Sabda Batari

Sabda Batari
Lurusnya Hati


__ADS_3

Berada dalam pelukan yang hanya bisa dirasakan dalam hitungan detik, kembali aku menyadarkan diri dan menadahkan kepalaku kepada Atma untuk menatapnya.. Entah hanya perasaanku saja, atau dia terlihat sedikit lebih tirus? Apa dia tidak bisa makan serta beristirahat karenaku? Tangan ini mencoba untuk menyentuh wajahnya yang terasa hangat hanya untuk meyakinkanku bahwa dirinyalah yang berada tepat dihadapanku.. Gerakan mulutnya yang mencium lembut tanganku akhirnya membuat kami tersenyum satu sama lain, tanpa perlu mengatakan banyak hal karena dapat terlihat jelas perasaan kami berdua dari tatapan yang tertuju padaku dan padanya..


#BRAAAKK #BRAAAKKK


“ HEY! HATI HATI! Coba segera kau angkat kotak kayu itu dan bawa kedepan.”


Suara hentakan kotak kayu yang berbenturan saat dibawa oleh salah satu penjaga istana


“ Kemuning?”


Ucap Atma yang merasa kebingungan disaat kemuning menarik tangannya yang hendak berpindah tempat


Tanpa berkata kembali, aku menundukkan kepalaku dan melihat kondisi di area Dermaga Pelabuhan saat ini. Dari ujung hingga ujung mata memandang, anak buah dan para Penjarah Hutan masih dalam perjalanan menuju kemari. Dengan sigap aku melepaskan mahkota perkasa dikepala Atma serta ikatan emas tanda seorang ksatria yang mengikat pada kedua tangannya yang kekar. Kembali menyuruhnya untuk membawa pedang ksatrianya dengan disembunyikan, selendang kain ini pun aku robek menjadi 2 bagian yang akan digunakan untukku dan juga Atma.


Dengan terdiam tanpa bertanya, Atma mengikuti maksud dari pergerakanku dan dengan keramaian ini aku memberikan isyarat kepada Atma untuk mengikutiku dan menyamar diantara kerumunan warga yang saat ini sedang menyambut di sekitar Dermaga Pelabuhan.. Dengan sigap dan berhati hati, Atma langsung mengambil alih dengan berjalan tepat dihadapanku seolah dia siap menjadi Tameng Perisai jika terjadi sesuatu padaku.


Langkah Atma tiba tiba terhenti tepat disaat melihat kereta kuda yang sepertinya sangat dia kenali dengan expresi wajah yang penuh terkejut dimana Raksa dan Bhanurasmi tepat berada didalamnya berkendara menuju Dermaga Pelabuhan. Tersadar akan Atma yang membatu, aku menyentuh lembut pundaknya hingga Atma sedikit terkejut dan menatapku kembali..


“ Ada apa Atma?”


Ucap Kemuning kebingungan


“ Kereta kuda itu. Kemuning, apa kau tahu siapa yang berada didalamnya?”


“. . . . . . . . .”


Kemuning yang terdiam mendengar pertanyaan Atma


“ Kemuning? Aku bertanya, apa kau mengetahui siapa yang berada didalam kereta kuda itu?”


Atma menatapku dengan perasaan penuh tanya dengan tatapan yang begitu serius.. Tertunduk kepala ini mencoba untuk mencari penjelasan yang baik untuknya disaat pria yang berada dalam kereta kuda itu adalah Raksa yang tidak lain sehabat dan rekan seperjuangan Atma di medan perang. Teringat akan reaksinya terakhir kali yang begitu emosional, aku takut Atma akan kehilangan kendali disaat melihat Raksa saat ini, terlebih karena saat penyerbuan itu hanya Guindra yang tertangkap sedangkan Raksa berhasil melarikan dirinya.


