Sabda Batari

Sabda Batari
Penghormatan Terakhir


__ADS_3

Keheningan kembali tersebar dalam Bale kediaman Mahapatih Danudara saat ini. Menundukkan kepala, berjalan memutar mengitari ruangan, dan mata yang tak lelah untuk melihat kearah pintu gerbang masuk pun akhirnya terjawab dengan terlihatnya Caka yang menggendong Pureswari dengan kedua tangannya.. Ibunda dan Ayahanda yang langsung berlari seolah tak terhentikan, terlihat duka lara yang memilukan disaat tidak mampu melakukan apa pun untuk Pureswari seperti halnya aku saat ini. Berjalan di belakang mereka dengan Atma yang selalu menggenggam tanganku, setidaknya aku merasa bahwa semua ini adalah nyata dan hanya keteguhan hati yang meluaslah yang dapat menjawab semua kesedihan ini.


Tersadar akan Pureswari dengan tertidur dengan kondisi yang semakin terlihat lemah dengan luka yang masih begitu terlihat dari sekujur tubuhnya, membuat Caka mengepalkan tangannya dan berjalan mundur beberapa langkah di belakang kami. Atma yang seperti mengerti apa yang akan di lakukan Caka pun menghentikannya dengan menepuk pundak Caka dan melihatnya dengan sangat serius lalu mengalihkan pandangannya kepada Pureswari seolah berkata, jika kau pergi bagaimana dengannya?.


Ayahanda, terlebih Ibunda yang masih berada di samping Pureswari pun semakin menangis tak tertahankan melihat wajah Pureswari yang semakin terlihat begitu pucat. Hingga akhirnya, kabar yang kurang menyenangkan kembali terdengar dimana Jembatan Dermaga penghubung hancur, karena ledakan seperti yang terjadi di Bale kediamanku saat itu. Atma sebagai Laksamana, merasa amat geram dengan apa yang di dengarnya dan semua pun terdiam melihat Atma yang penuh dengan emosi. Namun ditengah itu semua...


“ Mahapatih.. Raden Ayu.. Bisakah saat ini kalian menikahkanku dengan Pureswari?”


Ucap Caka begitu serius dengan menundukkan kepalanya


“ Caka, apa yang kau ka..”


“ Tidak Kemuning. Aku sangat serius kali ini. Selepas pernikahan nanti, aku akan langsung menemani Atma melakukan pertahanan dan perlawanan dengan Para Penjarah itu. Jadi, setidaknya aku ingin perasaan hati ini tak merasa terbebani dengan pikiran yang tak jelas!”


Caka dengan tegap berbicara dengan lantang dihadapan semua


“ Ananda Caka. Apa kau tahu keadaan Pureswari saat ini? Kau menerimanya?”


Ucap Patih Andaru kepada Caka


“ Gusti Patih.. Raden Ayu.. Saat ini pikiran hamba tidak tertekan oleh alasan apa pun, dan hamba juga tahu akan kondisi Pureswari. Jadi, jika Gusti Patih dan Raden Ayu mengijinkan, hamba ingin menikahi Pureswari hari ini juga.”


“ Pernikahan apa yang kau maksud saat ini Caka?”


Ucap Mahapatih Danudara kepada Caka


“ Pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh Menteri Utama Istana dan sanak keluarga yang bisa menghadiri acara pernikahan ini. Selepas hamba pulang dan berhasil bersama Atma menjalankan Tugas, maka Upacara Pernikahan Resmi akan hamba selenggarakan dengan megah dan mewah untuk menghormati Pureswari sebagai istriku.”


“ Kau sudah memikirkan ini dengan sangat baik?”


Ucap Mahapatih kembali kepada Caka


“ Ya Gusti. Dengan pertimbangan apa pun dan tanggung jawab penuh.”


Caka yang serius menatap Mahapatih


“ SEGERA SIAPKAN KEPERLUAN ACARA PERNIKAHAN!”


