Sabda Batari

Sabda Batari
Maksud Hati


__ADS_3

“ KEMUNING!! KUMOHON SADARLAH. KEMUNING?!”


#HUFFFT  #HUFFTTT  #HUFFFTT


Atma berusaha memberikan nafas buatan kepada kemuning yang tak sadarkan diri


“ Raka.. Bagaimana ini? Tidak, tidak,, Raka Kemuning!”


Pureswari yang panik mencoba menggoyang goyangkan tangan kemuning


“ Tenanglah Pureswari.. Berikan ruang pada Atma.”


Caka menarik tangan Pureswari untuk berdiri dan memeluknya


“ Kemuning, kau dengar aku? Buka Matamu! KEMUNING!”


Atma mencoba menekan nekan dada kemuning


#UHUUKK UHHUKK UHHUUKK


Kemuning yang tersadar terbatuk batuk mengeluarkan air dari mulutnya


“ Kemuning? Kau melihatku? Bagaimana kondisimu?”


Atma menyandarkan tubuh kemuning padanya


“ Aa.. Aku baik baik saja.. Terima.. Ka.. Atma?.. Atma...”


Kemuning yang mencoba memanggil Atma yang terlihat kesal berlalu meninggalkannya


Bagai kepribadian ganda, aku benar benar tidak mengerti kondisi tubuhku pada masa ini. Bagaimana bisa, aku yang ikut kelas renang pada masa sekolah menjadi kaku dan pasrah pada hentakan air yang menyeret tubuhku! Aku begitu pandai dalam menggunakan Busur panah dan juga Pedang, namun bagaimana bisa keahlian berenangku tidak bisa kugunakan pada masa ini?. Tersadar akan kekurangan yang kumiliki saat ini, aku pun terdiam ketika melihat semua mata sedang tertuju padaku saat ini, bahkan Pureswari pun terlihat menangis melihat kondisiku saat ini. Tidak heran jika Atma merasa marah dan kesal padaku, atas kecerobohan yang selalu aku lakukan tanpa berpikir dua kali terlebih dahulu.. Namun untuk mengejarnya saat ini, sungguh tidak mungkin bagiku mengingat kondisiku yang masih terasa lemas..


Semua wanita yang berada di  sini pun langsung menolongku dan membawaku menuju pondok untuk beristirahat. Beruntungnya aku memang membawa 1 stel pakaian yang sudah kupersiapkan jika terjadi sesuatu padaku yang tidak kusangka benar benar terjadi dan membuatku merasa ketakutan seperti ini. Minuman hangat pun mereka berikan padaku serta membantuku untuk mengeringkan rambutku yang tiba tiba teringat akan hiasan rambut yang diberikan Atma padaku yang ternyata sudah hilang entah kemana.


“ Hentikan Raka.. Hiasan rambut itu mungkin sudah terbawa arus hilir sungai..”


Pureswari yang menyadari expresi wajah kemuning yang terkejut saat menyentuh rambutnya


“ Apa?... Tidak. Tidak. Itu adalah... Tidak!”


“ RAKA!! TIDAK RAKA!!... CAKA, HENTIKAN RAKA KEMUNING!! DIA MENUJU HULU HILIR SUNGAI KEMBALI MENCOBA MENCARI HIASAN RAMBUTNYA!”


Pureswari yang berteriak sambil berlari mencoba mengejar kemuning yang berlari cepat melewati Caka di hadapannya


Tidak lagi aku menyadari bahwa yang aku lakukan saat ini adalah salah. Aku tahu itu, tapi kenapa aku tidak akan sanggup kehilangan benda pusaka itu. Tidak.. Aku tidak ingin kehilangannya, seolah aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi menimpa hubunganku dan Atma saat ini yang memang dalam keadaan yang tidak dalam kondisi baik baik saja.. Hiasan itu adalah tanda Atma yang mencoba melamarku terlebih merupakan warisan turun temurun keluarganya.. Kemuning, bagaimana bisa kau menghilangkannya?! Carilah.. Cari kemuning! Kau harus mendapatkannya!


“ HENTIKAN KEMUNING! APA KAU KEHILANGAN AKAL SEHATMU?!”


