Sabda Batari

Sabda Batari
Api Perang Pertama


__ADS_3

Perubahan arah angin terasa berubah ketika kapal ini hendak menepi pada Dermaga Pelabuhan ibu kota.. Warga yang masih belum menyadari gerak gerik pasukan Raksa dan Bhanurasmi mungkin hanya merasa mereka adalah pasukan ksatria istana yang sedang melakukan pemeriksaan di Dermaga Pelabuhan ini. Dengan segera Jantaka menutupiku kembali dengan kain kain ini dan menyuruh anak buahnya untuk mengangkat ketika kapal sudah terhenti di Demaga Pelabuhan.


Dari sisi kayu aku melihat para Penjarah Hutan Tengah itu berpakaian layaknya para ksatria pasukan istana yang dapat dengan mudah menyusup kedalam istana. Melihat itu, aku harus dengan sigap kembali ke istana mengingat tidak ada siapa pun yang memiliki komando pasukan saat ini karena Atma dan Caka yang pergi meninggalkan komandonya.


Terhenti pada sebuah kereta kuda besar milik Jantaka, kami pun berlalu melewati mereka dan dengan cepat meninggalkan Dermaga Pelabuhan. Ditengah perjalanan yang melewati jajaran hutan rindang dengan pepohonan hijau, entah mengapa membuatku begitu merindukan tempat ini seolah aku merasa tidak akan pernah kembali kemari untuk kesekian kalinya.. Jantaka tiba tiba menghentikan kereta kudanya dan menyuruh anak buahnya untuk membuka kotak kayu tempatku bersembunyi..


“ Ada apa Jantaka? Apa terjadi sesuatu?”


Ucap kemuning yang keluar dari dalam kotak kayu


“ Ambillah kuda ini dan selesaikan tugasmu.. Aku pikir jika kau menggunakan kereta kudaku akan menghabiskan waktu lama, berbeda dengan kau yang berlari sendiri dengan kuda ini..”


“ Te, terima kasih Jantaka.. Aku sangat berhutang padamu..”


Ucap kemuning yang langsung mengambil tali pelana kuda dan bersiap menungganginya


“ Arthadewi..”


“ Apa?.. Kau bilang sesuatu Jantaka?”


Kemuning menghentikan gerakan kudanya yang mencoba berlari


“ ARTHADEWI!! KUDA ITU BERNAMA ARTHADEWI!! Kau harus mengembalikannya padaku...”


Ucap Jantaka dengan wajah penuh sedih dan memelas


“ Itu... yang ingin kau.. Katakan padaku? Serius Jantaka?”


“ Serta pastikan keluargamu membeli semua kainku!”


#HYAAAHHH


 #PROOKK #PROOOKK #PROOOKKK


Suara kemuning yang berteriak membuat kuda itu untuk berlari


“ KEMUNING KEMBALIKAN ARTHADEWI DENGAN SELAMAT..!!”


Berlari secepat yang kubisa lakukan dengan kuda ini dengan melaju menuju istana. Sepanjang perjalanan terlihat tidak ada perubahan sedikit pun bahkan semua terlihat sama tidak terjadi perubahan apa pun.. Sedetik terhenti pada dua buah belokan didepanku, sebenarnya bisa menjadi pilihan bagiku apakah aku akan kembali menuju kediamanku serta kediaman Mahapatih Danudara atau belokan satunya yang mengarah ke istana. Berat langkah ini untuk berbelok kearah yang berlawanan dengan kata hati dimana aku bisa meredakan kegelisahan mereka dan memberikan kabar baik kepada mereka semua yang sedang menanti hingga saat ini..


Namun pandanganku teralihkan pada Gerbang megah utama pintu masuk kerajaan yang juga sangat kurindukan dan tentunya tugas tanggung jawab yang sedang menantiku begitu aku menginjakkan kakiku disana.. Dengan kembali mempercepat laju lari kudaku, akhirnya aku pun sampai dan langsung menuju Aula utama singgasana dimana Gusti Agung Raja dan Ratu masih belum kembali bersama Mahapatih Gajah Mada untuk menyelesaikan pergolakan di Sedeng dan Keta.


