aku akan berakhir pada masa ini, di dimensi waktu lain yang....
“ Kemuning? Bertahanlah! Kemuning....”
Suara ini.. Apa hanya halusinasi pendengaranku yang mendekati ajal, atau memang dirinya yang memanggil namamu dengan penuh khawatir? Dengan kesadaran terakhir, aku membuka mata ini dan melihat sesosok pria gagah yang sangat tampan, menatap dan menedekapku dengan kedua tangannya yang kekar.. Pria yang begitu sangat kurindukan, entah apa yang akan aku lakukan jika ke depan, aku tak dapat melihatnya.....
. . . . . . . . . . . .
“ Anak panah itu menusuk sangat dalam sehingga pendarahan dalam organ dalam terobek cukup parah.. Kini hanya tergantung pada daya tahan tubuhnya untuk bertahan..”
Ucap Tabib istana usai mengobati kemuning
“ Apa yang kau katakan? Lakukanlah sesuatu pada anakku!”
Ucap Patih Andaru yang gelisah dan kebingungan
“ Maafkan aku Gusti Patih.. Hamba mohon pamit..”
Ucap Tabib itu dengan menundukkan tubuhnya dan berlalu pergi
Ucap Ratu Ayu, Ibunda kemuning yang mulai menangis
“ Aku akan mencari obat obat yang lebih baik untuk kemuning!”
Mahapatih Danudara yang langsung berlalu pergi meninggalkan ruangan
“ Raka.. Aku mohon sadarlah.. Jangan biarkan tangisan ini kembali kering terbuang untukmu disaat aku masih harus bertahan akan Caka yang tak kunjung pulang..”
Pureswari yang terduduk di samping kemuning dan menggenggam tangannya
“ Pureswari, aku yakin kemuning akan baik baik saja. Dia, pasti akan baik baik saja.”
“ Raden Mas...”
Senyap senyap namun lantang terdengar suara dari orang orang yang kurindukan saat ini. Apa ini artinya aku masih memiliki kesempatannuntuk hidup? Kenapa tubuh ini terasa berat sekali walau hanya untuk membuka mataku? Luka ini begitu terasa menyakiti sehingga aku merasa tenagaku habis terbuang percuma..
. . . . . . . . . . . . .
Gemuruh lantah deras hujan kembali terdengar mereda ditelingaku.. Kicauan burung pun kembali bersiul indah. Tersadar dan terbangun kembali dengan kondisi luka yang jauh lebih baik dan tidak terasa begitu sakit sebelumnya, membuatku bertanya akan berapa lama aku tidak sadarkan diri? Apa aku tertidur cukup lama? Lalu, kemana perginya semua orang, yang terdengar begitu ramai dari arah luar.. Apa yang sedang mereka rayakan atau mereka syukuri kali ini?
Mencoba untuk sekuat tenaga terbangun dari tempat tidur dan berjalan ke luar, terhenti pada sebuah keraba yang terlihat pantulan diriku masih terlihat pucat pasi seolah nyawaku benar benar hanyut pergi terbawa mimpi yang entah berapa lama baru kembali ke raga ini.. Kembali teralihkan dengan sedikit tawa dan tangisan, aku berjalan menuju Aula utama tengah rumah dimana kami masih berdiam di kediaman Mahapatih Danudara dan belum kembali, hanya untuk menjaga keamanan kami agar lebih terjamin.
Terlihat orang orang berkumpul dengan wajah bahagia dimana aku pun terkejut saat melihat Xia He dan Bao Yu yang hadir disini dengan berhias layaknya Bangsawan Cina dengan khas penampilan tiongkok yang begitu kental. Aku berjalan dan berjalan dari belakang mereka dengan perlahan hingga akhirnya mereka semua menyadari kehadiranku.
“ Kemuning” “ Kemuning..” “Kemuning.” “ Kemuning....”
Ucap Guan Lin, Dong Ming, jun Hao, dengan menundukkan kepalanya, sedang Xia He dan Bao Yu menghampiri dan memeluk kemuning
“ Syukurlah kau kini terlihat jauh lebih baik.. “
Ucap Xia He kepada kemuning dengan tersenyum
“ Apa kalian yang menyembuhkanku?”
Tanya kemuning yang masih terlihat lemas dan pucat
__ADS_1
“ Ya, bersyukurlah dia dengan cepat memberitahu kami untuk datang kemari..”
“ Ya, saat dia datang.. Dia terlihat sama sepertimu saat ini.. Begitu Pucat..”
Ucap Xia He dan Bao Yu dengan tersenyum jahil kepada kemuning
“ Dia..??”
Kemuning yang terlihat kebingungan
“ Berhentilah menggodanya, kalian jahil sekali.. Maksud mereka adalah Atma..”
Guan Lin mengetuk pelan kepala Xia He dan Bao Yu dan tersenyum pada kemuning
“ At..Ma? ... Atma, sudah pulang? Lalu, dimana dia?”
kemuning langsung memalingkan pandangannya ke kanan dan ke kiri mencari Atma
“ Dia sedang menuju ke istana bersama Ayahmu dan Mahapatih Danudara.. Gusti Agung Raja dan Ratu memanggil mereka..”
