
Menjelang pagi, aku masih terdiam merenungkan perkataan Atma semalam kepadaku.. Burung kembali terdengar merdu dengan sinar matahari yang bersinar cerah.. Aku mencoba untuk bangun dan terduduk diatas tempat tidurku dan sedikit merapikan kembali rambutku. Pintu kembali terketuk dengan Xia He dan Bao yu serta Pureswari yang datang untuk membantu membersihkan diri dan juga mengobati kembali luka kemudian membalutnya kembali. Begitu selesai, kami pun kembali berjalan menuju Ruangan utama tempat makan, dimana sudah tersaji makanan dan minuman kembali untuk kami semua yang sudh sangat lengkap sehingga keadaan menjadi lebih ramai dari sebelumnya..
Tak lama Atma pun datang dan terduduk disebelahku dan membantu mengambilkan beberapa makanan untuk dihidangkan kepadaku.. Senyuman pun terlintas diwajah kami berdua yang entah mengapa aku dan Atma merasa Malu seolah kami berdua baru memulai hubungan ini sehingga terlihat begitu canggung dan aneh.. Melihat reaksiku dan Atma, mereka pun langsung melemparkan kejahilan mereka dengan sindiran pedas yang membuatku menundukkan kepalaku..
“ Jadi Atma, kemuning menolak lamaranmu yang ingin menikah dengannya?”
Ucap Caka dengan tersenyum Jahil
“ Aku pikir wanita akan merasa bahagia saat pria yang dia cintai memintanya untuk menikah, namun ternyata itu semua tidak berlaku bagi seorang Prabu Stira..”
Guan Lin yang juga tertawa jahil bersama dengan Caka
“ Hentikan kalian berdua.”
Ucap Atma dengan menatap kepada Caka dan Guan Lin
“ Katakan apa yang harus dilakukannya hingga kau bersedia segera menikah dengannya kemuning..”
Mahapatih Danudara yang tiba tiba ikut masuk kedalam skenario Caka dan Guan Lin
“ Ap.. apa?... Gusti Mahapatih.. Itu... Dia.. Ti.. Jadi aa.. “
Kemuning yang gugup hingga berbicara terbata bata
“ Ayahanda hentikanlah. Apa menyenangkan menyudutkan seseorang seperti itu?”
Ucap Atma kembali
“ Apa? Kemuning, apa aku menyudutkanmu? Aku hanya berbicara kepada calon wanita yang akan menjadi anakku kelak. Karena selama ini, aku hanya mempunyai 2 bocah pria dewasa yang keras kepala dan bengal!”
Mahapatih Danudara yang melayangkan pandangan sindiran kepada Atma dan Caka
“ Hentikanlah kalian para pria hanya menggunakan pikiran saja.. Bagi wanita, pernikahan adalah hal yang sakral. Jadi, berhenti mengungkit masalah ini dan biarkan mereka berdua..”
Ucap Raden Ayu Bhanuwati, ibunda Atma yang sedikit merasa kesal melihat kelakuan mereka
“ Aa.. aku ti, tidak bermaksud menolaknya.. Hanya saja...”
Ucap kemuning yang menundukkan kepalanya dengan suara berbisik
“ Apa? Kemuning, anakku.. Apa kau mengatakan sesuatu?”
Ucap Patih Andaru, Ayahanda kemuning
“ Aku.. Aku tidak bermaksud menolah lamaran Atma. Aku hanya terkejut karena secara tiba tiba Atma mengatakan hal itu semalam..”
Ucap kemuning dengan polos dan wajah memerah karena malu mencoba menjelaskan
“ Jadi kemuning, kau menerima lamaran pernikahan dari anak itu?”
Ucap Mahapatih Danudara yang menunjuk Atma dengan terkejut
“ Yaa Gusti.. Atma, aku menerima lamaran pernikahan darimu..”
Kemuning menatap Atma yang terlihat juga terkejut dengan perkataan kemuning
“ . . . . . . . . . . . . .”
Terdiamnya mereka semua karena merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh kemuning
“ Ke, kenapa kalian semua terdiam? Apa ada yang sa..”
