Sabda Batari

Sabda Batari
Kenangan Pekat


__ADS_3

Hembusan menerpa begitu kencang dapat terasa jelas seperti menmpar wajahku yang terluka dan terasa sakit saat terkena hempasan deburan air arus laut utara. Tersadar aku berada di sebuah bibir pantai dimana terdapat rata rata orang yang berbeda sekali dengan penampilanku saat ini. Sekujur tubuhku terasa amti rasa ditemani retakan pada kaki kiri yang terkena pukulan batu karang saat aku terjatuh bersama dengan Diajeng.. Mencoba mengatur nafas dan bersikap tenang, aku bentangkan tubuh ini untuk berbaring dan juga mengatur suhu tubuhku yang terasa begitu dingin menusuk tulang tulang dalam tubuhku.


Suasana terasa ramai melihat para mata yang kembali menatapku saat ini seolah mereka merasa aku adalah objek hiburan yang sayang untuk dilewatkan. Mencoba untuk terduduk dan melihat mereka yang saat ini menatapku dengan pandangan penuh curiga dan juga penuh tanya, aku kembali menundukkan kepalaku mencoba untuk menerima kenyataan yang berada dihadapanku saat ini karena mereka terlihat begitu jauh berbeda denganku meski pun aku sendiri berasal dari ruang dimensi waktu yang berbeda dengan semua yang berada di sini.


Rambutnya disisir ke arah belakang lalu dikuncir. Membuat dahi kepala itu terlihat sangat lebar.. Sementara mata mereka sipit dengan pelupuk mata yang tebal. Hidung besar dan luas namun dapat terlihat meninggi atau biasa disebut mereka dengan Mancung. Bentuk mulut mungil dan bibir sedikit tebal dan menggunakan pakaian kurung berlengan panjang dengan kancing yang berjejer dari perut hingga ke dada mereka, dan leher baju meninggi sampai menyentuh dagu. Dapat kupastikan saat ini aku sedang dikeliling oleh orang orang yang berasal dari luar kerajaan yaitu Tiongkok, Cina.


“ Apa kau baik baik saja?”


Ucap salah satu pria tiongkok kepada Kemuning


“ Kau.. Bisa berbahasa kami?”


Ucap kemuning dengan sedikit terkejut


“ Bukankah kita sudah lama menjalin hubungan kerja sama? Bagaimana mungkin sebagai pedagang kami tidak mempelajarinya.”


“ Baiklah.. Maaf, bisakah kau me.. AARRRGGGHH!!”


Kemuning yang kembali terduduk setelah mencoba berdiri karena merasa sakit pada kakinya


“ Jangan bergerak! Biarkan aku mengobatimu.”


Ucap Pria tiongkok itu kembali kepada kemuning dan menggapai tangannya pada seseorang yang berada dibelakangnya yang langsung membawa tas berisi perlengkapan pengobatan


“ Apa.. kau seorang Tabib dan bukan seorang pedagang?”


“ Anggaplah begitu.. Maafkan atas ketidaksopanan kami. Aku adalah Guan Lin, pria di belakangku adalah assistenku Dong Ming dan Jun Hao. Lalu kedua wanita itu adalah rekan sesama tabib sama sepertiku namun mereka masih perlu banyak belajar dariku. Mereka adalah Bao yu dan Xia He.”


Ucap pria itu kembali dengan memeriksa kaki dan juga kepala kemuning yang terluka


“ SENANG BERTEMU DAN BERKENALAN DENGANMU.”


Ucap mereka kepada kemuning


“ Terima kasih, begitu pun aku. Suatu kehormatan dapat bertemu dengan mereka yang menyelamatkan nyawaku..”


Ucap kemuning sembari tersenyum dan menundukkan sedikit kepalanya


Melihat kondisiku yang masih basah kuyup dengan pakaian yang sangat berbeda dengan yang mereka kenakan saat ini, tiba tiba seorang wanita yang menggunakan hiasan panjang menjuntai di kepala mereka yang terlihat sangat anggung, mmberikan sebuah kain untuk membantuku agar tak begitu merasa kedinginan di tengah deburan pantai dan pasir putih ini. Para mata yang memandangku pun sedikit demi sedikit mulai meninggalkanku seolah membiarkanku membantu mereka yang mencoba untuk mengobatiku.


