Sahabat 3 Bangsa

Sahabat 3 Bangsa
Eps 11 : Mulai terungkap


__ADS_3

Nala pov


Setelah minum, aku kembali ke kamar Leon supaya aku di izinkan untuk pulang ke asramaku, tapi saat aku masuk Leon tidak ada di kamarnya jadi aku memutuskan untuk menemui Leon di ruang baca.


SESAMPAINYA DI DEPAN RUANG BACA


Aku terhenti di depan pintu karena aku mendengar suara Feter sedang bicara dengan Leon, secara tak sengaja aku mendengar pembicaraan mereka


"Kau yakin dia orangnya?" tanya Feter.


”......." Leon diam membisu.


"Kau tidak mungkin jatuh cinta lagi kan?apa kau sudah melupakannya?" tanya Feter lagi.


(Orang yang akan Leon gunakan sebagai ritual mungkin.... -Author)


”......." Leon diam membisu.


"Kau tidak mungkin jatuh cinta lagi kan?apa kau sudah melupakannya? cobalah lupakan dia" tanya Feter lagi.


"Aku tidak pernah melupakannya dan aku tidak mungkin jatuh cinta lagi" jawab Leon.


"Oh ya? tapi bukankah wajah gadis itu sangat mirip dengan Nala" jelas Feter.


'Hah?! aku?! mirip denganku?!!" batinku terkejut.


"......." Leon hanya bisa diam membisu di tempatnya berdiri.


"Leon lihat dirimu yang sekarang!" kata Feter dengan agak keras.


"Kau yang sekarang sangat berbeda, sejak ada GADIS itu semuanya berubah!" ucap Feter sembari menekankan kata gadis.


"Leon Leon, kapan kau akan sadar ha, perbuatanmu bisa merugikan banyak orang?" tanya Feter.


"GADIS itu pun sudah tiada ratusan tahun yang lalu!" lanjut Feter.


'WTF!! RATUSAN TAHUN YANG LALU?! MEREKA SEBENERNYA SIAPA?!' batinku.


"Kemampuanmu tidak meningkat lagi, dulu kau tidak seperti ini. Apa kau memang tidak bisa melupakannya?sampai-sampai kau menjadi seperti ini,500 tahun yang lalu gadis itu datang dan 200 tahun kemudian dia tiada, ini sudah 300 tahun sejak dia tiada tapi kau malah semakin....... semakin tak beraturan, sejak gadis itu tiada, kau hanya merenung dan mengurung diri" jelas Feter.


Aku menutup mulutku dengan tangan kananku tak percaya, sangat tak percaya dengan kata-kata Feter,mataku terbelalak aku benar-benar tak percaya


'Si-siapa sebenarnya mereka?!' tanyaku dalam hati dengan penuh rasa penasaran sekaligus sedikit takut.


Aku tak percaya kalau sebagian pengurus OSIS bukanlah manusia,aku mengurungkan niatku untuk menemui Leon dan langsung pulang ke asramaku


SESAMPAINYA DI ASRAMAKU


Aku segera berjalan secepat mungkin dan masuk ke dalam kamar.


"Brak...." pintu kubanting keras, aku menyandarkan punggungku di pintu.


"Hah....hah...hah....benarkah itu?" tanyaku dengan nafas terengah-engah, aku mencoba menenangkan diriku.


"Sialan! kenapa mereka......kenapa mereka bukan manusia?! ini semua tak masuk akal! tak ada manusia yang masih hidup hingga ratusan bahkan ribuan tahun, bahkan tubuh mereka sama sekali tidak menua! INI BENAR-BENAR TAK MASUK AKAL!!!" gerutuku dengan suara agak keras ,tubuhku merosot ke bawah, sekarang posisiku sedang duduk, aku meringkuk ketakutan,sangat ketakutan.


Aku berdiri lalu membanting tubuhku di atas ranjang, memejamkan mataku lalu mencoba untuk tidur dan akhirnya aku tertidur.


Aku tidur sampai sore, dan aku tidak sadar kalau Lyra dan Vier menerobos masuk ke dalam kamarku,saat aku membuka mataku.


"Emm...."


"Eh,Lyra?! Vier?! bagaimana kalian masuk ke kamarku?" tanyaku agak kaget karena mereka ada di kamarku.


