Sahabat 3 Bangsa

Sahabat 3 Bangsa
Eps 17 : Kerajaan Trivia


__ADS_3

Nala pov


Kerajaan Lavrandex


Taman belakang kastil



Anggap aja malem trus banyak kunang kunang hehe. (Author gan)


Hah... bunda benar-benar menekanku ya, aku duduk di kursi kayu dengan perasaan kesal yang meluap. Aku pun bisa merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku, rasanya begitu damai. Aku bersender di senderan kursi kayu, memejamkan mata.


Mengistirahatkan pikiranku yang melayang, suara jangkrik dapat terdengar samar-samar. Saat ku buka mataku, aku bisa melihat banyak sekali kunang-kunang berkeliaran, melintasi tubuhku untuk mencari makan.


'Semoga aku masih bisa merasakan situasi seperti ini lagi, aku pasti merindukan suasana damai seperti ini. Tapi disisi lain aku tau, terlalu damai juga akan membuat kekacauan,' batinku seolah bersyair.


Tanpa sadar aku tertidur hingga larut, makan malam pun sudah selesai sejak tadi. Kak Ari dan kak Wira mencariku, mereka meminta bantuan pada prajurit dan maid, bahkan pak Ovel. Tapi aura ku tersamarkan oleh alam, mereka jadi kesulitan.


Disaat semua orang sibuk mencariku, ada seseorang yang datang menghampiri ku, aku tidak tau siapa itu karena saat itu aku benar-benar tertidur, aku merasa aman dan nyaman. Apalagi sejak awal aku merasa ada yang mengawasiku, hanya saja secara alami kewaspadaanku menurun.


Siapa itu? siapa yang membawa ku pergi dari taman? Author tolong beritahu....!.


~oOo~


Author pov


Keesokkan paginya


Kamar Nala


(Fotonya di eps sebelumnya, ga Author keluarin di eps ini karena males nyari ehe:v)


Untuk siapa yang membawa Nala, Author ga mau ngasih tau hehe, biarlah jadi misteri uhuy... sekarang Nala sudah terbangun, dia meregangkan ototnya dengan olahraga ringan.


Dia pun mengganti baju tidurnya dengan pakaian training, dia berlari keluar kastil. Kebetulan pasukan khusus milik jendral muda Malvin sedang berlatih, bersama anak buah Nala tentunya. Kakashi hanya bisa menatap dari pinggir lapangan, tangannya masih butuh istirahat.


"Kakashi...!," panggil Nala.


Kakashi menoleh, matanya berbinar begitu menemukan panutannya berlari kecil ke arahnya.


"Bagaimana kabarmu?."


"Tentu baik, nona. Tapi masih butuh penanganan, nona sendiri kenapa semalam bisa tertidur di taman belakang kastil?."


"Ei? kau tau tentang itu?," tanya Nala kebingungan, Kakashi mengangguk.


"Itu sih karena suasana damai yang sudah lama tak kurasakan, makanya aku bisa tertidur disana," jawab Nala membuat Kakashi ber-Oh-ria.


Setelah berolahraga sejenak, Nala pun kembali ke kamarnya mengganti pakaiannya dengan gaun khas rakyat biasa (bajunya dia beli dari salah satu maid). Saat Nala turun, dia menjadi sorotan para pelayan, prajurit dan pejabat, dia menlangkah ke ruang singgasana.



"Kau yakin mau berjalan jalan dengan pakaian itu?," tanya Wira.


"Iya, kenapa?," tanya Nala balik.


"Eum... berbaur sama rakyat biasa ya...?," tebak Ari.


"Yups.. itu lebih baik dari pada mereka segan padaku dan membuat jarak hubungan."


Jawaban tak terduga dari Nala sukses membuat hati para pejabat dan maid disana luluh, apalagi kedua kakaknya yang sudah tersenyum kecil.


"Gak sarapan dulu nih? bentar lagi kan sarapan," ujar Tasha.


"Gak ah bund, makan diluar aja. Ngomong-ngomong minta duit dong, aku ga tau disini pake mata uang apa."


Celetukan Nala membuat suasana ruang singgasana hening.


"Haih... disini menggunakan mata uang berbeda sih, kau jadi bingung ya."


Tasha menepuk dahinya pelan, dia dengan sihirnya mengeluarkan sebuah kertas perkamen, disana Nala bisa membaca dalam bahasa Prancis-latin. Dia terkejut begitu mengetahui apa mata uang yang digunakan di kerajaan ini.


Mata uang yang digunakan


Keping perunggu kuno abad pertengahan yang langka di dunia manusia, keping perak abad pertengahan, keping emas murni juga berlian.


