
Rumah yang menjadi tempat untuk bernaung pun menjadi tempat tersuram untuk di tinggali saat ini. Mengandalkan bantuan, kami pun pindah menuju kediaman Mahapatih Danudara hanya sampai keadaan kembali terasa aman kembali. Dukungan yang diberikan semakin mengikat tali persatuan keluarga dua belah pihak hingga kami pun merasa tergantung sama lain untuk meneruskan rencana selanjutnya yang akan kami lakukan. Terlihat Mahapatih yang begitu mengkhawatirkan kondisi Ayahanda yang masih terlihat lemas dan begitu pucat, akhirnya titah untuk melakukan pertemuan darurat di istana pun diumumkan bersama pejabat menteri lainnya dan bagi yang bersangkutan menerima titah pun harus bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi.
Dengan ketidakhadiran Gusti Raja dan Ratu, maka Mahapatih Danudara memimpin pertemuan pada siang hari ini. Semua terlihat begitu bergejolak saat mendengar kabar tentang Ayahanda yang baru saja diselamatkan dan dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Keselamatan keluarga yang dipertanyakan, menjadi alasan kuat akan terjadi penyerangan yang menuntut akan keadilan yang semakin terasa meresahkan.
“ Jika Gusti Mahapatih tidak bertindak, maka aku yang akan mengambil alih.”
Ucap salah satu Menteri dalam istana
“ DIMANA RASA HORMATMU PADA GUSTI MAHAPATIH DANUDARA?! Gusti Agung Raja dan Ratu, tidak mungkin memberikan gelar begitu saja kepadanya!”
Ucap Menteri istana lainnya yang merasa kesal
“ Seperti yang telah kalian dengar dari Laksamana Bhattara dan Prabu Stira, mereka adalah pasukan khusus yang dilatih oleh istana sebelumnya. Jadi jika ingin menyerang, maka kita harus memiliki persiapan yang matang. Tentunya seperti yang tidak biasanya dilakukan oleh istana.”
Ucap Mahapatih Danudara yang tersenyum penuh kemenangan kepada Atma
“ Seperti yang tidak biasanya dilakukan oleh istana? Maksud Gusti?”
“ Wahai Para Menteri, berdasarkan pengalaman hamba beserta Prabu Stira yang sudah lebih dahulu mengetahui lokasi persembunyian mereka, tahukah alasan mereka memilih Hutan Tengah bagian utara? Karena selain dekat dengan Dermaga yang menjadi pusat perdagangan, juga karena selama ini istana selalu melakukan penyerangan secara bersamaan atau mengirim beberapa koloni pasukan langsung.”
Ucap Atma yang menjelaskan kepada para Menteri menggantikan ayahnya berbicara
“ Ya, bukankah peperangan selalu seperti itu?”
“ Dengan mereka yang mempelajari cara bertahan hidup di tengah hutan, tentunya akan menjadi hal mudah bagi mereka untuk menghabisi kita sekaligus yang secara berkelompok datang menyerahkan diri. Seperti istilah ikan di laut yang berkelompok dan dengan mudah para nelayan menggunakan jaring yang sedikit lebar menangkap ikan ikan tersebut.”
Ucap kemuning yang membantu Atma menjelaskan
“ Jika memang seperti itu, maka apa rencana kalian?”
“ Menyerang dengan sedikit mungkin pasukan. Namun, perlu diketahui, bahwa hanya pasukan ksatria terpilih yang akan melakukan misi kali ini.”
Ucap Atma yang menatap menteri tersebut
Terdiam mendengarkan tanggapan dari rancana kami, para Menteri istana terlihat begitu kebingungan dengan rancana yang terdengar seperti misi bunuh diri ini. Aku pun mengerti apa yang menjadi kekhawatiran mereka, mengingat setengah pasukan istana ikut membela Gusti Agung Raja dan Ratu, beserta Mahapatih Gajah Mada menumpas pemberontakan Sedang dan Keta. Namun, dengan membawa beberapa orang dari pasukanku dan pasukan Atma, itu sudah sangat cukup saat melancarkan penyerangan ke lokasi para Penjarah Hutan tengah itu.
