
Terduduk dengan menahan rasa emosi yang tidak dapat tersampaikan secara lepas membuat hati terasa sesak dan juga hampir seperti ingin mengakhiri sesuatu dengan pikiran yang merugikan. Terlambat menyadari akan kehadiran seseorang yang akan membuat kabar klise sebuah cerita yang terlalu dibesar besarkan seolah semua ini memang murni kesalahanku. Tangisan wanita yang begitu memilukan sungguh membuat hati siapa pun merasa iba melihatnya, namun sungguh sial bagiku jika aku pun menganggap sama seperti itu. Berdalih untuk membela diri yang berujung pada penjatuhan hukuman kembali yang diberikan Ibunda atas sikapku yang memalukan nama keluarga ini..
Malam pun semakin larut disaat kenangan yang terlewat tiba tiba hadir menghantam ingatanku kembali, seolah memang aku lah yang berada dalam masa ini.. Terbangun dengan penuh peluh, membuat kepalaku kembali terasa pusing mendekati dini hari ini. Mencoba berjalan keluar hanya untuk melampiaskan perasaan yang tidak memnentu ini hingga tak sadar membuat kedua jari ini terluka karena melepaskan anak panah yang begitu banyak.. Nafas yang tersenggah dengan denyutan nadi yang terasa lebih cepat benar benar membuatku merasa puas disaat melihat Diajeng yang terbangun dan tersenyum padaku pada pagi hari dengan meminta ijin untuk ikut dalam rombongan kami karena dengan bahu yang terluka, sulit untuknya menunggangi kuda. Atas ijin Ibunda, kami pun semua bersiap siap untuk kembali pulang menuju kota..
“ Mau sampai kapan kau berpura pura seperti ini?”
Ucap kemuning yang berdiri membelakangi Diajeng yang sedang membereskan barangnya
“ Sampai kau berikan tusuk konde hiasan rambutmu itu padaku.”
Diajeng langsung berdiri di hadapan kemuning dan membuka selendang yang menutupi luka di bahunya
“ Aku membidikmu sedikit jauh dari bahumu. Sejak awal luka itu memang tidak ada”
Kemuning mendekatkan wajahnya, menahan emosi melihat Bahu Diajeng yang tidak terluka
“ Betul.. Aku hanya ingin mereka menyudutkanmu.. Seharusnya kau jangan berani mengambil barang milik orang lain jika kau tahu diri”
“ Atma.. Kau anggap dia barang?? Tidakkah terlalu rendah kau memandangnya?”
Kemuning yang merasa jengkel mendengar perkataan Diajeng
“ Aku yakin kau pun pasti sama denganku yang menganggap Atma sebagai penunjang status sosialmu di masyarakat bahkan di istana! Jadi berhentilah berpura pura..”
“ Aku? Berpura pura?... Lucu sekali. Ucapan ini keluar dari wanita yang meninggalkan Atma saat dia sedang terpuruk, lalu kembali mendekatinya tanpa malu disaat Atma sudah di puncak kejayaan?”
Kemuning yang mengibaskan selendang Diajeng dengan raut wajah menyindir
“ KEMUNING KAU SA..”
“ TITAH DARI GUSTI AGUNG RATU TRIBUANA UNTUK LAKSAMANA ATMA MAHESWARA”
Ucap seorang pesuruh yang tiba tiba datang dari istana dengan tergesah dan memotong pembicaraan Kemuning dan Diajeng
Mendengar titah ini, tidak kuperdulikan Diajeng yang mencoba menarik tanganku untuk melanjutkan pembicaraan dengannya. Aku berlari menuju halaman depan dan terlihat Atma sedang membaca Titah tersebut dan langsung mengambil kudanya dan bersiap siap kembali.. Merasa akan kehadiranku yang terlihat khawatir, Atma berjalan mendekati dan mencium keningku dengan lembut dan langsung memalingkan wajahnya seolah sengaja menghindari tatapan mataku yang akan berkata banyak padanya.. Selepas berbicara pada Caka, Atma langsung menunggangi kudanya bersama pesuruh kerajaan dan beberapa prajurit di belakangnya.. Melihat itu, aku sangat tahu jelas apa Titah sang Ratu kepadanya dengan tangan yang mengepal dan melihatnya yang semakin menjauh, hati ini pun kembali merintih akan jawaban yang tidak pasti.