Ucap Atma yang berhasil mengejar kemuning dan memeluknya dari belakang mencoba menghentikan kemuning yang berniat melompat kembali ke dalam arus sungai


“ Lepaskan aku atma.. Hiasan itu.. Hiasan itu hilang.. Aku harus mendapatkannya kembali!”


Kemuning mencoba melakukan perlawanan dengan mencoba melepaskan tangan Atma


“ Dengarkan aku kemuning! Aku tidak butuh pengakuan darimu dengan menggunakan Hiasan itu! Lihat aku kemuning. Kemuning!”


“ TIDAK LEPASKAN AKU!! Aku mempunyai firasat buruk jika kehilangan Benda itu, Atma.. Aku harus mendapatkannya! Itu adalah harta berharga bagimu dan keluargamu yang diberikan padaku.”


“ CUKUP KEMUNING! TIDAKKAH KAU TAHU, HANYA KAU YANG KUBUTUHKAN?! Aku memberikan hiasan itu hanya simbol bahwa kaulah calon istriku, dan Yaa, kau betul! Itu adalah harta warisan turun temurun keluargaku, tapi itu tidak sebanding jika aku sampai kehilangan nyawa wanita yang kucintai! Jadi hentikan kemuning!”


Atma yang merasa kesal menarik paksa kemuning hingga tersungkur terduduk diatas tanah dengan menundukkan kepalanya


“ Raka, kumohon hentikan.. Kami semua mengkhawatirkanmu..”


Pureswari yang menolong kemuning untuk terduduk


“ Ma.. Maafkan aku, Atma..”


“ Bukankah kita sudah berjanji, bahwa diantara kita tidak ada yang boleh mengucapkan kata MAAF.”


Atma yang masih merasa kesal berpaling, meninggalkan kembali kemuning dan langsung menunggangi kuda bratanya untuk berlalu pergi


Sebagai wanita yang selalu menggunakan kata hatinya, setegar apa pun, sekuat apa pun wanita itu.. Pada akhirnya tangisan pun pasti akan datang menghampirinya.. Seperti hal itu padaku yang menangis melihat Atma yang berlalu pergi meninggalkanku. Pelukan Purewari yang mencoba untuk menenangkanku pun seolah percuma di saat para wajah dan mata mereka yang memandangku penuh rasa iba dan kembali menundukkan kepalanya tidak berani untuk menatapku kembali.


Disaat merasa sudah mulai tenang, mencoba kembali tegar aku mencoba kembali memastikan keperluan penyimpanan bahan makanan dan lainnya untuk para wanita dan anak anak itu sudah pasti terpenuhi untuk seminggu ke depan kembali. Dengan senyuman perpisahan kembali, mereka yang menundukkan tubuhnya padaku serta anak anak yang melambaikan tangannya padaku, setidaknya masih dapat menghiburku yang selalu saja melakukan hal bodoh kepada Atma. Sesampainya di Bale kediaman, tiba tiba Pureswari menarik tanganku dengan tatapan wajah serius seolah mencoba untuk mencegahku untuk masuk dan mendengarkanterlebih dahulu hal ingin disampaikannya dan Caka saat ini. Dengan seksama aku pun mendengarkan penjelasan dari mereka yang ternyata itu adalah.....

__ADS_1


“ Tidak. Sampai hati kalian baru memberitahuku akan hal ini?”


Kemuning yang terkejut dengan amarah menatap kepada Caka dan Pureswari


“ Atma yang meminta kami. Maaf kemuning.”


Ucap Caka yang menundukkan kepalanya


“ Maaf?.. Kalian pikir kata itu akan menyelesaikan masalah ini?”


“ Tidak Raka.. Semua masalah ini adalah salahku. Salahku yang menyebabkan kalian semua menjadi terlibat didalamnya hingga mencoreng nama kerajaan dan jabatan kalian semua.”


Pureswari yang menatap kemuning mencoba untuk menahan airmatanya


“ Tapi keputusan ini aku buat untukku sendiri dan kenapa kalian tidak menghentikan Atma?”


Ucap kemuning yang kesal dengan berbalik membelakangi mereka


“ Kau jelas tahu, keras kepalanya terkadang tidak jauh berbeda denganmu. Bukan begitu kemuning?”