•1 keping perak \= 50 keping perunggu


• 1 keping emas \= 100 keping perak


• 1 keping berlian \= 100 keping emas


Wajah Nala seketika menjadi datar. Meskipun dia tau yang menjadi mata uang adalah murni, orang-orang dapat kesulitan dengan adanya uang-uangan ini :v.


"Bunda... mata uang ini sudah ada sejak kapan?," tanya Nala datar.


"Eum.... sejak ribuan tahun lalu, sejak bangsa Wizard dibentuk," jawab Tasha tanpa rasa bersalah.


"Dan bunda tak pernah menggantinya selama ini?," tanya Nala lagi.


"Engga, mereka udah terbiasa sama mata uang itu jadi ga masalah," jawab Tasha lagi.


"Huh... baiklah, aku sudah punya cukup banyak uang sekarang."


"Oh.. berlian-berlian murni milikmu itu ya."


"Hm..."


Nala berbalik dari melangkah keluar ruang singgasana tapi langkahnya terhenti saat Tasha memanggilnya, dan berkata sesuatu yang membuat Nala memutar bota matanya malas.


"Nala! pergilah dengan jendral Malvin."


Nala tak menjawab, disisi lain Malvin alias Max yang ada di ruang singgasana berdiri lalu hormat, mengikuti Nala keluar kastil. Dia mengikuti Nala dengan pakaian khas rakyat biasa, tak ada yang mencurigainya. Selang beberapa menit Nala merasa jengah di ikuti terus. Dia berbalik dan menatap Max jengah dengan kedua tangan terlipat depan dada. Untunglah saat ini mereka berada di dekat gerbang kastil.


"Hei Max, bisakah kau berhenti mengikutiku?."


"Tidak."


"Baiklah baiklah, kau bisa berjalan sejajar denganku. Cepatlah."


"....."


Max terdiam. Kesal karena kelakuan Max, Nala menarik tangan Max hingga tubuh mereka sejajar (kecuali tinggi badan:D). Max tentu terkejut tapi dia hanya bisa menahan tawanya melihat ekspresi lucu Nala.


"Mulai sekarang, karena kau menjadi pengawal pribadiku secara otomatis kau akan selalu mengikutiku kecuali di istana dan itu berarti mulai sekarang aku adalah 'atasanmu' dengan kata lain 'bos' mu."

__ADS_1


"😕."


Wajah Max tidak berubah, hanya alis sebelah kirinya yang sedikit terangkat. Nala melirik ke arah Max lalu berdecak malas.


"Itu artinya mulai detik ini kau harus mendengarkan perintahku."


"Saya hanya menaati perintah ratu."


"Ya ini peraturan saat kau sedang mengawalku, mengerti."


Max mengangguk.


"Baiklah, yang pertama jangan gunakan bahasa formal saat kita sedang menyamar seperti ini."


Max mengangguk setuju.


"Kedua, jangan panggil aku pake embel-embel princess kalo lagi menyamar, nanti mereka curiga. Kau bisa memanggilku Nala saja."


Max hanya mengangguk paham.


"Ketiga, bersikaplah normal saat kau bersamaku. Kau bisa rileks, santai saja."


"...."


Max diam di dalam hatinya dia mencibir.


'Hei hei, ini kelakuanku biasanya. Dan kau bilang aku harus bersikap normal? aku harus bersikap bagaimana lagi na??,' batin Max mencibir.


"Hei..! Max!!."


Plak


Kesadaran Max kembali sepenuhnya, dia menatap Nala yang dari tadi sibuk mengibaskan tangannya di depan wajah Max yang tinggi, ralat, badannya Max yang tinggi jadi otomatis wajahnya juga dong:v itu sih menurut tinggi badan Nala yang cuma 167 cm sedangkan Max 182 cm, jauh kan? btw tadi Max ga sengaja kena tampar Nala.


"Kau ngapain loncat-loncat dan... tadi kamu tampar aku?," tanya Max.


"Nyadarin kamu lah, dari tadi panggilin juga tetep aja ga sadar-sadar. Kamu itu tinggi, tadinya cuma mau nepuk pelan eh aku nya hampir jatuh jadi ga sengaja ketampar deh hehehe."


Meskipun Max ga terlalu ngerasa sakit, tapi tetep aja... ditampar cewe di depan umum? rasanya lumayan malu guys, untung aja mental Max kuat ehe.


"Oh.."


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, Nala meminta Max membawanya ke pasar. Tentu saja langsung disetujui Max.


"Wah... ramainya..."


