
Benarkah jika kita bermimpi, menandakan kita terlalu memikirkan hal itu atau mungkin merupakan suatu pertanda akan sinyal baik atau buruk yang akan menimpa diri kita sendiri?. Tersadar pada tengah malam dengan terbangun setelah mengalami pesan mimpi yang seolah meminta pertolongan dariku.. Suara itu memanggil manggil namaku, suara dari seseorang yang ku kenal namun tetap tidak ada satu pun hal yang bisa kulakukan.. Mencoba menenangkan diriku dengan berjalan keluar dari kamar tidur menuju ruangan tengah yang berada di lantai 1, semua terlihat begitu sama namun terasa sedikit asing hanya karena kepergianku beberapa waktu lalu..
Foto foto yang tergantung begitu sangat mengenang memori yang sudah lama ku lupakan pun akhirnya terbuka kembali hingga tak terasa ingatan akan sebuah foto yang terasa aneh pun membayangiku.. Foto dimana Papa dan Mama mendapatkan penghargaan sebagai seorang peneliti terbaik yang menemukan Vaksin yang menyelematkan kota sebelum Virus itu menyebar.. Dalam foto itu terlihat ada seorang pria yang sepertinya pernah kulihat sebelumnya di department pemerintahan saat aku melakukan kunjungan menemui Pak Presiden bersama dengan Pak Danu..
Ingatan pun menjadi tersamarkan, dengan sigap aku menuju ruangan kerja yang biasa digunakan oleh Papa dan Mama beserta membawa draft dan data yang diberikan padaku. Semua hal yang terkait, semua hal yang kucoba untuk kutemukan pun akhirnya membuahkan hasil yang tidak pernah kusangka akan menemukan titik penyelesaian masalah yang terjadi selama beberapa tahun ini.. Menjelang pagi, aku langsung bersiap siap menuju kantor untuk menemui Pak Danu dengan membawa sedikit bukti yang sengaja ku sembunyikan kembali karena tahu akan menimbulkan masalah besar jika ini sampai diketahui olehnya..
“ Kemuning, benar kau sudah menemukan lokasi itu?”
Ucap Atma yang menjemput kemuning di kediamannya
“ Pagi sekali tapi kalian sudah bersama? Kemana kalian akan pergi? Menikah?”
Ucap Tante Maya yang menyindir jahil dari balik pintu depan dengan secangkir kopi ditangannya
“ Apa tante akan ikut bersama dengan kami?”
Ucap kemuning setelah memeluk Tante Maya
“ Aku begadang semalaman, jadi kalian duluan saja.. Kekasihmu itu memberikan tugas padaku secara tiba tiba, untuk mengganti Menu penutup saat Jamuan makan siang nanti karena Tamu kenegaraan akan pulang hari ini bukan? Menurutnya Hidangan penutup itu biasa dan dia selalu benar.. Jadi, aku menurut padanya!”
Ucap Tante Maya yang melayangkan pandangan menyindir kepada Atma yang tertawa
“Dia, Menyebalkan sekali bukan?”
Kemuning yang mencoba berbisik pada Tante Maya
“ Heyyy! Aku dapat mendengar jelas perkataanmu.”
“ Sudah sana pergilah.. Aku tahu kalian ada hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu karena kemuning hampir semalaman berada di ruangan kerja ayahnya..”
“ Kalau begitu kami pergi dulu”
Atma menundukkan sedikit kepalanya pada Tante Maya dan menggandeng tangan kemuning
Atma mengantarkanku terlebih dahulu menemui Pak Danu sebelum kembali ke Hotel.. Tak memerlukan waktu lama Pak Danu seperti sudah mengerti isyarat yang Atma berikan padanya dengan meminta 2 personil keamanan yang berjaga di depan pintu ruangannya.. Jujur saat ini aku merasa sangat tegang karena tidak pernah kusangka bahwa aku akan berada di posisi ini dengan semua yang baru saja terjadi dengan penjelasan terbatas dan ingatan yang setengah setengah.. Begitu masuk dalam ruangan, Pak Danu terlihat membawa sebuah Laptop lama yang seingatku dulu digunakan oleh Papa dan Mama untuk bekerja.. Dengan wajah penuh tanya, akhirnya Pak Danu tersenyum dan mulai menjelaskannya padaku tentang semua yang ingin aku ketahui..