Memberanikan diri dengan mengambil keputusan dan juga tanggung jawab, akhirnya aku berlari menuju Bale kediaman para ksatria pemberani berada dan mengabarkan pada mereka apa yang kutahu dan memerintahkan mereka untuk melakukan penjagaan ketat pada Gerbang depan istana. Dengan bergerak cepat, kami membagi tugas kami masing masing dan aku pun segera menuju lokasi tempat disembunyikannya Peralatan perang itu berada.


Begitu sampai apda sebuah Lumbung luas yang berada dihilir arus sungai yang dimiliki istana, terlihat beberapa kotak kayu besar dengan berbagai tulisan dan bahasa yang berbeda diatasnya.. Dengan aku yang berbeda dari dimensi waktu lain, dapat kupastikan bahwa itu adalah peringatan dengan Bahasa Eropa yang mengatakan untuk berhati hati karena barang Rapuh dan mudah untuk meledak. Pasukan pemberani pun membuka semua kotak kayu itu dan akhirnya, setelah sekian lama dan pengorbanan aku dapat menemukan peralatan perang..


“ Apa ini? Aku baru melihatnya..”


Ucap salah satu pasukan pemberani


“ Hati hati, itu adalah Senapan! Jika kau menekan tuas ini, maka sebuah peluru akan melesat mengenaimu dan bisa membunuhmu!”


Kemuning yang dengan sigap mengambil senapan dari tangan pasukan itu dan menjelaskannya


“ Senapan? Peluru?”


“ Akan aku jelaskan nanti. Sekarang, salah satu dari kalian pergilah menuju kediaman Mahapatih Danudara dan memberitahukan kabar ini. Sisanya ikut denganku, dan kumpulkan keberanian kalian untuk mengeluarkan usaha latihan kalian semua dalam ilmu pedang dan memanah..”


“ Prabu Stira, katakanlah.. Ada apa ini?”


“ Saat kau ikut bersamaku berjalan menuju Pintu Gerbang, maka kau akan tahu..”


Ucap kemuning dengan melepas sarung pedangnya lalu memegang busur panah ditangannya dan menepuk pundak salah satu pasukan pemberani dengan melewatinya


Derap langkah kaki pun kembali bergema, suara lantang gemuruh pukulan pedang menyentuh perisai dengan nyanyian semangat berkobar yangtak pernah usai membuat hati siapa pun bergetar begitu mendengarnya. Permintaan pertolongan pun tersambut sudah, dengan kehadiran Bhattara lainnya serta prajurit pemberani yang datang bersama dengan Mahapatih Danudara.. Dari kejauhan Bendera Istana kembali berkibar dengan auman suara terompet yang membuat siapa pun kembali bersembunyi dalam kediaman dan mematikan semua nyala api didalam rumahnya.


Mahapatih Danudara terhenti tepat dihadapanku yang hanya berdiri kokoh dengan beberapa pasukan pemberani, mencoba melakukan perlawanan awal jika Raksa dan Bhanurasmi datang lebih dahulu dan mencoba melakukan perlawanan. Namun itu semua terbantahkan dengan kehadiran puluhan pasukan Mahapatih Danudara dengan para Bhattara gagah yang berjajar disamping kanan dan kirinya.


Kepala menadah lurus kedepan dengan tangan pun begitu menggenggam erat Busur Panah bersikap siap dengan berdiri tegap, dada membusung lebar dan nafas yang teratur, jika secara tiba tiba terlihat anak panah yang mengarah kepad kami. Tak lama bunyi hentakan suara Tabor atau Drum pun terdengar dari arah berbeda dengan Bendera berbeda yang berkibar terhembus angin malam yang terlihat mencekam. Menunggu sekian lama, pada akhirnya pasukan Raksa dan Bhanurasmi datang berteriak seolah ketidakadilan menyertai mereka.


