
Samar samar cahaya matahari terasa hangat, dengan masih merasa lemas aku menolehkan kepalaku kearah tak tentu hanya untuk mencari siapa saja yang sedang berasa disampingku saat ini.. Suara suara pun kembali terdengar disaat mereka sedang membicarakan sesuatu yang masih belum terdengar jelas olehku, akhirnya tersadar ternyata detik ini aku masih diberikan kesempatan untuk terus bernafas.. Rasa Syukurpun kembali aku ucapkan dalam hati ini akan kesempatan yang diberikan padaku untuk memperbaiki kesalahan atau kekurangan dalam hidupku.
Terasa seseorang menggenggam erat tanganku saat ini.. Tangan yang berukuran 2 kali lebih besar dariku dimana terasa hangat dan lembut.. Tak lama aku teringat akan perkataan Ayahku yang mengatakan bahwa dalam hidup ini, 20 Persen hal hal akan terjadi padamu. Sedangkan 80 Persen merupakan akibat dari apa yang kau lakukan terhadap hal hal itu. Setiap kali aku teringat akan perkataannya, aku pun semakin memikirkan tentang akhir tujuan hidupku yang terlihat tidak masuk akal, dimana saat mata ini terbuka sempurna dan aku dapat melihat jelas kepada mereka semua.. Aku sudah berada pada masa waktu dimana aku berada, dengan tertidur di Rumah sakit dan selang Oksigen serta Infus yang berada disalah satu anggota tubuhku..
“ Kemuning, kau tidak apa apa?”
Ucap Atma yang terduduk disebelah kemuning dan menatapnya
“ Kemuning, apa yang kau rasakan saat ini? Atma, panggil Dokter jaga..”
Tante Maya langsung menghampiri dan terduduk disebelah kemuning
“ Aku tidak apa apa, hanya kepalaku terasa sangat sakit..”
“ Ya, kau terjatuh tepat dipinggir kolam dan kepalamu tergores pinggirannya.. Kudengar dari Atma bahwa kau tidak bisa berenang, beruntungnya Pureswari saat itu sedang berada disekitarmu menyiapkan sajian makanan diatas meja dan menolongmu..”
Ucap Ajudan Caka yang berjalan kearah Kemuning
“ Pures.. Wari..?”
“ Kau lupa Assisten Koki yang baru datang saat itu kukenalkan padamu?”
Ucap Tante Maya kepada kemuning
“ Aaahh Ya, sepertinya kepalaku sedikit bermasalah.. Ingatanku kalau balau..”
Kemuning yang melamunkan pikiran kemudian menadahkan kedua tangannya mencoba untuk terduduk
“ Sebelum diselamatkan Pureswari dan Ajudan Caka, kau sempat tenggelam ke dasar kolam renang.. Aku saat itu sedang berada di dapur Restaurant dan Atma juga berada di lobby utama hotel, jadi tidak ada yang tahu kau tidak bisa berenang..”
Ucan Tante Maya kembali sembari membantu kemuning terduduk
“ Ya, aku melihatmu tenggelam begitu saja saat menolong Assistenmu keysha..”
Ucap Pureswari yang tiba tiba muncul dari balik tubuh Ajudan Caka
“ Pantas saja saat bernafas, terasa sedikit sakit.. Kalian menyelamatkanku, Terima kasih banyak..”
Ucap Kemuning dengan tersenyum
#TOOOKKK #TOOOKKK #TOOKKK
“ Selamat Pagi semua.. Kemuning, bagaimana kondisimu? Bisa kita periksa sekarang?”