Dipertengahan hari menuju senja, semua keputusan pun akhirnya dikembalikan kepada kami dengan pernyataan para Menteri yang memberikan kuasa penuhnya kepadaku dan juga Atma. Mendengar ini tanpa pikir panjang, Atma langsung menuju ke tempat para Bhattara berada sedangkan aku menuju pasukan khusus memanah dan juga pandai ilmu bela diri untuk memberitahukan rencana kami selanjutnya dan segera melakukan sumpah pembelaan atas nama baik istana.
Entah hanya firasatku saja atau memang sudah terjadi sesuatu, pertengahan menjelang dini hari disaat aku sedang berkumpul dengan para pasukan ksatria terpilih, terdengar suara kuda yang berhenti tepat di Bale latihan khusus pasukanku dan juga para Bhattara dimana Ibundaku dan Ibunda Atma tutun memberikan kabar mengejutkan untukku, Atma, terlebih kepada Caka.
“ Ibunda, bisa katakan kembali apa masksud kedatangan ibunda kemari?”
Ucap Kemuning kepada ibundanya
“ Pureswari.. Rayimu nak.. Sejak semalam dia tidak pulang ke Bale kediaman..”
Ucap Raden Ayu, ibunda kemuning sembari menangis
“ Apa Pureswari mengatakan sesuatu pada Ibunda atau Ayahanda?”
“ Rayimu menghampiri Ibunda yang sedang bersama Raden Ayu Bhanuwati (Ibunda Atma) setelah jamuan siang meminum teh bersama di halaman belakang dengan mengatakan akan menuju istana karena mendapat panggilan dari Kathamarawa untuk berlatih musik..”
“ Ka.. tha.. marawa?.. Maksud ibunda.. Diajeng?”
“ Ya.. Apa ada sesuatu yang salah?.. Kemuning, kenapa kau.. NAK.. NAK!”
Raden Ayu yang berteriak melihat kemuning yang berlari pergi meninggalkannya
Apa yang terlewat olehku? Diajeng, jika sampai terjadi sesuatu kepada Pureswari, maka aku akan..
“ KEMUNING! KITA PERGI BERSAMA.”
Ucap Atma yang menyusul kemuning dengan kuda Bhatara diikuti Caka dibelakangnya
“ AKU AKAN MENUJU BALE KEDIAMAN JIKA PURESWARI MASIH TIDAK ADA DISANA, MAKA AKU AKAN LANGSUNG MENUJU LOKASI KEBAKARAN.”
Ucap kemuning dengan sedikit meninggikan suaranya kepada Atma dan Caka
“ BAIK!”
Ucap Atma yang langsung berlari menunggangi kuda Bratanya mendahului kemuning untuk berada didepannya
__ADS_1
Secepat kecepatan yang bisa ku kejar menggunakan kuda brata ini, dalam hati terus berdoa bahwa tidak akan terjadi apa pun kepada Pureswari dan kalau pun kemungkinan yang terjadi aku hanya berharap dia terjatuh dari kudanya dan berusaha menyembunyikan luka itu agar Ibunda tidak melihatnya. Pureswari, kumohon bertahanlah.. Kami bertiga menunggangi kuda dengan semakin cepat menuju Bale kediaman, terlihat Caka yang sangat sigap melompat dari atas kudanya dan segera berlari untuk masuk ke dalam Bale mencoba mencari Pureswari dengan berpencar pada 3 bagian yang berbeda. Namun baik aku atau pun Atma dan Caka, masih belum dapat menemukan Pureswari..
“ Caka, sebelum kita ke lokasi kebakaran, apa ada tempat yang biasa kau kunjungi bersama Pureswari?”
Tanya kemuning kepada Caka
“ Ya ada. Tapi, dapat kupastikan dia tidak mungkin kesana!
Ucap Caka menjelaskan dengan nafas tersenggah
“ Kalau begitu kita langsung menuju lokasi kebakaran!”