“ ANANDA RAKSA. Apa selama ini kaulah dibalik semua ini?”


Ucap Mahapatih yang masih berada diatas Kuda Brata


“ Berhenti berbicara, aku yakin kau hanya akan membuat kebingungan yang percuma!”


Ucap Raksa dengan kesal

__ADS_1


“ Aku belum tahu apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian maksud. Namun pa..”


“ Tunggu, apa Prabu Stira belum mengatakan yang sebenarnya padamu?... Kemuning keluarlah!”


Ucap Bhanurasmi dengan nada kesalnya sama seperti Raksa


“ Aku disini, tepat dihadapanmu.”


Kemuning yang melangkah maju dengan kuda bratanya


“ Jujur aku kecewa padamu kemuning! Setidaknya kau harus memperburuk keadaan karena dengan begitu, aku dapat dengan mudah memecah belah kesatuan kalian! Apa prinsip dalam dirimu sudah mulai memudar wahai Prabu Stira terhormat..?”


Ucap Bhanurasmi dengan senyuman sinis diwajahnya


“ Prinsipku tidak ada yang berubah.. Hanya saja aku menyesuaikan keadaan.”


“ Maksudmu?”


“ Tergantung dari bagaimana Pengecut dan Rendahnya lawan mainku!”


Kemuning yang berbicara dengan lantang dan menatap tajam Bhanurasmi


“ KURANG AJAR KAU!! AKU AKAN MEMBUNUHMU MALAM INI!!”


“ Bhanurasmi, tidak perlu berteriak karena suara itu terdengar memalukan ditelingaku saat ini.. Bhumi Candrah Paritah. Itu yang kau inginkan bukan?”


“ AHAHAHAA.. Sudah kuduga saat itu kau berada tidak jauh dari tempat aku berdiri, karena kereta kuda milik Guindra yang kau lempar kedalam Jurang, aku masih dapat melihat puing puing kayu..”


“ Jika begitu, hentikan perang ini dan lawan aku satu lawan satu.”


“ Kemuning.. Apa yang kau katakan? Apa kau tahu arti dari Bhumi Candrah Paritah?”


Ucap Mahapatih Danudara kepada kemuning


“ Hamba tahu dan mengerti, Gusti Mahapatih..”


Kemuning menundukkan kepalanya kepada Danudara


“ Tidak. Aku tidak mengijinkan itu! Aku tidak ingin Atma membenciku karena membiarkanmu!”


“ Gusti Mahapatih, hamba hanya melakukan apa yang menjadi tugasku. Disaat seperti ini, bukankah memang tugasku untuk bertindak?”


Ucap Raksa dengan nada menghina dengan tertawa lepas


Baik aku, Mahapatih, dan semua prajurit pemberani terdiam mendengar perkataan Raksa yang begitu menyebalkan. Namun Mahapatih tetap memintaku dan para pasukan untuk tetap berpikir secara jernih dan menahan emosi kami. Namun semua mulai tampak berbeda disaat aku melihat seorang Menteri Abdi istana terpercaya Gusti Agung Raja dan Ratu yang ditangkap oleh mereka dan dijadikan sandera dengan ancaman akan membunuhnya. Mendengar pernyataan itu darinya, aku mencoba untuk berpikir kearah berlawanan yang tidak akan mereka sangka sebelumnya.


#SHUUUTTT


Suara anak panah yang dilepaskan kemuning dengan menancap pada salah satu kaki perdana menteri hingga tersungkur, tertelungkup diatas tanah


“ Kemuning, apa yang kau lakukan?”


Ucap Mahapatih Danudara yang terkejut kepada kemuning


“ SIAL! SIAL! SIAL! Wanita itu! Aku akan membunuhnya!!


