
Pertengahan tahun berlalu, entah bagaimana perhitungan pada masa ini namun bila di masa tempat ku berada sudah 6 bulan genap aku berada pada masa ini.. Suatu kebiasaan yang menjadi tradisi bahwa di setiap pagi, baik aku dan Pureswari selalu datang ke Bale Daja untuk menyapa Ayahanda dan Ibunda serta pergi bersama untuk menyantap sarapan pagi bersama.. Apa yang akan terjadi padaku jika aku kembali pada masa itu dan menjalani kehidupanku seperti biasanya tanpa bisa melihat mereka kembali? Seolah terbuai Rayuan akan adanya kehadiran hamparan bunga yang tumbuh secara tiba tiba di ladang tandus tak bertuan.. Senyuman bahkan cara mereka menatapku, perhatian mereka yang begitu sangat kurindukan akan kehilangan sosok mereka saat berusia 18 tahun..
Pagi yang penuh canda tawa secara tiba tiba dikejutkan kembali oleh hadirnya Atma dan Caka yang seperti menjadi tradisi mereka untuk melakukan sarapan pagi bersama sama layaknya kami memang benar benar sudah menikah. Namun kedatangan dengan senyuman dan wajah polosnya hari ini begitu menggangguku mengingat kejadian kemarin hari yang membuatku merasa malu.. Ayahanda yang sudah mendengar kabar tentang isu perempuan yang berani menerobos masuk ke dalam Thawa Jana sungguh memerlukan nyali yang besar mengingat tempat itu tempat berkumpulnya para ksatria Bhattara yang sudah tidak di ragukan kemampuannya..
Seolah mencoba menentang aturan yang berlaku, Ayahanda pun menyampaikan permohonan maafnya kepada Atma dan Caka yang seolah tertawa melihat tingkah laku wanita yang akan menjadi calon istri Laksamana dari Thawa Jana yang tak lain adalah diriku.. Bahkan terlihat Ibunda dan Pureswari pun tertawa seolah mengerti akan sikap keras kepala yang kumiliki. Kejadian semakin terlihat memalukan disaat pertengahan pagi menuju siang, kami kehadiran Mahapatih Danudara yang tidak lain akan menjadi mertuaku kelak.. Dengan menundukkan kepalaku padanya kembali yang berlalu melewati dengan senyuman di wajahnya, terlihat jelas bahwa kabar itu pun telah sampai kepadanya dan membuatku semakin merasa malu..
“ Gusti Mahapatih.. Bagaimana hamba bisa tidak tahu akan kedatanganmu pada pagi ini?”
Ucap Patih Andaru dengan menundukkan kepalanya
“ Apa ada yang salah dengan mengunjungi kediaman calon anakku wahai Patih Andaru? Lagipula bukankah kita akan menjadi keluarga secepat mungkin melihat, kemuning yang dengan berani menantang Atma?”
Mahapatih Danudara menepuk pelan pundak Patih Andaru dan dengan senyuman jahil melihat kearah kemuning
“ Mohon ampun Gusti Mahapatih.. Hamba tidak bermaksud lancang kepada calon su... Ma, maksud hamba kepada Laksamana Bhattara Atma..”
Kemuning yang salah menjelaskan tertunduk malu
“ AHAHAHAA... Patih Andaru, sepertinya kau membesarkan anakmu dengan sangat baik untuk memberikan Atma pelajaran hidup.. Kau akan menjadi istri yang terbaik untuk anakku. Atma, kau harus siap dirimu karena medan perang nanti akan lebih sulit.. AAHAHAHA”
Mahapatih Danudara membelai pelan kepala kemuning seolah memberikan Restu dan berlalu untuk duduk disebelah Patih Andaru
“ Gusti Mahapatih, mohon ampun hamba ingin berbicara mengenai..”
“ TIDAK. Thawa Jana adalah tanggung jawab dan daerah kekuasaanku. Jika kau meminta Ayahku untuk membebaskan anak itu, kau salah besar kemuning.”
Atma memotong pembicaraan kemuning dan memberikan expresi jahil dengan meminum segelas air ditangannya
“ Kau. M E N Y E B A L K A N.”