Nala berkomentar saat melihat pasar yang ramai pengunjung, dia langsung antusias menarik tangan Max ke salah satu toko jajanan.


"Bibi.. ini apa?," tanya Nala.


Max tersenyum tipis, dia mengeluarkan beberapa perunggu melalui sihir penyimpanannya, dia tau ga mungkin ada uang buat nukerin berlian milik Nala. Setelah beberapa menit berinteraksi, Nala pun membeli 2 porsi jajanan itu.


Tepat sebelum Nala mengeluarkan uangnya, Max sudah menyodorkan 6 keping perunggu pada bibi penjual.


"Saya yang bayar."


"Oh.. apa dia temanmu, Malvin?."


"Iya, orang baru juga dan sepertinya uang miliknya belum dicairkan."


"Terima kasih, Max."


Ujar Nala hingga secara otomatis mencium pipi kiri Max membuat Max terkejut (btw itu Max lagi nunduk makanya muka dia sama Nala sejajar), apalagi bibi penjual itu. Dia udah terkikik sejak tadi.


'A... apa-apaan?,' batin Max malu.


Wajah Max sukses memerah membuat bibi penjual jajanan tadi menahan tawa, sedangkan Nala tidak menyadari itu. Nala menarik tangan Max ke toko selanjutnya.


"Terima kasih, bibi!," salam Nala sambil pergi.


Mereka terus berada di pasar hingga waktu menunjukkan pukul 08.00. Kini mereka berada di bawah pohon rindang di taman kota, dan kaki Nala lecet. Mengharuskan Max mencari betadine dan plester.


"Kok bisa lecet sih?," tanya Max.


"Ga tau, biasanya sih ga lecet."


Setelah memplester luka di kaki Nala, Max duduk di samping Nala yang asyik bermain kucing liar.


"Awas bulunya masuk hidung," tegur Max.


"Aku tau."


"Hei Max, bukankah dia imut...?," ujar Nala.



"Hm.. lumayan. Apa kau mau memeliharanya?."


"Bolehkah? tentu saja aku mau!."


"Minta ijin ke bundamu sana."


"Heh!! yang benar saja kau ini!," kesal Nala.


"....."


Hening terjadi, Nala sibuk bermain dengan kucing itu dan Max yang membaringkan tubuhnya di rumput, tidur guys.


"Max."


"Hn?."


"Siapa nama panjangmu, ah maksudku nama aslimu."


"Malvin Variette, pangeran ketiga kerajaan elf terkuat, kerajaan Trivia."


"Lalu.. kenapa kau ada disini?."


"Aku secara diam-diam direkrut menjadi jendral muda pasukan khusus, saat berperang atau berbicara di depan umum, aku selalu memakai topeng."


"Oh iya, panggil aku Malvin jangan Max. Karena nama Max adalah nama jendralku, hanya yang mulia ratu memanggilku Malvin di kerajaan, jika di peperangan aku dipanggil Max oleh semua orang karena topengku."


"Hum... bagaimana kau kupanggil Xam?," tawaran Nala membuat Max mengernyit.


"Apa itu?."

__ADS_1


"Kebalikan nama Max, X. A. M. Xam! kau bilang Malvin adalah nama aslimu lalu Max nama jendralmu, jadi Xam adalah panggilanku untukmu. Mengerti?."


"Huh.. hentikan! kau bisa memanggilku Max saja, lagipula hanya sedikit orang yang tau nama jendralku."


"Iyakah? siapa saja?."


"Para menteri, para jendral muda dan senior, beberapa maid dan prajurit, beberapa bawahan terpercayaku, keluarga kerajaan. Hanya itu."


Nala ber-Oh-ria, lalu membaringkan tubuhnya di rerumputan. Hening kembali terjadi, lalu Nala terpintas sebuah ide.


"Max, bangun..!."


Nala menggoyangkan tubuh Max membuat Max terbangun.


"Ayo kita ke kerajaanmu."


"Ha?."


Butuh waktu beberapa detik hingga Max sepenuhnya sadar, dia langsung duduk dan menatap Nala serius.


"Untuk apa?."


"Hanya ingin berkunjung tidak boleh ya?."


Nala cemberut membuat Max tak tega.


"Maksudku apa yang mulia ratu tidak masalah?."


Nala diam, dia mengirim telepati ke bundanya (Tasha).


"Tadi aku dah ijin bunda, katanya boleh tapi jangan lupa makan malam dan harus balik ke kerajaan," jawab Nala.


"Hah.. baiklah, ada sesuatu yang harus kujelaskan. Jangan memotong selagi aku sedang bicara."


Suasana berubah serius.