Ucap Raksa yang sangat merasa marah ketika


“ Kau berani sekali kemuning. Pikirmu dengan seperti ini maka semua akan berakhir disini? Dengan terlukanya Menteri abdi istana, pikirmu aku tidak akan memberikan persyaratan pembebasan?”


Ucap Bhanurasmi yang melangkah maju menuju barisan depan Pasukannya


“ Menteri itu sudah tidak berguna untukmu. Untuk berjalan pun dia sudah kesusahan, aku yakin itu hanya akan menghambatmu. Jadi, lepaskan saja dan bawa aku sebagai gantinya.”


“ KEMUNING!”


Ucap Mahapatih Danudara yang merasa kesal


“ AHAHAHAAA... Kau ternyata lebih baik dari yang kukira.. Karena itu, akan menyenangkan bagiku untuk membunuhmu.”


“ Katakan alasanmu melakukan semua ini Bhanurasmi.”


“ Aku? Apa aku membutuhkan alasan? Tidak, tentu saja tidak.. Aku hanya muak dengan sistem pemerintahan kerajaan yang mementingkan kalangan Bangsawan hingga Rakyat biasa menderita. Seperti ayah dan ibuku!”


Ucap Bhanurasmi berbicara sembari memegang Busur Panahnya


“ Tanpa kau sadari, kau membunuh banyak Rakyat Biasa yang tidak berdosa demi memenuhi keinginanmu itu. Pernah terlintas dalam pikiranmu?”

__ADS_1


“ DIAM KAU KEMUNING!!”


#SHUUTTT #SHUUTTT #TRAACCKKKK #SHUUTTT #SHUUTTT #TRACKKK


Suara anak panah yang dilepaskan Bhanurasmi namun berhasil kemuning tangkis kembali menggunakan Busur panahnya hingga tertancap pada sebuah pohon


“ Peperangan ini tidak berguna. Menyerahlah dan hentikan Bhanurasmi..”


“ TIDAK AKAN!! PRAJURIT SERAAANNGGG!”


“ WHHUUU WHUUUU BOYAAA!!!”


Suara Teriakan pasukan Bhanurasmi yang berlari dengan pedang dan perisainya


“ LINDUNGI ISTANA DAN PENUHI SUMPAH KALIAN PARA PRAJURIT PEMBERANI..!!”


Teriak kemuning dengan mengangkat Busur panah ditangan kanan dan Pedang di tangan kirinya


“ MAJU DAN SERANG MEREKA!”


Teriak Mahapatih kepada para ksatrian pemberani yang langsung berlari


Teriakan pun bergema memecah malam.. Kobaran api pada ilalang kering yang berada tidak jauh dari Pintu Gerbang istana, seolah menjadi saksi atas peperangan yang terjadi dengan memberikan cahaya yang menyebar oleh hembusan angin.. Merah, merah membara! Jingga, kuning yang dapat membakar kulit dan menghabisi nyawa yang sedang berlari mencoba untuk mematikan api yang menyala di sekitar tubuhnya.. Bunyi pedang yang tak kunjung berhenti dan berdenting semakin keras dengan kericuhan pukulan perisai atas benda tumpul dan benda tajam.


Menyimpan semua tenaga tersisa hanya untuk menghabisi nyawa seseorang malam ini, sungguh suatu bayaran yang mahal dan tidak dapat tergantikan oleh apa pun itu harganya. Rintihan suara kuda kuda yang seolah mengeluh kesakitan akibat goresan pedang yang mengenai kaki kaki kokohnya pun akhirnya goyah hingga terjatuh dan bahkan menghembuskan nafas terakhirnya seperti yang kami lakukan pada satu sama lain.


Jumlah pasukan para Penjarah Hutan pun semakin menipis mengakibatkan Raksa terlihat sangat putus asa dengan terdiam ditengah tengah medan tempur. Tak kala seorang Bhattara yang melihat sedikit celahpun berlari dengan sangat cepat kearahnya, ditemani pedang ksatrianya dengan berteriak...