Caka akhirnya menepuk pundakku dengan pelan dan memberikan pandangan penuh percaya diri seolah mengatakan bahwa tidak akan ada yang terjadi kepada Atma, percayalah padanya.. Dengan menundukkan kepalaku kepada Caka, akhirnya Caka pun tersenyum padaku dan kembali memberikan isyarat padaku untuk kembali ke dalam dan melanjutkan bersiap siap untuk kembali ke ibu kota. Ditengah perjalanan pulang, tiba tiba kami harus berjalan memutar dikarenakan jalan utama terdapat pohon besar tumbang yang menghalangi jalan.. Dengan mengikuti usulan Diajeng yang mengatakan sangat mengenal daerah ini, kami pun mengikuti usulannya meskipun aku merasa keberatan. Di tengah perjalanan, kereta kuda tiba tiba terhenti pada sebuah perkebunan buah yang entah mengapa meskipun terlihat sangat indah dan menawan, aku merasa ada yang tidak benar di perkebunan ini..
“ Ada apa? Kenapa menghentikan kereta kudanya?”
Ucap Caka kepada Pureswari yang masih berada dalam kereta kuda
“ Kathamarawa mengatakan bahwa perkebunan buah disini merupakan perkebunan terbaik sekota. Kami berpikir mungkin dengan membawa sedikit buah tangan akan sangat baik”
Pureswari yang menjelaskan dengan lembut
__ADS_1
“ Tidak. Kita terus melanjutkan perjalanan.”
Ucap Kemuning yang berlalu dengan menunggangi kudanya melewati kereta kuda
“ Tapi, Raka.. Tidakkah kau lihat banyak sekali buah yang terlihat lezat.. Ibunda pun berkata ingin mencoba langsung beberapa buah ini..”
Pureswari yang tiba tiba membuka pintu kereta kuda berkata dengan tersenyum
Terlihat Diajeng yang turun dari kereta kuda di ikuti dengan ibunda yang mengikutinya dari belakang.. Pureswari yang tertunduk padaku seolah memintaku untuk membiarkan mereka akhirnya pun kalah disaat Ibunda mengerutkan keningnya pada keras kepalaku yang terlihat egois.. Dengan tetap berada diatas kuda brataku, aku pun melihat mereka dari kejauhan yang terlihat bahagia dengan memetik buah Anggur, pepaya, apel, dan jeruk.. Tak lama merasa lelah, mereka terduduk diatas sebuah panggung lumbung yang terbuka. Ibunda dan Pureswari pun terlihat begitu menikmati buah buah yang terlihat sangat manis bersama para dayang dan juga para ksatria yang juga dibagikan untuk menyantap buah buah ini.. Kupikir tidak akan ada masalah, namun tiba tiba datang 2 orang perempuan bersama 3 anak anak dengan membawa kendi minum dan bersimpuh dihadapan Ibunda..
“ Gusti Raden Ayu.. Maafkan hamba yang terlambat menyadari kedatangan anda.. Ijinkan hamba memberikan air minum untuk menyegarkan di siang hari ini”
Ucap seorang wanita dengan menyuguhkan kendi minum di hadapan Raden ayu
“ Terima kasih.. Terasa segar sekali..”
Ucap Raden ayu yang meminum dan membagikan pada yang lain
Terlihat ibunda, pureswari, dan lainnya pun meminum minuman yang di suguhkan mereka.. Dengan perginya mereka dengan membawa kendi minumnya kembali, Ibunda dan semua pun kembali bersiap siap dan kami pun segera melanjutkan perjalanan kami. Selama setengah perjalanan tidak ada masalah sama sekali bahkan kami semua terlihat begitu menikmati perjalanan.. Namun seketika semua ini berubah dengan terjatuhnya dayang yang berjalan di hadapanku dengan memegang perutnya yang terlihat begitu kesakitan. Tak lama terlihat satu demi satu dayang itu pun berguguran bahkan ada yang mengeluarkan darah dari dalam mulutnya. Menyadari hal aneh ini, aku langsung membalikkan kudaku menuju kereta kuda untuk melihat kondisi mereke, dan benar saja dugaanku yang kuharap salah ternyata betul terjadi..