Ucap Seorang Dokter yang mengetuk pintu ruangan dan berjalan masuk diikuti beberapa perawat dibelakangnya
Pemeriksaan pun selesai dengan kondisi dimana aku harus beristirahat selama beberapa hari. Tersadar akan kondisiku yang masih terasa lemas, tak terasa sudah hari 3 hari aku berada dirumah sakit ini dan masih belum diijinkan untuk pulang karena Dokter sedang melakukan observasi lanjutan kepada paru paru dan juga kepalaku yang terluka.. Saat ini, aku mulai merasa bosan dan entah mengapa makanan Rumah sakit sudah lagi tidak bisa tertelan sempurna.. Melihat ini entah bagaimana Atma meminta ijin kepada Dokter untuk membawaku keluar selama beberapa jam hanya untuk mengembalikan nafsu makanku yang berkurang dan rasa penat..
“ Atma, kau hanya memesan itu? Baiklah, kalau aku ingin Wagyu Tenderloin Steak dengan Cream Parmesan Bayam lalu Cream Kentang tumbuk, bumbu Barbeque.. Juice Melon dengan penutup Kue Chocolate Keju dan ice cream buah..”
Ucap Kemuning kepada seorang Pramusaji
“ Maaf, pastikan daging itu sangat lembut karena dia sedang dalam pantauan Dokter.. Lalu, Saos dan Lada sedikit dikurangi. Lalu Ice Cream itu juga, apa bisa di..”
“ OOHH!! AYOLAH... ATMAAA!!”
Ucap kemuning yang merasa keberatan
“ Diam. Saat ini aku adalah jaminan kepada Rumah Sakit karena membawamu! Jadi dengarkan aku, karena aku tidak mau mendapatkan peringatan dari Dokter itu, terlebih dimarahi oleh mereka..”
Atma merasa sedikit kesal dengan melayangkan pandangan permohonan kepada kemuning
“ Tapi kau lihat sendiri beberapa hari ini hanya bubur, bubur, dan bubur yang dapat ku makan.. Bukankah kau mengajakku agar aku dapat makan banyak?”
“. . . . . . . . . .”
Atma yang terdiam mendengar keluhan kemuning
“ Biarkan aku 1 hari ini makan makanan yang kuinginkan.. Kumohonnn.... Atma....”
Kemuning memberikan pandangan memelas dengan kedua tangan yang memohon
“ Pastikan saja daging itu tidak keras.”
Ucap Atma kembali kepada Pramusaji itu
“ Baiklah, jika tidak ada yang ingin dipesan kembali.. Saya pamit dan dimohon untuk menunggu..”
Ucap Pramusaji tersebut dengan menundukkan kepalanya
__ADS_1
Terlihat Atma begitu kesal dengan menggerutu tidak jelas sembari membuka dan menutup daftar menu karena sikapku yang terkadang selalu melakukan perlawanan kepadanya.. Atma dimasa waktu ini memanglah Pria yang seperti ini, dia selalu menjaga dan menghormatiku.. Bahkan baru aku tahu bahwa dia berani melakukan perjanjian terhadap mendiang kedua orang tuaku sebelum mereka meninggal.. Dengan Tante Maya yang juga selalu mendukung dan menyayangiku, keluarga Atma pun begitu sangat baik kepadaku seolah aku adalah anak kandung mereka.. Namun entah mengapa, hati ini... Kenapa aku merasa kosong tak beralaskan?
" Apa kau akan menghabiskan semua makanan itu?"
Ucap Atma dengan wajah jahilnya
" Kau tidak melihat aku kelaparan? Tenang saja, pasti akan kuhabiskan.."
“ Lalu kenapa kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu..”
Ucap Atma kepada kemuning
“ Hanya beberapa hal saja..”
Kemuning tiba tiba melayangkan pandangannya kearah samping
“ Apa kau masih mengkhawatirkan kasus Ayah dan ibumu?... Tenang saja, pria itu sudah tertangkap dan saat ini proses hukum sedang berlangsung.”
Ucap Atma dengan menatap serius kepada kemuning
“ Apa?... Jadi dia sudah ditangkap? Lalu.. Apa yang terjadi?”
“ Seorang Psikopat. Hasil dari Tes pemeriksaan kesehatannya dan juga tanggapan saat melakukan pemeriksaan. Kemuning, aku akan berupaya memberikan hukuman berat padanya!”