“ Jadi, anak keras kepala itu akhirnya sudah menceritakan semuanya padamu?”
Ucap Pak Danu kepada kemuning dengan tatapan menyindir pada Atma yang mengalihkan pandangannya
“ Ya.. Entah apa yang membuatnya begitu lama untuk berkata jujur padaku Pak..”
Kemuning yang sama sama menatap Atma dengan senyuman jahilnya
“ Ayolah, hentikan sindiran kalian berdua padaku!”
Ucap Atma dengan sedikit kesal melihat Ayahnya dan kemuning yang tertawa bersama
“ Baiklah kemuning, informasi apa yang kau dapat?”
Ucap Pak Danu yang mulai terlihat serius menatap kemuning
“ Semalam saya menemukan Foto ini Pak. Lalu saya menemukan surat ini di sisipan samping Meja kerja Papa yang hanya diketahui olehku dan Mama..”
“ Jadi kode sandi itu adalah ini? Kau mau memcobanya?”
Pak Danu menyodorkan Laptop tua itu kepada kemuning
“ Dalam laptop ini, yang kutahu ada bukti yang bisa memberatkan seseorang dan juga membersihkan nama baik Ayah dan ibumu. Aku tahu mereka tidak mungkin berani melakukan eksperimen kepada manusia hingga merenggut nyawanya. Jadi, cobalah kode itu.”
__ADS_1
Dengan penuh hati hati dan gugup aku mencoba untuk membuka kode sandi yang kutemukan dan akhirnya Laptop itu pun terbuka. Betul seperti yang dikatakan oleh Pak Danu, semua mengarah pada seorang pria yang dulu bekerja bersama Papa dan Mama namun karena mereka tidak menyetujui pendapatnya, tanpa sepengetahuan mereka sebagai Pemimpin Labolatorium, pria itu menjadikan sebuah ruangan yang tidak digunakan hanya untuk sebagai experimennya. Terlihat dengan tidak berperasaan pria itu membawa Tahanan atau Narapidana yang dijatuhi Hukuman Mati oleh Pengadilan untuk menjadi objek experimennya dan ternyata diketahui oleh Papa dan Mama..
Terlihat dalam rekaman Video ini, Papa bertengkar hebat dengan Pria itu sedangkan Mama berlari entah kemana keluar dari ruangan tersebut.. Sepertinya Mamalah yang mengambil dan menyimpan video camera pengawas ini dan menyimpannya untuk dijadikan sebagai alat bukti. Tak lama dalam video Papa dan Mama pergi menggunakan mobilnya dan terlihat 2 buah mobil hitam besar yang mengikuti mereka dan disitulah kecelakaan mereka terjadi hingga menewaskan nyawa keduanya.. Tak menunggu waktu lama, aku yang sedang berdiri dalam pemakaman mereka mendapatkan kabar bahwa mereka melakukan hal yang bertentangan hingga nama mereka tercoreng bahkan sama sekali tidak tersisa apa pun yang bisa ditinggalkan kepadaku karena pihak pemerintah mengambil semua itu.
Dengan Tante Maya yang baru saja bercerai dan kehilangan anak dalam kandungannya, ia pun menjadi Wali orang tuaku dan menganggapku sebagai anaknya.. Menyekolahkanku di sekolah ternama bahkan dengan itu juga aku mendapat beasiswa dan dapat berkuliah di luar negeri.. Tanganku bergetar mencoba menahan amarah dan rasa kesal, nafasku bergemuruh seraya ingin memberontak namun tubuhku terasa lemas hanya mencoba untuk berdiri.. Pak Danu yang melihat kondisi mencoba menenangkanku dengan mengusap lembut kepalaku seperti yang biasa dilakukan oleh Papa padaku.. Tak terasa air mata ini pun mengalir tak tertahankan hingga Pak Danu yang tidak tega melihatku seperti ini meninggalkanku dan membiarkan Atma memelukku yang terus menerus aku mencoba untuk melawannya untuk meluapkan emosiku yang tak terbalaskan..