Atma masih memandangiku dengan pandangannya yang menunggu jawaban dariku atas pertanyaan yang masih belum kujawab. Entah apa yang terjadi, tiba tiba sebuah pondok rumah warga yang dimana aku dan Atma sedang bersembunyi, digeledah dengan paksa oleh salah satu anak buah Raksa dan seolah melakukan kekerasan memukul suami dari keluarga ini dan terlihat begitu menyakitkan ketika melihat tangan pria itu menjambak rambut sang istri hingga terlihat begitu kesakitan dengan tangisan anak anak mereka yang ketakutan, terduduk diatas lantai tak berdaya. Atma yang mengetahui sifatku, langsung mengurungkan niatku dengan menahan tanganku untuk membuka sarung pedang dan memintaku untuk mendengar pembicaraan mereka terlebih dahulu.


“ Kudengar kalian tidak menyerahkan semua beras kepada Canthibirawa untuk dibagikan?!”


Ucap anak buah Raksa dengan mencekik leher pria itu


“ Ji..Jika kami memberikan.. Se, semua hasil pa, panen kami.. Kami akan kelaparan..”


Ucap pria itu mencoba menjelaskan dengan kesulitan bernafas


“ Kelaparan? Jadi kau tidak takut kehilangan nyawa istri dan juga anak anakmu ini?”


Ucap anak buah itu dengan mengarahkan pedang kepada istri dan anaknya


“ Tidak. Kumohon jangan.. Am, ambilah semua beras itu.. Tapi kumohon, jangan membunuh anak dan is, istriku..”


“ DIMANA KAU MENYEMBUNYIKAN BERAS ITU?”


“ Di.. Di lumbung yang tertutup oleh kendi kendi..”


“ Seharusnya kau katakan itu sejak awal, jadi kami tidak perlu kesusahan seperti ini karenamu!”


“ Bagaimana jika kita bersenang senang dulu?”


Ucap salah satu anak buah Raksa yang menarik Rambut istri pria itu dengan pisau yang mengarah pada kain dibajunya


#SHUUTT #SHUUTT #SSHUUUT


Suara anak panah yang dilepaskan oleh kemuning dari atas pohon menggunakan Busur panah milik Atma menggores tepat pada pundak para anak buah Raksa


“ APA?? SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN INI?”


“ KELUARLAH HADAPI KAMI!”


Ucap dua anak buah Raksa lainnya yang merasa kesal


“. . . . . . . . . . . “


Diamnya kemuning dan Atma yang bersembunyi dari atas pohon


“ SIAL! SIAPA YANG MELAKUKAN HAL INI! CEPAT KITA HARUS MENGAMBIL BERAS ITU!”

__ADS_1


“ APA KAU BODOH? DENGAN LUKA INI? KAU INGIN BERAS ITU TERKENA CECERAH DARAHMU DAN MEMBUAT CANTHIBIRAWA MARAH?!”


“ Kau benar. Kita harus cepat mengobati luka ini!”


Para pasukan Raksa yang berlari meninggalkan Rumah suami istri tersebut


Melompat bersama Atma dan berlari menuju hutan dibelakang, kami mengikuti arah tujuan mereka dimana terdapat sebuah lahan dengan terdapat sebuah kediaman tidak jauh dari Pelabuhan Dermaga menuju kearah Hutan di tebing bukit. Para pasukan ini terlihat sangat jelas bahwa mereka adalah para Penjarah Hutan Tengah yang berhasil melarikan diri dari serangan yang kulakukan bersama pasukan pemberani dan berlindung kemari. Aku dan Atma berpencar menjadi 2 arah kanan dan kiri untuk memantau dan melihat kondisi tempat ini dan apa yang mereka sembunyikan hingga memiliki penjagaan yang sangat ketat.