“ KEHORMATAN. SUMPAH ABDI BERSEMAT DI DARAH PEJUANG HARI INI!”


Ucap Bhattara tersebut dengan menghunuskan pedangnya kearah Raksa


“ TIDAK, TUNGGU!!”


Teriak kemuning kepada Bhattara tersebut


#TRANGGG #TRAANGGG 


#AAKKHHHH


Tangkisan pedang yang berselingsingan dengan berakhir tertusuknya Raksa oleh Bhattara tersebut


Aku sangat mengerti arti kekesalan dari para Bhattara saat ini kepada Raksa yang telah mengkhianati mereka. Namun, aku ingin ini semua berakhir dengan tertangkapnya Raksa dan Bhanurasmi dengan melakukan peradilan didalam istana, dimana Gusti Agung Raja dan Ratulah yang menentukan hukuman apa yang pantas bagi mereka. Terlambat gerakan dengan tidak terhentinya waktu, Raksa pun tertekuk berlutut dengan pedang yang menancap pada tubuhnya.. Raksa memalingkap pandangan untuk melihat sekitarnya hingga tertuju pada Bhanurasmi yang sedang menghunuskan pedangnya dengan Busur panah ditangan kirinya.


Raksa berdiri kembali dengan menahan rasa sakitnya dan mengarahkan pandangan kepada Bhattara tersebut yang dapat kulihat seperti Atma yang masih membelanya saat dirinya belum mengetahui siapa dan apa dibalik semua ini. Dengan tersenyum Raksa berjalan meskipun tertatih menuju kearah Bhanurasmi hingga akhirnya Bhanurasmi menyadari kondisi Raksa dan berlari kearahnya..


“ Tidak, Tidak, Tidak.... Raksa.. Bertahanlah! Tidak.. Tidak..”


Bhanurasmi yang menangis dengan memeluk Raksa yang tertidur dipelukannya


“ Maaf.. Kan.. Aa.. ku.....”


Ucap Raksa yang menghembuskan nafas terakhirnya


Tangan mengepal dengan tatapan mengarah kepada Bhanurasmi yang mengalami kepedihan amat dalam atas kehilangan orang terkasih.. Entah mengapa hati ini tetap merasa iba ketika melihatnya meskipun banyak hal yang sudah dia lakukan kepada kami semua.. Kembali terdiam aku berdiri menatapnya, Mahapatih Danudara yang juga menyaksikan kejadian ini datang menghampiriku dan menyentuh pundakku dengan pelan seraya mencoba menyemangatiku dan bersikap tabah. Tersadar akan para Penjarah Hutan yang sudah tersudutkan, Bhanurasmi semakin merasa kesal dan akhirnya mengarahkan pandangannya padaku.


“ DYAH KEMUNING. AKU MENANTANGMU, BHUMI CANDRAH PARITAH!!”


Teriak Bhanurasmi yang mengusap air matanya dan berdiri tegap disebelah Raksa yang sudah tak bernyawa


“ TIDAK!”


Ucap Mahapatih Danudara kepada Bhanurasmi


“ Gusti.. Ijinkan hamba..”


“ Tapi kemuning.. Banyak hal yang harus aku pertimbangkan! Terlebih pada Ayahmu dan Atma anakku!”


“ Gusti.. Ijinkan Hamba.”


Ucap kemuning kembali dengan tegas seolah tidak memperdulika perkataan Danudara


“. . . . . . . . . .”


Mahapatih yang terdiam dengan mengalihkan pandangannya


Berjalan dengan kokoh dengan membawa Busur Panah pada tangan kananku dan Pedang pada tangan kiriku. Akhirnya aku berada tidak jauh dari tempat Bhanurasmi yang juga sedang berdiri tegap penuh angkuh menatapku..

__ADS_1


“ Tarik Busur Panah dan Pedangmu seperti saat kita bertanding menjadi Prabu Stira..”


“ Bersiaplah kemuning!”


__ADS_2