“ Kemuning, tenanglah. Tarik nafas dan lihat aku. Seperti apa yang dikatakan oleh Ayahmu, aku akan memberitahu semua padamu saat menurutku kau sudah siap. Jadi, kumohon kemuning.. Jangan membuatku merasa bersalah dengan melihatmu seperti ini.”
Atma menyentuh wajah kemuning dengan lembut dan menatapnya
“ Aku.. Aku.. Atma.. Aku akan menuntut balas pada pria itu!”
Kemuning mencoba berhenti menangis dengan menahan rasa kesalnya
“ Aku akan tepat berada disampingmu. Ayahku, ibuku, Tante Maya. Kau dengar?”
“ Ya.. Aku tahu itu.. Maafkan aku”
“ Tidak, tidak! Jangan pernah mengucapkan kata itu padaku.”
Atma yang memeluk kemuning dengan erat
Setelah merasa tenang, Atma kembali membawaku ke hotel untuk menghadiri pertemuan penting terakhir akan pekerjaanku untuk kepulangan para tamu kenegaraan meskipun Pak Danu memberikan ijin libur padaku selama beberapa hari.. Selama perjalanan Atma terus melihat dan memeriksa kondisiku, melihatnya yang begitu khawatir padaku aku pun segera merubah pandangan kosong ini dan kembali menjadi diriku seolah tidak ada satu pun yang terjadi sebelumnya dan tidak ingin membuat Atma menyesali keputusannya karena sudah memberitahuku. Sesampainya kami di hotel, terlihat semua pegawai hotel sudah mengetahui bagaimana hubunganku dan Atma hingga mereka terlihat lebih segan padaku bahkan menundukkan kepalanya..
Atma melepaskan genggaman tangannya dan melihat padaku yang tersenyum padanya seolah mengatakan bahwa aku baik baik saja. Tak lama terlihat Assistenku Keysha beserta Ajudan Jodi sudah kembali menghampiriku dengan siap memberikan laporan mereka dan kami pun siap menghadapi hari ini sampai semua berjalan lancar dan memastikan tidak ada masalah apa pun yang terjadi kembali. Waktu berjalan dan semua pun berjalan sesuai dengan harapan kami semua. Kepulangan para tamu kenegaraan dengan kesan yang baik memberikan pengaruh positif bahkan Pak Danu yang hadir mendampingi Pak Presiden pun memberikan selamat padaku dan sebagai gantinya kami mendapat ijin untuk berlibur selama 2 hari 1 malam di hotel ini dan bagi siapa pun yang memiliki keluarga pun diperbolehkan untuk ikut serta.. Semua pun menyambut dengan penuh tawa dan meriah..
Pertengahan menuju sore hari, kami semua menyiapkan acara pesta kebun pada malam hari ini, khusus merayakan kerja keras kami selama 4 hari ini. Semua terlihat begitu antusias, bahkan Atma selaku CEO hotel menyumbangkan beberapa menu makanan dan minuman untuk kami dan semua menyambut dengan sedikit kejahilan mereka yang sudah mengetahui hubungan kami. Tak kala pandanganku teralihkan pada Keysha yang berada diatas papan panggung seperti terlihat kelelahan hingga kehilangan keseimbangan tubuhnya yang tanpa sadar terjun menuju kolam renang dibawahnya. Dengan sigap aku mencoba untuk meraih dan membantunya dengan suara terikan di sekitar kami hingga kami pun akhirnya terjatuh ke dalam kolam renang.. Setidaknya itulah yang terjadi, namun secara tiba tiba kepalaku terasa sakit kembali dan ternyata Roda waktu berputar kembali tanpa aku sadari...
“ KEMUNING!! KEMUNING!! AKU MOHON SADARLAH!!”
Ucap Atma yang memeluk kemuning dengan sangat khawatir
Kemuning yang terkejut ketika membuka matanya dan terduduk
“ Raka? Raka tidak apa apa?”
Ucap Pureswari yang menatap kemuning dengan penuh khawatir
“ Pu.. Pureswari..?? Atma? Caka? Apa yang.. Apa yang terjadi?”
