Sahabat 3 Bangsa

Sahabat 3 Bangsa
Eps 10 : Semakin dekat


__ADS_3

Nala pov


KEESOKKAN HARINYA SAAT DI SEKOLAH


Jam pelajaran pertama sudah di mulai, kelasku menjadi hening karena murid-murid sibuk mengerjakan tugas yang di berikan. Setelah menyelesaikan tugas dan mengumpulkannya ke guru, guru keluar untuk mengurus suatu hal. Saat guru sudah pergi, seorang gadis yang kemarin bersama Dhina berdiri lalu menghampiriku dan dia menggebrak mejaku dengan keras.


"Brak....!!!" suara gebrakan meja.


"Apa maksud ucapanmu kemarin,hah?!kau benar-benar ingin baku hantam denganku?!!" ucapnya dengan tatapan yang tajam, itu menandakan kalau dia sedang marah ya.


"Ucapanku kemarin ya? kalau iya bagaimana? aku sudah cukup muak dengan sikap kalian, berlagak sok di depan orang lain dengan gaya yang...... ALAY" jelasku mengejek mereka.


"Kau..... benar-benar.....!!" ucap gadis di depanku dengan geram sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arahku, lalu dia mencengkram erat kerah bajuku dengan tangan kirinya membuatku berdiri dari posisi duduk dan kulihat matanya sangat geram dengan perkataanku tadi, aku pun tersenyum nakal.


"Aku tidak tahan lagi dengan sikapmu itu!!!!" ucap gadis tadi dengan keras, lalu dia melayangkan tangan sebelah kanan yang bebas ke arah wajahku.


"Plak....!!" dia memukul wajahku dengan keras, aku melepaskan tangan kirinya yang mencengkram kerah bajuku, menatapnya dengan tatapan marah, saat tangan kiriku menyentuh bagian wajah yang di pukul olehnya ada sedikit noda darah.


Lyra yang melihat itu sangat marah dan berniat membalasnya tapi saat dia melihatku menatap gadis itu dengan tatapan marah Lyra segera mengurungkan niatnya, sedangkan Vier malah sedang menatapku sambil tersenyum nakal.


"Tadinya aku berniat untuk melepaskanmu, tapi kau malah tidak memanfaatkan itu dengan baik. Benar-benar..... di kasih hati minta jantung" ucapku geram sambil menggertakkan gigiku.


"Heh....jadi kau mau bertarung denganku?!" ucap gadis tadi dengan sombong.


"Sini aku ladeni, atau.... kau memang pe...nge....cut!!" lanjutnya, mendengar kata-kata itu aku mengepalkan kedua tanganku dengan tatapan mataku yang tajam ke arahnya, aku melirik sekeliling dan aku melihat semua orang di kelas menatapku.


Tanpa basa-basi aku segera memukul wajah gadis itu hingga jatuh tersungkur, pertarungan antara aku dan gadis kurang ajar itu pun tak terhindarkan lagi, kami bertarung hingga keluar kelas, teman-teman mencoba menghentikan kami tapi sayang marahku sudah di ubun-ubun. Kami bertarung hingga keluar sekolah tapi masih lingkungan sekolah (belum keluar gerbang), kepala sekolah dan para guru sampai keluar untuk menghentikan pertarungan tapi tidak berhasil, pertarungan antara aku dan gadis kurang ajar itu berakhir saat aku di tarik oleh Leon, dia mencoba menenangkanku bahkan sampai aku bertarung dengannya.


"Li, cukup!!" teriaknya,mendengar teriakkannya aku menghentikan gerakanku.


"Dia sudah babak belur!" teriaknya lagi sambil menunjuk ke arah gadis itu, aku tertegun walaupun dengan napas yang masih terengah-engah, saat Leon melihatku tertegun dengan cepat dia berdiri di belakangku dan melipat tanganku ke belakang, aku mencoba memberontak tapi aku tetap saja kalah dengan Leon karena dengan cepat dia membuatku pingsan.


"Masalah ini kita selesaikan nanti, aku akan mengurus dia terlebih dahulu" ucap Leon keras dan di dengar oleh seluruh orang yang berada di tempat itu, dia menggendongku dan berkata pada Lyra dan Vier.


"Lyra, Vier, kalian ikut denganku" perintah Leon, mereka menganggukkan kepala dan mengikuti Leon yang menggendongku lalu disusul Dika, Feter dan Arya yang juga mengikuti Leon, sedangkan orang-orang di sana membawa gadis itu ke UKS. Leon membawaku ke sebuah tempat yang asing bagiku.


Siangnya aku terbangun dan mendapati diriku berada di sebuah kamar yang asing bagiku, kamar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.


"Emm.....dimana aku?" tanyaku pada diriku sendiri, aku menyentuh wajah dan luka yang kudapatkan kemarin tapi semua lukaku sudah di balut perban dan pakaianku juga sudah di ganti, saat aku melihat sekeliling aku melihat Leon tertidur di pinggir ranjang.