Tersadar akan tempat dimana saat ini sedang berpinjak, aku memutar pandangan dan mengalihkan pikiranku memikirkan dimana aku saat ini? Sepanjang bibir pantai yang tidak jauh dari pelabuhan ini, terlihat beberapa rumah khas yang menyatu dengan masyarakat setempat dimana terlihat sangat berbeda pada jaman ini dimana ornamen ukiran kata kata cina serta lembaran kertas berwarna kuning menempel di depan pintu mereka dengan model bangunan yang juga sangat berbeda. Sejak kapan orang tionghoa menetap disini? Apa ada yang terlewatkan oleh kerjaan atau memang aku yang tidak mengetahui informasi akan keberadaan mereka?


Kembali tersadar pada ingatan nilai sejarah pada masa ini, dimana pelabuhan laut dan sungai menjadi bukti perdagangan global yang cukup maju pada masa ini. Aliran Sungai Brantas yang bermuara ke laut jawa, untuk menghubungkan kawasan pedalaman dengan pesisir. Dan salah satu pelabuhan sungai yang terkenal pada masa ini adalah Pelabuhan Canggu. Banyak sekali kapal yang berlabuh disini, tidak heran jika pelabuhan ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pedagang yang datang kemari.


“ Sepertinya kau akan kesulitan untuk berjalan selama beberapa hari ini. Kau memerlukan tempat untuk menginap agar kami bisa memantau kesembuhanmu. Apa kau memiliki kerabat atau..”


Ucap Guan Lin yang bertanya kepada kemuning


“ Tidak. Tapi mungkin aku bisa menemukan penginapan di sekitar sini”


“ Kau terlihat tidak seperti rakyat disekitar sini. Maaf, boleh aku bertanya siapa dirimu?”


Ucap Guan Lin kembali dengan membereskan tas kotak perobatannya


“ Entah kau pernah mendengarnya atau tidak. Tapi ini adalah identitasku..”


Kemuning memperlihatkan simbol gantungan yang diberikan Gusti Ratu pada Guan Lin


“ Kau... Jadi, kau adalah Prabu Stira yang dibicarakan itu?”


“ Mungkinkah namamu Kemuning? Keturunan Patih Andaru?”


Ucap assisten Guan Lin, Dong Ming dan Jun Hao dengan terkejut


“ Kalian.. Mengenalku?.. Tunggu, bagaimana bisa kau mengenal Ayahanda?”


Ucap kemuning yang juga terkejut


“ Tidak aman berbicara disini, sebaiknya kita kembali ke kediaman..”


“ Ya, dengan begitu kita juga bisa memantau kesembuhannya bukan?”


Ucap Rekan Guan Lin, Bao yu dan Xia He

__ADS_1


“ Baiklah. Maafkan aku, maukah kau ikut bersama kami? Akan kami jelaskan padamu. Aku tahu terdengar aneh dan mencurigakan, tapi kami sebenarnya adalah mata mata yang dikirimkan kemari untuk memeriksa perdagangan gelap.”


Ucap Guan Lin serius kepada Kemuning


“ Baiklah jika begitu.”


Bao yu dan Xia He langsung membantuku untuk berdiri dan juga memapahku menuju tempat kediaman mereka. Pantas saja, sejak mereka membantuku dan berada di sekitarku, para warga yang berasal dari tiongkok ini langsung menghindari dan mencoba untuk menjaga pandangan padaku.. Apa mereka juga tahu bahwa para pria dan wanita yang menolongku ini adalah mata mata dari negaranya? Jika itu benar maka, akan terjadi masalah besar jika sampai terjadi kesalahpahaman bahkan konflik antara negara jika sampai terjadi bukan? Kenapa Abdi Menteri Istana tidak ada yang memberikan kabar seperti ini kepada Gusti Agung Raja dan Ratu, terlebih para Abdi pelaksana langsung sepertiku, Atma, dan juga Caka.