Kemuning berbicara pelan dengan menatap tajam pada Atma yang terus tertawa jahil
“ Aaa.. Ada apa dengan anak anak ini.. Hentikanlah kalian berdua, kita sedang menyantap makanan dan minuman yang penuh berkah ini.. Bersikap sopanlah..”
Ucap Raden Ayu ibunda kemuning yang berbicara sambil tertunduk menggunakan selendangnya
“ AHAHAHAHA... Silahkan kembali menyantap makanan dan minuman ini. Setelah itu Patih Andaru, ada yang ingin ku bicarakan denganmu bersama Atma dan Caka.”
Ucap Mahapatih yang tiba tiba menatap Patih Andaru dengan Serius
“ Tentu, baik Gusti Mahapatih. Akan hamba persiapkan Aula tengah Bale Delot.”
Patih Andaru menundukkan kepalanya dan langsung menunjuk salah satu Abdi untuk segera mempersiapkan tempat pertemuan
Selesai menyantap makanan dan minuman, Ibunda, Pureswari, dan aku pun langsung menuju keluar menuju halaman belakang.. Ibunda terduduk pada sebuah lumbung terbuka dihamparan taman bunga di temani Pureswari yang memainkan alat musik yang sangat merdu.. Bahkan tanpa sadar alunan nada musik yang dibawakan terasa begitu sangat menarik jiwa hingga terkadang aku menjadi tidak sadar akan keberadaanku yang entah berada pada dimensi kini atau nanti tempat aku berada.. Melihat para ksatria tangguh berjalan menuju Aula tengah Bale Delot, aku membalikkan kepalaku untuk mengetahui tempatku sebagai Prabu Stira yang tidak boleh menyalahgunakan posisiku karena aku hanya mendapat perintah dari Gusti Agung Ratu dan tidak diperbolehkan ikut andil dalam istilah politik istana kecuali Gusti Ratu yang mengijinkannya.
Ditengah alunan suara gamelan dan petikan sitar yang dimainkan Pureswari, tanpa sadar aku seperti terhanyut dan berjalan dihamparan bunga bunga indah yang sedang bermekaran.. Cuaca hari ini terlihat begitu cerah hingga terasa menyilaukan di pagi menuju siang ini.. Aku kembali berjalan berkeliling mengitari taman bunga dengan ditemani suara gamelan, namun tiba tiba entah mengapa kepalaku terasa sakit hingga tidak sadar aku tertelungkup dengan kaki yang mencoba untuk berdiri kokoh.. Entah hanya perasaanku saja atau tiba tiba kabur asap kebal datang mengelilingku kembali dan kepalaku semakin terasa sakit dan pusing jika aku mencoba untuk terus membuka mataku.. Kabut ini.. Aku tahu kabut tebal ini lah yang.... Tidak, apa aku akan..... Setidaknya inilah ingatan terakhirku sesaat sebelum aku tersungkur dan tidak sadarkan diri kembali karena kepalaku yang terasa begitu sakit. Kemana lagi aku pergi? Dimana aku? Dan siapakah aku?
. . . . . . . . . . . . .
“ ning... Bu Kemuning?”
Ucap salah satu pria personil keamanan bernama Ajudan Jodi
“ Sepertinya tidak apa apa.. Kuharap dia baik baik saja..”
Ucap Keysha salah satu pegawai wanita, Assisten kemuning
“ Aarrrgghh.. Kepalaku! Sakit sekali! Apa yang.........”
__ADS_1
Kemuning mencoba membuka matanya dan penuh terkejut melihat sekelilingnya
“ Bu dyah? Bu dyah kemuning? Ibu tidak apa apa? Begitu kami menemukan ibu dilokasi, ibu sudah tergeletak tak sadarkan diri..”
“ Lapor bu, saat terjadi gempa, kepala ibu terhantuk pada batang pohon yang patah sehingga ibu tidak sadarkan diri selama 6 jam.”
Ucap Ajudan Jodi dan Keysha yang mencoba menjelaskan
“ Ap.. Apa? 6 Jam?... Aku? ”
Kemuning yang terduduk dengan memegang kepalanya yang terbalut perban penuh kebingungan
“ Tidak terjadi masalah serius bu, batang pohon itu hanya menggores cukup dalam kepala ibu tapi berdasar hasil rekam medis, tidak ada satu pun akibat fatal yang ditimbulkan..”
Ucap Keysha kembali
“ Lalu, ada dimana aku saat ini?”