Ucap Atma kembali dengan sangat serius
“ Atma..? Maksudmu adalah..?”
“ Aku ingin agar dia mendapatkan hukuman mati. Mengingat apa saja yang sudah dia lakukan. Karena ternyata, selepas kejadian dengan orang tuamu, Pria itu melarikan diri ke sebuah pedesaan dan kudengar melakukan Pemerkosaan dan membunuhnya. Sudah 2 wanita yang menjadi korbannya!”
“ APA? Lalu, bagaimana tanggapan akan hal ini?”
“ Kudengar Jaksa penuntut umum pun mempunyai Bukti lainnya dan semua data yang akan memberatkannya, dan itu semua sudah diberikan ke pengadilan. Seminggu lagi adalah hari persidangannya.”
Atma menatap kepada kemuning
“ Ba, baiklah.. Siapa nama pria itu sebenarnya? Karena dia hanya dikenal sebagai Dokter GK..”
“ Namanya Guindra Kertama”
“ Ap.. Apa? Guindra?”
“ Ya, ada apa kemuning? Kau terlihat begitu terkejut? Kau, mengenalnya?”
“ Apa kita harus kembali ke..”
“ TIDAK! TIDAK! Aku baik baik saja Atma.. Tenanglah..”
Kemuning menarik tangan Atma saat melihatnya mencoba untuk berdiri
“ Kemuning, jika kau tidak siap. Jangan memaksakan dirimu untuk datang ke pengadilan. Kau mengerti bukan? Pihak pengadilan pun sudah memaklumi kondisimu.”
Atma kembali terduduk dengan menggenggam tangan kemuning
“ Baiklah Atma.. Aku mengerti..”
. . . . . . . . . .
Menunggu adalah hal yang menjengkelkan. Setidaknya semakin lama, aku menjadi berpikir seperti itu.. Hari demi hari pun berlalu dimana akhirnya tibalah hari dimana proses pengadilan pun berlangsung. Atma menjemput dan menanyakan kembali kondisiku akan kesanggupan untuk hadir di acara pengadilan hari ini, bersama Tante Maya, kami pun berkendara bersama menuju pengadilan untuk menyaksikan proses persidangan ini.. Begitu kami sampai dan terduduk, entah mengapa tangan ini tiba tiba bergetar dengan hati gelisah mencoba untuk menenangkan diri. Hingga pintu pengadilan pun terbuka dan dapat dengan jelas sosok pria yang begitu sangat ku kenali.
Guindra, bagaimana bisa dalam masa waktu ini dan dimasa waktu yang berbeda, keduanya begitu memiliki kemiripan yang sangat identik dengan prilaku dan perwatakan yang juga sama persis. Melihatnya terduduk dengan sangat baik dan tenang, entah mengapa membuat hati ini merasa panas seakan ingin segera berlari kearahnya dan dengan Busur Panah yang kuarahkan dengan jarak sedekat ini, akan sangat mudah bagiku untuk membuatnya menghembuskan nafas terakhirnya.. Seandainya aku masih dapat melakukannya, namun sayangnya pada masa ini hal itu tidak dapat aku lakukan.
Suasana sidang, terasa aman dan berjalan lancar hingga tiba tiba seorang wanita yang kembali seperti perputaran waktu, Diajeng terlihat masuk kedalam Ruang persidangan dan membuat keributan besar dengan memperlihatkan sebuah Bom Rakitan ditangannya. Sontak itu semua membuat kami berlari ketakutan bahkan aparat pun mencoba untuk mengendalikan suasana. Namun seperti yang aku duga ini semua tidak akan selesai begitu saja jika mereka memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dimasa waktu lainnya..
“ Atma, bisakah mau meminta pisau yang berada dibaju tentara itu?”
“ Apa yang kau pikirkan kemuning? Meminta sebilah pisau pada tentara bukanlah hal yang mudah!”
“ Ambillah pelan pelan, lalu Kau akan lihat apa yang akan aku lakukan..”