#BRAAKKK #BRAAKKK #BRAAKKKKK
“ RANGASA DHAYAKA..”
Teriak mereka semua dengan memukul atas meja mencoba merayakan kabar pernikahan Atma dan Kemuning
“ Tunggu apa lagi? Segera kabari pihak istana tentang kabar ini!”
Ucap Mahapatih Danudara kepada Caka
“ Tidak, tunggu.. Apa harus terburu buru seperti ini?”
Patih Andaru yang menarik tangan Danudara dengan tatapan memelas
“ Ada apa ini Patih? Apa kau merasa kehilangan 2 harga berhargamu yang akan menjadi bagian keluargaku? Kenapa tatapanmu seperti itu padaku?.. Patih, Baik Pureswati dan Kemuning bukankah mereka tidak pergi jauh darimu? Kau masih dapat melihat mereka..”
__ADS_1
Mahapatih Danudara menepuk pundak Patih Andaru mencoba untuk menenangkannya dengan candaan dan senyuman
Meski suasana saat ini sangat Ramai dan penuh kebahagiaan, dapat terlihat dari wajah Ayahanda dan juga Ibunda yang terlihat sedih dan khawatir, namun juga begitu bahagia.. Ayahanda yang mencoba menahan tangisan dengan mengalihkan pandangannya dariku, sangat berbeda dengan yang Ibunda lakukan ketika sudah tidak dapat lagi menahan air matanya.. Berjalan menghampiri mereka yang terduduk, kaki ini pun bersimpuh mencoba menerima uluran tangan dari mereka disertai ucapan harapan dan doa doa yang akan mengiringi setiap langkahku nantinya..
Atma yang juga ternyata mengikutiku dari arah belakang, ikut bersimpuh seraya meminta restu kepada mereka yang pada akhirnya air mata mengalir dengan sangat deras meskipun aku mencoba untuk memeluk mereka ditengah Lukaku yang juga masih belum pulih.. Tersadar akan diriku yang menahan sakit, Ibunda dan Ayahanda pun melepaskan pelukanku dan memberikan restu mereka pada kami berdua juga doa yang sangat kami impikan.
Tak lama Caka dengan bergegas seolah tidak memikirkan lagi apa yang ada disekitarnya, melompat dan langsung berlari dengan teriakan mereka semua yang menyuruh agar persiapan di istana dapat segera terlaksana, terlebih Mahapatih Danudara dan Raden Ayu Bhanuwati yang juga terlihat begitu bersemangat dalam hal ini.. Tertunduk malu melihat Atma, ternyata dirinya pun merasakan hal yang sama sepertiku dengan memalingkan pandangannya dariku seraya agar kami tidak salah tingkah dihadapan mereka semua..
. . . . . . . . . . . . . . .
#TOOKKK #TOOKKK #TOOKKK
“ Raka? Apa aku boleh masuk?”
Ucap Pureswari yang mengetuk pintu kamar kemuning
“ Masuklah Rayi..”
“ Raka?? Kau terlihat sangat berbeda sekali.. Kecantikanmu seolah mengalahkan bidadari..”
Ucap Pureswari saat berjalan masuk melihat kearah kemuning
“ Kemarilah, ada yang ingin kukatakan padamu..”
“ Ada apa Raka?”
“ Pernikahanmu dengan Caka, belum tuntas karena janji mengadakan perayaan pernikahan belum terlaksanan.. Oleh karena itu, Aku dan Atma sudah berbicara.. Kalian ulangi upacara pernikahan kalian sebelum kami yang akan menikah di istana nanti..”
“ Ap.. Apa?.. Tidak mungkin Raka, yang boleh menikah diistana hanya Rangasa Dhayaka..”
“ Ya, karena itu Atma kemarin berkunjung ke istana untuk bertemu dengan Gusti Agung Raja dan Ratu untuk membicarakan hal ini.. Kemurahan hati Gusti Agung Raja dan Ratu, mengijinkan kalian untuk melangsungkan pernikahan juga..”
“ Be.. Benarkah? Tapi Raka, ini adalah acara pernikahanmu dan Raden Mas Atma..”