"Kita ga nemuin kamu di asrama Leon jadi kita putusin buat ke sini, trus Lyra ngecek kamarmu dan kamu lupa kunci pintu jadi kita bisa masuk" jelas Vier agak dingin.


"Iya, aku khawatir banget waktu liat kamu tiduran di ranjang dan kamu demam tinggi, tau!" jelas Lyra,nada bicaranya seperti sedang memarahiku.


"Oo....maaf ya, aku ga ketemu Leon di kamarnya jadi aku langsung pulang aja, he...he...he.." kataku, aku sengaja menutupi tentang pembicaraan Leon dan Feter supaya mereka tidak khawatirkan aku.


"Huh.....kamu ini,kapan dewasanya?" kata Lyra dan Vier hampir bersamaan.


"Ya deh,aku minta maaf, maafin dong plissss...." kataku manja,mereka berdua tersenyum nakal, lalu 2 jitakan mendarat di kepalaku, yang satu dari Lyra dan satu lagi dari Vier.


"Aduh! sakit tau!" kataku sebal.


"Siapa suruh kamu ga ngasih tau kita!" kata Lyra, dia lebih kesal daripada aku.


"Kamu tau ga?" tanya Vier sambil berjalan mendekat dan duduk di samping Lyra, pertanyaan Vier membuatku menoleh ke arahnya.


"Leon nyariin kamu sampe ke luar sekolah tau, bahkan sampe hutan!" jelas Vier sambil menarik hidungku dengan tangan kanannya.


"Aduh! beneran?sampe kaya gitu?" tanyaku penasaran.


"Kalo ga percaya liat hp kamu! Leon terus-terusan nelponin dan ngechat hp kamu tau ga!" kata Lyra, lalu aku mengambil ponselku yang berada di meja belajarku, saat aku melihat notifikasinya ternyata Leon meneleponku sampai 37 kali, dan dia terus ngechat aku

__ADS_1


 


**Leon ketua OSIS**


 


Li...kamu dimana?


Hei...


Kamu kok pergi gitu aja


Pergi kemana kamu?


Kenapa ga kasih tau aku?!


Hei


Natalia Lavender........


P


P


P


P


P


P


P


P


Kamu dimana sih,jangan bikin aku khawatir deh!


Sayang!


Kamu marah sama aku?


Hei bales dong!


P


P


P


P


P


P


P


P**


Kira-kira kaya gitu deh kiriman pesan Leon


"Hah! panggilan suara dan video sampe 37 kali!!!" kataku dengan keras karena terkejut


"Tuh kan, apa aku bilang" kata Lyra dengan santainya.


"Trus sekarang Leon masih nyariin aku?" tanyaku.


"Ga tau tuh, tapi aku udah ngasih tau Leon sih. Dia bilang ga mau ganggu dulu sampe kamu mendingan" jelas Lyra.


"Oooo" jawabku singkat.


"Minum obat dulu nih! tadi aku minta obat ke UKS" perintah Lyra sambil memberikan obat paracetamol.


"Makasih" kataku sambil mengambil obat yang di berikan Lyra lalu meminumnya.


"Ya udah deh, kamu istirahat dulu.Kalo besok masih sakit kamu ga usah berangkat" kata Lyra.


"Lyra benar, Nala" sahut Vier.


"Ya makasih banyak loh" kataku.


"Ya pokoknya kamu harus istirahat biar besok bisa brangkat sekolah" kata Lyra.


"Okd, bye" kataku.

__ADS_1


"Bye" jawab Lyra dan Vier hampir bersamaan, mereka pergi keluar kamarku.


"Kriet...." pintu di tutup pelan oleh Lyra.


"Untung ga ketauan" lirihku, aku memang berencana untuk tidak memberitahukan mereka berdua tentang Leon dan Feter.


"Dah lah, tidur lagi apa jangan?" tanyaku malas pada diri sendiri sambil rebahan di ranjang lalu duduk lagi.


"Mending jalan-jalan keluar" kataku, dengan segera aku berdiri dari posisi duduk dan mengambil headphone serta ponsel, lalu pergi keluar asrama.


♪Dance Monkey♪


Aku memutar lagu dance monkey di ponselku, memasangkan sambungan headphone ke ponselku dan mendengarkan musiknya. Aku berjalan sampai pinggir hutan.