Ucap kemuning dengan tatapan serius kepada pegawainya
“ Rumah sakit terdekat dari lokasi hotel bu. Pak Danu selaku Presdir, lalu CEO Pak Atma langsung yang merajuk anda menuju kemari.”
“ Ya bu, kami pun baru tahu ternyata Pak Atma adalah anak dari Pak Danu yang menjadi atasan kita selama ini. Jadi, secara tidak langsung Pak Danu merupakan Presdir di Hotel itu dan Pak Atma sebagai CEO. Mereka pun sedang berbincang dengan Dokter saat ini, terlihat khawatir pada anda.”
Ucap Ajudan Jodi dan Keysha yang mencoba menjelaskan kembali
Pandangan mata ini kabur kembali dan mata pun tertutup kembali mencoba mencerna semua yang sedang terjadi padaku.. Akhirnya aku kembali pada masa dimana aku berada.. Bukankah seharusnya aku berasa bersyukur? Tapi entah mengapa hati ini terasa sesak dan kosong sekali? Ada yang salah denganku saat ini, entah apa itu sepertinya aku harus mencaritahu sendiri.. Terduduk dengan kepala yang masih memerlukan perban, obat, serta keseimbangan diri terlihat pada pantulan jendela kaca yang membentang lebar akan diriku yang menggunakan pakaian dan penampilan layaknya orang normal pada masa ini dan sudah tidak ada lagi Busur panah dan Pedang yang selalu berada disampingku.. Entah mengapa aku seperti terbiasa membawa mereka semua, hingg tak sadar tubuh ini tarasa hampa tak bernyawa karena kehilangan sosok yang sangat kurindukan.
Kembali mengingat semua ini, sangat tidak mungkin bagiku untuk menceritakan pada mereka semua atas kondisiku yang merasa menghabiskan waktu selama 6 bulan dimasa yang berbeda, namun ternyata hanya dalam waktu 6 jam aku tidak sadarkan diri. Melihat mereka berbicara, saat ini entah mengapa aku merasa kosong? Bukankah aku sudah perlu lagi memperdulikan akan kondisiku yang akan hidup atau mati keesokan hari? Seolah terbangun dari mimpi panjang yang terlihat aneh dengan hal hal yang tidak masuk akal.. Apakah itu semua hanya karena kondisiku yang koma hanya dalam waktu 6 jam? Aku bahkan masih menggunakan baju yang ku kenakan bukan seragam rumah sakit, sepertinya kondisiku pun tidak apa apa..
“ Apa yang sedang kau pikirkan? Bagaimana lukamu?”
“ Aa, Atma?.... Pak Danu.. Maafkan saya pak, tak sadar selama beberapa waktu.. Bagaimana keadaan para tamu kenegaraan?”
Kemuning yang terkejut melihat Atma dan Pak Danu yang menyusul berjalan dibelakangnya dengan menundukkan kepalanya pada mereka
“ Untuk apa kau meminta maaf? Ini semua bukan kesalahanmu, semua sudah melakukan klarifikasi padaku. Jadi, katakan bagaimana kondisimu saat ini?
Ucap Pak Danu yang berdiri tepat dihadapan Kemuning bersama dengan Atma menatap kemuning
“ Ba, baik pak.. Terima kasih. Apa saya bisa melanjutkan untuk bekerja sekarang?”
“ Tentu saja. Selama kau merasa baik baik saja, jangan memaksakan dirimu.”
“ Apa kau yakin baik baik saja kemuning?”
Ucap Pak Danu dan Atma kepada kemuning
“ Ya, saya tidak apa apa, terima kasih..”
Tak menunggu waktu lama Keysha membantuku untuk bersiap siap dan kami pun segera meninggalkan Rumah sakit dan segera menuju Hotel. Karena kondisiku saat ini yang masih menggunakan perban di kepalaku dan tidak ingin menimbulkan masalah atau kekhawatiran yang tidak diperlukan, aku memutus Keysha untuk mengganyikanku dalam setiap kegiatan lapangan yang mengharuskan kedatanganku. Di pertengahan hari saat mencoba melakukan penjamuan makan siang, tiba tiba Keysha harus pergi bersama dengan Pak Danu sehingga mengharuskanku untuk bertindak sendiri ke lapangan.. Mencoba untuk menutupi Luka di kepalaku dengan sebuah topi, ternyata membuatku kesakitan sehingga terkadang Luka ini menimbulkan Rasa pusing dan ngilu tak tertahan..
