Sahabat 3 Bangsa

Sahabat 3 Bangsa
Eps 20 : Vier dan sajak kuno


__ADS_3

Nala pov


Kerajaan Trivia


Kastil keluarga Variette


Perpustakaan


Disinilah aku berada, membaca buku sihir ditemani Eva yang mulai merasa bosan.


"Mommy! ayo kita pergi bermain, Eva bosan..."


Keluhan Eva membuatku menatapnya, Eva sedari tadi hanya duduk diam sambil membolak balikkan buku komik. Aku hanya bisa menghela napas pendek, Max sudah pergi sejak tadi. Ada urusan katanya.


Brak!


Pintu perpus tiba-tiba didobrak oleh... Max? sedang apa dia? Eva dan aku saling tatap sejenak.


"Eva, udah waktunya tidur siang. Tidur dulu sana," ujar Max.


"Emmm..! daddy boong! daddy cuma mau berduaan sama mommy kan..?! huh!," Eva ngambek.


Max mendekati Eva, dia membelai Eva dengan penuh kasih sayang. Saat ini aku melihat Max benar-benar seperti seorang ayah, ah.. aku jadi merindukan ayah.


"Daddy harus pergi sama mommy, Eva mending tidur aja ya," ujar Max lembut, pertama kali aku mendengar dan melihat Max selembut itu.


Tanpa sadar senyum terukir di wajahku, apa karena aku juga menyayangi Eva? ha... lupakan itu.


"Ikut! Eva mau ikut! titik!!."


"Eva ga usah ikut ya..."


"Tapi Eva pengen ikut dad...!!."


"Eva," tegur Max tegas.


"Emang kenapa sih dad? Eva cuma pengen ikut daddy sama mommy, Eva pengen bareng mommy. Eva baru aja dapet mommy baru, kenapa sih mommy harus pergi?!😫DADDY JAHAT!!😭."


Eva berlari melewati Max, dia pergi ke kamarnya, dia menangis sejadi jadinya. Max hanya bisa tertunduk, merasa bersalah dan sedih. Aku entah kenapa juga merasa sedih melihat Eva menangis, huh.. setelah helaan napas kecil, aku pun mendekati Max yang masih berjongkok.


"Urusannya tunda dulu gapapa kan...? kasihan dia, sekalian bawa aja Eva ke kerajaan. Kadang aku juga kesepian, bunda juga pasti ngebolehin," ujarku lembut.


Max mendongak, menatapku yang berdiri dengan senyuman. Kami pun pergi menyusul Eva, saat sampai aku dapat melihat para maid mencoba menenangkan Eva. Aku mendekati Eva yang menangis keras tapi wajahnya ditutupi bantal.


"Eva..."


Aku menyentuh tubuh Eva, mengangkatnya hingga Eva mendongak menatap ku, aku tersenyum. Masih belum, Eva menangis di pelukanku. Max melihat dari jauh, dia memijit pelan dahinya.


Max menyuruh para maid pergi, yah.. mereka belum benar-benar pergi sih karena aku dan Max tak tau ada ayah disana, ayahnya Max, tuan Elvon Variette.


"Eva.. maafin daddy, tapi daddy harus bawa mommy pulang," ujar Max sambil menepuk nepuk pelan punggung Eva.


"Eva ga mau! Eva mau mommy disini! boleh ya mom? mommy... mommy jangan pulang ya? disini aja sama Eva..! ya pleaseeee...," Eva memelas sambil mendongak.


Aku tersenyum lembut, membelai wajahnya. Tangis Eva memang mulai berkurang tapi tetap saja air matanya mengalir sampai keluar hingus.


Cup


Aku mencium puncak kepala Eva sayang, Eva kembali menatapku mengharapkan jawaban.


"Mommy memang harus pulang," kataku.


Seakan telinga kelinci Eva turun, Eva menunduk lesu dan menangis kembali sambil memelukku.


"Tapi kalau Eva mau ikut mommy gapapa."


Eva terkejut, bukan hanya Eva tapi Max bahkan Elvon dan para maid terkejut. Mata Eva berbinar senang, sinar harapan bersinar terang di mata Eva.


"Beneran mommy? Eva bisa tinggal bareng mommy?!," tanya Eva antusias.


"Em... mommy bakal usahain supaya Eva bisa tinggal bareng mommy, tapi hapus dulu dong air matanya," jawabku membuat Eva menghapus air matanya dengan perasaan senang.


"Eva minta maaf dulu gih sama daddy, Eva tetep sayang daddy kan...?," lanjutku membuat Eva menatap Max yang terpaku sambil berdiri.


"Daddy... maaf, maafin Eva. Eva.. Eva cuma mau bareng mommy aja, Eva pengen jalan-jalan, Eva bosen. Daddy ga marah kan sama Eva?," Eva berkata dengan suara imut dan sedikit serak.


