
Angin malam bertiup kencang dengan sedikit air yang menghujani pertanda akan hujan deras melanda pada tengah malam ini. Apakah dia baik baik saja ditengah lautan ditengah badai ini? Apakah dia sampai dengan selamat? Bagaimana keadaannya saat ini? Tak lama getir halilintar menyambar dengan kilatan sinar yang menyilaukan mencoba untuk memecah keheningan malam hingga terdengar menyeramkan.. Hati ini semakin gelisah memikirkan pria yang kucintai bertarung seorang diri hanya untuk meluruskan kesalahpahaman dan juga nama baik yang sudah tercoreng buruk rupa.
“ Tidak bisa tertidur?”
Ucap Guan Lin yang menghampiri kemuning yang sedang terduduk
“ Aku.. Betapa bodohnya aku! Tanpa bertanya padanya, aku....”
Kemuning mengepalkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya
“ Satu sisi kau adalah Abdi istana, dan satu sisi kau harus melawan titah karena pria yang kau cintai. Kemuning, kau tidak bersalah sama sekali. Aku pikir Atma pun tahu dan mengerti hal itu.”
Guan Lin yang berbicara dengan melayangkan pandangannya pada langit
“ Aku pikir kata hati ini murni, namun tanpa berpikir 2 kali, aku menjatuhkan harga dirinya begitu saja.. Terlebih pada apa pun yang aku lakukan, apa pun yang aku perbuat, tidak pernah selintas pun Atma meragukanku bahkan membantuku memecahkan masalah itu. Tidak sepertiku yang.....”
“ Hentikan menyalahkan dirimu sendiri. Saat ini yang paling penting adalah kesembuhan Caka dan kita harus berhasil menemukan dimana tempat mereka menyembunyikan peralatan perang itu. Dengan begitu semua keadaan akan baik baik saja..”
Guan Lin yang memandang kemuning dengan tersenyum
“ Sejak kapan kau menyukai Xia He?”
“ Kemuning, ternyata kau memang wanita yang mengesankan dengan berani bertanya hal seperti itu padaku..”
Guan Lin dengan sedikit tertawa menundukkan kepalanya
“ Ma.. Maafkan aku. Aku hanya mer..”
“ Lupakan tidak apa apa.. Xia He datang saat keterpurukan akan harkat dan martabatku dipertaruhkan. Sama seperti yang Atma lakukan padamu..”
Guan Lin yang kembali tersenyum kepada kemuning
“ Apa dia akan baik baik saja?”
“ . . . . . . Kaisar merupakan sosok yang sangat tegas namun bijaksana. Aku yakin Atma pun tahu apa tujuannya dan apa yang akan dilakukannya saat berada disana. Karena, saat kami berlatih pedang dan melakukan latihan bersama, Atma dapat mengalahkanku dan kemampuannya dalam menyusun rencana perang. Harus kuakui, kami pun terkagum padanya.”
“ Benarkah? Aku harap yang kau katakan benar. Jika tidak, entah hukuman diri seperti apa yang harus aku lakukan, jika sesuatu terjadi padanya..”
“ Dibalik ini semua, masih ada hal penting yang harus kita lakukan. Kemuning, bersiaplah. Teguhkan hati dan pikiranmu dengan begitu aku yakin, Dia akan baik baik saja.”
Guan Lin kembali tersenyum, menepuk pundak kemuning pelan dan berjalan meninggalkannya
Benar sekali. Meskipun rasa kekhawatiran ini tak kunjung akan terhenti sampai dapat aku pastikan dengan melihat dirinya berdiri dihadapnku secara langsung maka akan aku jadikan hutang ini akan terbayar sebelum Atma kembali dan aku tidak kehilangan muka untuk menatap wajahnya kembali yang selalu tersenyum dan khawatir padaku.. Atma, entah mengapa langit hujan deras ini semakin membuatku merasa merindukan kehadiranmu dan ingin sekali berbagi semua kesedihan dan kebahagiaan yang kau tanggung seorang diri bersamaku maju dengan bergandengan tangan bersama.
. . . . . . . . . . . . . .
Menjelang pagi, seperti biasa Xia He dan Bao Yu mempersiapkan sarapan dengan berbagai macam menu makanan dan minuman yang mengundang selera. Kebaikan mereka sunguh tak tergantikan meski pun aku harus membayarnya dengan kekayaan apa pun, terlebih membantu menyelamatkan nyawa Caka yang sudah membuat kondisi mereka berada dalam kondisi seperti ini.. Merasa lapangnya hati mereka, membuatku menundukkan kepalaku karena merasa malu akan kerasnya hati ini yang terkadang merugikan diri sendiri..