“ KEMUDIKAN KERETA KUDA LEBIH CEPAT MENUJU BALE KESEHATAN TERDEKAT!”
Teriak Caka yang terlihat panik setelah melihat kedalam kereta kuda
Mendengar teriakan Caka, para dayang dan ksatria yang masih dalam keadaan sehat pun langsung mengambil alih tempat yang sedang terkujur kesakitan tak dapat bergerak.. Kereta kuda pun langsung melaju secepat mungkin dengan komando Caka dan beberapa prajurit yang berjaga di sekelilingnya.. Kini hanya aku yang tertinggal disini dan melihat mereka semua seolah sekarat mencoba untuk berjuang hidup. Merasa kehadiranku sudah tergantikan Caka, aku langsung melihat kondisi para dayang dan beberapa ksatria. Tercium aroma yang menyengar dari dalam mulut mereka dengan berkeringat tiada henti.. Bibir terlihat pucat dengan suhu tubuh yang terasa dingin.. Tidak salah lagi, ini adalah kejala keracunan! Tersadar akan pendidikan ku sebelum menjadi Deputi di kementrian, wajib bagiku untuk memperlajari tindakan darurat atau apa saja yang biasa terjadi dalam perjamuan tamu penting kenegaraan sehingga aku bisa mengantisipasi hal yang tidak diinginkan terjadi.
“ Caka, berikan kepada Diajeng lalu bantu Pureswari meminum ini! Ibunda, aku mohon duduklah dan minum ini kembali”
Kemuning yang membawa 3 gelas kendi ditangannya berisi ramuan obat
“ Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang terlewat olehku! Aku sudah mengecewakan Atma!”
Caka masih merasa terkejut dan menyalahkan dirinya sendiri dengan membantu Pureswari
“ Hentikan. Baik aku dan kau, kita tidak menyadari kemungkinan hal ini akan terjadi..”
Melihat Caka yang begitu terlihat tertekan dan menahan emosinya karena merasa kesal atas kepercayaan dan tugas yang diberikan Atma selaku Bhattara kerajaan membuat Caka berpaling dan dengan emosi ingin berkendara kembali menunggangi kudanya selepas melihat Pureswari dalam kondisi stabil.. Aku mencoba menghentikannya dengan menarik tali pelana kudanya dan memberikan pengertian kepadanya hingga akhirnya Caka mendengarkanku dan kembali kedalam untuk menemani Pureswari dan juga memastikan Ibunda yang terlihat jauh lebih baik.
Tak lama beberapa pasukan datang, yang ternyata itu adalah Atma beserta beberapa ksatrianya serta kereta kuda megah yang menyusulnya dari belakang dimana Raden Panji yaitu Ayahanda sampai dengan wajah dan tindakan yang penuh rasa khawatir dan juga amarah berlari masuk menuju ruangan tempat Ibunda dan Pureswari sedang beristirahat. Atma melihat kepadaku dengan penuh khawatir dan tanda tanya namun berlalu masuk bersama Ayahanda dan aku yang hanya bisa menundukkan kepalaku dihadapan mereka semua, berdiam di depan Bale kesehatan yang diikuti Caka yang juga berjalan keluar dan berdiri dihadapanku untuk bersiap menerima hukuman apa yang akan diberikan kepada kami. Tak lama ayahanda pun keluar dengan membawa selendang Ibunda yang terkena noda darah dengan wajah penuh amarah dan kesal.
“ Katakan, bagaiamana ini bisa terjadi disaat seorang Bhattara dan Prabu Stira menjaga mereka?!”
Ucap Raden Panji dengan tatapan menjurus kedepan mencoba menahan emosinya
“ Gusti Raden Panji, Hambalah yang pa..”
