Sabda Batari

Sabda Batari
Penjelasan Hati


__ADS_3

Menarik nafas dan terduduk termenung mencoba untuk menghembus udara malam dengan angin yang terasa tak begitu sejuk menyapaku.. Langit malam pun terlihat begitu berbeda dengan perginya bintang bintang yang bersinar soealh berada tepat dihadapanku tanpa perlu menggunakan cahaya sinar lampu.. Mencoba berdiri tegar untuk semua yang terjadi, kembali aku mencoba menghargai pemberian seseorang dari pria yang kucintai dengan menggunakan hiasan rambut ini kemana pun aku pergi.. Dengan bentuk hiasan dan bahan yang digunakan, hiasan rambut ini terlihat sangat berbeda seolah merupakan barang langka mewah yang jika dijual akan menilaikan uang dalam jumlah besar..


Berjalan kembali masuk kedalam ruang jamuan makan malam, aku mencoba untuk melepas perbanku dan hanya menggunakan plester luka yang dapat kututupi dengan Poni rambutku. Tidak ada masalah sama sekali dan jamuan makan malam pun berakhir hari ini dengan penuh rasa kepuasan diri yang baik. Mengingat rasa sakit di kepala ini yang tidak kunjung hilang, saat tamu kenegaraan terakhir berjalan menuju kamarnya, aku berjalan menuju halaman hotel yang berada di belakang di samping kolam renang. Terduduk pada sebuah bangku dengan botol minum di tanganku, aku pun meminum obat yang diresepkan olehku dan terduduk sejenak mencoba untuk beristirahat..


“ Kemuning.”


Ucap Atma yang berdiri di hadapan kemuning yang menutup matanya


“ Ya? Ada apa? Kau bisa menghubungiku langsung melalui saluran online jika ingin membicarakan pekerjaan.. Untuk apa menghampiriku seperti ini, membuat orang salah paham..”


Kemuning membuka matanya dan menatap kepada Atma


“ Kau yang sudah salah paham.”


“ Maaf?”


“ Ini sudah diluar jam kerja, jadi aku tidak akan manahan diri seperti tadi siang!”


Atma yang terlihat kesal dengan melepas dasi dan jas yang dikenakannya


“ Ap.. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau lepas dasi dan jas itu? Kau mau berenang?”


“ Berhenti bercanda denganku. Ada yang harus kau tahu, jadi ikut aku sekarang!”


Atma langsung menarik tangan kemuning dengan paksa dan membawanya pergi


Ada apa dengan Atma? Dengan membawaku dan menggenggam tanganku seperti ini akan semakin membuat orang lain yang melihat menjadi salah paham kepadaku.. Mencoba menarik tanganku pun seolah percuma karena Atma dengan sigap kembali menarik dan menggenggam tanganku dengan berjalan melewati lobby utama hotel dimana masih banyak para tamu bahkan para pegawai yang semakin melihat kearah kami.. Tentu saja selain menundukkan kepalaku aku dibawa menuju sebuah mobil sport mewah yang akan dikendarai oleh Atma. Tidak mungkin bagiku untuk naik dan pergi bersamanya.. Berjalan mundur kembali terhadang oleh penjaga hotel yang sedang berjaga dan seolah mengerti isyarat Atma untuk memaksaku masuk kedalam mobil ini.. Atma langsung menancap pegal gas dengan kecepatan diatas rata rata yang membuatku sedikit ketakutan ditengah kota yang masih ramai dengan aktivitasnya. Lalu, mau kemana Atma akan membawaku?


Terhenti pada sebuah villa lama yang berada dibukit kota yang hanya perlu berkendara kurang lebih 1 jam, Atma pun menghentikan mobilnya dan membukakan pintu padaku.. Berjalan menyusuri arah jalan batu bata dengan kayu yang membentang, serta pohon pinus itu.. Seingatku tempat ini adalah tempat terakhir keluargaku dan Atma menghabiskan liburan bersama sebelum mereka meninggal dunia. Untuk apa Atma membawaku kemari? Tapi jika membuka kembali ingatanku, aku pun begitu merindukan tempat ini dimana dulu kami tertawa bersama dan juga menghabiskan waktu yang tak terasa berjalan begitu cepat..


