Sabda Batari

Sabda Batari
Malam Terburuk


__ADS_3

Tatapan mata yang tertunduk dengan tubuh yang melemah.. Terduduk diatas lantai beralas kayu melihat orang terkasih yang saling melindungi satu sama lain.. Diantara mereka terdapat tubuh yang menggunakan topeng diwajahnya tergelak tak bernyawa. Hati kembali merasa tenang disaat mendengar kabar akan Pureswari yang sudah lama langsung menuju istana untuk melihat keadaan Caka setidaknya membuatku semakin bernafas lega.. Berjalan maju melihat kondisi ayahanda dengan nafas yang tersenggah masih dapat berdiri tegap dengan pedang ksatriannya yang terlihat penuh noda merah, serta Ibunda yang memegang pedang kecil di tangannya, membuatku kagum memiliki orang tua seperti mereka baik di masa ini atau pun dimasa tempat aku berasal mengingat Papa dan Mama yang memiliki sifat tidak jauh berbeda dengan mereka yang juga terlihat begitu mirip dengan mereka.


“ Ayahanda, Ibunda.. Apakah baik baik saja? Apa ada yang terluka?”


Kemuning yang menggenggam tangan Ibunda dan menatap pada Ayahanda


“ Kami baik baik saja.. Beruntung Pureswari langsung meminta untuk di antarkan langsung menuju istana begitu sampai kemari..”


Ucap Raden Panji yang terduduk lelah pada sebuah kursi


“ Kemuning, apa ada sesuatu yang kau sembunyikan di dalam Kediaman ini?”


Ucap Raden ayu yang menggenggam erat tangan kemuning


“ Ti.. Tidak ada Ibunda. Aku bahkan tidak tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi”


“ Sepertinya mereka menginginkan sesuatu darimu. Karena dari semua ruangan di kediaman ini, kamarmulah yang menjadi terget utama mereka”


“ Ap.. Apa? Namun Ayahanda, kemuning betul betul tidak tahu apa pun..”


“ Aku tahu itu anakku, mungkin ada seseorang yang mencoba menjebakmu saat ini.. Kemuning, kau harus lebih waspada lebih dari biasanya hingga keadaan kembali seperti biasa.”


Ucap Raden Panji yang kembali berdiri dan menatap kemuning tajam


“ Baik ayahanda, kemuning mengerti. Ibunda, bagaimana jika berkendara kembali menuju istana dan beristirahat di Bale yang dipersiapkan Gusti Ratu untuk kemuning jika ingin beristirahat? Terlebih Pureswari juga sudah berada di istana melihat kondisi Caka..”


“ Bagus sekali, kemuning.. Istriku, pergilah. Kemuning, pastikan aman, penjaga dan kereta kuda.”


Titah Raden Panji sembari menunjuk kearah penjaga yang sudah mengerti akan maksudnya


“ Kemuning mengerti. Kalau begitu, kemuning mohon pamit..”


Kemuning menundukkan tubuhnya dan berjalan keluar


Beberapa prajurit dan dayang yang masih dalam kondisi tidak terlalu terluka langsung berjaga dan membersihkan semua kekacauan ini. Sebagian terlihat membereskan barang kembali untuk dipersiapkan dalam kereta kuda dan tak menunggu waktu lama, Ibunda pun pergi menuju istana dengan sangat terburu buru.. Namun entah mengapa, aku merasa masih ada yang aneh saat ini, seperti seseorang sedang mengamati kami dari kejauhan.. Jika tidak ada yang terlewat dalam ingatanku kembali, pasti memang ada yang mencoba menjebakku. Atau memang ada yang menginginkan posisiku sebagai Prabu Stira agar orang tersebut bisa dengan mudah mendekati Gusti Ratu. Pasti ada yang terlewat olehku disini, tapi apa itu?