Atma yang langsung memberikan instruksi kepada Kemuning dan Caka dengan segera berlari
Kembali secepat mungkin kami berlari menunggangi kuda brata menuju ke lokasi kebakaran. Caka yang terlihat semakin khawatir, sudah tidak lagi melihat Atma yang lebih tinggi pangkatnya dengan mendahului melewatinya dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dariku dan Atma. Namun Atma hanya terdiam dan membiarkannya, sama sepertiku seolah mencoba mengerti apa yang ada di pikirannya. Kami melaju dan semakin melaju hingga akhirnya kami pun sampai di lokasi kebakaran.
Terlihat beberapa tapak kuda yang sebelumnya sudah hadir di sini, dan bukan lagi hanya telapak kaki yang aku lihat sebelumnya. Meloncat turun kembali dari kuda Brata, terlihat Caka yang sedang berlarian kesana kemari mencoba mencari Pureswari hingga akhirnya kami kembali berpencar menjadi 3 bagian tempat untuk memudahkan pencarian kami. Namun kembali baik aku atau Atma akhirnya tidak dapat menemukan dimana Pureswari berada, hingga akhirnya kami mendengar teriakan...
“ TIDAK! TINGGALKAN AKU! JANGAN MELIHATKU!”
Terdiam baik aku dan Atma yang mendengar teriakan itu, akhirnya kami bersama berlari secepat kami menuju arah teriakan itu berasal. Terlihat Lumbung dimana sebelumnya aku menemukan bayi yang masih bernafas saat kebakaran, dari kejauhan kali ini yang terlihat olehku adalah selendang berwarna hijau yang khusus biasa digunakan oleh Pureswari. Atma menghentikan langkahnya seperti mengerti apa yang terjadi pada Pureswari dengan melihat Caka yang menundukkan kepalanya berdiri seperti patung di depan lumbung tersebut.
Ada apa? Kenapa Caka hanya terdiam seperti ini dan tidak bergerak sama sekali disaat wanita yang dia cintai tepat berada dihadapannya?.. Mengambil selendang hijau Pureswari yang terjatuh, aku berjalan menuju tempat dimana Caka terdiam dengan tak bersuara sama sekali. Langkah yang semakin mendekat pun terhenti tepat dimana Caka terhenti karena mendengar suara Pureswari yang sedang menangis tersedu hingga dapat menyayat hati pada setiap orang yang mendengarkannya..
“ Pures..”
“ TIDAK RAKA!! JANGAN KEMARI!! JANGAN MELIHATKU!!”
Pureswari yang kembali berteriak kepada kemuning yang mencoba memanggil namanya
Mencoba untuk tidak mendengarkan seruannya, akhirnya aku memberanikan diriku semakin berjalan menghampiri untuk melihat kondisinya saat ini, hingga melihat apa yang ada dihadapanku saat ini begitu tak terpikirkan dengan kata kata yang bisa kuungkapkan.. Pureswari terduduk dengan tidak memakai pakaian hanya beralas kain sarung yang digunakannya. Tubuhnya penuh dengan luka memar terlebih wajahnya yang berwarna biru keunguan akibat pukulan dari benda tumpul. Terlihat perlawanan yang dia lakukan dengan bekas di kedua tangannya yang memerah akibat jeratan tali yang mengikat sebelumnya. Bahkan, pada bagian lehernya pun terdapat bekas jeratan tali yang masih mengikat hingga terlihat seperti seekor binatang ternak yang hina.
Tangan yang mengepal dengan selendang Pureswari di tanganku, akhirnya aku pun membuka selendangku dan melepaskan sarung penutup kaki yang biasa kugunakan sebagai selempang yang menutup kakiku. Berjalan kearahnya dengan mulut tertutup penuh keluh dan terbata yang hanya ditemani derai air mata mencoba untuk tak bersuara sedikit pun...
“ Raka.. Aku adalah Aib. Aku kotor sekali.. Kumohon jangan biarkan Caka melihatku.. Jangan biarkan Caka tahu akan hal ini..”
Pureswari berbicara dengan tatapan kosong dengan wajah penuh luka
“ Ray.. Rayi.. Pures.. Pureswari... Raka.. Raka ingin..”