__ADS_1
Ucap Caka yang bersujud di hadapan Raden panji
“ Kemuning. Ayahanda, kemuninglah yang bersalah. Begitu melihat perkebunan buah, kemuning meminta mereka untuk menghentikan kereta kuda dan beristirahat sejenak.”
Kemuning menghentikan Caka berbicara dengan tubuh menunduk kepada Raden Panji
“ Kemuning, apa yang kau la..”
Caka yang tiba tiba terkejut, terduduk tegap dan menatap kemuning
“ Akulah yang bersalah. Caka sudah memperingatkan untuk melanjutkan perjalanan, namun karena aku meihat buah buah itu yang terli..”
“ SUDAH CUKUP! DIAM SEMUA!”
Ucap Raden Panji dengan penuh amarah menghentikan kemuning yang berbicara
“ Gusti Raden Panji tenanglah, biarkan Hamba yang mengambil alih dari sini. Gusti Raden Ayu sangat membutuhkan kehadiran anda saat ini.”
Ucap Atma yang menunduk kepada Raden Panji
“ Baiklah. Atma aku serahkan padamu.”
Ucap Raden Panji yang berlalu pergi kembali masuk kedalam Bale kesehatan
“ Caka, berdiri dan berbicaralah denganku.”
Ucap Atma yang memintanya mengikuti dari belakang menuju belakang halaman
Dapat terlihat jelas bahwa Atma pun terlihat sangat kesal saat ini namun dia mencoba untuk menahan emosinya terlebih padaku yang hanya bisa tertunduk malu. Ya, betul apa yang dikatakan Ayahanda barusan.. Bagaimana bisa kejadian ini terlewat begitu saja pada saat Bhattara dan Prabu Stira yang merupakan abdi kepercayaan langsung pilihan Ratu, lalai dalam menjalankan tugasnya.. Ternyata baik dimasa ini atau pun masa dimana aku berasal, aku selalu dihadapkan pada tugas yang tidak berjalan baik padahal tugas itu merupakan tanggung jawabku.
Menjelang malam kondisi Ibunda dan Pureswari pun terlihat semakin membaik. Hingga saat ini Ayahanda masih saja belum ingin bertemu denganku bahkan seolah menghindari untuk berbicara denganku. Sedangkan Atma pergi bersama dengan Caka yang hingga kini masih belum terlihat kembali kemari. Aku masih berada di luar dengan terduduk disebuah bangku yang terbuat dari bambu yang tertutup oleh hiasan tumbuhan di halaman depan. Tak sadar aku membaringkan tubuhku hingga dapat terlihat jelas kilau bintang pada malam ini. Namun ternyata dibalik itu aku dapat mendengar pembicaraan seseorang yang ternyata tidak mengetahui keberadaanku.
“ Syukurlah kau memberi obat penawar itu padaku”
Ucap Seorang wanita yang berbicara pelan
“ Kau sudah lakukan tugasmu dengan sangat baik. Meski pun hasilnya sedikit tidak sesuai harapanku, tapi akan ku tepati janjiku padamu”
Ucap Seorang pria yang membalasa wanita itu berbicara
“ Asalkan aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku akan melakukannya”
Ucap wanita itu dengan berjalan kembali ke dalam Bale kesehatan
Kulihat pria yang dengan menutupi wajahnya berjalan meninggalkan Bale kesehatan. Siapa wanita yang dia temui tadi? Namun dari suaranya aku seperti pernah mendengar suara itu.. Tapi, siapa? Terlepas dari itu semua, akhirnya aku mengetahui kebenaran bahwa yang terjadi hari ini sudah direncanakan sangat baik oleh seseorang.. Pertanyaan kembali, siapakah itu? Dengan mengambil Busur panah dan mengikuti pria itu dari belakang, aku mencoba mencari tahu siapa dia dan apa yang dia inginkan. Namun, ditengah itu suara dari pria yang kucintai ternyata dapat menghentikanku...
__ADS_1
“ Kemuning? Aku mencarimu! Kau, mau kemana dengan membawa Busur?”
Disaat semua berjalan tidak pada seharusnya. Pilihan apa yang akan kau ambil?