Selesai menyantap makanan dan minuman, aku berjalan menuju ruangan dimana Caka masih tertidur namun Jun Hao merawat dengan mengganti perban ditubuhnya dan memberikan minuman atau makanan cair yang dapat masuk kedalam tubuh Caka untuk memberikan asupan yang dibutuhkannya.. Ingin sekali hati ini untuk membantunya, namun melihat Luka ditubuh Caka saat ini aku pun hanya membantu Jun Hao dari kejauhan dengan tersenyum padanya..
# BRAAAKKK #BRAAAKKKK # DHUUUAAKKK
Suara hentakan pintu masuk yang terbanting dengan sangat keras dan seseorang yang terjatuh
“ KEMUNING!!”
Terdengar suara teriakan dan hentakan dari arah luar.. Dengan berlari aku segera melihat keadaan akan apa yang menimbulkan suara itu hingga menyebabkan kegaduhan ini.. Kembali terdiam dengan penuh terkejut, aku mendapati kedua Bhattara yang mengikuti Raksa dan Bhanurasmi terluka dengan sebuah Busur Panah tepat tertancap di bahu kanan atau kiri mereka.. Tertunduk melipat kedua kakiku aku melihat Anak panah berwarna hijau kekuningan milik Bhanurasmi yang sudah lama tidak kulihat. Dengan sekejap amarah ini kembali membakarku dengan mengepalkan tangan dan mata yang mengiratkan perang selanjutnya akan segera dimulai.
“ Pra.. Prabu Stira...”
Ucap seorang Bhattara mencoba memanggil kemuning dengan lirih
“ Aku disini.. Aku tepat berada disampingmu! Tenanglah, kau akan baik baik saja! GUAN LIN, DONG MING, JUN HAO!!”
Ucap kemuning yang kembali berteriak dengan gusar
“ Tidak, tidak.. Ini.. Ini.. Ambillah... Kami berusaha sekuat tenaga membuat ini saat dalam perjalanan kemari..”
Ucap salah satu Bhattara yang menyerahkan sebuah lembaran kepada kemuning
“ Ini adalah....”
“ Mereka tidak menyembunyikan peralatan perang di sini, melainkan.. Di dalam istana..”
“ Kalian melakukan tugas mulia! Aku yakin Atma pun akan merasa bangga kepada kalian berdua..”
Kemuning menggenggam erat tangan Bharatta tersebut
__ADS_1
“ Tidak, Busur panah ini.. Menancap cukup dalam, di tubuh kami berdua.. Dan kami... Sudah kehabisan banyak darah.. Menuju kemari... UHUKK.. BHUUFFT”
Ucap seorang Bhattara lainnya yang terbata lalu terbatuk memuntahkan Darah
“ Tidak, Tidak! Kumohon simpanlah tenaga kalian.. GUAN LIN, DONG MING, JUN HAO!!”
Kemuning yang mulai menangis berteriak memanggil mereka
“ Kami.. Titipkan perjuangan akhir padamu.. Prabu Stira.. Sampaikan... Salam.. Penghormatan.. Terakhir kami pada... Laksamana.........”
“ Tidak... Bangunlah..!! Bangunlah!! AARRRGGGHHH!! BANGUNLAH!!”
Kemuning yang menangis dengan penuh amarah mencoba membangunkan mereka
“ Kemuning... Kemuning... Sudahlah, Sudah!! HENTIKAN!!”
Ucap Dong Ming yang berlari menarik kemuning dan menahan tubuh kemuning yang memberontak
“ Luka ini.. Lihatlah.. Sebelum mereka terpanah, ada bekas tusukan di dada mereka.”
Ucap Jung Hao yang langsung membungkuk memeriksa tubuh para Bhattara tersebut
“ Apa? Tusukan?”
Tanya Kemuning terkejut
“ Ya, Luka panah tidak mungkin sebesar ini.. Sungguh perkasa mereka dapat mampu bertahan sampai kemari.”
Jun Hao yang mencoba menjelaskan kembali
“ Kemuning, sebaiknya kau lihat kondisi Caka biar kami yang membereskan ini..”
Ucap Dong Ming pada kemuning
“ Ca.. Ka? Apa? Ada apa?.. Apa yang terjadi padanya?”
Kemuning yang langsung menggenggam erat lengan Dong Ming dan menatap tajam
“ Kondisinya terlihat melemah. Kami mencoba menolongnya karena itu kami terlambat datang kemari.. Maaf.”