Kecurigaanku semakin mencuat disaat melewati para warga yang sedang melakukan aktivitas mereka dengan sengaja menutup wajahku dengan selendang yang ku kenakan, untuk mendengarkan mereka berbicara sembari menunggu Guan Lin dan Rekannya membeli beberapa perlengkapan obat obat yang akan kugunakan..


“ Siapa wanita yang diobati itu?.. Apa dia utusan istana yang dikirimkan kemari?”


“ Kalau kulihat dari penampilannya, sepertinya betul wanita itu dari istana..”


“ Perlukan kita memberitahunya? Tapi, jika kita melakukan itu mungkin naywa kita akan menghilang begitu saja! Aku masih memiliki anak..”


“ Tapi, jika wanita itu tahu, siapa tahu saja bisa mengirimkan bala pasukan ksatria untuk membela daerah ini dari para Penjarah Hutan Tengah itu. Terlebih pada.. Canthibirawa..”


“ Huusstt! Berani sekali kau menyebutkan nama itu?”


Ucap beberapa warga wanita pedagang yang berada dibelakang kemuning berbicara berbisik


“ Kemu..”


“ Apa sudah selesai? Kita pergi sekarang..”


Kemuning memotong langsung Guan Lin yang berbicara dengan memberikan pandangan kecurigaan yang membuat Guan Lin terdiam dan mengikuti kemuning di belakangnya ditemani Bao Yu dan Xia He yang membantu kemuning untuk berjalan


Sepanjang perjalan sungguh terasa sakit sekali luka luka ditubuhku hingga jika ingin berkata jujur, ingin sekali untuk tidak terbangun dan berbaring hingga semua luka ditubuhku pulih. Namun, itu semua tidak akan berlaku padaku dimana pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan, siapa itu Canthibirawa? Apa yang dilewatkan Olehku, Atma, dan yang lainnya? Bahkan aku rasa dalam Tasara perjanjian yang di lakukan oleh mereka semua, tidak ada nama Canthibirawa disebutkan didalamnya! Dan kenapa, saat mendengar nama ini, suasana hatiku tiba tiba berubah dan merasa ada yang tidak benar di sini hanya karena sebuah nama yang entah mengapa aku merasa memiliki hubungan dengan nama itu.


Kembali berjalan hingga sampai pada kediaman mereka, dengan keramahan dan penuh kebaikan, mereka semua merawatku hingga akhirnya aku merasa jauh lebih baik meski saat berjalan aku masih memerlukan sebuah tongkat untukku bersandar. Sepenuhnya mereka semua masih belum bercerita padaku tentang siapa mereka dan apa yang mereka selidiki selama berada disini. Namun, selama aku berada di kediaman ini, terlihat mereka selalu berlatih pedang dan dengan klinik akunpuntur pengobatan kecil mereka dirikan ini, cara mereka dalam menyelidiki sungguh sangat pintar dan jauh lebih baik dari semua rencana yang pernah aku dengar.


“ Jadi kalian mencatat semua warga yang datang dengan mendengar keluhan yang terjadi pada mereka?”


Ucap kemuning kepada Guan Lin yang sedang istirahat siang bergantian dengan Dong Ming dan Jun Hao


“ Teh?.. Kulihat kakimu sudah jauh lebih baik sekarang..”


Ucap Guan Lin yang menyeduhkan secangkir Teh pada kemuning dan menarik kursi agar kemuning dapat duduk di hadapannya


Kemuning yang terduduk dengan menaruh tongkat disampingnya


“ Bukan apa apa. Itu adalah salah satu ikrar sumpah pada Raja kami sebelum datang kemari.”


“ Jadi, apa yang kalian rencanakan dan apa tujuan kalian kemari?”