“ Apa Raden Mas Atma ada disini untuk menolongku? Kumohon katakan padanya agar jangan sampai Caka tahu akan kondisiku.. Berjanjilah Raka..”
Pureswari yang tiba tiba tersenyum pada kemuning dengan tatapan kosongnya
“ Berdirilah.. Raka ingin, ingin merapikan pakaianmu..”
Kemuning membantu pureswari yang tiba tiba menghentikan tangannya saat melihat luka di tubuh pureswari dan kembali menahan tangis
“ Apa... Aku masih akan... Bukan! Apa akan ada pria yang akan melamarku, Raka? Tidakkah kau lihat, tubuhku penuh luka dan kotoran tanah.. Aku memalukan nama baik keluarga..”
“ Tidak. Kau sangat suci.. Ka.. Kau....”
Kemuning yang langsung terkulai terduduk diatas ketika selesai merapikan pakaian Pureswari dengan memegang dan memeluk kakinya, menangis penuh luka hati
“ Jangan menangis Raka.. Berdirilah, aku seorang Prabu Stira.. Akulah yang seharusnya bersujud kepadamu Raka..”
Ucap Pureswari yang masih berbicara dengan tatapan dan raut wajah kosong
“ Siapa yang melakukan ini padamu?.. Maafkan aku, Rayi.. Karenaku.. Kau....”
Kemuning yang menadahkan kepalanya melihat pureswari yang masih menatap lurus ke depan seolah tak bernyawa dan hanya terdiam
“ Katakan sesuatu Pureswari.. SIAPA YANG MELAKUKAN INI PADAMU!!”
Kemuning yang kehilangan akal membentak pureswari yang kembali menangis
“ Hentikan kemuning.. Tahan emosimu.”
Ucap Atma yang langsung menarik kemuning untuk berdiri dan memeluknya dengan membelakangi Pureswari
“ Aku akan membalas ini Atma! AKAN AKU HAB..”
__ADS_1
“ Aku tahu! Aku akan berada tepat disamping mendukungmu!”
Ucap Atma menatap dan menyentuh wajah kemuning dengan kedua tangannya
Pureswari kembali terduduk dan melingkarkan kedua tangannya seolah mencoba memeluk dirinya sendiri. Tak kuasa menahan ini semua, aku segera membantunya untuk berdiri dan meminta Atma untuk membawa Caka untuk berjalan menjauh terlebih dahulu hanya sekedar agar Pureswari tidak melihatnya terlebih dahulu. Atma yang langsung mengerti, langsung berjalan keluar dan menarik Caka yang juga masih dalam keadaan terkejut dan penuh amarah untuk pergi bersembunyi di balik dindin yang tertutupi sebuah pohon besar..
Berjalan dengan Pureswari yang menunggani kuda brataku, aku pun hanya berdiri tegak mencoba untuk memastikan bahwa tidak ada hal yang aku takuti atau pun yang aku khawatirkan karena merasa beberapa para Penjarah Hutan itu masih berada disekitarku untuk memeriksa dan memberikan laporan kepada Guindra, Raksa, terlebih Diajeng yang sebagai tombak penyebab kesalahan ini melihat reaksiku akan kejadian yang terjadi saat ini. Berjalan dan berjalan, dengan Atma dan Caka yang juga berperan seolah tidak terjadi apa apa, kami pun kembali menuju kediaman Mahapatih Danudara yang tak lain kediaman Atma dan juga Caka.
Pureswari terdiam merasa ketakutan saat akan berjalan masuk ke dalam Bale kediaman dimana terlihat Ibunda dan juga Ayahanda yang masih terkulai lemas menunggu kedatangan Pureswari dengan tangisan yang begitu memilukan.. Bahkan Raden Ayu Bhanuwati pun ikut menangis dengan Mahapatih Danudara yang menundukkan kepalanya merasa bersalah dan juga marah atas apa yang terjadi kepada Pureswari dan ketika melihat luka luka di sekujur tubuh pureswari..
“ Sudah malam, kau tidak lelah?”
Ucap Atma yang menghampiri kemuning yang termenung terduduk di halaman depan dan duduk di sebelahnya
“ Bagaimana keadaan Caka?”