Teriak Mahapatih kepada para Penjaga dan Dayang di kediamannya


“ BAIK GUSTI MAHAPATIH.”


Ucap para dayang dan penjaga dengan menundukkan tubuhnya


Mendengar Caka berkata seperti itu, Baik Ayahanda dan Ibunda sudah tidak lagi dapat berkata untuk menyanggah perkataannya saat ini. Jika Pureswari tersadar dari tidurnya, pasti saat ini dia akan sangat menolak bahkan melakukan perlawanan kepada kami semua terlebih Caka karena merasa dirinya sudah tidak dapat lagi memberikan keturunan yang baik dan menjadi menantu suci dari keluarga bangsawan Maheswara. Terlepas dari itu semua, Atma terlihat sangat serius dengan berbicara kepada Caka saat ini seolah mereka sedang membicarakan hal penting kemudian menepuk pundak Caka dengan tersenyum padanya..


Ibunda dan Ayahanda pun terbangun dan berjalan menuju keluar untuk membantu Mahapatih dan Raden ayu yang terlihat begitu sangat sibuk.. Ibunda tiba tiba menarik tangan Raden Ayu dan terlihat bertanya padanya tentang bagaimana pendapatnya atau Mahapatih dalam hal ini.. Namun baik Mahapatih dan Raden Ayu yang mendengar pertanyaan dari Ibunda dan Ayahanda yang berdiri di belakangnya, hanya tersenyum dan memberikan pelukan sebagai penghormatan ikatan keluarga yang akan terjalin.. Ibunda pun kembali menangis dan Ayahanda pun menundukkan kepalanya kepada Mahapatih Danudara yang selalu memberikan dukungan kepadanya.


Menjelang senja pernikahan pun diadakan dan semua berjalan lancar dan penuh dengan doa doa yang menyertai Caka dan juga Pureswari. Namun, karena kondisi Pureswari yang masih lemah dan tertidur tak sadarkan diri, Caka selalu menggendongnya hanya untuk memberikan penghormatan kepada para tamu undangan terlebih para tamu tetya yang di hormati.. Tak sadar menitikkan air mataku, aku pun berpaling berlalu menuju halaman depan hanya ingin menenangkan hati ini walau sesaat..


“ Haruskah kita menikah juga saat ini?”


Ucap Atma yang tiba tiba datang dan terduduk disamping kemuning


“ Berhenti bercanda! Kau tidak lucu..”


Kemuning yang memalingkan wajahnya dari Atma


“ Aku serius kemuning. Besok Aku dan Caka akan membawa Pasukan Bharata menuju lokasi ledakan itu. Dan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi bukan?”


“ Aku tahu. Apa kau yang akan meminpin komando besok?”


“ Ya. Kemuning, ada yang ingin aku katakan padamu.”


Atma mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan kemuning


“ Aku tahu apa yang akan kau katakan Atma.. Sebagai Prabu Stira, aku pun akan membawa pasukan khusus istana yang sudah siap untuk ikut bersama denganku menuju lokasi para Penjarah itu..”


“ Berhati hatilah, karena aku tidak akan bisa bersama denganmu besok. Dan ingatlah, janji sumpah yang sudah kuberikan padamu.”

__ADS_1


Atma menyentuh lembut wajah kemuning dengan kedua tangannya


“ Bagaimana mungkin aku melupakannya? Atma, kau pun harus berjanji padaku, bahwa kau juga akan baik baik saja!”


Kemuning meraih tangan Atma yang berada diwajahnya dengan menatap Atma serius


“ Aku berjanji.”


Atma menciumku dengan penuh kasih sayang yang entah mengapa ciuman ini terasa begitu menyakitkan hingga tidak sadar aku pun menitikkan air mata.. Menyadari aku yang menangis, Atma langsung memelukku dengan erat yang membuatku semakin tak kuasa untuk melepaskannya, begitu juga dirinya yang juga tak kuasa untuk melepaskanku pergi berperang seorang diri.. Namun, tersadar akan tugas dan tanggung jawab yang berada di pundak kami berdua, dengan saling menatap dan juga memberikan semangat api juang dalam diri masing masing, aku dan Atma kembali berdiri tegap dan kami pun berjalan menuju hentakan kaki yang seolah akan memecah bumi pada besok hari.