Menjelang senja dan mempersiapkan acara jamuan makan malam kembali, aku menuju Pantry dapur bersih Restaurant tempat Tante Maya yang menjabat sebagai Kepala Koki di Restaurant ini yang juga kebetula sebagai Wali orang tua ku disaat Mama dan Papa meninggal dulu.. Seperti biasa meskipun Pantry dapur bersih, masih saja terlihat begitu sibuk sehingga seperti tidak menyadari akan kehadiran orang disekelilingnya.. Berjalan perlahan dengan memeluk Tante Maya yang terkejut dapat sedikit menjadi hiburanku saat ini yang merasa lelah dan kebingungan..
“ Kau sudah besar, masih saja melakukan hal seperti ini.. Bagaimana kondisi kepalamu? Karena Atma menghubungiku, jadi aku bisa tenang bekerja.. Duduklah di situ..”
Ucap Tante Maya sembari memotong sayur sayuran
“ Hanya luka gores yang cukup dalam.. Tan, kemana assisten koki? Kenapa kau bekerja sendiri?”
__ADS_1
“ Dia di pindahkan, sebagai gantinya nanti akan ada yang datang menggantikannya.. Namanya Pureswari. Dia memiliki nama yang unik sama sepertimu, seperti dari jaman dulu..”
“ Ap.. apa? Pures apa?”
“ Panjang umur, itu lihatlah dia baru datang..”
“ Selamat siang, perkenalkan saya Pureswari.. Mulai hari ini saya akan bekerja sebagai Assisten Chef Maya. Mohon bimbingannya..”
Pureswari yang menundukkan tubuhnya kepada Maya dan kemuning
Bagaimana bisa, bagaimana bisa kejadian seperti ini bisa begitu sangat terjadi dalam hidupku? Mereka semua terlihat sangat nyata bagiku.. Ada apa dengan semua ini? Merasa terkejut dan butuh penyesuaian aku berjalan menuju ujung Restaurant dimana terlihat Atma sedang mempersiapkan semua dan melakukan pemeriksaan untuk jamuan makan malam. Ya, mereka benar benar terlihat mirip sekali hanya dengan penampilan yang berbeda. Baik di masa ini atau pun masa itu, Atma merupakan teman masa kecilku dan kami bertemu kembali saat duduk dibangku perkuliahan sebagai Senior dan Junior.
Hanya terpaut perbedaan umur 2 tahun, bagiku Atma benar benar mempesona dengan umur yang terbilang muda, dia sudah menjadi CEO bahkan kudengar dia pun aktif dan menjadi salah satu tokoh penting dalam suatu partai pemerintahan. Apa dia juga akan mengikuti jejak seperti ayahnya yang selain merambah dunia ekonomi bisnis, kini dunia politik pun dia akan terjun ke dalamnya. Mungkin karena itu juga hubunganku dan Atma pada masa ini terihat tidak jelas berbeda dengan diriku dan Atma pada masa yang lain dimana aku adalah calon istrinya.. Pada masa ini begitu banyak wanita yang mencoba mendekatinya dari berbagai kalangan yang sudah tidak diragukan lagi akan status sosial dan juga kedudukan keluarganya dengan penampilan mereka yang juga sangat mempesona..
Jadi, tidak mungkin bagiku dalam masa ini menjalin hubungan dengannya bahkan terdengar kabar bahwa dia pun sudah akan bertunangan dengan seseorang hingga beberapa orang menyudutkanku dan berspekulasi bahwa aku yang tidak tahu diri ini dengan status keluarga yang tidak jelas mencoba untuk menarik simpatik dan cintanya hanya karena kedua orang tua kami bersahabat dahulu.. Mendengar itu membuatku gusar dan tidak nyaman terlebih perlakuan Atma yang secara terbuka terlihat begitu menyayangiku di hadapan mereka semua tanpa aku mengerti apa maksud dari tindakan yang selalu dia berikan padaku disaat aku bertemu dengannya..
“ Kemuning? Kau mau kemana?... Hey, Hey, HEY!! Apa kau tidak mendengarku?”