Namun, ditengah sedikit lagi langkah kami mengetahui apa isi dari Kediaman itu, Kereta kuda milik Canthibirawa datang dan menutupi jalan masuk sehingga menghalangi pandangan kami. Melihat sekitar kami dengan banyaknya pohon pinus yang menjulang tinggi begitu ramping namun lebat, sangat tidak mungkin bagiku dan Atma untuk memanjat dan bersembunyi di balik Pohon Pinus ini. Tak lama pintu kereta kuda pun terbuka, disaat aku menyadari dengan sedikit melupakan fakta bahwa Raksa berada didalam kereta kuda itu, akhirnya Atma pun melihatnya.


Dengan tatapan penuh amarah dan kerasnya, Atma terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan nafas tak beraturan dan mulai terlihat akan menyelinap masuk kedalam untuk membunuhnya. Namun dengan sigap aku menarik dan menyandarkan tubuh Atma pada balik Pohon Pinus ini dan menatapnya penuh permohonan.. Nafas Atma pun mulai terasa stabil dan aku pun melepaskan genggaman tanganku dan menariknya untuk berlari kembali ke pesisir pantai..


“ Kemuning. Jelaskan padaku!”


Ucap Atma yang menarik tangan kemuning dan menatapnya ketika berada di pinggir pantai


“ Raksa.. Dia mengganti nama menjadi Anubhawa. Disini dia kenal dengan sebutan itu.. Sedangkan Canthibirawa.. Dia adalah Bhanurasmi.”


“ APA?”


Atma yang terkejut tanpa sadar begitu menggenggam erat tangan kemuning


“ Ya.. Aku pun terkejut mengetahui bahwa dia masih hidup dan bersembunyi disini..”


“ Lalu mereka berdua, adalah..?”


“ Sepasang kekasih.. Dan pesisir pantai ini, seperti wilayah kekuasaan mereka dengan menggunakan status yang berbeda.”


“ Apa dia juga memiliki Pondok yang sama sepertimu seperti yang diberikan Gusti Agung Ratu?”


“ Ya Atma.. Aku sudah menyelidikinya. Para penjaga dan juga dayang yang bekerja disana terlihat mendapatkan pelatihan dari istana.. Jadi tidak mungkin rakyat biasa..”


“ Ternyata benar. Guindra, Diajeng, dan yang tersebut dalam Tasara itu hanya sebagai pengalihan dan dikendalikan oleh mereka berdua. Aku melakukan pemeriksaan kepada Guindra dan secara tidak sengaja dia mengatakan, mereka akan datang menolongku lalu Guindra mengancamku.”


Atma melepaskan genggaman tangannya dan melayangkan pandangannya kearah lain


“ Kau benar Atma. Bhanurasmi dan Raksa begitu mengenal kondisi didalam istana, jadi akan sangat mudah bagi mereka untuk melakukan ini semua..”


“ Lalu, tempat persembunyian alat alat perang berbahaya?”


“ Itu juga yang sedang aku lakukan pemeriksaan dan pemantauan bersama beberapa rekan yang baru kutemui..”


“ Rekan?”


Berjalan dengan setengah berlari dengan saling menggenggam tangan dengan Erat, aku menarik Atma menuju sebuah jalan yang memutar pesisir pantai yang berada di belakang pekarangan Rumah warga agar tidak ada yang curiga dan juga menghindari jalan utama disaat mereka semua sedang sibuk dengan kedatangan para Abdi istana. Atma terlihat begitu serius seperti biasanya dengan kewaspadaan yang terlihat lebih memuncak karena dapat terlihat jelas olehku di wajahnya yang sedikit terlihat pucat hingga kami pun sampai di klinik pengobatan milik Guan Lin..


“ Kau.. Selama ini berada disini?”


Ucap Atma yang berjalan mengitari klinik dengan membuka selendang kain diwajahnya


“ Ya, merekalah yang membantuku untuk menyembuhkan ini...”


Kemuning yang terduduk pada sebuah bangku memperlihatkan Bekas Luka di bahu dan kakinya yang masih terlihat memar dan kemerahan


“ Kemuning.”