Ucap kemuning yang menatap tajam Guan Lin


“ Aku dan Bao Yu adalah Abdi istana yang diperintahkan Raja untuk menduduki posisi pencatatan di dalam istana. Suatu hari kami menemukan ada kejanggalan yang terjadi di dalam istana saat pemasokan gudang senjata.”


Ucap Xia He yang tiba tiba datang dan duduk disebelah kemuning


“ Jumlah barang yang datang begitu sangat berbeda dengan anggaran pengeluaran istana. Sampai suatu hari, Guan Lin selaku komandan pasukan memeriksa dengan menyamar dan menemukan beberapa alat perang yang berbeda dan terlihat lebih berbahaya..”


Bao Yu yang juga tiba tiba datang dan terduduk disamping sisi Kemuning yang lain


“ Apa alat alat itu memiliki pasir hitam yang berbau menyengat?”


Ucap Kemuning pada Xia He dan Bao Yu


“ Ya kau benar. Kudengar itu menghancurkan kediamanmu bukan?”


Ucap Xia He dengan menyentuh tangan kemuning dengan tatapan penuh iba


“ Ya.. Aku kehilangan seseorang yang sangat penting dalam kejadian itu.”


Kemuning menundukkan kepalanya dengan nada merendah


“ Karena itu akan berbahaya jika sampai jatuh ketangan yang tidak tepat. Saat aku melakukan pemeriksaan, sebuah kapal berlabuh membawa barang barang itu sampai kemari dengan jumlah yang besar dan menyembunyikannya di sekitar sini.”


Ucap Guan Lin pada kemuning


“ Apa? Jadi lokasi persembunyian mereka masih ada yang lainnya?”

__ADS_1


Kemuning yang merasa terkejut


“ Tidak kemuning. Yang kau lumpuhkan adalah lokasi persembunyian utama mereka. Namun lokasi persembunyian alat alat itu masih berada dalam sebuah Pondok yang kudengar hanya bisa dimiliki oleh para bangsawan..”


Ucap Bao Yu pada kemuning


“ Pondok?.. Maksudmu sama seperti yang diberikan Gusti Agung Ratu kepada Prabu Stira terpilih?”


“ Ya kemuning. Kudengar kau juga memilikinya, saat menjadi persembunyian para penduduk desa yang melarikan diri. Sikapmu itu begitu disanjung dan dihormati”


Ucap Guan lin kepada Kemuning


Pikiranku langsung melayang mendengar penjelasan mereka saat ini. Sebuah Pondok yang memiliki penjaga dan beberapa Dayang hanya berlaku bagi mereka yang bukan hanya sebagai Bangsawan, namun bagi kami yang memiliki Titah dan kedudukan yang lebih tinggi dalam istana sebagai tangan kanan Gusti Agung Raja dan Ratu. Dan dalam hal ini, hanya aku dan Atma yang berhak mendapatkan itu.. Dalam hal ini, Pondok yang diberikan pada Atma menjadi tempat berkumpulnya para pasukan Bhattara kerajaan sedangkan Pondokku menjadi tempat persembunyian para wanita dan anak anak itu.. Lalu, siapa yang diberikan Pondok lainnya oleh Gusti Agung Ratu?.... Tunggu dulu..


“Canthibirawa... Apa kalian pernah mendengar nama ini?.. Canthibirawa?”


Ucap kemuning yang menatap serius pada Guan Lin, Bao Yu, dan Xia He


“ Tentu saja. Namun kami belum pernah melihat sosok wanita itu karena dia selalu berada di dalam Pondok itu. Dan jujur, tempat itu juga yang sedang kami coba selidiki namun pengawasan disana begitu ketat!”


Ucap Guan Lin kepada Kemuning


“ Dia juga merupakan bangsawan yang bermurah hati namun terkenal tak memiliki hati kepada rakyat disini..”


Bao Yu yang menundukkan kepalanya pada kemuning


“ Apa maksudmu? Ceritakan padaku.”