Ucap Kemuning menatap Atma dengan menggenggam tangannya
“ Tidak ada pria mana pun yang merasa baik baik saja, ketika melihat wanita yang dia cintai terluka seperti itu."
Atma menjelaskan dengan menundukkan kepalanya
“ Semua ini terjadi karenaku! Pureswari seperti itu karenaku.. Jika saja aku yang...”
“ TIDAK! Aku mohon jangan berkata seperti itu.. Kumohon kemuning..”
Atma yang menyentuh lembut wajah kemuning dengan kedua tangannya
“ Para Penjarah Hutan itu ada di tengah kota Atma.. Aku melihat mereka berbaur dengan warga saat kita melewatinya tadi..”
“ Aku tahu. Segera mungkin kita akan segera melaksanakan Rencana kita. Bahkan pasukan ksatria pun sudah siap kapanku kita memanggil mereka.”
“ Aku harap, kita semua akan baik baik saja Atma..”
“ Kita akan baik baik saja. Percayalah.”
Atma menatap tajam pada kemuning dan memeluknya dengan erat
Hembusan angin malam dengan keheningan yang seolah tak memiliki arti, ditengah pelukan Atma yang begitu menenangkan.. Tiba tiba dikejutkan dengan kehadiran seorang dayang yang berlari kearahku dan Atma dengan berteriak memecah keheningan malam dengan ketakutan bersamanya..
“ GUSTI RADEN MAS ATMA.. RADEN RARA KEMUNING.. RADEN RARA PURESWARI, DIA.. DIA..”
Ucap dayang tersebut dengan nafas tersenggah setelah berlari
“ Apa? Apa yang terjadi kepada Pureswari?”
Tanya kemuning pada dayang tersebut
“ Raden Rara.. Raden Rara Pureswari menutup kunci kamarnya sehingga kami tidak dapat masuk untuk melihat keadaannya.. Bahkan saat kami memanggil namanya berkali kali, Gusti Raden Rara Pureswari tidak membalas panggilan kami..”
Ucap dayang tersebut dengan menundukkan tubuhnya
Dengan berlari secepat mungkin, aku dan Atma langsung menuju kamar Pureswari dimana para pengawal dan beberapa dayang terlihat khawatir dengan kondisi kamar yang tertutup seolah Pureswari sedang mencoba melakukan sesuatu di dalam kamarnya. Menatap kepada Atma, Atma pun langsung mendobrak masuk hingga menghancurkan pintu kamar Pureswari dan kami pun langsung masuk kedalam dan melihat kondisi pureswari yang terhentak hentak menggantungkan dirinya dengan mengikat lehernya pada sebuah kain yang terikat pada batang kokoh panyangga atap rumah.
“ PURESWARI!!”
Kemuning yang langsung berlari dengan mengangkat kaki pureswari kearah atas dan menjadi penyangga kakinya untuk bertumpu
“ Kalian ambil kursi itu dan berikan tumpuan untukku agar dapat melepaskan ikatan itu!”
Ucap Atma yang memnerintahkan para penjaga dan bersiap siap memanjat
“ Ada ap.. PURESWARI!”
Teriak Caka yang langsung menolong kemuning dengan melakukan hal yang sama seperti kemuning lakukan
#SSHHREEKKK # BREEEKKKK #BRUUUAAKKK
Suara robekan kain oleh pedang Atma yang membuat Pureswari terjatuh dan terjatuh tepat dipelukan Caka
“ TIDAK. TIDAK. PURESWARIII!!”
__ADS_1
Teriak Caka yang melihat muka pucat Pureswari dengan tubuhnya yang sedikit membiru dan langsung menggendong Pureswari menuju Bale kesehatan
Apa hanya ini yang bisa kulakukan? Terdiam melihat Pureswari yang seperti itu? Seakan sulit untuk bernafas ketika semakin terdengar suara teriakan Ibunda dan juga kemarahan Ayahanda yang terdengar begitu jelas olehku. Tangan kembali mengepal dengan tatapan kebingungan, hanya inikah yang dapat kulakukan saat ini?