Sabda Batari

Sabda Batari
Ambang Hati


__ADS_3

Hembusan angin barat terasa mulai membelah daratan.. Pertanda musim kemarau datang dan air pun menyusut. Rakyat mengeluhkan kekeringan, kegagalan panen, bahkan penyakit yang tak kunjung usai. Ditengah ini semua para Penjarah Hutan Tengah pun melancarkan aksinya kembali dengan membakar lahan pertanian yang kering sehingga menimbulkan kabut asap yang begitu menyesakkan.. Tak kala semua hewan ternak pun mati bahkan para nelayan pun sudah jarang melakukan pelayaran pada masa seperti ini. Merasa keadaan di istana terlihat lebih kacau, aku dan Atma memutuskan untuk memberikan Tasara ini kepada Gusti Agung Raja dan Ratu bersama Mahapatih Andaru dan Patih Andaru yaitu Ayahanda..


Seperti dugaanku, begitu Gusti Agung membaca semua isi Tasara ini, mereka akan sangat terkejut karena kejadian memalukan nama istana di lakukan sejak beberapa lama bahkan oleh terdekat mereka yang di angkat Gusti Agung Raja dan Ratu sebagai Wredhamantri ( Perdana Menteri Tertinggi). Merasa di khianati dan di permalukan, datang kabar lainnya muncul disaat kami semua mendengar pemberontakan di daerah Sadeng dan Keta dimana terjadi persaingan antara Mahapatih Gajahmada dengan Ra kembar. Baik Gusti Agung Raja atau Ratu benar benar merasa bingung akan kondisi semua ini, hingga akhirnya aku mengusulkan beberapa saran yang menurutku akan berguna.


“ Siapa salah satu anggota lagi yang bernama Prana ini?”


Ucap Sang Ratu kepada Kemuning dan Atma


“ Sepertinya ia merupakan salah satu dari Bhattara bersamaku dan juga Raksa dan Caka”


Ucap Atma menjelaskan dengan menundukkan tubuhnya


“ Raksa Sadiwa. Aku tidak menyangka setelah ayahnya begitu berjasa, dia masih dapat termakan hasutan Guindra. Tentu tak ada ampun baginya!”


Ucap Sang Raja dengan sedikit kesal


“ Perluasan lahan wilayah yang mereka inginkan sudah ada pada hamba, jadi tidak mungkin mereka bergerak bebas. Hanya yang menjadi masalah kini adalah, karena perdagangan yang masih terus berjalan kemungkinan barang barang seperti benda yang menurut Prabu stira katakan bernama Granat dan Serbuk Mesiu, msh terus dapat berjalan dan itu membahayakan.”


Mahapatih Danudara mencoba menjelaskan dengan menundukkan kepalanya


“ Kudeta pemberontakan yang terjadi hanya sebagai umpan Gusti Agung.. Menurut hamba akan terjadi perang lainnya jika terus dibiarkan.”


Patih Andaru yang mencoba memberikan pendapatnya


“ Wahai Prabu Stira dan Abdi terpercayaku, Bhattara Laksamana Atma. Katakan pendapat kalian..”


Ucap Sang Raja yang menunjuk kepada kemuning dan Atma


“ Berdasarkan pengalaman hamba bersama Mahapatih dan Patih, kami akan melakukan pengalihan yang dapat membuat Penjarah Hutan merasa kesusahan. Karena hal itu, hamba mohon percayakan pada kami, Gusti Agung.”


Ucap Atma yang menundukkan tubuhnya


“ Mereka adalah pasukan yang dulu dilatih oleh istana. Karena kami beberapa kali berhadapan langsung dengan mereka, gerakan dan cara mereka sangat amat baik..”


Kemuning yang juga menundukkan tubuhnya


“ Baiklah. Masalah ini akan aku serahkan pada kalian semua. Sedangkan aku dan Ratu akan mengurus permasalahan bersama Mahapatih Gajah Mada”


Ucap Raja dengan Tegas


“ SEMOGA GUSTI AGUNG RAJA DAN RATU DI BERKAHI.”