Eh di sekolah ini punya hutan yang agak luas lho. Hutan ini di pakai buat penelitian, karena sekolah ini cukup luas seperti yang di katakan di episode sebelumnya -author


"Srash.....srash.....srash...." suara tanaman yang ditiup angin sepoi-sepoi.


"Huh.....udaranya sejuk di sini" gumamku, lalu aku mematikan musik di ponselku dan menurunkan headphone yang sebelumnya ada di telingaku.


"Hah... hah... hah.... ukhh" suara seseorang yang terengah-engah.


'Eh, ada seseorang disini?' tanyaku dalam hati.


Aku mengecek daerah sekitar dengan hati-hati, aku terkejut ketika melihat seseorang yang sedang terluka di sana.


"Hah....kamu gapapa?" tanyaku sambil menghampirinya.


"Ah.... siapa kau? apa yang kau inginkan?" tanyanya dengan nada agak keras.


"Tidak apa-apa, aku akan mengobatimu" kataku ramah sambil tersenyum, aku melihat sekeliling dan syukurlah ada beberapa tanaman obat yang bisa di pakai, aku mengobati lelaki itu dan dilihat dari tubuhnya dia seumuran denganku.


"Sudah selesai!" kataku.


"Oh iya, namaku Natalia Lavender kamu bisa panggil aku Nala, aku dari kelas 1-3,salam kenal" kataku sambil tersenyum manis.


"Siapa namamu?" tanyaku.


"Ryan" jawabnya singkat.


"Makasih" lanjutnya.


"Sama-sama" jawabku sambil tersenyum, Ryan membalas dengan tersenyum kecil, suasana menjadi canggung


"Sedang apa kau disini?" tanya Ryan membuka pembicaraan.


"Oh itu, aku lagi jalan-jalan trus aku ketemu kamu" jelasku.


"Kalo kamu?" tanyaku.


"......." Ryan diam


"Kalo kamu ga mau kasih tau aku, gapapa kok" kataku lagi.


"Kamu bisa berdiri?" tanyaku.


"Bisa" jawabnya.


"Ya udah aku pergi dulu ya dah, Ryan" kataku sambil berlalu pergi.


"Sampai jumpa, Nala. Kita akan bertemu lagi" katanya dengan nada agak pelan, jadi ga terlalu kedengeran.


~oOo~


Author pov


Sebenarnya Leon cuma khawatir kalo Nala hilang atau diculik, nanti rencananya gagal dong. Yang bener² panik tuh Max, Lyra, Vier, Raeky, Xander, Feter dan Arya juga Dika.


"Aih.. apa dia ke asrama cewe ya?" gumam Max, dia pun pergi ke asrama perempuan.


Dia diperbolehkan masuk oleh penjaga asrama karna alasan darurat.


Max berlari ke kamar Nala dia mengetuk pintu beberapa kali tapi ga ada jawaban, waktu dia buka pintunya ternyata ga dikunci. Max melihat Nala yang terbaring di ranjang, tidur kayanya tapi biasanya kalaupun Nala tidur dia pasti bangun pas ada yang ngetuk pintu kamarnya.


Max mendekati Nala, membenarkan posisi tidurnya dengan perlahan, benar dugaan Max kalau Nala demam tinggi. Dia langsung pergi ke UKS dengan sihir teleportasi nya untung saja penjaga UKS adalah ras Elf yang ga terlalu kaget liat Max dateng tiba² ke UKS, ga kaya manusia yang kaget setengah mati.


"Bu, tolong obat penurun demamnya ya!" ujar Max.


Wanita paruh baya itu mengambil kan obat paracetamol juga memberi sebuah apa ya namanya.... em.. yang di tempel di dahi trus ga lepas², kalo ada yang reader tau comment ya!.


Wush..


Max kembali ke kamar Nala dia dengan cepat memasangkan alat tadi itu, dia juga memanggil Vier dan Lyra. Semua merasa lega saat tau Nala ada di dalam kamarnya sendiri, Max merawatnya dengan lembut.


Setelah dirasa cukup Max meminta supaya mereka merahasiakan ini, dia pun menghilang dari pandangan semua orang.

__ADS_1


__ADS_2