. . . . . . . . . . . . . .


#PRAAAKKK #PROOKKK #HIIYYYYY #PRAKKK #PROOOKKK


Bunyi suara pasukan dan juga hentakan kuda di depan kediaman Mahapatih


“ GUSTI MAHAPATIH DANUDARA. LAKASAMANA BHATTARA ATMA DAN BHATTARA CAKA. SEMOGA SELALU DIBERKAHI.”


Ucap para pasukan ksatria dari istana dengan menundukkan tubuhnya


“ Bangun dan dengarlah. Tugas kalian kali ini akan di komando oleh Laksamana Bhattara Atma dan Bhattara Caka sebagai Ajudannya. Karena itu, pastikan sumpah kalian pada istana terpenuhi dan kembalilah dengan selamat kembali!”


Ucap Mahapatih yang memberikan pengarahan pada pasukan ksatria istana


“ Serta ingatlah, musuh kalian saat ini adalah mereka yang dulu juga melakukan pelatihan di istana sama seperti kalian. Jadi, ketelitian dan reaksi kalian harus 2 kali lebih cepat dari mereka! Lalu terakhir, musuh kita memiliki persenjataan yang belum sepenuhnya dimiliki oleh pasukan kita. Jadi kewaspadaan sangat penting untuk bertahan hidup.”


Ucap Atma yang juga memberikan pengarahan


“ SIAP! SUMPAH ABDI BERSEMAT DI DARAH PEJUANG HARI INI!”


Ucap semua pasukan ksatria kepada Atma


Tak memerlukan waktu lama kembali, Atma dan Caka yang meminta Restu kepada Mahapatih dan Raden Ayu selaku Ayah dan ibunya pun tertuntaskan sudah dan dengan mengalihkan pandangannya sesaat padaku, Atma tersenyum seolah mengatakan aku akan baik baik saja, kau juga harus sama sepertiku. Dengan membalas senyumannya dan melambaikan tangan padanya, Atma beserta Caka dan para Pasukan ksatria istana pun langsung menunggangi kuda mereka dan berlalu pergi hingga bayangan mereka tak terlihat kembali.


Berdiri dengan tatapan yang juga mereka berikan padaku, aku dengan tersenyum memeluk Ibunda yang mulai menitikkan air mata kembali karena harus melepaskanku untuk menempuh jalan yang berbahaya. Ayahanda yang sudah disekap dan diperlakukan tidak layaknya manusia, emncoba untuk menggenggam tanganku seoalh mengatakan jangan pergi, kumohon jangan pergi.


Namun kembali dengan berat hati, aku menarik tanganku dan menggenggam tangan Ayahanda dan juga Ibunda dengan membungkukkan diriku dihadapan mereka dan memerikan penghormatan seperti yang Atma lakukan kepada kedua orang tuanya.. Ibunda yang sudah tak kuasa menahan tangis akhirnya memutuskan untuk memalingkan pandangannya dariku dan berakhir dengan berlalu pergi meninggalkanku dengan kesedihan yang tertikam di lubuk hatiku.


Ucap Patih Andaru kepada anaknya dengan tatapan sedih dan khawatir


“ Ayahanda, percayalah kemuning akan baik baik saja dan kembali dengan selamat. Apa ayahanda lupa, aku bahkan bisa selamat kala itu dengan datang dan pergi seorang diri?”


Ucap kemuning yang menggenggam tangan ayahnya


“ Itulah kekhawatiranku. Kau wanita yang sangat berani dan cerdas. Entah mengapa itulah yang menjadi beban dalam hati ini.”