Atma yang terkejut langsung menundukkan tubuhnya dan memeriksa luka ditubuh kemuning


“ Aku sekarang sudah jauh lebih baik.. Tenanglah..”


Kemuning tersenyum pada Atma dan menyentuh wajah Atma


Atma kembali berdiri dan aku pun memberikan sedikit pengenalan padanya mengenai tempat ini. Klinik akupunktur pengobatan khusus dari negeri Cina dimana hanya beberapa orang saja yang bisa mempelajari pengobatan ini.. Atma melihat dengan seksama seolah dia terlihat aneh dengan apa yang ada disekitarnya. Melihat reaksi Atma yang tidak seperti biasanya, aku pun mendekatinya dan menyentuh tangannya dengan tatapan penuh tanya menunggu penjelasan darinya..


“ Tempat pengobatan ini.. Apa milik orang tiongkok yang datang dan berdagang kemari?”


Ucap Atma yang menatap kemuning


“ Ya.. Namun Atma, ternyata itu semua hanya penyamaran yang dia gunakan. Sebenarnya mereka bukanlah pedagang..”


“ Kemuning, apa maksud perkataanmu?”


“ Mereka adalah pa..”

__ADS_1


“ Kemuning? Kau sudah pul... KAU??”


Ucap Guan Lin yang terkejut ketika melihat Atma berada di klinik pengobatannya


“ Lucu sekali. Jadi disinilah kau dan anak buahmu bersembunyi?”


Atma yang tiba tiba berdiri dengan memegang sarung pedangnya seolah sigap akan menyerang dengan menatap Guan Lin tajam


“ Hentikan omong kosongmu! Keluarkan pedangmu jika kau berani menghadapiku!”


Guan Lin yang juga tiba tiba mengambil posisi menyerang dengan menundukkan sedikit tubuhnya dengan sebuah pedang ditangannya


“ Tunggu! Apa yang kalian lakukan?”


Ucap kemuning yang kebingungan dengan berdiri diantara Atma dan Guan Lin


” Kemuning menyingkirlah.”


Ucap Atma tegas


“ Tidak! Katakan padaku ada apa ini? Ada apa dengan kalian? Bukankah kalian baru bertemu?”


“ Kau yang menjelaskan, atau aku yang menjelaskan padanya?”


Ucap Guan Lin kepada Atma


“. . . . . . . . . . . .”


Atma yang terdiam dengan berdiri tegap mendengar perkataan Guan Lin


“ Baiklah jika begitu. Kemuning, apa kau tahu siapa Pria ini? Apa kau mencintainya?”


“ Guan Lin, apa maksud dari perkataanmu?”


“ Pria inilah yang datang ke negara kami dan membeli semua perlengkapan alat perang itu! Dia adalah penjahat yang sebenarnya.”


Ucap Guan Lin yang menunjukkan arah pedangnya kepada Atma


“ Ap... Apa? Ulangi sekali lagi yang kau katakan Guan Lin..”


“ Pria ini datang bersama beberapa orangnya dan membohongiku dan pasukanku! Sebelumnya dia datang memberikan kabar akan menjalin kerja sama dalam pertahanan dan melakukan latihan bersama sama. Dengan ini istana pun setuju dan memberikan komando kepadaku. Namun, dia dan anak buahnya, MEMBUNUH SEMUA ANAK BUAHKU DAN MENGAMBIL ALAT PERSENJATAAN ITU DENGAN KAPAL MEREKA SECARA DIAM DIAM DAN MENINGGALKAN PELABUHAN KAMI PADA TENGAH MALAM!”


Guan Lin yang penuh amarah semakin mengarahkan ujung pedangnya kepada Atma


“ Guan Lin, kau tahu aku adalah seorang Prabu Stira. Aku dapat dengan mudah membunuhmu dengan Busur Panahku tanpa mendapatkan hukuman apa pun.”