Berjalan memasuki pintu masuk dan anak tangga menuju lantai atas, terhenti langkahku pada sebuah kamar dengan pintu berwarna putih dimana aku selalu tidur dikamar itu karena menurutku kamar itu memiliki pemandangan malam yang indah dari kamar yang lain.. Atma kembali menggandeng tanganku namun masih belum berbicara sama sekali hanya terdiam dengan wajah tampan yang penuh dengan keseriusan.. Hingga akhirnya dia menghentikan langkahnya tepat di depan kamar yang biasa digunakan oleh Papa dan Mama, dan Atma pun membuka pintu kamar itu.. Semua.. Semua barang tidak ada berubah.. Bahkan aku mengingat baju terakhir yang Papa gunakan saat pergi memancing terakhir kali dengan Pak Danu, dengan masih tergantungnya kemeja itu di gantungan baju..


“ Ap.. Apa maksudmu membawaku kemari? Membuatku menangis?”


Kemuning yang berlinang air mata menyusuri setiap lorong kamar


“ Bukalah laci meja kerja ayahmu.. Disana ada sebuah surat, kau bacalah dahulu.. Aku akan menunggumu di lantai bawah”


“ Apa?”


“ Bacalah surat itu dengan baik, lalu kita bicara. Aku tunggu kau dibawah”


Atma membelai lembut kepala kemuning kemudian berlalu dengan menutup pintu


Aku berjalan menuju meja kerja seperti yang Atma perintahkan.. Satu demi satu laci meja ini kubuka dan akhirnya menemukan 2 buah surat dengan warna amplop yang berbeda. Amplop berwarna putih seperti hasil tulisan tangan, sedangkan amplop coklat terlihat lebih besar.. Merasa lebih penting untuk membaca amplop berwarna putih terlebih dahulu, aku membawanya menuju ujung jendela dimana terdapat sepasang kursi dan meja yang biasa digunakan Mama untuk melihat bintang di malam hari.. Perasaan pun menjadi campur aduk karena ketidakpastian dan juga apa isi dari surat surat ini..


*Kemuning anakku.. Putri hiasan permata yang aku pernah miliki dan juga ibumu.. Jika kau membaca surat ini, menandakan kami sudah tidak bisa lagi mendampingi sehari sehari dalam hidupmu karena itu mohon maafkan kami. Kemuning, Papa sebenarnya mengidap Penyakit Alzheimer serta Jantung. Di penghujung ini sebelum kondisi Papa semakin bertambah parah dan Papa masih dapat mengingat semua ini, ada yang ingin Papa dan Mama sampaikan padamu..


Seperti yang kau tahu, Papa dan Mama mengerjakan Riset Penelitian dan membuahkan hasil yang memuaskan. Namun ternyata dibalik itu, ada yang ingin menyalahgunakan itu semua dan hasil Riset serta data data itu pun kami sembunyikan pada suatu tempat di dalam Villa ini yang hanya di ketahui oleh kami dan Atma. Danu dan ayu tidak mengetahui dimana tempat itu karena kami merasa Atmalah yang dapat memegang tanggung jawab ini.


Karena itu kemuning, jika waktunya tiba Papa dan Mama memohon untuk berikan hasil Riset ini pada pemerintahan dan tidak boleh ada satu pun yang tahu akan hal ini. Dan jika saat itu tiba, hanya Atma yang tahu kapan waktu itu tiba dan dia akan menjelaskannya padamu.. Papa dan Mama mohon berikan dukunganmu pada Atma, karena......


Apa ini, kenapa surat ini terhenti? Apa yang ingin dikatakan Papa dan Mama kepadaku? Merasa penasaran, aku kembali membuka Amplop coklat satunya yang terlihat lebih besar dan didalamnya terdapat contoh File Riset, lalu sebuah draft lokasi beserta kunci dan kotak cincin perkawinan milik Papa dan Mama yang dimana cincin milik Papa menghilang, karena digunakan oleh..... Atma?


“ Katakan mengapa kau memakai cincin kawin milik Papa? Bukankah kau akan bertunangan dengan seorang wanita?”


Kemuning yang membuka pintu dengan setengah berlari menuruni anak tangga menuju Atma yang sedang terduduk di Sofa ruangan tengah

__ADS_1


“ Ya, aku akan bertunangan”


“ Kalau begitu bisa kau kembalikan cincin yang dipakai olehmu saat ini?”


Kemuning mengulurkan tangannya pada Atma meminta cincin di tangannya


“ Sebelum itu dengarkan aku. Kemuning, aku melakukan sumpah dihadapan Ayah dan Ibumu kala itu untuk menjagamu. Memang aku memperlakukanmu layaknya seorang kakak kepada adiknya, tapi perasaan ku yang sebenarnya melebihi dari itu”


“ Ap.. Apa??”


“ Ayah dan ibuku berkata jika kau juga adalah wanita yang terbaik untuk menjadi istriku. Dari awal mereka semua mencoba mengatur pertunangan kita, namun karena usiamu yang masih belia, aku meminta mereka untuk mengurungkan niat sampai kau siap.”