Max duduk di pinggir ranjang, saat itu pula Eva memeluk Max erat. Bagaimana pun Max tetaplah ayahnya, yang merawatnya sejak dia masih bayi dan menjaganya.


"Maafin daddy juga."


"Em!."


Max mencium kening Eva lama, Eva merasa nyaman. Seketika Eva dapat melupakan rasa kesalnya pada Max.


"Mommy engga dicium?," tanya Eva polos membuat Elvon dan para maid –yang mengintip– terbelalak kaget.


"Hum? Eva maunya Daddy cium mommy juga?," tanya Max.


Gaswat, jantungku... aduh.. napa jantung pake maraton segala sih? hampir copot nih jantung, aaaa huuu... santai, rileks, Max pasti nolak.


Terkadang ekspetasi tidak sesuai realita, Max dengan mudahnya menyetujui ucapan Eva bahkan senyuman lembut darinya membuatku merasa aneh.


Deg!

__ADS_1


Cup...


Bukan kening tapi bibir..... Elvon terkejut tapi dia juga merasa bangga, setidaknya itu yang dia katakan. Aku terpaku, Eva merasa bingung dengan polosnya.


Setelah 1-2 menit kecupan itu berakhir, aku masih terpaku, Max tertawa kecil.


"Kalo Eva mau pergi mending ijin dulu ke grandpa, biar nanti ga dicariin," ujar Max membuat Eva mengangguk cepat.


Eva berlari, Elvon langsung pergi ke ruangan seberang kamar Eva. Aku melemas, tubuhku langsung ditangkap Max.


Deg!


Oh my lord...! apa rencanamu! cobaan apa lagi ini..! betapa indahnya mahluk tampan di depanku ini.


Hidung mancung kami bahkan bersentuhan, aku bisa merasakan hembusan napas Max yang terdengar makin memburu.


Tubuh kami bisa dibilang cukup dekat hampir tak ada jarak, dan tolongggg!! Max menatapku! dia... dia... Oh noo!! jantungku hampir mogok kerja!.


Deg


Deg


Deg


Suara irama detak jantung seolah menjadi backsound, suasana benar-benar hening hingga Elvon yang datang bareng Eva berdehem cukup keras, saat itulah aku dan Max tersadar.


Rona merah tercetak jelas di wajahku, sedangkan Max hanya tampak tipis. Mungkin dia berpikir.


'Sial, baru aja mau cium malah kepergok ayah sendiri. Awas saja kau pria tua fu fufu...'


ATAU


'Ugh... kenapa tubuhnya bisa begitu wangi? hampir saja aku kehilangan kendali, seperti mabuk saja....'


2 kemungkinan ini terpikir olehku begitu saja tapi jika dia berpikir.


'Huh.. tubuhnya kurang menarik...'


ATAU


'Sial! aku ingin menerkamnya!...'


Tidak tidak, alasan pertama lebih baik tapi... akhhh!! membingungkan.


~oOo~


Vier pov


Di sebuah tempat


Aku membuka mataku, ternyata aku berada di sebuah tempat seperti danau. Lake Avitda kah? Lake Avitda atau danau Avitda adalah sebuah eksistensi alam milik bangsa iblis. Avitda bukanlah danau biasa, dikabarkan jika danau ini memiliki sesuatu yang aneh.


Meskipun begitu danau ini memiliki air yang begitu jernih, walau tubuhku agak sulit digerakan tapi aku dapat melihat banyaknya ikan di danau. Yang membuatku terkejut adalah adanya kabut ilusi yang menutupi danau ini.


"Ugh... kabut ilusi yang cukup tebal tapi tetap saja masih belum cukup," gumamku.


"Memang putri yang luar biasa, bisa tau dalam sekali lihat," ujar sebuah suara.


Aku mencoba menoleh, di atas batu besar terdapat Xander yang membaca buku, pakaiannya berubah menjadi pakaian bangsawan bangsa iblis.


Xander duduk bersila, tak jauh dari tempatnya duduk aku dapat melihat sekotak kayu yang unik.


Tak berselang lama tubuhku bisa digerakan kembali, aku berdiri dan menatap Xander tajam.


"Oh..? sudah bisa berdiri rupanya," ujar Xander dengan nada aneh membuatku tak nyaman.


Dan saat kutelisik lagi, ternyata.... pakaianku juga berubah! apa aku memasuki wilayah bersembunyi bangsa iblis? aku tau dengan pakaianku yang sekarang dapat membuat aura iblisku lebih memancar tapi... apakah bagus?.


"Hanya penyesuaian, jika kau mengeluarkan aura vampir mereka akan menganggapmu berbahaya," ujar Xander lagi.