Tak sadar kaki melangkah menuju kamar dimana kusandarkan diriku untuk beristirahat. Tidak hanya lemari pakaianku, semua yang berada disini sungguh benar benar seperti sengaja dihancurkan. Berjalan mengitari tersadar akan keadaan ranjangku seperti tidak tersentuh sama sekali. Kenapa mereka seperti sengaja membiarkan tempat tidur ini saja? Merasa aneh, tentu saja akhirnya aku menemukan sebuah robekan pada bawah kasur namun sepertinya mereka tidak sempat menemukan apa yang mereka cari karena kedatanganku ke kamar ini. Berjalan keluar kamar dengan sangat hati hati dengan membawa Busur panah dan Pedang, terhenti pada lumbung penyimpanan yang sepertinya terlihat mencurigakan.


Terdiam dengan menolehkan ke samping dengan tidak bersuara, aku melihat 3 orang para Penjarah hutan tengah yang sedang bersembunyi dangan sangat apik seperti benar benar tidak ada yang akan menemukan mereka. Selain pasukan prajurit istana, tidak ada yang diberikan pelatihan seperti ini. Apa kondisi istana saat ini juga benar benar sangat berbahaya juga? Namun bagaimana bisa abdi yang dibawah sumpah dengan istana, berani melakukan hal ini bahkan menarik prajurit khusus istana untuk bekerja di bawah pengaruhnya. Apa pasukan prajurit ini di tipu oleh mereka? Aku harus mendapatkan jawabannya saat ini juga!


“ PENJAGA SEGERA MENUJU BALE DAJA, TERJADI PENYERANGAN KEMBALI! SEGARA LINDUNGI RADEN PANJI”


Kemuning mencoba untuk mengalihkan perhatian para penjaga di sekitar Lumbung


“ BAIK GUSTI RADEN RARA.”


Beberapa penjaga pun langsung berlari


Bersembunyi di balik bilik dinding dapur yang tertutup jerami, kulihat ketiga pria itu keluar dan kembali berlari menuju kamarku. Dengan mengikuti mereka dan bersembunyi kembali, mereka langsung mendekati Kasur tempat tidur dan merobek robek dengan paksa hingga hancur tak tersisa. Namun tetap sepertinya mereka tidak menemukan apa pun. Merasa kesal, mereka bertiga kembali memeriksa ruanganku dengan mencoba tidak melakukan gerakan yang menimbulkan suara sedikit pun.. Ternyata mereka memang benar benar pasukan Maha Thawara (Prajurit Khusus) kerajaan yang mendapat Restu langsung oleh Raja dan Ratu. Tapi, mengapa mereka mendapat titah dari orang yang tidak semestinya mereka layani?


“ Kalian mencari sesuatu di kamarku?”


Ucap Kemuning dengan tegap dan lantang mengarahkan 2 anak panah sekaligus


“ Ciiihh! Ternyata kau jauh lebih pintar dari bayangan kami”


Ucap salah satu Penjarah yang merasa kesal


“ Kalian.. Maha Thawara (Prajurit Khusus) bukan? Kalian di bawah sumpah di hadapan Gusti Ratu dan Raja. Kenapa melakukan pemberontakan?”


Kemuning yang semakin berjalan mencoba mendekati dengan anak panah yang menjurus tajam

__ADS_1


“ Seorang Prabu Stira tidak akan tahu muaknya perasaan kami dengan semua kekuasaan kerajaan! Jadi, kembalikan TASARA (Gulungan kertas berisi informasi) yang kau rebut dari kami!”


Ucap seorang Penjarah dengan mengusungkan Pedangnya pada kemuning


“ Tasara kalian..?? Ada padaku?”


“ JANGAN BERPURA PURA BODOH! Jelas jelas kau yang menyerang dan melenyapkan beberapa pasukan kami! Tapi, sepertinya kau belum membaca isi dari Tasara itu melihat istana dan kalian yang masih tidak melakukan apa pun.”