Atma yang mencoba mengejar kemuning dan menarik tangannya
“ Aku baik baik saja jadi lepaskan tanganku..”
“ Kau mau kemana? Sudah bertemu Tante Maya? Aku ingin mengenalkanmu pada sepupuku, aku dengar dia bekerja menjadi salah satu ajudanmu saat ini”
“ Apa? Siapa dia?”
“ Caka.. Caka Maheswara. Dia baru menyelesaikan pendidikan dan pelatihannya, ku dengar saat ini dia sudah berada di dalam barisan personil anggotamu..”
“ Ca, Caka?.... Kau, yakin? Lalu jika betul, untuk apa kau mengenalkannya padaku? Aku tidak bisa menaikkan pangkatnya jika dia bekerja sangat baik karena itu bukan pekerjaanku..”
Ucap kemuning yang kembali terkejut dan menarik tangannya dari Atma secara perlahan
“ Ahahaaha.. Tentu saja bukan itu maksudku, aku hanya bermaksud jika kau butuh bantuan lebih dia akan langsung segera membantumu lebih cepat dari yang lain”
“ Kenapa keluarga kalian begitu perhatian padaku? Meski pun orang tua kita bersahabat dan aku kini yatim piatu, aku bukan wanita lemah yang membutuhkan hal seperti ini.”
Kemuning yang menundukkan kepalanya dihadapan Atma dengan tangan yang mengepal
“ Apa? Kemuning, bagaimana bisa kau berpikir seperti ini? Ada apa denganmu?”
“ Atma.. Menjauhlah dariku. Kau sudah akan bertunangan sebentar lagi, dan aku pun akan kembali bekerja seperti biasa. Jadi, bisakah kau memperlakukanku sebagai Rekan kerja dan bukan teman masa kecilmu dan junior mu di kampus?”
Kemuning menatap tajam kepada Atma
“. . . . . . . Dari mana kau mendapatkan informasi rendahan ini? Aku? Tunangan? Lalu apa katamu? Teman masa kecil dan Junior, itu pandanganmu padaku?”
Atma yang sempat terdiam mendengar perkataan kemuning dan membalasnya
“ Ya, aku yakin wanita yang akan bersamamu nanti adalah wanita yang sangat luar biasa.. Karena itu kumohon jangan membuat orang lain salah paham padaku.”
Kemuning yang langsung berlalu meninggalkan Atma begitu saja
Berjalan tegap dengan kepala menjurus keatas sangat tidak membantuku saat ini dalam menyelesaikan masalah ini. Namun jika di pikir kembali, apa yang salah dengan semua ini? Aku yang hidup pada masa ini pun memang menaruh hati padanya namun cukup sudah perasaan tidak tersampaikan ini aku pendam selama beberap lama.. Aku tidak ingin lagi berada dalam bayangan ketidak pastian yang begitu menyiksaku. Berjalan dan semakin berjalan menuju Lobby utama, terlihat Caka yang benar benar menjadi salah satu Ajudanku yang tidak kusadari selama beberapa hari ini.. Mata menjurus padanya yang tiba tiba berjalan kearahku dan berdiri tegap dihadapanku..
“ Bu kemuning, Ajudan Jodi sebelum beliau pergi bersama Pak Danu memberikan ini padaku dan menitipkan pesan untuk diserahkan pada anda. Beliau bilang hiasan rambut ini berada dalam genggaman tangan anda saat menemukan anda tak sadarkan diri tempo hari.”
Ucap Caka yang memberikan hiasan rambut kepada kemuning
Melihat benda ini entah mengapa tanpa terasa air mata ini menetes dan terus menetes tanpa kusadari.. Hati pun terasa sesak seolah sesuatu menghilang dari dalam diriku namun apa itu? Apa hal yang membuatku merasa begitu kehilangan hingga terasa sesak untuk bernafas.. Sungguh, apa yang terlewat olehku kembali saat ini? Kenapa hiasan rambut ini bisa ada ditanganku disaat aku tidak mengerti akan maksud semua hal yang terjadi.. Kenapa dan kenapa, aku sangat merindukan Atma dan semua hal pada masa itu? Apa saat ini aku sudah kehilangan akal sehatku sehingga tanpa sadar menangis dihadapan mereka semua yang memandangku dengan penuh rasa iba dan kasihan..
__ADS_1