Berlari menuju ruangan tempat Caka diobati, terlihat balutan kain baru yang dipenuhi darah kembali berserakan dengan tangan Guan Lin yang juga masih terlihat noda darah. Guan Lin memberikan pandangan ibanya dan rasa bersalahnya padaku yang berujung terduduk lemasnya diriku disamping Caka yang saat ini terlihat berat bahkan untuk bernafas. Aku menggenggam erat tangannya dan Caka pun menatapku dengan senyum yang biasa dia berikan ketika menyindir atau menggodaku prihal Atma.. Melihatnya tersenyum menahan sakit seperti ini, entah mengapa hati ini membayangkan Pureswari yang jauh disana menanti kepulangannya dengan hati yang begitu sengsara..
“ Tidak Caka. Kau baik baik saja.. Lihat ini? Ini adalah bukti yang akan membersihkan nama kalian semua dan akan membuat keadaan damai seperti semula.. Bahkan ini aku dapatkan dari para Bhattara perkasa..
Kemuning memperlihatkan selembar peta lokasi yang diberikan para Bhattara
“ Apa mereka.. Terbunuh?”
“ Yaa.. Maafkan aku.. Maaf Caka..”
Kemuning yang menangis penuh luka disamping Caka
“ Ini bukanlah salahmu.. Temukanlah lokasi itu dan balaskan dendam kepada kami semua yang gugur.. Aku yakin kau pasti bisa melakukannya kemuning..”
“ Bicara apa kau Caka? Kau akan baik baik saja! Pures.. Pureswari sedang menunggumu bukan?”
“ Wanita tercantik yang selalu kucintai.. Maukah kau menyampaikan salamku untuknya?”
“ TIDAK! TIDAK AKAN! KAU SAMPAIKAN SENDIRI CAKA! AKU TIDAK MAU!”
Kemuning berteriak dengan menangis, memalingkan tubuhnya dan meninggalkan Caka tanpa membiarkan Caka berkata kata kembali
Cukup sudah semua ini. Bhanurasmi, akan aku layani tantangan Bhumi Candrah Paritah darimu dengan langkah dan hati yang membara akan menuntut keadilan atas semua pengorbanan dan nyawa yang terbuang secara percuma oleh tanganmu dan Raksa. Berjalan menuju kamar untuk mengambil Busur panah dan juga Pedangku, tiba tiba Xia He dan Bao Yu datang ke kamarku dan memerlihatkan tatapan yang meminta waktuku untuk berbicara dengan mereka sebelum aku meninggalkan klinik pengobatan ini.
Bao Yu memberikan sebuah surat lainnya untukku dan meminta agar aku membacanya ketika perang ini berakhir.. Aku membalas Bao Yu dengan tatapan penuh tanya, namun Xia He menghampiri dan menggenggam erat tanganku seolah menyuruhku untuk tidak bertanya dan menyimpan surat itu padaku. Dengan mencoba mengerti apa maksud dari yang mereka inginkan, aku pun memasukkan surat itu kedalam saku selendangku dan memohon pamit kepada mereka berdua yang sedang tersenyum kepadaku.
“ Kembalilah dengan selamat lalu jemput Caka kembali. Akan aku pastikan dia bertahan dan baik baik saja begitu kau dan Atma menjemputnya kemari.”
Ucap Guan Lin yang tiba tiba keluar dari kamar dan menghentikan kemuning berlari
“ Aku titipkan Caka kepada kalian.. Serta.. Terima kasih banyak..”
“ Ucapkan itu setelah kau selesai menumpas mereka semua!”
“ Ya kau benar, kami tunggu kabar baik darimu wahai... Prabu Stira..”
Ucap Dong Ming dan Jun Hao yang tersenyum kepada kemuning
__ADS_1
“ Akan aku pegang janji ini. Aku pergi dahulu..”
“ Kemuning.. Berhati hatilah..”
Ucap Guan Lin yang menatap dalam kepada kemuning
Kaki ini pun semakin berjalan penuh gagah dan juga hentakan lari bagai pukulan palu yang menancap diatas tanah mencoba untuk memberitahu mereka akan ajal kematian akan menghampiri mereka bagi yang melukai hati dengan tangisan pilu atas kehilangan orang terkasih. Mencoba menutupi wajahku dengan selendang ini, namun penjagaan di Dermaga Pelabuhan saat akan menaiki sebuah kapal yang akan berlayar menuju ibu kota sangatlah ketat, mengingat mereka yang sudah mengetahui keberadaan ku di pulau ini. Mau tidak mau, aku harus memikirkan sebuah cara, bagaimana aku bisa.. Tunggu dulu, apa itu adalah....