Ucap kemuning yang memperingatkan Guan Lin jika berbohong


“ Kemuning, tidakkah kau lihat dia diam saja? Itu menandakan apa yang aku katakan adalah benar! HEY KAU! Apa kau tahu akibat dari perbuatanmu? Aku dianggap sebagai Pengkhianat istana dan diasingkan bersama beberapa anak buahku dengan Hinaan dan hukaman yang menyakitkan sebelum kami datang kemari. KAU PANTAS MATI!!”


Guan Lin langsung berlari kepada Atma dengan pedang panjangnya


#TRAANGGG #TRAAANGGG #TRRAAANGGG


#HYAAAHHHH # BRUUAAAKKKK


Suara hentakan pedang Atma dan Guan Lin yang saling menyerah, berakhir terjatuhnya Guan Lin ditanah dengan Atma yang menjuruskan pedang padanya


Berjalan dengan tatapan kosong, aku berdiri dihadapan Atma dan Guan Lin saat ini. Dengan menundukkan sedikit tubuhku, Pedang ksatria Atma begitu sangat tajam terlihat dengan mengalirnya darah dari tanganku yang menahan ujung pedang agar Atma untuk melukai Guan Lin.. Tanpa melihat wajahnya, Pedang itu pun Atma jatuhkan dan terlihat langkah kakinya yang berjalan mundur.. Suasana menjadi sangat hening hingga suara burung berkicau pun dapat terdengar sangat jelas olehku.. Hembusan angin yang menerbangkan daun daun pun menempelkan dirinya diatas tanganku yang saat ini berlumuran darah tiada henti.


Guan Lin yang melihat kondisi tanganku dengan wajah yang masih terasa terkejut, langsung mengambil sapu tangan yang berada didalam pakaiannya dan mengikatkan pada Luka ditanganku. Sedangkan aku masih saja tidak memberanikan diriku untuk menatap wajah Atma yang berdiri tepat disebelahku karena perasaan dan pikiran ini begitu sangat mengusik seolah menghancurkan seluruh pemahaman yang aku percayai. Terdiam dan hanya terdiam, baik Atma maupun diriku, kami tidak berbicara sama sekali dan entah mengapa kedua kaki ini terasa melemah hingga aku pun terduduk tepat disampin Guan Lin yang sedang menekan Luka pendarahan ditanganku agar tidak semakin banyak darah yang mengalir dari dalam tubuhku.


Langkah kaki itu pun semakin berjalan mundur dan mulai menjauhiku hingga akhirnya tidak kulihat kembali seolah menghilang terbawa hembusan angin.. Tanpa sadar air mata pun menetes tak tertahan dengan tubuh yang masih kokoh terduduk tegap ditemani kegundahan yang menyelimutiku disaat Sumpah abdi pada istana yang mengharuskanku untuk menjuruskan Busur Panah kepada Pria yang kucintai atau penetapan hati yang mengesampingkan itu dengan menurunkan Busur Panahku..


“ Kemuning..?”


“ Guan Lin.. Haruskah kulepaskan Busur Panahku padanya?”


“ Kemuning.. Maafkan aku..”


Berdiri dengan ketetapan hati dengan segera berlari menuju kamarku, aku mengambil Busur Panahku dan kembali berlari menuju Pintu utama dimana Atma terlihat memandangku dengan tubuhnya yang tidak melakukan perlawanan.. Darah semakin mengalir deras dari tangan ini disaat aku mencoba menarik Busur Panah ini dan mengarahkannya pada Atma dengan Air mata yang semakin tak tertahankan disaat Atma hanya terdiam memandangku dari kejauhan. Lakukan perlawanan Atma! Kumohon lakukan perlawananmu padaku! KENAPA KAU HANYA TERDIAM SEPERTI ITU, ATMA!! KUMOHON.. LAWANLAH AKU, ATMA..!


“ Kumohon.... Atma.... Larilah...”

__ADS_1


__ADS_2