Mendengar mereka berbicara, kembali kepalaku terasa sangat sakit dan pusing seperti biasanya disaat sebuah kenangan yang akan menghampiri pada ingatan yang terlupakan.. Tidak! Tidak dalam kondisi ini, aku harus tetap tersadar dan berdiri tegak dihadapan mereka bertiga.. Namun, apa dayaku ingatan ini betul betul seperti layar film yang berputar dikepalaku tanpa aku menyetujuinya. Tiba tiba seperti diriku pada masa ini bersama dengan Atma dan beberapa pasukan yang benar benar menyerang mereka yang saat itu sedang melintas dengan membawa sabuah gerobak yang berisi peralatan perang.. Ya, kini aku ingat bahwa dalam gerobak itu ada beberapa Granat dan peralatan yang lebih terlihat modern. Merasa itu merupakan hasil dari pasar gelap yang berjalan di belakang nama istana, Atma mengambil semua peralatan itu dan melenyapkan mereka tanpa satu bukti pun yang tersisa.


Ternyata yang kami temukan tidak seberapa dengan yang sebelumnya sudah mereka lakukan selama ini di belakang istana yang mencoba untuk menjatuhkan atau hanya agar ingin menggantikan posisi Gusti Raja dan Ratu. Di pertengahan terlihat Atma menemukan sebuah gulungan kertas yang di ikat menggunakan tali dari kulit hewan. Melihat itu Atma memintaku untuk menunggangi kuda terlebih dahulu menuju istana mengingat Atma yang akan terhalang lama karena membawa gerobak yang penuh dengan peralatan senjata. Namun ditengah tengah perjalanan, aku kembali terhadang para Penjarah Hutan Tengah yang mencoba mengambil gulungan ini.


Menunggangi kudda brata dengan berlari secepat mungkin, akhirnya setelah melepaskan anak panah aku dapat lolos dari mereka namun kembali terhalang dengan kegiatan ibu kota yang ramai mengingat hari itu adalah upacara hari kelahiran Gusti Ratu hingga seluruh warga masyarakat ikut meramaikan bahkan terlihat iring iringan pawai di jalanan yang tidak akan mungkin aku lalui. Akhirnya aku memutuskan menyembunyikan itu di Bale kediamanku lalu Ibunda datang dan memintaku segera bersiap siap menuju istana...


“ KEMUNING AWAS!!!”


Ucap Atma yang berteriak melihat seorang penjarah itu mencoba menusukkan pedangnya kepada kemuning


“ MATI KAU!!!”


Ucap seorang Penjarah yang berada di hadapan kemuning mencoba untuk menibas leher kemuning


 #TRAANGG TRAAANGGG


#BUUKKK DHAAAKKK


Suara pedang yang saling beradu berujung dengan terhempasnya penjarah hutan pada kayu lemari pakaian dan menusuk dadanya


“ KURANG AJAR!! TUNGGU PEMBALASAN KAMI!!”


Para penjarah yang berlari lompat keluar melalui jendela kamar kemuning


Atma yang berteriak mencoba mengejar mereka


Mencoba mengembalikan tubuhku agar kembali normal seperti biasa, aku rendamkan kepalaku ke dalam kendi berisi air bersih yang biasa digunakan untuk air minum. Beberapa saat mencoba mendinginkan kepalaku, kembali aku menegakkan kepalaku dan segera berlari kembali mencoba mengejar mereka.. Terlihat Atma sedang melawan 2 dari penjarah hutan itu dengan pedangnya, akhirnya aku pun mencoba menjuruskan anak panahku kepada salah satu dari penjarah itu namun terhenti ketika menyadari bahwa ada 3 dari Abdi di Bale kediamanku yang ternyata para penjarah itu dan memata matai keluargaku selama ini dengan berpura pura menjadi salah satu penjaga mencoba menghunuskan pedangnya tepat dari samping tempat ku berdiri.


Berhasil menghindari dan melepaskan salah satu anak panahku hingga mengenai kaki salah satu dari  penjarah hutan itu, akhirnya aku dapat melihat wajah mereka yang tidak tertutup topeng, kini dapat terlihat jelas bahwa tanda diwajah berupa goresan panjang pada pipi sebelah kiri mereka bertiga sepertinya menjelaskan bukti pengabdian mereka sebagai salah satu prajurit para penjarah hutan tengah.