Ucap Semua dengan menundukkan tubuhnya dan berlalu meninggalkan istan


Seperti biasa, mereka semua langsung menuju kediaman Mahapatih Danudara untuk membicarakan gerakan selanjutnya, sedangkan aku yang tahu akan kondisiku langsung berlalu pergi menunggangi kudaku kembali menuju Bale kediaman. Sepanjang perjalanan, aku berpikir bagaimana semua ini bisa terjadi lagi padaku.. Jika memang ini adalah takdir yang harus ku tempuh, bagaimana akhir cerita yang akan aku terima? Berakhir bahagia kah, atau... Tunggu, ditengah perjalanan menuju pulang, aku terhenti pada sebuah lorong jalan kota dimana Pureswari terlihat jelas dengan seorang dayangnya menggunakan selendang untuk menutupi wajah dan dengan penampilan yang menyerupai rakyat biasa, bukan seperti seorang bangsawan. Mau kemana dia dengan penampilan seperti itu?


Mencoba untuk jauh berjalan di belakangnya, seolah begitu terlihat Pureswari mengendap ngendap dengan wajah yang tertutup selendang kuningnya. Apa ada yang terlewatkan olehku? Kembali menitikkan perhatian kepada Pureswari yang tiba tiba berbelok pada sebuah jalan kecil yang tertutup sebuah rumah makan besar di depannya.. Kemudian mereka terlihat masuk kedalam sebuah Bale rumah yang sudah tidak begitu usang namun masih layak untuk didiami. Pintu gerbang pun terbuka dan begitu aku berjalan masuk di belakangnya, di sini terlihat beberapa anak dan para wanita yang sepertinya bersembunyi dari yang mereka takutkan.


Para wanita dan anak anak kecil itu pun begitu ketakutan begitu melihatku masuk.. Apa karena Busur Panah dan Pedang yang selalu menemaniku? Tapi, aku sama sekali tidak mengarahkan kepada mereka, namun kenapa reaksi mereka seperti ini padaku? Siapa mereka ini? Pureswari akhirnya menyadari kedatanganku yang mengikutinya dari belakang karena reaksi yang mereka berikan begitu terlihat mencurigakan bahkan Dayang yang bersama Pureswari pun langsung menutup pintu gerbang dan menguncinya menggunakan kayu yang melintang.. Mata pun tertuju pada Pureswari yang begitu terkejut dan ketakutan saat melihat ku saat ini.


“ Raa.. Raka.. Kemuning.. Raka, aku... MOHON AMPUN HAMBA GUSTI RADEN RARA..”


Pureswari yang tiba tiba menundukkan tubuhnya kepada kemuning diikuti oleh semua orang yang berada disana


“ Tunggu Rayi.. Ada apa ini? Kenapa kalian semua menundukkan tubuh kalian padaku?”


Kemuning yang kebingungan mencoba untuk membantu Purerwari berdiri dan melihat sekitarnya


“ Ra.. Raka.. Mereka semua.... Mereka adalah.. Para wanita dan anak anak kecil yang berasal dari Desa Wates tengah yang dekat dengan para penjarah hutan tengah..”


Pureswari dengan ketakutan mencoba menjelaskan kepada kemuning dengan menundukkan kepalanya


“ Ap, apa?... Katakan sekali lagi. Pureswari, siapa mereka?!”


“ Raka... Aku.... Maaf Raka...”


Pureswari kembali menundukkan kepalanya dengan mencoba menahan tangisannya


Pureswari terdiam dan tak berani berkata kembali terlebih untuk menatap wajahku. Melihatnya yang tertunduk begitu ketakutan dan mereka semua yang masih tersujud menghadapku saat ini, membuatku seperti kehilangan akal sehatku, karena dari yang kutahu tersebar kabar bahwa desa itu mendukung aksi gerakan para Penjarah Hutan Tengah dan jika sampai terdengar kabar ada yang mencoba membantu mereka akan dianggap sebagai penghianatan besar kepada kerajaan bahkan akan dihukum mati bila sampai memberikan makanan, minuman, bahkan tempat berteduh. Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang? Terkejut karena adikku sendirilah ternyata yang merupakan seorang penghianat kerajaan.