“ Meski pun kau sudah menikah lebih dulu, maukah kau menganggap bahwa kita melakukan pesta perayaan pernikahan bersama sama? Apa kau keberatan?”
Ucap Kemuning dengan tersenyum kepada Pureswari
“ Tidak mungkin Raka! Sungguh tidak tahu diri bagiku jika aku sampai berpikiran seperti itu..”
Kemuning berjalan membuka pintu lemarinya dan memperlihatkan 1 stel pakaian pernikahan untuk Pureswari
“ Rakaaa...”
Pureswari berlari dan memeluk Kemuning dengan erat, kemudian dengan segera para dayang membantu Pureswari dan juga meriasnya seperti penampilan kemuning
Selesai bersiap, kereta kuda pun datang.. Kami sekeluarga dijemput dengan kereta kuda khusus yang disediakan oleh kerajaan dimana Gusti Ratu sengaja menyiapkannya untukku.. Pureswari terlihat begitu bahagia dan cantik, serta Ayahanda dan Ibunda yang selalu menangis disela sela waktu kemudian tersenyum lagi membuatku tertunduk malu akan sikap mereka yang terlihat seperti anak kecil.. Melihat mereka saat ini, tidak pernah terpikir olehku bahwa Ayah dan ibu akan mengantarkanku hingga hari pernikahan, mengingat ketidakhadiran mereka untuk selamanya semenjak aku masih belia.
Tak terbayang sebelumnya semenjak kedatanganku pada masa ini, aku akan berada diposisi ini dimana semua yang kupikir tidak akan terjadi, namun ternyata pada waktu ini, aku dapat merasakannya dengan ketidakpastian akankah aku selamanya berada pada dimensi waktu ini atau aku kembali pada masa dimana waktu seharusnya aku berada.. Terjerumus hati dan pikiran ini mengingat 2 keinginan yang tidak masuk diakal dengan harapan semua akan berjalan baik baik saja, merupakan hal yang tidak mungkin untuk terwujud disaat kita sama sekali tidak mengetahu apa yang akan terjadi pada diri kita walau hanya berselang selama beberapa menit.
Pikiran melayang berujung lamunan, ternyata menghabiskan waktu yang tanpa sadar kami sudah memasuki pintu gerbang istana. Terlihat para tamu undangan yang memasuki istana, menundukkan kepalanya saat kereta kuda kami melewat dihadapan mereka dengan suasana meriah dan iringan bingkisan kado yang sengaja dibawa oleh mereka, terlihat begitu jelas olehku saat ini. Tak lama terlihat rombongan pasukan para Bhattara dengan gagah dan juga dengan pakaian yang terlihat berbeda dimana mereka menyambut kedatanganku dan Pureswari bagaikan seorang puteri kerajaan..
“ Kemarilah dan akan kuberkahi kalian, Prabu Stira dan Kathamarawa..”
Ucap Gusti Agung Ratu berdiri di singgasananya dengan tersenyum
“ Tunggu dulu.. Khatamarawa? Pureswari, apa aku melewatkan sesuatu disini?”
Ucap kemuning yang tersenyum sembari berjalan berdampingan bersama Pureswari menuju Gusti Agung Ratu
“ Maaf Raka, aku lupa memberitahumu.. Saat Raka tidak sadarkan diri beberapa hari lalu.. Aku dipanggil menuju istana menemui Gusti Agung Ratu yang ternyata mengangkat derajatku menggantikan Diajeng sebagai Kathamarawa..”
Ucap Pureswari dengan penuh kepanikan saat menjelaskan
“ Kenapa kau terlihat ketakutan? Bukankah ini kabar bagus? Tersenyumlah..”
“ Aku.. Aku hanya tidak ingin Raka merasa khawatir karena akulah yang menggantikan posisi Diajeng dan akan menghabiskan waktu lebih lama berada diistana nantinya..”
“ Aku hanya berharap, kau memiliki prinsip hidupmu sendiri.. Bekerja dan berdiam di istana, bukanlah hal yang mudah.. Jangan mudah terbuai dan bersikaplah terbuka..”
Ucap kemuning yang memandang Pureswari sembari berjalan
“ Baik, Terima kasih Raka..”