Ucap Patih Andaru kepada anaknya kemuning


“ Gusti Agung Ratu pasti tidak akan sembarangan dengan memberikan Titah ini padaku Ayahanda. Dan aku yakin, aku diberikan Titah ini karena Gusti Agung Ratu tahu aku bisa menyelesaikannya.”


“ Baiklah, baiklah. Akan aku ingat ucapanmu ini kemuning. Kembalilah dengan selamat!”


“ Tentu ayahanda.”


Kemuning yang kembali memberikan penghormatan kepada ayahnya dan berlalu pergi


Dengan memberikan penghormatan kepada Mahapatih dan juga Raden Ayu yang juga terlihat berat melepasku dengan memelukku dengan erat, dengan senyuman pelepapasan akhirnya aku langsung menunggangi kuda brataku dan berlari secepat mungkin menuju istana untuk bertemu dengan para prajurit terpilih yang akan pergi bersamaku hari ini. Sesampainya aku di ruangan para ksatria, terlihat sepuluh orang sudah hadir dengan 3 wanita sebagai pemegang busur panah dan 7 akan berada di barisan depan dengan menggunakan pedang dan juga cambuk.


Terlihat mereka begiti gagah dan mempesona ketika melihatku memasuki ruangan dan terduduk sejenak bersama mereka yang sudah siap dengan membawa perlengkapan yang mereka perlukan di samping tubuh mereka yang terikat dengan sebuah kain. Tersadar untuk memberikan pengarahan, akhirnya aku pun berdiri dihadapan mereka semua yang menatapku penuh keseriusan.


“ Aku tidak perlu lagi berbasa basi memberikan pengarahan pada kalian karena kalian adalah ksatria terpilih. Namun ingatlah, mereka sama seperti kita. Mereka mendapat pelatihan yang sama seperti kita saat berlatih di istana. Jadi aku mohon lipat gandakan kewaspadaan kalian dan juga gerakan kalian agar kita semua bisa kembali dengan selamat.”


Ucap kemuning dengan nada permohonan


“ SIAP! SUMPAH ABDI BERSEMAT DI DARAH PEJUANG HARI INI!”


Ucap semua pasukan ksatria kepada kemuning


“ Baiklah, kita pergi sekarang dan ingatlah rencana kita sebelumnya yang akan berpencar saat melihat 2 Pohon Beringin besar tanpa perlu kuberikan perintah kembali.”

__ADS_1


Ucap kemuning yang menyentuh gambar sebuah Map kertas diatas meja


Berlari dengan secepat mungkin, aku pun memimpin pasukan ini untuk menyerang persembunyian para Penjarah Hutan tengah itu. Meski dalam perjalanan hati ini memikul beban berat yang seolah takut untuk melangkah, namun iringan hentakan yang mereka lakukan tepat berada di sebelahku akhirnya dapat menyulutkan api semangat dalam diriku dan perasaan ragu dan takut pun berubah menjadi keberanian dan juga keinginan untuk bertahan hidup.


Perjalanan yang memakan waktu sedikit lama, tanpa memberikan perintah kembali, mereka langsung berpencar dan hanya seorang ksatria yang menggunakan pedang yang mendampingiku saat ini. Menuju tempat yang sudah kami rencanakan sebelumnya, aku pun memanjat pada sebuah pohong tinggi agar jarak pandang dan bidikanku dapat dengan tepat mengenai mereka semua yang mencoba melakukan perlawanan.


Isyarat pun terdengar menandakan para ksatria pun sudah berada tepat di tempat mereka masing masing dan kini waktunya bagiku untuk melayangkan peringatan awal dengan membidik sebuah tembikar air minum yang berada ditengah lapangan hingga Para Penjarah hutan itu pun terkejut dan mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi atau mencari lokasi tempat kami berada.


“ APA KALIAN BUTA? SELAMATKAN TEMPAT INI!”