“ Berani sekali kau Prabu stira! Cepat bunuh kami dengan busur panahmu!”


Ucap salah satu penjarah dengan menjatuhkan pedangnya


“ Kalian tahu aku tidak boleh membunuh kalian, karena kalian harus di jadikan sandera dan dibawa ke istana untuk memberikan kesaksian kalian. Tapi apa kalian tahu Kasim penjara le...”


“ Aku teringat pada wanita tua yang merupakan pesuruhmu.. Kau lihat dia? Dialah yang menghabisi nyawa dayang kesayanganmu dengan pedangnya..”


Ucap Penjarah itu yang menunjuk salah satu rekannya yang sedang tersenyum


“ Apa kau bilang?”


Kemuning yang terkejut menurunkan sedikit Busur panahnya


“ Selendang sutra yang mahal digunakan para wanita bangsawan kerajaan, namun kau dengan mudahnya memberikan pada dayang rendahan seperti dia yang bahkan usianya sudah mendekati kematiannya.. AHAHAHAAA”


Ucap penjarah itu dengan mengibaskan selendang berwarna merah


“ Kau tidak melihat? Lihat sekelilingmu saat ini sudah terkepung oleh pasukan kami. Bahkan di...”


#SHUUUTT #SHUUUTT #SHUUUTT #SHUUUTT #SHUUUTT #SHUUUTT


#AAARRGGHHH # AARRGGHH

__ADS_1


Bunyi lepasan anak panah yang mengenai tepat pada tubuh para penjarah hutan hingga jatuh ke tanah tak bernyawa


“ Empu endok bukan dayang bagiku. TAPI IBU KEDUA BAGIKU!! HYAAHHH!!!”


Kemuning yang menangis menyelempangkan Busur panahnya dan beralih dengan pedang ksatria di tangannya berlari menyerang penjarah hutan


“ KEMUNING TUNGGU! TAHAN AMARAHMU! KEMUNING..”


Atma yang berlari mencoba menghentikan kemuning yang tidak bisa menguasai amarahnya


Tidak. Tidak akan aku biarkan mereka hidup satu pun! Aku tidak perduli akan hukumanku kelak yang akan diberikan Gusti Ratu padaku! Amarah ini.. Hati yang tertusuk panah api membara yang sengaja mereka sulut akan aku luapkan hingga mereka akan berpikir untuk kesekian kalinya jika ingin menyerangku! TIDAK AKAN AKU BIARKAN KALIAN SEMUA HIDUP TENANG. Di tengah ini semua, Ayahanda yang melihatku melawan mereka semua seorang diri akhirnya mencoba menghunuskan pedangnya dengan berlari kearahku tanpa dia sadari ada seorang Abdi penjaga yang sedang berpura pura kembali mencoba untuk menusuknya dari belakang yang sedang berlari kearahku.. Aku dengan sigap berlari ke arah Ayahanda dengan tidak memperdulikan kedua orang penjarah hutan yang juga sedang mengejar untuk membunuhku.


Terlihat sekilas seorang membawa pedang dan seorang lagi membawa benda tumpul berbentuk tongkat yang terbuat dari kayu keras dan batu yang biasa digunakan dayang untuk menumbuk padi.. Tersadar akan itu, aku semakin berlari kencang hingga akhirnya dapat menyelamatkan Ayahanda dari penjaga itu dengan melompat dan langsung menghabisinya dengan pedangku. Namun penjarah yang membawa tongkat itu berlari sangat cepat hingga tidak sempat bagiku untuk menghindar..


“ TIDAK!! KEMUNING!!”


Ucap Atma yang melompat kearah kemuning dan memeluk menutup kemuning dengan tubuhnya


#BHUUAAKKK


Suara pukulan yang mengenai tubuh Atma hingga tak sadarkan diri


“ Ti, tidak Atma.. MATI KAU!!”


Kemuning yang histeris melepaskan anak panahnya pada kedua penjarah hutan


“ Atma lihat aku.. Kumohon.. Tidak, tidak.. Atma.. Berbicaralah padaku..”