Ucap Caka dengan menepuk pelan bahu kemuning


“ Jadi, kepergian Atma tadi adalah untuk bertemu Gusti Agung Raja dan Ratu?”


“ Raka, Raden Mas tidak ingin kau menanggung seorang diri, disaat Gusti Ratu sedang sangat mempercayaimu. Raden mas ha..”


“ Bagaimana dengannya? Dia juga merupakan Ksatria kepercayaan Gusti Raja? Bahkan pangkatnya 2 kali lebih tinggi dariku! Apa dia akan mengobarkannya? AARRGGHH ATMA!!”


Kemuning yang kesal memotong pureswari yang sedang berbicara dan langsung berlari menuju kudanya


“ Tunggu kemuning.... KEMUNING!!”


Caka yang tidak berhasil menghentikan kemuning yang langsung naik menunggangi kudanya kembali


Lagi lagi semua ini terjadi diluar keinginanku.. Tidak mungkin bagiku untuk membiarkan semua ini dan seolah membuat orang yang kucintai berada di ujung tanduk. Sudah tidak kuhiraukan lagi para mata yang menyudutkan karena membuat kuda brata berlari dengan sangat kencang di pusat kota. Yang kuinginkan cepat sampai di istana dan menjelaskan sejelas jelasnya kepada Gusti Agung Raja dan Ratu.. Begitu sampai terlihat para pengawal seperti sedang melakukan penjagaan berlebih di Aula utama singgasana istana seolah sedang mempersiapkan penangkapan seseorang yang sedang berada didalamnya.. Apa orang itu Atma? Tidak, Tidak! Berlari secepat mungkin untuk menaiki anak tangga, namun merasa bingung dan terkejut melihat apa yang ada di hadapanku saat ini.


Terlihat Atma dan Diajeng sedang menundukkan tubuhnya di hadapan Gusti Agung Raja dan Ratu dan seperti sudah menyapa dan menjelaskan apa maksud hati dari kedatangan mereka untuk menghadap. Gusti Agung Ratu yang melihatku berjalan masuk pun akhirnya tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk memanggilku seolah menyuruhku untuk duduk bergabung bersama mereka saat ini.. Tertunduk tubuh ini berjalan menghadap namun menahan hati untuk mencoba bertanya, akhirnya aku mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Gusti Agung Raja dan Ratu padaku yang menjadi pernyataan terpahit yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya akan terjadi.


“ Prabu Stira. Tahukan kau bahwa Kathamarawa memberikan pengakuan yang sungguh berani dengan tindakan terpuji?”


“ Mohon maafkan hamba kiranya ada kabar yang terlewat oleh hamba..”


“ Tidak apa apa, aku yakin kau pun tidak tahu tentang masalah ini karena Diajeng sebagai Katahmarawa bertindak sangat cepat dan bijak.. Apa kau tahu mengenai para warga desa Penjarah hutan tengah yang melarikan diri? Diajeng membantu dengan menyembunyikan mereka..”


“ Ap.. Apa?... Mohon ampun Gusti, bisakah Gusti Ratu mengulangi apa yang Gusti katakan?”


Kemuning yang terkejut kembali menundukkan kepalanya


“ Aku bilang, Kathamawara berhasil menyembunyikan para warga desa Penjarah hutan tengah. Dengan begini kita bisa mengetahui informasi apa saja yang akan kita dapatkan dengan mudah bukan begitu kemuning?”


Ucap Gusti Ratu yang tersenyum kepada kemuning


“ Bahkan dalam hal ini Laksamana Bhattara Atma membantunya secara diam diam. Kalian berdua berani melakukan tindakan berbahaya namun berujung melakukan tindakan terpuji bagi istana, maka dengan ini kami ingin memberi kalian berdua penghargaan sebagai Rangasa Dhayaka (Pasangan calon suami istri yang diijinkan melakukan pernikahan di istana atas restu Raja dan Ratu).”


“ Sanjungan Gusti Agung Raja dan Ratu begitu berharga dan berat bagi kami untuk dilakukan..”


Ucap Diajeng yang tersenyum malu dengan wajah merona bahagia


“ Bicarakan dan segeralah kalian menikah.. Kami akan merestui kalian..”