Ucap Guindra yang merasa ketakutan dengan membentak para Penjarah Hutan


“ BAIK GUSTI!”


Ucap para penjarah hutan tersebut


“ Ada dimana mereka?.. Kenapa aku tidak bisa melihat satu pun?.. Apa kalian sedang melakukan latihan tadi?”


Ucap Raksa ayang bertanya pada salah satu gubah


“ Busur anak panah dengan bulu berwarna merah hitam ini... Bukankah ini khusus milik kemunging?”


Ucap Diajeng yang melihat dengan terkejut


“ KEMUNING AKU TAHU KAU DISINI! TEMUI AKU DIBUKIT YANG BERADA DI BELAKANG HUTAN DENGAN BEGITU TIDAK AKAN BANYAK NYAWA YANG MELAYANG!”


Ucap Diajeng kembali dengan penuh amarah


#SHUUTT #SHUUTT  #SHUUTT #SHUUTT#SHUUTT #SHUUTT #SHUUTT #SHUUTT


#AAAKKKHHHHH


 Suara anak panah yang menghujani persembunyian Penjarah Hutan tengah dengan Guindra dan Raksa yang berhasil melarikan diri dengan kudanya


“ PASUKAN PEDANG, SEBAGIAN IKUTI GUINDRA DAN JUGA RAKSA! LALU TANGKAP MEREKA!”


Ucap kemuning yang berteriak


“ BAIK GUSTI PRABU STIRA!”


Ucap 3 orang ksatria dengan berlalu mengendari kudanya


“ KEMUNING APA KAU TAKUT BERTEMU DENGANKU!”


Teriak Diajeng yang berlari dengan pedang ditangannya menuju Bukit belakang hutan


Melompat meninggalkan para ksatria istana yang terlihat sudah berhasil menumpas lebih dari setengah pasukan para Penjarah Hutan itu, akhirnya aku memutuskan untuk berlari mencoba mengejar Diajeng ke Bukit yang dimaksud olehnya. Berlari dan semakin berlari mengikuti Diajeng yang berada dihadapanku, akhirnya Diajeng mengehentikan langkahnya saat berada diujung tebing yang terlihat hamparan laut biru yang indah namun sangat mematikan melihat batu batu karam serta arus pantai yang sangat kuat dan cepat seolah dapat merusak apa pun yang dihadapannya.


“ Mendekatlah kemari kemuning!”


Ucap Diajeng yang terdiam dengan senyuman menghina kepada kemuning


“ Apa yang kau lakukan kepada Pureswari, akan aku pastikan kau akan menerima 2 kali lipat dari yang Pureswari dapatkan. Kau adalah otak dari semua ini! Bukan Guindra atau pun Raksa. Mereka hanya seperti boneka saja bagimu.”


Kemuning yang berjalan mendekati Diajeng


#DOOR #DOOR # CRREEAAAKK # BHUAAKKK


Suara tembakan yang dilakukan Diajeng yang mengarahkan kepada Kemuning dan mematahkan batang pohon diatas kemuning dan menindih kemuning


“ AHAHAHAA.. Seorang Prabu Stira, akhirnya dapat kukalahkan? Hanya seperti ini saja?”


Ucap Diajeng yang tertawa hina kepada kemuning


“ Tidak. Pikirmu aku dapat dikalahkan olehmu karena membawa senjata itu? HIYAAA!!!”


Kemuning yang mengangkat batang pohon dan langsung berlari kearah Diajeng, menarik dan memelintir tubuhnya


“ Tidak Kemuning! Berhenti! TIDAKKKKKK!!!”

__ADS_1


Teriakan Diajeng yang mencoba melawan kemuning dan terdorong bersama kemuning jatuh dari atas jurang


Jika kepergianku saat ini bisa menyelamatkan nyawa banyak orang. Maka aku pikir, kematian yang akan terasa menyakitkan ini akan menjadi tujuan akhir dalam kemenangan ini. Kemana janji itu pergi?


__ADS_2