“ Atma, aku yakin saat ini kau sedang tidak bercanda.. Jadi, berhenti mengatakan kata kata tidak masuk akal yang membuatku salah paham!”


“ Pikirmu kenapa selama ini aku tidak pernah terlihat dengan wanita mana pun di saat banyak sekali wanita yang sengaja mendekatiku?”


Atma berjalan mencoba mendekati Kemuning hingga berhenti tepat dihadapannya


“ Ka, karena kau belum menemukan yang sesuai denganmu? Standarmu terlalu tinggi? Atau..”


“ Atau aku yang bodoh menunggumu, namun kau menganggap sikapku selama ini hanya karena merasa Iba dan kasihan padamu atau hanya karena kau adik kelasku!”


Atma dengan tangannya secara tegas menarik kemuning


“ Wanita yang dikabarkan akan bertunangan denganmu... itu... Aku?”


“ Aku gunakan cincin ini dihadapan Ayah dan ibumu kala itu saat di rumah sakit tepat sebelum mereka menghembuskan nafas terakhir mereka dengan senyuman. Kecelakaan mobil yang mereka alami jujur menjadi pukulan berat juga untukku yang bercita cita ingin menjadi seperti ayahmu.”


“Apa itu sebabnya kau sering datang ke labolatorium Papa? Lalu kenapa kau mundur dari..”


“ Karena aku ingin melindungimu. Sampai saat ini aku dan ayahku tahu bahwa orang tua mu meninggal karena seseorang yang masih belum kami ketahui”


“ Jadi selama ini kau selalu bepergian keluar kota dan memilih bekerja di bidang ini, hanya karena untuk.. ku??”


“ Kemuning, sejak lama aku sudah menjatuhkan hatiku padamu. Hanya itu yang perlu kau ketahui”


Tatapan matanya begitu sangat dalam dan menjurus tepat kepadaku. Entah mengapa tubuh yang sedang berada dalam rangkulannya ini seolah menjadi semakin merasa tertarik untuk semakin dekat dengannya hingga dapat terasa jelas hembusan nafas hangatnya yang mengenai wajahku.. Tangan yang mencoba untuk menghilangkan keraguan dengan bersandar pada pundaknya membuat Atma semakin menarikku hingga akhirnya ciuman hangat dan lembut bagai impian yang tidak pernah aku impikan sebelumnya terjadi hingga tanpa sadar kami terbawa suasana yang semakin lama semakin kami terbawa jauh.. Atma menarik dirinya dengan langsung memelukku erat dengan nafas yang tersenggah dan arti dari pelukannya seperti dapat terbaca jelas mengatakan, akhirnya aku memilikimu. Aku yang juga merasa bahagia karena sekian lama menahan perasaan pun membalas pelukannya hingga kami pun menjadi tertawa bersama seolah malu akan kelakukan kami saat ini..


#PRAAANGG #PRAANGGG


Suara pecahan kaca jendela yang dilempar batu keras


“ Ap, apa itu?”


Kemuning yang terkejut dan langsung melepaskan pelukannya


“ Kemuning, tetap di belakangku”


Atma yang dengan sigap berjalan dihadapan kemuning seolah sebagai Tameng tempur


“ Siapa kalian? Dan berani sekali melakakukan hal ini pada rumahku!”


Atma yang menatap kedua pria yang menutup wajahnya menggunakan topeng sarung hitam


“ Berikan saja Draft file itu pada kami. Lalu tidak akan ada yang terluka”


Ucap Salah satu pria bertopeng hitam yang memanggil kedua temannya yang lain

__ADS_1


“ TIDAK AKAN. Langkahi kami jika kau berani!”


Kemuning dengan tegap berdiri disamping Atma dan menggandeng Tangannya


“ Kemuning? Kau yakin?”


Atma yang melihat kearah kemuning dengan expresi bertanya


“ Hmm.. Anggap saja aku pernah menjadi ksatria wanita yang pandai menggunakan Busur panah dan Pedang.. Tapi, apa di rumah ini ada benda itu? Pedang atau..”


“ Dikamarku ada sebuah pedang samurai yang kubeli online sebagai pajangan di din..”


Atma yang berbisik kepada kemuning terhenti melihat kemuning yang langsung berlari


“ HAH! Sepertinya wanita mu takut dan melarikan diri.. Terlebih saat melihat benda di tanganku ini.”