Mencoba untuk berpikir jernih sejenak, aku berjalan mengitari mereka yang terlihat begitu ketakutan saat melihatku. Terhenti pada tubuh beberapa anak yang mendapatkan luka lebam seperti terkena pukulan benda tumpul bahkan mereka terlihat seperti mendapatkan perlakuan keras setiap harinya. Para wanita pun terlihat luka lebam disekitar leher, tangan, dan kaki mereka. Apa semua kabar yang kudengar itu adalah bohong belaka? Berjalan terus mengitari mereka, akhirnya aku berhenti kembali pada sebuah lumbung penyimpanan bahan makanan dimana tumpukan jerami berada di dalamnya beserta beberapa bayi yang sedang tertidur hanya untuk menghangatkan mereka. Bale tengah ruangan dimana terlihat para wanita tua dan anak anak yang terluka terbaring tak berdaya beserta Luka luka di sekujur tubuh mereka.

__ADS_1


“ Apa yang terjadi pada kalian? Bukankah kalian mendukung gerakan para Penjarah itu? Kudengar bahkan Desa kalian di lindungi oleh mereka bahkan hidup berlimpah dari hasil jarahan mereka!”


Kemuning berbicara lantang kepada salah satu wanita di depannya


“ Mohon ampun Gusti Raden Rara.. Gusti Prabu Stira..”


Ucap wanita itu yang menundukkan tubuhnya kembali


“ Jadi kau tahu aku Prabu Stira? Lalu, kenapa kalian dengan Lancang masuk ke wilayahku? Apa kalian tahu, bisa dengan mudah aku melayangkan Pedang ini untuk menibas nyawa kalian?”


Kemuning yang menggertak dengan membuka sarung pedangnya


“ MOHON AMPUN GUSTI RADEN RARA.. SEMOGA GUSTI DI BERKAHI”


Ucap semua wanita kepada kemuning


“ Aku tidak mempunyai banyak waktu. Katakan, kenapa kalian kemari?”


“ Gusti Prabu Stira, semua kabar tentang kami semua itu tidak benar. Para Penjarah Hutan itu membunuh suami kami dan merampas harta kami yang hanya seberapa dan mengancam kami jika tidak menuruti mereka dengan terbunuhnya beberapa anak anak kami”


Ucap seorang wanita yang tersujud mencoba menjelaskan


“ APA??”


“ Seperti yang Gusti Raden Rara lihat, luka luka ditubuh kami karena Cambukan atau pukulan Tongkat kayu.. Bahkan mereka tidak memandang usia saat melakukannya..”


Ucap seorang wanita lainnya


“ Bagaiaman kalian bisa melarikan diri?”


“ Ada sebuah kiriman beberapa kereta kuda yang mengantarkan persediaan alat alat kepada mereka. Setelah Kereta itu kosong, pada tengah malam kami yang berhasil meloloskan diri masuk kedalam kereta kuda itu dan melewati perbatasan melewati hutan dengan berjalan kaki”


“ Beberapa dari kami pun harus berurusan dengan binatang buas saat menuju kemari dan kehilangan nyawa di pertengahan jalan Gusti Prabu Stira”


Ucap kedua orang wanita lainnya sembari memeluk anak anak mereka


“ Raka, maafkan Pureswari.. Aku hanya tidak tahan untuk tidak membantu mereka yang dalam keadaan seperti ini. Hukumlah aku sebagai gantinya..”


“ Pureswari, kau adalah gadis yang anggun, tidak mungkin bisa mengenal mereka. Jujurlah padaku, bagaimana kau bisa tahu keberadaan mereka?”


Kemuning menundukkan tubuhnya dan menatap Pureswari


“ Raka, saat selesai melakukan pelatihan musik di istana, bersama Kathamarwa aku kemari”


“ Katha.. marawa?? Maksudmu.. Diajeng??”


“ Ya Raka.. Mohon ampun Raka Raden Rara Kemuning..”