"Aku pangeran ketiga kerajaan Trivia dikenal sebagai pangeran sampah, sedangkan sihir teleportasi cukup sulit dipelajari, hanya ada 15-20% orang di setiap kerajaan yang bisa menguasainya. Jadi kita harus pergi ke kuil untuk pergi ke kerajaan Trivia."


"Kuil? ada apa disana?."


"Altar teleportasi, kita juga menggunakan itu seperti 2 bangsa lainnya. Apa kau tidak masalah?."


"Tidak kok."


"Ah satu lagi, apa kau punya uang receh?."


"Ha?."


Nala kebingungan dengan pertanyaan dilontarkan Max.


"Coba cek penyimpananmu."


Nala menuruti apa yang Max suruh, dia mengecek sihir penyimpanannya. Dia terkejut saat melihat 5 kantung uang disana.


"Aku punya 1 kantung perunggu yang berisi sekitar..... 100 keping, lalu 2 kantung perak masing-masing 100 keping dan 2 kantung emas, masing-masing juga 100 keping."


"Oh.. itu berarti yang mulia telah mengirimkanmu uang."


"Lalu? apa kita jadi pergi ke kerajaanmu?," tanya Nala.


"Baiklah ayo."


Setelah beberapa menit akhirnya Nala dan Max sampai di kerajaan Trivia, Nala terkagum kagum begitu sampai di sana. Banyak sekali ras elf yang berlalu lalang disini, Max pun merubah penampilannya menjadi ras elf juga.


"Ayo, ikut aku ke kastil keluargaku," ajak Max.


Nala menurut, sebelum itu dia dibawa ke sebuah toko pakaian. Dia kebingungan.


"Ngapain sih?."


"Pilih baju, ga mungkin kamu dateng ke kastil pake baju gini yang ada malah dihina habis habisan."


"Ohhh... tentang itu, aku bawa baju. Bentar, aku ganti baju dulu."


.


.


.


.


"....."


Max benar-benar spechless melihat penampilan Nala saat ini, siapa sangka Nala tampak begitu cantik dengan balutan gaun pendek hijau muda dengan sedikit warna hijau gelap sepanjang 10 cm di bawah lutut, ditambah hiasan bunga marigold oranye di kepalanya lalu sepatu sandal berwarna hijau, lalu tatanan rambut kepang kecil di poni dengan sebagian rambut bagian kiri di ikat kecil membentuk lingkaran, sedangkan rambut sisanya dibiarkan terurai.


Penampilan Nala saat ini mampu memikat siapa saja yang melihatnya termasuk Max bahkan beberapa pegawai di toko tersebut memujinya.


"Hei Max, bagaimana? hei..! Max!."


"Cantik."


"Ha?."


"E eh? tadi kamu bilang apa?."


Sebagian pegawai menahan tawa melihat Max yang tampak salting, Max saat ini sudah menggunakan pakaian kebangsawanannya ditambah tatanan rambut yang hanya disisir ke samping menambah poin cool di mata kaum hawa.


Jubah Max pun tak ketinggalan, walaupun tak seglamor jubah pangeran lainnya namun dapat dilihat jubah ini di buat khusus untuk memudahkan perjalanan sang pengguna.


"Ayo kita pergi😊."


'Astaga.. senyuman yang memabukkan lebih mabuk dari minuman kali ya. Penampilannya imut banget, kayanya Eva bakal suka,' batin Max.


"Hei Nala, apa kau tau? bundamu memiliki setengah darah elf," ujar Max.


Dia memberitahukan fakta yang jarang diketahui orang, fakta bahwa Tasha memiliki setengah darah elf, hal itu membuat Nala terkejut namun senang. Max memberitahukan bagaimana caranya mengubah wujud ke wujud elf, dan... sebuah kejutan! Nala bisa merubah wujudnya menjadi wujud elf cantik dalam 1 kali percobaan.


Semua orang terkejut bahkan Max, biasanya untuk merubah wujud ras diperlukan waktu 10 menit ataupun gagal dalam percobaan pertama, kecuali orang abnormal seperti Max dan Nala.


Akhirnya mereka pun pergi dari toko itu, sepanjang perjalanan semua orang memperhatikan Nala dan Max yang tampak serasi. 2 orang yang di perhatikan tampak tak peduli dengan itu, mereka asyik mengrobrol sambil berjalan.


"Wah wah... pangeran sampah sudah kembali rupanya," ujar sebuah suara membuat Nala dan Max menoleh.


Sepasang kekasih berbicara dari jarak 2 meter, Nala menelengkan kepalanya sambil menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


__ADS_2