Kemuning yang kebingungan melihat tubuhnya dengan penampilan yang kembali berbeda
“ Kemuning kau terjatuh dari atas kudamu dan hanyut terbawa aliran arus hilir sungai”
Ucap Caka yang menjelaskan
“ Tidak, tidak.. Bagaimana bisa aku berada di...”
“ Ssstt! Diamlah! Mereka sedang mengikuti kita!”
Atma menutup mulut kemuning dan sedikit menundukkan tubuh mereka untuk bersembunyi di bawah semak semak tinggi
“ SIAL!! KEMANA MEREKA!! APA YANG KITA KATAKAN KEPADA BHATTARA RAKSA DAN LAKSAMANA GUINDRA?!”
“ Kau benar! Sungguh sial sekali, gerakan mereka benar benar tidak bisa ditebak. Padahal TASARA sudah berhasil kita dapatkan dan akan kita serahkan kepada mereka”
“ Kita harus mendapatkan mereka secepatnya dan mengambil Tasara kembali! Aku yakin mereka berada di sekitar sini, karena kuda mereka berada tak jauh dari hulu sungai ini!”
“ Kalau begitu kita berpencar!”
__ADS_1
Ucap beberapa Penjarah hutan tengah
Dengan saling menatap kini aku mengerti sedikit demi sedikit garis besar apa yang sedang terjadi. Penjarah hutan itu mengintari posisi kami saat ini sehingga membuat kami tersudutkan. Atma yang selalu melindungiku begitu juga Caka yang berada di hadapan Pureswari.. Mencoba untuk mengatur nafas kami dan tidak melakukan gerakan sedikit pun, tak kala kepalaku kembali terasa pusing dan sakit dengan kembali datangnya ingatanku pada masa ini.. Teringat akan ingatan bahwa penjara khusus pasukan Bhattara diserang dengan dibakar pada tengah malam sehingga menyebabkan korban jiwa.. Mengingat anak kecil yang dibawa Atma dan dipenjara juga disana, aku menjadi emosi dan mencoba untuk membongkar kamarku setapak demi setapak demi mendapatkan Tasara itu.
Tasara pun berhasil ditemukan, kini aku tahu siapa saja yang terlibat dan apa saja rencana yang akan mereka lakukan saat ini, terlebih hal apa yang mereka incar. Setelah aku memberitahu Atma, Caka, dan Ayahanda, tiba tiba terjadi kerusuhan di kota dengan terjadinya beberapa pencurian bahkan beberapa lumbung penyimpanan warga pun dibakar habis oleh para Penjarah hutan yang mencoba mencari masalah dan mengalihkan perhatian dan tujuan kami. Para Bhattara sibuk mengejar pada pencuri dan membantu warga yang mengalami kerugian atas kebakaran itu. Ditengah itu semua, kembali kami dikelabuhi dengan datangnya dayang yang menyamar masuk ke dalam kediamanku dan mengambil Tasara yang ku simpan.
Tersadar akan Tasara yang menghilang, aku langsung berkuda mengejar dan mengikuti dayang tersebut yang ternyata juga mendapatkan pelatihan khusus dari istana. Terkejut akan dirinya yang melakukan perlawanan dengan melemparkan beberapa kali pisau kecil kearahku, tanpa Ragu aku pun berteriak mencoba untuk memperingatinya namun ternyata para penjarah hutan sudah menunggu dayang tersebut tepat tidak jauh di depanku. Tidak mau kehilangan, aku membidik dayang itu dengan panahku hingga dayang tersebut terjatuh kedalam hilir sungai dan aku pun ikut terjun kedalamnya untuk mengambil Tasara yang berada dibalik selendangnya hingga aku berakhir disini, saat ini. Itulah ingatan yang terlewat dariku, sepertinya aku masih harus berjuang pada masa ini. Apa ini nasibku?
“ Kita tidak akan bisa melawan mereka yang begitu banyak. Karena itu kita harus berpencar juga.”
Ucap kemuning dengan berbisik kepada Atma, Caka, dan Pureswari
“ Tapi anak panahmu hanya terbawa 2 olehmu, kau bahkan tidak membawa pedangmu!”