Pulih dari keterkejutanku aku pun menatap Xander kembali. Tajam, setajam silet:v canda😁. Xander diam, dia mengambil kotak itu memberikannya padaku.


"Bukalah."


Aku menatap Xander datar, dengan tangan yang meminta sesuatu, dia pasti tau apa yang ku inginkan. Kotak ini terkunci begoo...! gimana bukanya? noob😑.


"Kalungmu, letakan saja di kuncinya," balas Xander acuh.


Aku melepas kalung lalu meletakkannya di lubang kunci yang dimaksud, kotak itu memancarkan berbagai aura. Semacam aura elemen, tanah, angin, air, api, besi, petir, gravitasi, anima, es, cahaya, kegelapan, lalu psicionic (semacam ilusi).


Dari situlah sebuah sajak berelemen kegelapan keluar, mengelilingi tubuhku, terpecah pecah. Itu sajak kuno dengan bahasa kuno pula.


"Kegelapan menyesatkan tapi juga menyelamatkan, pedang bermata dua dengan kekuatan luar biasa, terima atau tidak yang akan menentukan ialah kau," gumamku.


Xander hanya mengamati, aku melirik ke arahnya dan dia mengangguk. Aku berkata 'terima' lalu sajak itu kembali terpecah menjadi partikel kecil lalu masuk ke tubuhku. Aku merasakan adanya kekuatan luar biasa yang terasa mengalir, hangat dan nyaman. Lalu sajak elemen api keluar.


"Kecil menjadi teman, besar menjadi musuh. Gunakan dengan baik maka kau tak kan tersesat....... takdir di tanganmu. Terima," gumamku.


Sajak itu terpecah, masuk ke tangan, kaki, punggung. Rasanya api begitu panas tapi kemudian menjadi begitu nyaman. Sajak petir, sajak gravitasi, psicionic, es, angin, air, besi, tanah, anima semua memasuki tubuhku. Semakin lama semakin sakit pula prosesnya.


"Uh uh... terakhir, cahaya dianggap musuh kegelapan, tapi cahaya yang berlebihan membuat dampak negatif juga. Keseimbangan dibutuhkan supaya tidak lepas kendali, penyesalan datang belakangan. Tidak ada pengulangan waktu, ya atau tidak...."


Aku sedikit ragu, aku kembali melirik Xander yang mengamati, dia mengangguk mengiyakan. Setelah ku terima, sajak cahaya masuk ke tubuhku.

__ADS_1


Ugh... sakit, seperti ditusuk ribuan jarum, tidak seperti terjun ke lava terpanaa, tidak seperti beku di lapisan es terdalam akhhh!!! sakitttt....!! tahan Vier, tahan.


Aku memejamkan mataku, menahan rasa sakit yang terjadi, tubuhku serasa di leburkan lalu di bentuk di es terdingin, di tempa seperti besi terkuat, dihempaskan dan ditusuk ribuan jarum angin kuat, di cengkram sesuatu yang sangat keras, di sengat listrik bertegangan tinggi (disambar petir), masuk ilusi terkuat, di jatuhkan dari ketinggian, akhhhh!!! apa-apaan ini!!!!!?!.


"Ugh.... uhuk...! uhuk uhuk...!," aku terbatuk mengeluarkan darah segar.


Sajak sajak kuno tadi keluar dari tubuhku, Xander terkejut. Hanya sajak angin, petir, besi, psicionic dan api saja yang tidak keluar, sajak cahaya dan kegelapan juga keluar lalu membuat seperti clone dengan aura dan kekuatan sama, ga berkurang, setelah itu kembali masuk ke tubuhku. Sisa sajak itu masuk ke dalam kotak, kembali terkunci lalu terbang bersama kotak itu entah kemana.


Aku jatuh pingsan untuk pertama kalinya akibat sajak kuno seperti tadi. Yang kutahu Xander langsung menghampiriku dan... aku benar-benar pingsan.


Entah berapa menit sudah berlalu, aku terbangun. Aku mendapati diriku di sebuah ruangan, tepatnya kamar. Aku mencoba duduk, ada perasaan berbeda di tubuhku. Nafasku lebih teratur dan lancar, tubuhku lebih ringan dan mudah digerakkan. Ada perasaan damai dan tenang di tubuhku.


Aku termenung sambil mengamati ruangan ini, ruangan yang luasnya hanya ¼ kamarku namun tampak begitu sejuk, indah dan luas. Apa faktor perabotan? bisa jadi juga, tak lama pintu terbuka, perhatianku pun teralihkan pada seorang wanita paruh baya dengan pakaian bangsawan yang dibelakangnya ada 2 maid.


Bangsawan iblis ya? pikirku, entah kenapa aku merasa nyaman saat dia tersenyum ke arahku.