Ucap Sang Ratu kepada Atma dan Diajeng


Terdiam dan tetap tertunduk mendengar titah dari yang tidak bisa diubah keputusannya bahkan tidak terpikir olehku untuk melawan titahnya. Meski pun tubuhku sedikit tertunduk namun dapat terlihat jelas tanganku bergetar tak menentu.. Mencoba untuk mengepalkannya pun terlihat percuma disaat tubuh ini bergetar menolak, mencoba untuk memberontak mendengar semua ini. Dari sekian banyak orang yang berada dalam Ruangan Singgasana yang megah ini, mereka semua pun tersenyum dan memberikan Restunya kepada Diajeng yang tengah bahagia. Namun yang Atma dan aku lakukan, hanya terduduk lemas bahkan aku tidak berani menatap wajah Atma saat ini yang sedang memandangku dengan sangat dalam..


Tertunduk kembali dan berjalan mundur perlahan memberikan penghormatan, terdengar titah untukku dan Diajeng untuk meninggalkan ruangan ini namun tidak dengan Atma yang masih diperlukan kehadirannya bersama Gusti Agung Raja dan Ratu. Merasa akan membicarakan hal penting lainnya, aku pun berjalan keluar berniat menuju tempat penjaga untuk membawa kembali kudaku untuk kembali ke Bale kediamanku. Namun tiba tiba Diajeng datang dan secara tiba tiba berhenti tepat dihadapanku dan menatapku dengan serius.


“ Kau sembunyikan dimana mereka?”


Ucap Diajeng dengan sedikit berbisik pada kemuning dengan wajah penuh keseriusan


“ Lucu sekali.. Bukankah kau yang mengakui bahwa berhasil menyembunyikan mereka?”


Kemuning yang tersenyum penuh sindiran kepada Diajeng


“ Perlu aku bertanya kepada Pureswari? Bagaimana jika terjadi sesuatu denga... AAKKKHH!!! APA KAU SUDAH GILA?? LEPASKAN AKU KEMUNING!!”

__ADS_1


Teriak Diajeng yang kesakitan karena kemuning memelintir tangannya ke belakang


“ Jika kau berani menaruh tanganmu sedikit saja pada Pureswari. Maka dapat kupastikan tangan ini tidak akan dapat memainkan alat musik apa pun..”


Kemuning yang berbisik penuh amarah pada Diajeng lalu melepaskan tangan Diajeng


“ Aku akan membuat perhitungan padamu kemuning! Lihat saja, dengan pernikahanku dan At..”


“ Pernikahan? Siapa? Kau dan.. A T M A?? Rangasa Dhayaka. Lucu sekali..”


Kemuning yang kembali tertawa di hadapan Diajeng


“ Kulihat kau sudah tidak menggunakan Hiasan Rambut itu.. Kupikir Gusti Agung Raja dan Ratu pun berpikiran sama denganku dengan kau yang menolak lamarannya. Tentu saja wanita mana yang tidak ingin menikah dengan ksatria tampan dan berwawasan sepertinya?”


“ Kau, mencintainya?... Apa kau mencintai Atma? ”


“ Tentu saja. Pikirmu aku rela kehilangan mukaku yang seolah mencoba mencari muka dihadapan Gusti Raja dan Ratu hari ini?. Dengan kau yang sudah menolak lamaran Atma, kupikir hentikanlah seolah kau masih menjadi calon istrinya karena itu sangat memuakkan!”


Diajeng yang memain mainkan rambut kemuning dengan tatapan menyindir


“ Aku masih calon istrinya. Aku hanya kehilangan hiasan rambut itu.”


Kemuning menggenggam erat tangan Diajeng


“ AHAHAHAA.. Bagus sekali kemuning.. Kau sungguh tebal muka sekali.. Aku merasa kau wanita rendahan yang hanya ingin memanfaatkan Atma..”


“ Aku atau kau yang seperti itu padanya?”


“ KAUU!!”


“ GUSTI AGUNG RAJA DAN RATU AKAN MENINGGALKAN SINGGASANA.”