Ucap Ibunda kemuning yang muncul dari belakang dengan mata berlinang mencoba menahan tangis
“ Ibunda..”
Berbalik dengan cepat yang hanya memerlukan beberapa langkah, aku menahan rasa sakit pada pundakku dan memeluknya yang juga tanpa kusadari aku pun menitikkan air mataku bersama dengannya.. Tak lama Pureswari terlihat berjalan dengan sangat anggun dan seperti biasa, terlihat begitu menawan juga dengan air mata yang sama sama tidak dapat kami tahan untuk melepas kerinduan dan rasa khawatir.. Pureswari pun berlari dan memelukku dan ibunda yang entah bagaimana tanggapan mereka saat ini melihat kami bertiga menangis seperti anak kecil..
Belaian lembut dan hangat serta doa doa dari mulut indahnya, begitu sangan mententramkan hati yang terluka cukup lama.. Kecupan lembut darinya di kepalaku begitu menyejukkan layaknya surga dunia yang tidak akan pernah terbayar oleh apa pun.. Pureswari yang kembali memelukku dengan tubuh yang lebih kecil dariku, sungguh terasa memang layaknya seorang adik yang begitu menggemaskan hingga tanpa sadar, kehadirannya menjadi sangat berarti meski pun aku tidak bersama dengannya sejak hari kelahirannya..
Tak lama Raden Ayu Bhanuwati, ibunda Atma pun datang dengan melihat kondisiku dan juga langsung memelukku dan berbisik begitu bersyukur akan kesembuhan dan berharap hari hari buruk yang menimpaku segera berakhir bahagia.. Tersenyum padaku dengan mengusap air mata dan juga membelai lembut rambutku, aku pun tersenyum padanya dan kami semua pun menuju Ruangan utama tempat makan, dimana sudah tersaji makanan dan minuman untuk kami berkumpul dan bercanda tawa selepas rasa penat, pedih, dan khawatir membayangi kami..
“ Hampir terlupa olehku.. Caka.. Bagiamana kondisinya? Dimana dia?”
Tanya kemuning dengan menatap kepada Pureswati dan juga Guan Lin
“ Seperti janjiku, aku akan merawatnya dengan sangat baik. Kali ini pun dia sudah pergi bersama dengan mereka semua menuju istana.”
Guan Lin yang mencoba untuk menjelaskan
“ Syukurlah... Syukurlah...”
Kemuning yang merasa lega dengan menundukkan kepalanya
“ Dari pada itu, katakanlah kondisi Raka kepada kami.. Bagaimana kondisi Raka saat ini?”
Ucap Pureswari kembali dengan khawatir
“ Meski masih terasa sakit dan sulit untuk bernafas, namun aku merasa jauh lebih baik.. Tenanglah”
Kemuning menjelaskan dengan tersenyum kepada Pureswari
“ katakanlah jika kau merasakan sesuatu, jangan menyembunyikannya.. Karena dengan begitu kami bisa lebih cepat berusaha mengobati lukamu..”
Ucap Xia He yang menggenggam erat tangan Guan Lin
“ Tentu saja.. Terima kasih banyak..”
Ucap Kemuning dengan tersenyum
Jamuan makan sore dikala senja ini pun berakhir dengan pekatnya malam yang kembali terlihat menghiasi langit dengan bintang yang berbinar selepas hujan kala sore tadi.. Dedaunan pun masih terasa basah saat aku melewati pekarangan bunga yang dimiliki oleh Ibunda Atma yang begitu menyukai bunga bunga indah dan wangi.. Kembali merasa Luka ini terasa seperti menusuk tubuhku, aku berjalan kembali ke kediamanku dimana Pureswari dengan sigap memanggil Xia He dan Bao Yu untuk mengobatiku kembali, hingga tanpa sadar aku tertidur setelah mereka mengobati dan memberikan obat untuk kuminum..
Entah apakah alam bawah sadarku sedang berjalan, atau memang saat ini aku merasa seseorang menyentuh wajahku dengan lembut? Tangan hangat dengan penuh perasaan mengusap wajah dan juga rambutku.. Bahkan kecupan hangat dikepalaku dapat terasa begitu menyayangiku seolah aku lah satu satunya hal berharga baginya.. Dengan membuka kedua mataku, akhirnya aku dapat melihatnya yang sedang menatapku dengan senyuman dan juga sedikit menahan tangis yang sengaja dia sembunyikan akan harga diri seorang Laksamana perkasa..
“ Maafkan aku melepaskan anak panahku padamu kala itu..”
Kemuning memegang erat tangan Atma yang sedang menyentuh wajahnya
“ Sssttt.. Bukankah kita sepakat tidak ada kata MAAF?! Berhentilah mengatakan kata itu..”
“ Kau baik baik saja?”
“ Ya. Kemuning, ada yang ingin kukatakan padamu..”
“ Apa itu Atma?”
Kemuning memberikan tatapan khawatir kepada Atma
“ Maukah kau segera menikah denganku?”
__ADS_1
Sebuah kata yang begitu indah, keluar dari pria yang kita cintai. Tidak menjanjikan banyak hal untuk berbohong akan masa depan, dia hanya berjanji setia dan selalu bersama dalam suka dan duka..