Ucap Atma yang menyentuh wajah kemuning penuh khawatir
“ Bagaimana jika kita berpencar 2 arah?”
“ 2 Arah? Maksudmu?”
Ucap Caka kepada kemuning penuh kebingungan dengan berbisik
“ Kita harus melindungi Pureswari. Karena itu, Caka dan Atma kalian bertiga pergilah bersamanya berlari kearah selatan menuju kuda dan segera menjemputku kemari. Aku akan membuat beberapa pengalihan dan mengarahkan mereka kearah utara yang berlawanan, tapi aku hanya akan menyusuri hilir sungai ini.”
“ Kau yakin?”
Ucap Atma menatap kemuning dengan serius
“ Ya.. Pureswari lepaskan selendangmu, aku juga akan melepaskan selendangku”
“ Raka, berjanjilah padaku, kau akan baik baik saja!”
Pureswari menarik tangan kemuning dan menatapnya serius
Dengan menganggukkan kepalaku, mereka pun akhirnya pergi sesuai rencana. Berlari dengan mengendap ngendap, mereka pun mulai berjalan menjauh.. Mengambil batu kecil dan melilitkannya pada selendang hanya untuk sebagai pemberat, aku sematkan pada ujung anak panah dan mengarahkannya pada salah satu ranting pohon yang terlihat besar namun kering. Kembali mencoba mengatur nafasku, aku melihat batang kayu tajam yang menjurus mendekati para Penjarah hutan yang sedang akan melakukan pemeriksaan. Dengan sekuat tenaga aku menarik tali panah untuk memastikan selendang ini melewati ranting pohon itu dan terlihat terobek seolah karena kami sedang berlari mencoba menghindari mereka..
#SHHUUTTT #CRAACKKK #SREEEKK
Suara anak panah yang dilepaskan kemuning dan melewati ranting batang pohon hingga merobek selendang itu
“ ITU MEREKA! MEREKA BERLARI KEARAH UTARA! KEJAR!!”
Ucap para Penjarah hutan yang langsung berkumpul dan berlari kearah utara
Mencoba menahan nafas dan membidik fokus selanjutnya yang menjadi objekku adalah sebuah pohon besar yang berada sedikit lebih jauh dari sebelumnya. Kali ini selendangkulah yang akan menjadi objek seolah aku sedang bersembunyi diatas pohon itu dan mencoba untuk bersembunyi diatas pohon tersebut. Namun karena jangkauan serta arah mata angin ini sedikit membuatku kesulitan karena aku merasa sangat dingin setelah terjebak dalam aliran arus selama beberapa saat. Busur panah yang terturun sejenak mencoba untuk fokus pada apa yang ada di depanku dan memikirkan resiko kehilangan nyawa jika kami tidak bisa lolos saat ini..
Mengesampingkan rasa dingin yang menggigil ini, aku kembali menarik nafasku agar teratur dan menitikkan tenaga pada bahu serta lenganku.. Tali busur akhirnya tertarik dengan sangat kokoh sehingga pada saat melepasnya tidak terdengar suara apa pun saat melewati para Penjarah Hutan tersebut. Hanya berharap bahwa bidikanku saat ini tepat, mereka pun langsung berteriak dengan lantang mengatakan...
“ PRABU STIRA!! PRABU STIRA BERADA DIATAS POHON!! APA YANG KALIAN TUNGGU!!
Ucap seorang Penjarah Hutan
Syukurlah rencanaku berhasil. Syukurlah.. Sekarang bagaimana dengan mereka? Apakah mereka semua berhasil? Aku mencoba menyusuri aliran hilir sungai untuk menjauhi para penjarah hutan tersebut dan berharap Atma akan....
“ Kemuning, naiklah..”
Ucap Atma yang tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada kemuning
Aku tahu. Suatu saat jika semua ini berakhir dan aku tidak dapat kembali lagi kemari untuk menemuimu.. Setidaknya aku menyelesaikan apa yang menjadi tugasku disini berikut hati dan yang merasa tak rindu untuk tidak bertemu denganmu..
__ADS_1