“ Kemuning, beberapa waktu lalu seperti biasa Canthibirawa memberikan hasil panen pada para warga membutuhkan.. Mereka semua sangat berterima kasih padanya, hingga tanpa sadar ada sebuah keluarga yang tidak sengaja menjatuhkan hasil panen itu karena berdesakan dengan warga yang lain.. Dan tanpa berbelas hati, Canthibirawa itu... Dia....”


Xia He yang mencoba menjelaskan dengan terbata bata dengan menundukkan kepalanya


“ Dia apa? Katakanlah..”


“ Dia membunuh keluarga itu tepat di hadapan warga lainnya. Dari situ, semua warga merasa takut padanya. Canthibirawa tetap memberikan hasil panennya kepada setiap warga secara sukarela, namun jika ada warga yang menolak pemberiannya, dia akan membunuh keluarga itu tanpa alasan apa pun.”


Ucap Guan Lin dengan serius menatap pada kemuning


“ Kemuning, jujur disaat aku melihat simbol gantungan kerajaan yang ada padamu itu.. Entah mengapa, aku seperti melihat Canthibirawa pun memiliki barang yang serupa, ketika tidak sengaja aku berpapasan dengannya saat berada di perkotaan saat dia melewatiku.”


Ucap Xia He pada kemuning dengan mencoba mengingat kembali


“ Kudengar Canthibirawa bukan nama aslinya, melainkan hanya sebuah gelar.. Tapi aku masih tidak tahu nama asli wanita itu siapa..”


Ucap Bao Yu kepada kemuning


“ Keluarganya asli merupakan penduduk pesisir pantai ini. Itu yang terakhir ku dengar.”


Ucap Guan Lin pada kemuning


“ Bhanurasmi.. Nama wanita itu adalah, Bhanurasmi.”


Ucap kemuning dengan wajah penuh serius pada Guan Lin, Bao Yu, dan Xia He


“ Kau, mengenalnya?”


Guan Lin yang terkejut menatap kemuning yang juga sedang menatapnya dengan serius


“ Guan Lin, bisakah kau mengantarkanku menuju lokasi Pondok itu?”


“ Kemuning, apa kau yakin?”


“ Ya, sangat yakin.”


Berkendara dengan kereta kuda yang dimilik oleh Guan Lin, segera mungkin kami melewati Pondok yang terlihat sama persis dengan yang kumiliki. Terlihat para Penjaga dan juga Dayang yang mendapatkan pelatihan dari istana pun akhirnya membuat kenangan akan diriku dimasa ini, kembali menghantam bagai pukulan keras yang membuat kepalaku terasa sakit. Mencoba untuk mengalirkan ingatan itu, Bhanurasmi. Akhirnya nama itu dapat aku dengar kembali setelah sekian lama aku mencoba untuk melupakan kejadian itu. Kejadian dimana harus kehilangan sosok seorang sahabat yang sangat mengenal dan juga tertawa, menangis bersamaku.


“ Tidak salah lagi. Dia adalah Bhanurasmi.”


Ucap Kemuning dengan wajah serius menatap kearah Pondok itu


“ Jika begitu, akan kita bicarakan rencana selanjutnya. Penjaga kita kembali ke kediaman.”


Guan Lin yang langsung berbicara dengan penjaga yang mengemudikan kereta kuda

__ADS_1


Dengan ini, dapat terlihat jelas apa yang menjadi tujuanku kali ini. Alasan mengapa pihak istana tidak mengetahui pergerakan ini dan alasan Gusti Agung Ratu yang berbicara padaku tentang adanya pergerakan didalam istana yang dicurigai. Tidak salah lagi, dengan seorang Prabu Stira yang berada dibelakang semua ini seolah hanya seperti bayangan yang tidak terlihat jelas namun cukup mematikan nyawa dalam hitungan detik. Akan sangat mudah baginya melakukan hal ini semua dan mengelabuhi kami dengan Tasara dimana boneka boneka manusia dia kendalikan dengan sangat apik.


Bhanurasmi, apa Busur panah itu akan kita tujukan satu sama lain kembali?


__ADS_2