Kemuning membaringkan Atma dengan sedikit meninggikan kepalanya


“ Kemuning, jangan menggerakkannya lebih lagi. Tabib istana sudah datang kemari.. Kemuning, kemarilah biarkan mereka menolong Atma..”


Ucap Raden Panji yang menarik tangan dan mencoba menenangkan kemuning


Mendekati pertengahan malam, Atma yang terbaring dengan luka di daerah punggungnya terlihat cukup parah dengan terdapatnya obat obat yang dioleskan pada punggungnya dan dia pun masih tertidur dengan posisi tertelungkup.. Tabib meminta untuk membiarkannya beristirahat tanpa ada gangguan sedikit pun.. Mengingat ini, Ayahanda pun mengijinkan Atma untuk menginap di kediaman kami dan aku yang akan menemaninya semalaman ini untuk memantau kondisinya.. Ditengah itu Mahapatih Andaru beserta Raden Ayu Bhanuwati Ibunda Atma yang mendapatkan tentang keadaan anaknya pun datang untuk melihat kondisi Atma saat ini.. Dengan kepada menunduk dan memohon ampun akhirnya hal yang dapat aku lakukan saat menjelaskan peristiwa yang terjadi saat ini..


Namun begitu terkejut reaksi Ayah dan Ibu Atma sama sekali tidak merasa kesal padaku melainkan menanyakan akan kondisiku dan apakah aku juga terluka.. Terlebih Mahapatih Andaru yang berjalan dengan menepuk pelan pundakku pun memuji keberanianku atas semua yang terjadi pada hari ini. Merasa semakin merasa bersalah karena mendapatkan perlakuan yang tidak aku bayangkan dari mereka, tanpa sadar aku mencoba menahan tangisan namun tidak sanggup untuk ku tutupi lagi hingga Raden Ayu Ibunda Atma memelukku layaknya seorang ibu kepada anaknya.. Sesudah merasa tenang akhirnya aku pun memberikan semua informasi yang aku ketahui kepada Ayahanda dan juga kepada Mahapatih Andaru yang terlihat begitu terkejut mendengarkan semua ini..


“ Gusti Mahapatih, apa Gusti berpikiran sama dengan hamba saat ini?”


Ucap Raden Panji Andaru kepada Mahapatih Danudara


“ Ya, hanya dia yang bisa melakukan hal kotor ini. Karena dia juga merupakan Laksamana, jadi dia pasti sangat mengerti jalur perdagangan di istana.. Namun, siapa yang membantunya?”


Ucap Mahapatih Danudara yang menatap Raden panji dengan kebingungan


“ Hamba akan coba mencaritahu akan hal ini. Kemuning, sebisa mungkin kau mencoba mengingat dimana kau letakkan Tasara itu”


Ucap Raden panji dengan menunduk kepada Mahapatih dan kembali menatap kemuning


“ Tentu Ayahanda.. Kalau begitu hamba mohon pamit Gusti Mahapatih”


Kemuning yang menundukkan tubuhnya kepada Ayahnya dan Mahapatih


“ Kemuning, aku titip anakku malam padamu.. Segera kabari jika terjadi sesuatu pada Atma..”


Ucap Raden Ayu Bhanuwati yang begitu khawatir dengan menggenggam tangan kemuning


“ Baik, Gusti Raden Ayu..”


Berjalan menuju kamar dimana terlihat pria yang kucintai tergeletak tak sadarkan diri.. Baru kali ini aku melihat Atma seperti ini. Dipertengahan malam bahkan tubuhnya terserang demam hingga mengeluarkan keringat yang cukup banyak.. Yang bisa kulakukan hanya menunggu dan selalu terjaga disampingnya untuk menebus rasa hati ini yang tidak akan sanggup untuk membayar semua kebaikannya padaku. Atma, kumohon.. Segeralah membuka mata, aku sangat ingin memelukmu hanya sekedar memastikan nafas hangat itu masih berhembus untukku..

__ADS_1


__ADS_2