"2 hari lalu Xander membawamu kesini dalam keadaan pingsan, apa kau merasa lebih baik sekarang?," tanyanya.


"2 hari?," tanyaku terkejut tapi wajahku biasa.


"Ya, kau tidak sadarkan diri selama 2 hari lamanya, kami sangat khawatir kau kenapa-kenapa," jawabnya ramah.


"Hem.. terima kasih," ujarku dengan senyum tipis setipis tipisnya.


"EMA!!!!! EMI!!!!."


Sebuah teriakan terdengar sampai ke penjuru mansion, mungkin. 2 anak kecil berlari memasuki kamar. Memeluk wanita paruh baya itu, dua-duanya perempuan dan kembar.


"Ibu kak Erodas mengejar kami bu, lihat itu😣👉," ujar gadis kecil di sebelah kanan wanita paruh baya itu, dia menggunakan pita hijau di rambutnya dan gaun hijau muda juga.


"Kak Ema benar bu, kak Erodas mengejar kami," ujar gadis di sebelah kiri, dia menggunakan pita biru yang serasi dengan gaun biru mudanya.


Dari arah pintu ada seorang bocah laki-laki yang terengah-engah, wajahnya tampak kesal.


"Erodas, ada apa ini?," tanya wanita itu.


"Ibu, Ema dan Emi sudah membuat mainanku rusak, lihat ini🚗," jawab bocah laki-laki yang bernama Erodas.


Dia menunjukkan sebuah mainan mobil yang tampak rusak, aku jadi ingat masa kecil, dimana dulu aku juga pernah menjahili kak Dandan seperti dia, dulu sekali sebelum semua ini terjadi.


"Ema, Emi, benar yang dibilang Erodas?," tanya wanita itu.


Ema dan Emi menunduk, mereka mengangguk pelan.


"Aku ga sengaja nabrak mainannya kak Ero," ujar Ema.


"Itu ga bener! kakak sengaja ngalah kan biar Emi ga dapet hukuman!," tukas Emi.


Emi menangis, aku menyaksikan drama keluarga itu dengan rasa iri, ya aku iri. Aku hanya bisa menatap mereka datar tanpa bisa merasakan berada di situasi itu lagi, aku merindukan momen-momen itu, momen sebelum kakek pergi dan meninggal.


"Mama."


Aku mendengar suara yang ga asing lagi, Xander. Suara Xander, aku menatap pria yang melangkah masuk ke dalam kamar.


"Kak Xander, lihat apa yang Emi dan Ema lakukan," adu Erodas pada Xander.


"Mereka kan ga sengaja, nanti kakak benerin," balas Xander sambil mengelus rambut Erodas.


"Baiklah kak, terima kasih."


Erodas pun pergi, tak lama Ema dan Emi juga pergi, diikuti 2 maid dan mamanya Xander.


Brak


Pintu tertutup, hanya aku dan Xander, suasana hening.


"Apa kau merasa sakit lagi?," tanyanya, aku menggeleng pelan.


Dia mendekat, duduk di dekatku. Dia menggenggam kedua tanganku lalu menciumnya, aku terkejut, sangat. Aku bahkan terlambat bereaksi karenanya.


"Maafkan aku, maaf sudah membuatmu kesakitan. Harusnya aku membantumu saat itu, maaf.. aku menyesal, maafkan aku Vier."


1 hal yang kutahu, Xander meminta maaf bukan karena dia takut akan ancaman kerajaan tapi dia menyesal karena sudah membuatku kesakitan....? benarkah itu? aku senang tapi juga kaget.


"Aku benar-benar minta maaf," suaranya bergetar menahan tangis, entah kenapa aku merasa sedih juga.


"Kau melakukan ini karena ancaman kerajaan?," tanyaku perlahan.


"Ha?."


Xander mendongak, menatap ku dengan pandangan tak percaya, dia tertawa getir.


"Kenapa aku harus takut dengan ancaman kerajaan? aku punya kerajaan juga, lagipula yang mulia raja memberiku ijin khusus. Jika kau terluka aku siap dihukum seberat-beratnya," ujar Xander membuatku membeku.


"Apa itu artinya...."


Xander tak menjawab, dia hanya tersenyum. Aku menariknya, membuka bajunya secara paksa. Aku tentu terkejut saat melihat luka cambuk yang sangat banyak di tubuh Xander.


"Ini masih baru, kau....."


"Huh... tidak usah dipikirkan, aku baik-baik saja."


Aku menatapnya tajam, aku tau Xander adalah jendral muda hebat dengan bakat misterius. Untung aku memiliki elemen angin, elemen angin bisa membuat efek heal jadi aku bisa menyembuhkan luka Xander.

__ADS_1


Bersambung....


~oOo~


__ADS_2