"Apa dia yang mengobatiku,menjagaku selama aku tidur dan....." ucapku penasaran dalam hati.


"Mengganti pakaianku?!!" lanjutku dalam hati dengan wajah memerah, aku yakin wajahku mirip dengan kepiting rebus, tak lama Leon terbangun dari tidurnya,dia sedikit kaget karena aku sudah bangun.


"Eh...maaf, apa aku membangunkanmu?" tanyaku.


"Tidak kok, aku hanya sedikit terkejut saja" jawab Leon.


"Aku dimana?" tanyaku pada Leon.


"Oh...kamu di kamarku" jawabnya.


"Hah...?! di kamarmu?"tanyaku, Leon hanya mengganggukkan kepalanya.


"Kamu yang merawatku? menjagaku selama aku pingsan? lalu dimana Lyra dan Vier apa mereka ada disini juga?" tanyaku lagi.


"Iya, aku yang merawat dan menjaga kamu selama kamu pingsan, kalau mereka ada di sini juga, mereka juga merawatmu, sayang" jawab Leon dengan santai sambil tersenyum, mendengar jawaban Leon aku menutup wajahku dengan kedua tanganku wajahku kembali memerah, sangat merah.


"What?! dia barusan panggil aku apa?!SAYANG?!!!!. Aaaaaaa......" teriakku dalam hati dengan senang, siapa juga yang ga seneng waktu di panggil sayang sama salah satu murid terganteng di sekolah ini.


"Eh...tunggu, siapa yang mengganti bajuku?" tanyaku lagi, Leon hanya tersenyum nakal, aku yang melihat itu melemparkan bantal yang berada di sebelah kananku ke arah Leon.


"Plak..." suara bantal di tepis Leon.


"Tidak,bukan aku yang menggantinya tapi Lyra dan Vier" jelas Leon.


"Hmmm..." ucapku sambil cemberut.


"Eh...marah?" tanyanya.


"Hmm..." jawabku.


"Ya ampun.... gitu doang marah" ucapnya sambil mencubit pipi kananku.


"Ihh...sakit tau, ini juga luka kemaren" ucapku kesal.

__ADS_1


"Oh ya?" tanyanya sambil tersenyum nakal.


"Terserah" jawabku ketus, setelah itu ada seseorang mengetuk pintu kamar.


"Tok...tok...tok....." suara pintu diketuk, segera aku dan Leon merapikan lagi sikap duduk.


"Masuk!" ucap Leon.


"Kriet...." suara pintu di buka, kulihat Feter yang membuka pintu lalu ia masuk ke dalam.


"Leon, kita harus bicara" ucapnya.


"Baiklah, ikuti aku" ucap Leon.


"Leon...." panggilku, dengan reflek Leon menoleh ke arahku.


"Ada apa?" tanyanya.


"Aku mau bertemu Lyra dan Vier, boleh?" tanyaku.


"Tentu, Ken! antarkan Nala menemui Lyra dan Vier"ucap Leon.


"Nala, kau akan di antar Ken untuk menemui Lyra dan Vier" lanjutnya sambil berlalu pergi ke ruang baca untuk bicara dengan Feter.


"Baiklah" ucapku sambil tersenyum, lalu aku segera turun dari atas ranjang, aku melihat Ken mendekatiku dan berkata.


"Nona, silahkan ikuti saya untuk menemui nona Lyra dan Vier" ucap Ken dengan hormat, aku mengganggukkan kepala dan mengikuti Ken keluar kamar dan asrama.


Aku mengikuti Ken hingga ke sebuah bermain biliar di sana aku melihat Lyra sedang berlatih biliar bersama Dika.


"Lyra!" panggilku, Lyra dengan reflek menoleh ke arahku dan menghentikan latihannya.


"Nala!" ucap Lyra dengan terkejut melihatku, dia segera menghampiriku dan memelukku dengan erat.


"Nala, kamu udah sembuh?" tanyanya saat masih memelukku, aku melepaskan pelukan Lyra.


"Lihat aku, sudah sembuh kan?" ucapku sambil menyombongkan diri.


"Hmm....sombong" kata Lyra sambil cemberut.


"Eh...Vier!" panggilku pada Vier yang duduk di sofa yang letaknya tidak jauh dari meja biliar bersama Arya, kami berdua mendekat ke arah Vier.


"Hai!" ucapku pada Vier dan Arya saat sudah di dekat mereka.


"Hallo, Nala. Kamu udah sembuh ya?silahkan duduk" ucap Arya ramah, kami berdua tersenyum dan segera duduk di sofa depan mereka.


"Mau minum?atau makan?" tanya Arya.


"Minum aja, bir juga boleh" jawab Lyra.


"Aku juga" sahutku.


"Oh ok, Rena bawakan bir untuk kami!" perintah Arya pada gadis di sampingnya.


"Baik, tuan muda" jawab gadis bernama Rena itu, dengan segera Rena membawakan bir untuk kami.


"Ini bir nya, tuan dan nona muda" ucap Rena.


"Terima kasih" jawabku dan Lyra bersamaan, Arya menuangkan bir ke gelas masing-masing.