Aku tahu Atma saat ini pasti tidak akan pernah menyukai apa yang ada dipikiranku. Namun, baik Atma pada masa waktu ini atau masa waktu lainnya, memiliki sifat yang sama yaitu tidak dapat menolak permintaan dariku.. Setidaknya dalam hal ini, aku memiliki keuntungan bisa menjadi wanita yang akan menemani sisa hidupnya kelak.. Tersadar akan pikiranku yang merancu tidak jelas, Atma kembali dan benar benar membawakan sebilah pisau yang kuminta darinya.. Dengan tersenyum aku meninggalkan Atma dengan berjalan sembari menunduk mengitari bangku bangku mencoba mencari titik yang sempurna untuk berhadapan tepat di hadapan wanita yang terlihat mirip seperti Diajeng..
Mata wanita itu akhirnya berhasil menangkap keberadaanku dan menatapku tajam.. Semua terlihat begitu Panik terlebih Atma yang juga tiba tiba berdiri seolah siap berlari dan menjadi Perisaiku. Namun dengan tenang aku berdiri tegap dengan mengarahkan sedikit tubuhku kearah samping hingga akhirnya aku lepaskan sebilah pisau ini dengan melempar kearahnya.
#SYUUUUTTTT #AARRGGGHHH...!! #BRAAAKKKK
Suara bilah pedang yang dilempatkan kemuning mengarah tepat mengenai Pundak kanan wanita itu Hingga membuatnya tersungkur dan terhantuk meja dibelakangnya
“ AMBIL BOM ITU DAN AMANKAN KEMBALI RUANGAN INI.!”
__ADS_1
Ucap salah satu personil tentara polisi di ruangan sidang
“ Kemuning, kau tidak apa apa?”
Ucap Atma yang menghampiri kemuning dengan berlari
“ Aku tidak apa apa, Atma aku mohon.. Persidangan harus terus dilanjutkan.. Aku mohon!”
Ucap kemuning dengan nafas tersenggah karena merasa gugup
“ Ini bukanlah kewenanganku! Tapi akan aku coba bicarakan dengan Pengacara dan Jaksa penuntut umum. Kau duduklah dahulu tenangkan dirimu.”
Atma segera berlari kearah tengah ruangan dan langsung berbicara
Setelah proses yang tertunda selama kurang lebih 3 jam, akhirnya sidang kembali berjalan pada pukul 13.30 siang ini. Saat ini semua menjadi sangat jelas dengan tertangkapnya wanita yang menyerupai Diajeng, maka hukuman penjara seumur hidup pun tanpa mendapatkan keringanan sedikit pun dapat terdengar olehku. Merasa lega dengan penuh haru, Tante Maya pun memelukku dan mengecup keningku dengan lembut mengingat akan tersakiti juga perasaannya oleh kematian ibuku yang tidak lain adalah adiknya.. Atma pun tersenyum sangat tampan dengan jas formal yang selalu dikenakannya seolah baju perkasa yang akan melindungiku.
Menjelang malam, Tante Maya menyajikan berbagai masakan juga minuman yang dibantu oleh Pureswari dengan kedatangan keluarga besar Atma kemari.. Aku pun membantu sebisaku dengan selalu melakukan kesalahan yang membuat Pureswari mengerutkan halisnya menahan Rasa kesal yang entah mengapa menjadi moment yang begitu kurindukan yang tanpa sadar aku memeluknya dan membuatnya tersipu malu layaknya seorang adik manja yang cantik..
Kami semua terduduk dan mulai menyantap semua makanan dan minuman ini dengan bercanda gurau terlebih dengan kehadiran seorang pria gagah yang memperkenalkan dirinya sebagai Teman dekat Tante Maya.. Melihat itu, baik aku dan Atma tersenyum dan tertawa bahagia sehingga membuat Tante Maya juga tersenyum malu begitu sekilas aku melihat sebuah cincin melingkar dijari manisnya.. Aku memeluk dan memberikan doa terbaikku untuknya yang tidak akan pernah aku bisa membalas kebaikan yang diberikannya selama ini padaku..