Pureswari yang kembali tersujud pada kemuning


Tanpa berpikir panjang, aku segera berlari meninggalkan tempat ini dan segera kembali ke kuda brataku untuk menuju istana kembali. Berkuda dengan kecepatan yang bisa ku tempuh, terlihat Atma dan Caka dari kejauhan sedang melihatku saat berjalan bersama Ayahnya dan Ayahku mengelilingi ibu kota entah untuk melakukan pemeriksaan atau rencana mereka yang lain.. Namun, bukan itu yang menjadi tujuanku saat ini. Aku harus segera menemui Diajeng dan meminta penjelasan darinya tentang apa yang terjadi kepada Pureswari dan juga akibat dari perbuatannya itu.


Sesampainya di istana Bale kesenian, mereka semua kembali terkejut saat melihatku bahkan menundukkan tubuhnya begitu aku melewati mereka karena tidak berani untuk memandang wajahku. Dengan tegas aku pun menanyakan kemana Diajeng saat ini, akhirnya mereka memberitahuku bahwa dia baru saja selesai melakukan pemeriksaan pada alat alat musik dan berjalan mengitari halaman belakang istana. Dengan sigap aku kembali berlari menuju kesana untuk bertemu dengannya.. Begitu sampai, Diajeng sudah tidak merasa terkejut dengan kehadiranku, seolah dia dapat mengetahui bahwa aku akan datang hari ini untuk menemuinya.


“ Katakan apa maksudmu melakukan semua ini!”


Kemuning berdiri dihadapan Diajeng dengan lantang menatapnya


“ Seperti kataku, serahkan hiasan rambut tusuk konde itu padaku.. Barang itu bukanlah untukmu..”


Diajeng dengan tersenyum penuh hina kepada kemuning


“ Jika kau ada masalah denganku, maka tujukan itu hanya padaku! Kenapa kau membawa Pureswari dalam hal ini?”


“ Karena itulah kelemahanmu bukan?... Seperti kau tahu, aku bukanlah seorang Prabu Stira wanita perkasa yang mempesona. Jadi, aku hanya melakukan sedikit belokan saja...”


Diajeng berjalan melewati kemuning sembari menyentuh beberapa bunga


“ Jika kau mencintai Atma, kenapa kau meninggalkannya dulu?”


“ KURANG AJAR!! BERANI SEKALI KAU BERKATA ITU PADAKU!!”

__ADS_1


Diajeng yang tiba tiba membalikkan tubuhnya dan kembali menatap kemuning tajam


“ Aku datang kemari tidak bermaksud untuk mengalah padamu. Juga untuk adikku yang kau sudutkan dengan rencana rendahanmu. Jadi, jangan harap aku bersujud padamu!”


Kemuning menatap Diajeng dengan penuh amarah


“ KAU..!! KAU!! Baiklah, kita lihat sebenarnya siapa yang Atma cintai, Aku atau... Kau?”


Diajeng tiba tiba melangkah mundur dan menghadap kepada kemuning


Entah apa yang ada dipikiran wanita ini. Diajeng tiba tiba menjaga jaraknya denganku, aku dengan sigap mencoba melepaskan pengunci sarung pedangku berusaha untuk melakukan tindakan jika Diajeng mencoba untuk melukaiku. Namun, sungguh licik sekali rencana wanita ini, Diajeng tiba tiba menundukkan tubuhnya dan mengambil segenggam pasir ditangannya hanya untuk melemparkannya tepat mengenai wajah dan mataku.. Aku yang tidak sempat melakukan pertahanan diri, terkejutkan dengan keluarnya Pisau Belati kecil yang Diajeng arahkan tepat pada leherku saat ini. Begitu mudah baginya, jika dia ingin menghabisiku saat ini, namun Diajeng seolah tidak bergerak sama sekali dan hanya tersenyum sinis padaku..