Percakapan kami terhenti disaat gerbang pintu singgasana terbuka lebar dimana Gusti Raja dan Ratu berjalan melewati kami yang menundukkan tubuh kembali seraya menghormatinya. Kali ini Gusti Raja dan Ratu berhenti tepat dihadapanku sehingga membuatku tanpa sadar menegakkan kepalaku sehingga terlihat expresi mereka yang sedang menatapku saat ini. Merasa tak sanggup dan dianggap melanggar norma kesopanan, aku kembali menundukkan tubuhku dan akhirnya melewatiku yang meninggalkan kesan penuh pertanyaan padaku apa maksud dari dari Tatapan itu yang mengarah padaku..


Dayang terakhir pun akhirnya melewatiku pertanda Gusti Raja dan Ratu sudah berada cukup jauh dari tempatku berdiri.. Kembali menegakkan tubuhku, tersadar akan Diajeng yang masih berada di sampingku yang akhirnya membalikkan tubuhnya yang ternyata Atma sudah berdiri dibelakang kami dan menatap dalam entah padaku atau Diajeng saat ini.. Namun merasa tidak perlu dan tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan mereka untuk berbicara entah itu mengenai perpisahan atau tanggal pernikahan mereka yang membuatku mengerutkan dahiku dan mengepalkan kedua tanganku menahan emosi yang tidak tersampaikan..


Tersadar menunggangi kuda kembali menuju Bale kediaman, terdengar kabar bahwa Ibunda sedang berkeliling kota bersama Ibunda Atma yang masih setia menemani dan menghibur Ibunda yang masih terpukul atas penculikan Ayahanda. Pikiranku kembali berpusat pada hal ini, dan sepertinya sudah waktunya bagiku untuk pergi menuju lokasi tempat para Penjarah Hutan tengah itu.


“ Kemuning..”


“ Atma..? Apa yang kau lakukan disini? Ibundamu sedang berjalan jalan bersama Ibundaku..”


“ Jangan mengalihkan pembicaraan. Kau tahu jelas apa yang akan kukatakan padamu.”


Atma berjalan mendekati kemuning


“ Rangasa Dhayaka? Tanggal berapa pernikahan kalian? Sudah membicarakannya de..”


Atma menarik tubuhku secara tiba tiba dan menciumku seolah mencoba mengatakan jangan mengatakan hal hal yang bodoh yang tidak memiliki arti.. Ciuman lembut darinya yang berakhir dengan pelukan erat tanpa mengatakan apa pun yang membuat kami terdiam seolah merasa bingung dengan apa yang akan terjadi kepada hubungan ini.. Tangannya yang membelai rambutku penuh kasih sayang, akhirnya Atma pun berbisik pelan namun terdengar jelas olehku dengan mengatakan...


“ Aku ingin membuat Janji Sumpah Pernikahan denganmu kemuning.”


“ Ap.. Apa?”


kemuning yang terkejut mendorong sedikit tubuh Atma dan menatapnya


“ Aku tahu janji sumpah pernikahan hanya simbol yang tidak mengikat. Namun aku ingin semua orang tahu, sebelum semua berakhir bahagia, aku ingin mereka tahu hanya kaulah wanita yang akan berada disisiku. Hanya kau kemuning..”


Atma menyentuh lembut wajah kemuning dengan kedua tangannya


“ Apa.. Kau serius? Apa kau tidak keberatan memilihku?”


“ Apa kau keberatan?”


“ Ti, tidak! Tentu saja Tidak!”


“ Dengarkan aku, besok kita akan melakukan janji sumpah pernikahan. Lalu setelah itu, kita mencari dan menuju lokasi tempat dimana ayahmu di sembunyikan.”


“ Ka.. Kau sudah tahu bahwa aku mengetahui lokasi persembunyian mereka?”


“ Pikirmu aku tidak tahu apa yang ada dipikiranmu?”


Atma menaruh dahinya pada dahi kemuning dengan tersenyum


Senyuman dan pelukan hangat serta Genggaman tangan erat yang saling mengisi satu sama lain dengan tatapan penuh arti di senja ini, akhirnya menyadarkan akan arti penting yang hanya dapat dirasakan bukan hanya yang perlu dikatakan..

__ADS_1


__ADS_2