#TIIINGGG #TIINNGGG #TIINNGGG
Suara Gelas yang dipukul pelan oleh Atma menggunakan Garpu kecil
“ Mohon perhatiannya semua.. Sebelumnya, aku tidak yakin akan mengatakan ini. Namun ternyata, aku dikalahkan satu langkah oleh seorang pria yang baru kukenali ini..”
Ucap Atma yang tersenyum kepada Teman Tante Maya
“ Ada apa Atma? Apa kau akan mundur?”
Ucap Tante Maya dengan tersenyuman jahil diwajahnya
“ Ayolah, aku yakin dia akan membalasmu 2x lipat Bu Maya.. AHAHAHAA..”
Ucap Caka yang tertawa membalas perkataannya
“ Kemuning, aku sudah tidak akan berbasa basi lagi dan menahan diri lebih lama.. Bersediakah menikah denganku secepatnya?”
Ucap Atma yang mengarahkan sekotak cincin pertama kepada kemuning di hadapan semua orang
“. . . . . . . . .”
Kemuning yang terdiam mendengar perkataan Atma
“ Kemuning? Kau, tidak akan menjawabnya Nak?”
Ucap Tante Maya kembali dengan sedikit khawatir
“ Tentu saja. Atma.. Aku... Bersedia..”
#BRAAKKKK #BRAAKKK #BRAAKKKKK
WHOAAAA.... AHAHAAHHAA... SELAMAT ATMA DAN KEMUNING..!!
Teriakan semua yang terlihat bahagia dan memberikan restunya
“ Kemuning, bersiaplah menghadapi keras kepalanya anak itu. Terlebih dia suka bermain dengan teman temanya yang lain, entah kemana..”
Ucap Pak Danu kepada kemuning
“ Tenang saja Pak.. Keras kepalanya tidak akan sekeras kepalaku.. Lagipula aku mempunyai keahlian baru dalam memainkan pedang atau Busur panah..”
Ucap kemuning dengan tersenyum jahil kepada Atma
" Atma, kau mendapatkan istri yang tangguh.. Bersiaplah.. Ahahaha..."
Tawa Caka dengan sedikit Kejahilan
“ Terima kasih kemuning..”
Ucap Atma mengecup lembut kening kemuning selepas melingkarkan sebuah cincin ditangannya
“ Bukankah aku yang harus berterima kasih? Memerlukan keberanian besar untuk melamarku bukan?”
“ AAHAHAHAA... Yaa, kau benar sekali..”
Atma memeluk kemuning dengan Erat
Ruang dimensi masa waktu yang berbeda, apakah akan berputar kembali? Berpikir lama pun tetap tidak ada jawaban akan pertanyaan itu.. Kejadian bahkan bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikir sebelumnya, membuatku tersadar akan pentingnya rasa syukur, cinta kasih, dan keterbukaan. Begitu juga Acara pernikahan yang akan berlangsung 2 kali dengan Atma, berbanding terbalik tentunya dengan Atma saat ini. Semua terlihat bahagia, bahkan Caka dan Pureswari pun sudah semakin dekat semakin aku melihatnya dari hari ke hari, aku juga berharap bahwa mereka akan berakhir sama, seperti dalam ruang dimensi masa waktu yang berbeda..
__ADS_1
Orang tua Atma yang menyambutku penuh kasih sayang pun sama sekali tidak berbeda, Tante Maya yang juga sedang menentukan tanggal pernikahannya semakin membuat malam ini terasa meriah dan penuh tawa haru.. Tersadar akan sesuatu yang hilang, namun ternyata yang menjadi kekosongan hati ini adalah sosok Papa dan Mama yang sudah tidak dapat lagi aku melihatnya.. Namun, dengan mereka semua yang berada disampingku, apakah aku masih memerlukan arti dari kata kebahagian? Tentunya saja jawabannya adalah, tidak.
-Selesai-