Seorang pria bertopeng hitam mengeluarkan sebuah senapan dari dalam jas kulit yang dikenakannya


“ Omongannya saja tinggi dengan lantang berani mengancam kami, setelah tahu kalah jumlah dia lari.. AHAHAHAA”


Ucap pria bertopeng hitam lainnya dengan penuh tawa hina


#TRAANGGG  #TRAAANNGGG #TRAANGGG


Suara sarung besi pedang samurai yang di hentakkan kemuning keatas tiang anak tangga sambil berjalan maju dengan penuh percaya diri menuju Atma


“ Aku? Melarikan diri? Yang benar saja! Bagiku jumlah kalian sangat sedikit. Majulah..”


Kemuning membuka sarung pedangnya dan langsung mengambil posisi siap untuk bertempur


“ Kemuning, apa yang..”


Atma yang langsung terdiam melihat kemuning yang langsung berlari


#HYAAAHHHH


#DOORR #DOORR #DORR #TRANGG #TRANGGG 


Suara kemuning berteriak lantang maju tanpa ragu dengan kibasan pedang ditangannya melawan pria topeng hitam yang membawa senapan


Dapat terlihat jelas olehku gerakannya yang hanya mengandalkan pistol ditangannya dengan gerakan bagai robot yang kaku.. Jika dibandingkan dengan para Penjarah hutan tengah, mereka sama sekali jauh dibawah level mereka meskipun para Perjarah hutan itu tidak menggunakan senapan sama sekali, namun gerakan mereka 3X lebihcepat dan lebih gesit dari pada mereka yang hanya terdiam melihatku berlari kearah mereka.. Tersenyum bangga dengan mudah dapat ku kalahkan mereka semua dari keempat pria itu hanya 1 yang Atma tangani.. Melihat kepadaku dengan penuh terkejut Atma langsung berjalan kearahku dan memegang tanganku dengan pelan lalu mengambil pedang di tanganku dengan wajah gugup nya.. Aku yang merasa geli melihat expresinya pun hanya tertawa membayangkan jika Atma pada masa ini tahu apa yang menimpaku pada masa lainnya, mungkin dia tidak akan mengijinkanku untuk keluar dari rumah..


Tak menunggu waktu lama, terlihat 2 buah mobil datang dengan beberapa pria gagah layaknya pasukan khusus menerobos masuk ke dalam Villa dan langsung menangkap para pria bertopeng hitam itu dan membawa mereka langsung entah kemana.. Sesaat terlihat seorang pria gagah itu melepas helm yang digunakannya dan ternyata itu adalah Caka. Caka melihat kearahku dan menundukkan kepalanya dengan sedikit senyuman di wajahnya dan langsung berlalu pergi.. Entah mengapa moment seperti ini membuatku merindukan masa dimana sebelumnya tidak pernah terbayang akan terjadi. Apa mereka baik baik saja? Ditengah cahaya bulan, tersadar pada jendela kaca yang kulewati, kulihat hiasan rambut pemberian Atma seolah bersinar dengan begitu indah hingga tak sadar aku mengambilnya dan  seolah berbisik kembalilah sampai semua ini kembali seperti seharusnya..


“ Kemuning, kau sedang apa? Kita kembali ke hotel sekarang, besok bukankah pertarungan sebenarnya dimulai? Jam berapa Pak Presiden akan datang?”


Ucap Atma yang menghampiri kemuning yang terdiam didepan jendela kaca pintu masuk


“ Pukul 13.00 siang selepas istirahat dan jamuan makan siang.. Atma, mereka mau dibawa kemana oleh Caka?”


“ Mungkin menikmati liburan akhir pekan di penjara siksaan. Mereka sudah lama mengincar draft yang ada ditanganmu.”


“ Sikap sarkastikmu masih saja terdengar lucu.. Lalu jika pulang, bagaimana dengan kaca jendela yang pecah itu?”


Ucap kemuning sembari menunjuk kearah jendela


“ Tenang, ada assisten rumah tangga yang akan mengurus itu.”

__ADS_1


Atma menarik tangan kemuning untuk masuk kedalam mobil


Berjalan kembali mengitari penatnya ibu kota yang masih saja terlihat ramai dengan berbagai aktivitas yang begitu hingar bingar.. Teringat pada suasana tengah pasar di ibu kota pada masa itu, dimana Pureswari dan aku masih dapat berjalan kaki dengan bebas tanpa memikirkan polusi atau pun kendaraan besi yang melewati dengan kecepatan tinggi.. Ayahanda dan Ibunda.. Apakah saat itu terakhir kali aku dapat melihat mereka? Jika benar, entah mengapa hati ini masih terasa sesak..


__ADS_2