“ Mungkin karena ini juga yang menjadi alasan Ayahanda dan Ibunda selalu menangis..”
Ucap kemuning dengan tertawa jahil bersama Pureswari
__ADS_1
Pernikahan pun berjalan lancar dimana Pureswari dan Caka tampil dengan sangat sempurna dan kiriman doa doa serta suasana penuh Haru pun berebak disaat mereka berdua mengungkit janji pernikahan kembali.. Hingga tiba waktunya bagiku dan Atma yang berjalan menuju singgasana dimana kami yang akan mengatakan janji sumpah pernikahan.. Atma terlihat begitu gagah dan tampan seperti biasanya, merasa tidak ada yang berubah dariku namun dapat membuatnya tidak memalingkan pandangannya dariku, ternyata bisa membuatku tertunduk malu untuk menatapnya.
Gusti Agung Ratu dan Raja pun memberikan berkahnya padaku dimana janji pernikahan pun terucap sudah hingga suasana kembali menjadi sangat ramai dan semua pun dapat tersenyum bahagia.. Namun tersentuh dengan sedikit tangisan yang diberikan oleh Ayahanda dan Ibunda, ternyata juga membuatku dan Pureswari menitikkan air mata seraya memeluk mereka dengan Caka dan Atma yang berdiri tepat dibelakang kami juga untuk meminta Restunya.. Kembali berjalan menuju Mahapatih Danudara dan Raden Ayu Bhanuwati yang terlihat begitu bersemangat dengan selalu tersenyum, akhirnya hari ini pun kami sah menjadi suami dan istri..
Tersenyum masing masing dan menyambut para tamu dengan hidangan yang tersungguh mewah, sungguh tidak akan terbayang sebelumnya olehku bahwa hari ini benar benar akan datang dan aku sendiri yang mengalaminya. Selesai acara jamuan makan, dikala senja datang dengan iringan kereta kuda yang akan membawa kami pergi dimana aku pun berpisah dengan Pureswari menuju tempat kami masing masing.. Kembali rasa Haru pun datang dengan lambaian tangan orang terkasih yang mendoakan kami hingga kami menghilang menuju jalan yang akan kami jalani bersama.. Ditengah perjalanan, semua tampak indah terlebih Atma yang menyembunyikan sebuah Rahasia akan Bale kediaman mewah yang sudah dia persiapkan untuk kami disaat kami sudah menikah, dan saat ini pun kami menuju kesana.. Namun.....
“ Gusti Raden Mas Atma, terdapat patahan kayu yang mengahlangi jalan.. Haruskah kita memutar?”
Ucap Kusir yang menghentikan kereta kuda
“ Separah itu? Akan sangat terlambat jika memutar dan memerlukan waktu lama untuk sampai ke kediaman..”
Ucap Atma yang berbicara dari dalam kereta kudanya
“ Sejauh apa untuk sampai ke Bale kediaman?”
Tanya kemuning pada Atma
“ Sekitar 1 lahan persawahan dengan melewati jembatan hilir sungai. Tapi kudengar jembatan itu sedang dalam perbaikan.”
“ Akan berbahaya melewati jalan disaat malam hari akan adanya hewan buas jika terhenti disini.. Atma, haruskah kita berkuda saja?”
“ Kemuning..? Kau serius?”
“ Yaa.. Dengan begitu bukankah kita akan segera sampai sebelum senja berakhir? Terlebih para penjaga dan dayang pun dapat kembali dengan selamat menuju istana..”
Ucap kemuning dengan tersenyum pada Atma
“ Baiklah istriku.. Kita akan berkuda.. Ulurkan tanganmu dan jangan melewati batas kecepatanku!”
Ucap Atma yang menggengam tangan kemuning dan mengetuk pelan kepalanya sembari tersenyum
“ Baiklah... Suamiku...”