“ Tunggu, apa ini? Kenapa kalian membawa kotak kayu sebesar ini?”
Ucap salah satu Penjarah Hutan kepada seorang pedagang
“ Silahkan kalian membukanya, ini adalah tumpukan kain sutera yang khusus dipesan para keluarga Bangwasan.. Bagaimana bisa aku membawa kain kain ini dengan kotak kayu yang kecil?”
Ucap pedangan itu menjelaskan
“ Lalu, apa isi kotak yang satunya?”
“ Sama seperti kotak ini! Janganlah mempersulit kami para pedagang.. Apa kau tahu harga kain ini jika sampai kotor atau terobek? Kau mau menggantinya? Terlebih kain kain ini untuk keluarga Bangsawan Istana!”
“ BERISIK! MASUKLAH SANA DAN BAWA KOTAK KAYUMU!”
“ Terima kasih.. Apa yang kalian tunggu? Bawa Kotak kayu ini kedalam kapal!”
Ucap Pedagang itu kepada anak buahnya
Bersembunyi didalam kotak kayu berisi kain kain ini, sungguh merupaka suatu keberuntungan besar bagiku agar tidak ada siapa pun yang mengenaliku dan bisa berlayar menuju ibu kota. Jantaka adalah salah satu pedagang yang biasa datang ke Bale Kediaman ku untuk menjajakkan kain dagangannya kepadaku, Pureswari, dan juga Ibunda. Jadi, dapat dipastikan Jantaka sudah sangat mengenalku dan keluargaku karena kami selalu membeli kain untuk pakaian kami kepadanya. Terdiam menunggu dengan sabar hingga kapal ini mulai berlayar, terlihat orang orang berlalu lalang didalam kapal ini dan jujur baru kali ini aku mengetahui bagaimana kondisi saat kita akan berlayar..
#TOOKKKK #TOOOKKK #TOKKKK
“ Gusti Raden Rara Kemuning keluarlah, keadaan sudah aman..”
Ucap Jantaka dengan memukul atas kotak kayu
“ Terima kasih banyak Jantaka..”
Kemuning membuka tutup kotak itu dan dibantu Jantaka untuk keluar dari dalam kotak
“ Baru kali ini aku berlayar.. Jadi seperti inikah kondisi di kapal saat berlayar?”
“ Jangan sampai kau mabuk Laut karena pelayaran ini tidak memerlukan waktu yang cukup lama.. Senja nanti kita sudah sampai di Pelabuhan Ibu kota..”
Sindir Jantaka yang selalu bercanda kepada kemuning
“ Masih saja tidak berubah.. Kau menyebalkan..”
Balas kemuning dengan tersenyum
“ Jadi, katakan.. Siapa yang akan kau bunuh?”
Ucap Jantaka dengan berbisik kepada kemuning
“ Cara kau berbicara sungguh terdengar seolah aku adalah seorang srigala pembunuh!”
“ Apa aku salah? Kau adalah Singa Pembunuh!”
#BRAAAKKKK #AAOOWWWWIIHH...
“ Berhenti berteriak seperti wanita.. Kau adalah laki laki!”
Ucap kemuning yang memukul kepala Jantaka dengan sarung pedangnya
“ Beberapa waktu lalu, aku melihat Canthibharawa bersama Anubhawa berlayar dengan kapal mereka.. Sepertinya mereka juga menuju Ibu Kota..”
Ucap Jantaka yang tiba tiba berkata serius kepada kemuning
“ Apa anak buah pasukannya juga ikut serta bersama mereka?”
“ Ya, dengan pedang dan perisai ditangan mereka..”
“ Sepertinya persiapan rencana mereka sudah matang..”
Kemuning yang mengalihkan pandangannya kedalam arus ombak
“ Apa yang terjadi? Apa akan terjadi peperangan?”
Jantaka yang bertanya dengan penuh rasa ingin tahu
__ADS_1
Terdiam mendengat pertanyaan Jantaka, aku menadahkan kepalaku kepada langit atas yang mulai berwarna merah dan jingga, pertanda senja akan datang.. Hembusan angin yang kencang membuat selendang yang menutupi wajahku terbuka sehingga dapat dengan mudah aku menghirup udara disenja yang aku harap dapat aku lihat kembali suatu hari nanti bersama Atma berlayar menuju suatu tempat untuk menenangkan hati dan pikiran kami setelah semua ini berakhir.. Atau akankah ini menjadi senja terakhirku?
“ Jantaka, pertanyaanmu tadi.. Aku jawab dengan, Peperangan hanya menimbulkan kesedihan. Hindarilah selama kau bisa..”