Merasa kesal akan sikapnya yang seperti itu, aku mencoba melakukan perlawanan hingga akhirnya Pisau Belati itu terjatuh dari tangannya dan aku pun mengambilnya. Reaksi Diajeng tiba tiba seolah berubah ketika melihat seseorang yang tepat berada dibelakangku.. Aku yang mencoba untuk melihat siapa itu, tiba tiba Diajeng menarik tanganku dan mengarahkan Pisau Belati yang berada ditanganku seolah olah terlihat aku sedang menyerangnya hingga membuat bahu Diajeng terluka. Melihat darah yang keluar dari tangannya, aku pun terdiam dan hanya menatapnya yang seolah memainkan topeng sandiwaranya lagi..


“ KEMUNING!! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN!!”


Atma yang berjalan mengahampiri kemuning


“ At.. Atma?? Sedang apa kau..”


“ Apa kau menyalahgunakan kekuasaanmu dengan menyerangnya?”


Atma mengambil Pisau Belati dari tangan kemuning


“ Ap.. Apa??.. Atma, kau salah paham! Aku tidak me..”


“ Kenapa bahunya bisa terluka? Jika ada masalah, bisakah kau berpikir dahulu sebelum menggunakan amarahmu?”


Atma berbicara membelakangi kemuning dan mencoba membalut luka Diajeng dengan selendang milik Diajeng


“ At.. Atma.. Ke, kemuning.. Dia mencoba untuk.. Membunuhku, karena aku... Aku..”


Diajeng yang berpura pura menangis di hadapan Atma


“ APA KAU BILANG?? DIAJENG, AKU AKAN BENAR BENAR MEMBUNUHMU SAAT INI! KEMARI KAU!”


Kemuning yang merasa terbakar amarah akhirnya berlari kearah Diajeng


“ CUKUP KEMUNING! PERGILAH!”


Ucap Atma yang menarik tangan Kemuning mencoba menghentikannya


“ Ap, apa? Atma.. Kau bilang apa padaku?”


kemuning menatap Atma merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakannya


“ Pergi dan Pulanglah kemuning.”


Atma berlalu dengan membawa Diajeng yang melewatiku kembali dengan senyuman penuh hinanya. Tangan mengepal dan Hati yang terbakar ini, seoalh sudah tidak mampu lagi aku pendam. Diajeng, kali ini sudah cukup kau melakukan hal hal yang membuatku menjadi orang terburuk dihadapan orang orang yang kucintai.. Tidak akan kubiarkan kau berkeliaran di sekitarku kembali. Diajeng, ingatlah sumpahku ini. Berjalan menunggangi kudaku kembali dengan kegundahan yang melanda hati yang belum terobati, membuatku menjadi tak karuan dan merasa ingin sekali melampiaskan pada apa pun itu..


Namun begitu sampai di Bale kediamanku, aku merasa ada yang salah sedang terjadi kembali. Aku segera berlari dan melihat ibunda yang menangis histeris terduduk ditengah Bale Delot dan terlihat begitu sedih bersama dengan Pureswari yang menangis bersama dan memeluk ibunda.. Terlihat sekitarku berantakan bahkan terbujur kakunya para penjaga yang sudah tak bernyawa kembali.. Tangan bergetar dan tatapan pun terasa kosong ketika melihat sarung pedang beserta pedang ksatria milik  Ayahanda tergeletak tepat dihadapan kakiku..


“ Katakanlah.. Apa yang terjadi?”


Kemuning berjalan dengan gugup menghampiri Ibundanya dengan membawa pedang milik ayahnya


“ Raka.. Ayahanda.. Mereka... Menculiknya..”


Pureswari yang mencoba menjelaskan sembari menangis


“ Menculik? Ayahanda? Ba, bagaimana bisa? Apa yang se..”


“ Aa, awalnya mereka menangkapku dan Ibunda.. Namun, Ayahnda meminta mereka melepaskan kami dan mengganti dengan membawanya bersama mereka..”


“ Apa?”


“ Kemuning.. Bagaimana ini.. Ayahmu.. Suamiku...”


Ibunda yang mulai menangis histeris kembali


Garisan takdir hidup apakah ini? Seseorang tolong jelaskan padaku, apa yang sebenarnya sedang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2