Dengan tertawa bersama kami melangkah keluar dari kereta kuda dan meminta 2 ekor kuda yang sedang digunakan oleh penjaga ksatria istana dalam mengawal kami dan meminta mereka untuk bertukar tempat serta mengijinkan mereka semua untuk kembali ke istana.. Dengan tersipu malu mendengar perkataan Atma yang juga tersenyum kepada mereka, akhirnya 2 penjaga pun turun dan mnyerahkan kuda mereka padaku dan Atma untuk kami tunggangi menuju Bale kediaman yang sudah Atma siapkan ditengah bukit dekat danau indah yang dulu selalu aku datangi bersama Atma.
Melihat para pasukan dan Dayang berlalu pergi, Aku dan Atma pun langsung bergerak, dengan berlari menggunakan kuda brata.. Hembusan angin menerpa selendang yang berada dikepalaku namun entah mengapa angin sejuk ini terasa begitu menenangkan bahwa tidak sedikit pun aku merasa khawatir saat bersama dengan Atma berlari bersama menggunakan kuda brata.. Kami melewati sebuah lahan persawahan hingga sampailah pada jembatan penghubung yang Atma ceritakan. Meski terlihat kokoh, namun kayu yang menyangga terlihat lapuk termakan rayap..
“ Lewati kayu yang aku lewati. Ingatlah untuk agar tidak berlari!”
Ucap Atma yang memperingati kemuning dengan menarik tali pelana kudanya
“ Baik.. Aku akan mengikutimu dari belakang.”
Tak menunggu waktu lama Atma pun berjalan diatas kuda bratanya mulai melewati kayu satu persatu.. Jika batang pohon itu tidak menghalangi jalan, saat ini kami tidak akan memilih melewati jalan ini pikirku dengan sedikit kesal. Derasan hilir arus sungai yang masih jernih pun terlihat menyeramkan disaat aku dan Atma mencoba untuk melewati jembatan ini.. Dengan serius aku mengarahkan pandanganku menuju Atma yang berjalan dihadapanku dengan setiap langkah kudanya berusaha untuk seirama dengan kuda yang kutunggangi.
Mendekati ujung jembatan, aku sungguh merasa lega melihat ini semua akan segera berakhir mengingat kondisiku yang tidak memiliki kemampuan berenang yang baik. Akan sungguh konyol jika aku sampai terjatuh dari atas jembatan ini dengan arus hilir sungai yang terlihat deras.. Hanya sedetik aku berbicara dan berpikir dalam hati, kejadian tak terduga ternyata terjadi kembali padaku disaat....
#BRAAKKKK #CREAAKKKK # HIIIYYYYYY
Suara retakan kayu yang menyebabkan salah satu kaki kuda yang ditunggangi kemuning terjerambab
“ ATMA!”
Teriak kemuning dengan penuh kepanikan
“ Tunggu aku! Jangan bergerak sedikit pun. Kemuning, lihat padaku jangan kebawah!”
Ucap Atma yang langsung melompat dari atas kudanya dan berjalan kearah kemuning
#BRAAKKKK #CREAAKKKK #CREEAAKKK # HIIIYYYYYY
Suara kuda kemuning kembali yang merintih kesakitan karena retakan kayu semakin lebar
“ ATMA! Tidak akan sempat! Atma, aku akan melompat padamu!”
Ucap kemuning yang melepaskan tali pelana kudanya dan bersiap siap untuk melompat
#BRAAKKKK #CREAAKKKK
#BYYUURRR
“ TIDAK!! KEMUNINGG!!!”
Teriak Atma ketika melihat kayu tersebut hancur hingga menyebabkan kemuning dan kudanya terjatuh kedalam derasnya arus sungai
Deras arus sungai begitu membuatku sulit untuk bernafas! Tali pelana kuda yang menjadi mengikat pada salah satu kakiku membuatku ikut tertarik mengikuti kuda ini dengan arus yang semakin mengarah deras.. Mencoba untuk melepaskan ikatan tali pelana kuda dikakiku, tanpa sadar sebuah Batu sudah berada tepat dihapanku yang tanpa persiapan membuatku terhantam keras oleh derasnya arus sungai menuju batu itu. Setidaknya, inilah ingatan terakhirku. Dada ini begitu terasa sakit dengan kepalaku yang mengeluarkan darah namun tak mampu untuk bergerak. Apa, aku akan menghembuskan nafas terakhirku seperti ini?
__ADS_1