"Aku sedikit saja" ucapku dan Vier hampir bersamaan.


"Em? memangnya kenapa?" tanya Arya penasaran kepadaku dan Vier.


"Aku tidak ingin mabuk hari ini" ucapku,


"Aku tidak bisa minum banyak" ucap Vier bersahutan denganku.


"Oh...mari minum" ucap Arya sambil menaikkan gelasnya ke udara.


"Ting....!" suara gelas di benturkan, kami berempat minum hanya 1 botol karena waktu masih siang.


~oOo~


Author pov

__ADS_1


Ruang baca Leon


"Apa kau mendekati Nala demi itu?" tanya Feter.


"Hm... begitulah."


"Kau ini, benar² ya."


"...."


"Seharusnya kau tau bukan siapa Nala sebenarnya? seharusnya kau juga tau apa konsekuensinya menyatukan mereka."


"Kau juga berbohong pada Nala" lanjut Feter.


"Bukankah yang menjaga Nala selama dia pingsan adalah Max? kenapa kau tidak memberitahukan nya ha? apa karna kau mau benar² melakukan itu?."


Pertanyaan berutun dari Feter membuat Leon terbungkam, memang benar selama Nala pingsan yang menjaga nya adalah Max bukan Leon.


"Maksudmu Max, pangeran ketiga kerajaan Elf terkuat dibawah kepemimpinan bangsa Wizard, pangeran ketiga yang dianggap sampah, pangeran yang berasal campuran ras Elf dan humanoid/hybrida elang?" tanya Leon memastikan.


"Ya."


"Ck ck ck.. apa menurutmu jika kerajaan tau hal ini mereka akan diam saja? beberapa petinggi diantara mereka juga tak menginginkan memiliki calon raja seperti Max."


"...."


"Selain itu aku harus membuat Nala mencintaiku dulu baru dia bisa mendapatkan nya."


"Jendral Lorest! sebaiknya urungan niatmu itu! kau bisa dihukum kerajaan karna perlakuanmu!."


Bentakan dari Feter membuat Leon terkejut dan menatapnya tajam.


"Menteri Foxyu sebaiknya kau diam dan jangan ikut campur urusanku!" bentak Leon, Feter mengangkat menatap Leon tak kalah tajam.


"Aku ikut campur karna apa kau lakukan mengancam nyawa pewaris bangsa Wizard! juga ratu masa depan bangsa Wizard! dia juga seseorang yang disebutkan ramalan! apabila dia mati, maka keadaan ratu yang saat ini sedang tidak stabil akan melemah dan sihirnya juga melemah. Apa kau mau saat gerhana matahari nanti bangsa Wizard musnah?!" bentak Feter membuat Leon terbungkam.


"Hah... pikirkan itu lagi, aku akan diam tapi aku bisa membuat ritual yang kau lakukan terputus secara paksa dan aku juga bisa menarik kembali dia ke alam baka, ingat itu baik²" ancam Feter membuat Leon lemas.


Feter pun diam, Leon terhuyung di tempatnya sambil memegangi kepalanya.


"ARGGHHH!!."


"Jawab pertanyaan ku!," desak Feter.


"Kuharap kau tak melakukannya, apa kau yakin dia orangnya?" tanya Feter.


(Orang yang akan Leon....)


”......." Leon diam membisu.


"Kau tidak mungkin jatuh cinta lagi kan?apa kau sudah melupakannya? cobalah lupakan dia" tanya Feter lagi.


"Aku tidak pernah melupakannya dan aku tidak mungkin jatuh cinta lagi" jawab Leon.


"Oh ya? tapi bukankah wajah gadis itu sangat mirip dengan Nala" jelas Feter.


"......." Leon hanya bisa diam membisu di tempatnya berdiri.


"Leon lihat dirimu yang sekarang!" kata Feter dengan agak keras.


"Kau yang sekarang sangat berbeda, sejak ada GADIS itu semuanya berubah!" ucap Feter sembari menekankan kata gadis.


"Leon Leon, kapan kau akan sadar ha, perbuatanmu bisa merugikan banyak orang?" tanya Feter.


"GADIS itu pun sudah tiada ratusan tahun yang lalu!" lanjut Feter.


"Kemampuanmu tidak meningkat lagi, dulu kau tidak seperti ini. Apa kau memang tidak bisa melupakannya?sampai-sampai kau menjadi seperti ini,500 tahun yang lalu gadis itu datang dan 200 tahun kemudian dia tiada, ini sudah 300 tahun sejak dia tiada tapi kau malah semakin....... semakin tak beraturan, sejak gadis itu tiada, kau hanya merenung dan mengurung diri" jelas Feter.


"Urungkan niatmu untuk melakukan itu pada Nala" desak Feter.


"...."


Leon masih diam, dia ga tau mau jawab apa.


"Terserahlah, aku pergi. Pikirkan itu baik²" ujar Feter lalu dia menghilang tepatnya berteleportasi ke tempat lain.

__ADS_1


"...."


__ADS_2