
Nala pov
Taman Lune adalah taman khusus OSIS yang di rawat sendiri oleh pengurus OSIS, taman ini di berikan kepala sekolah yang dulu (sebelum pak Reihan).
Taman Lune adalah taman yang paling indah di SMA ini. Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa pengurus OSIS sangat di hormati? selain pintar, para pengurus OSIS hebat dalam berbagai bidang, orang-orang di dalamnya juga kompeten, bertanggung jawab dan tentunya ganteng dan cantik (masih cantikan aku sih, wkwkwk). Apalagi ketua, wakil ketua, sekretaris 1 dan kesiswaannya ganteng banget, sampai di nobatkan sebagai 4 cowok terganteng se-SMA.
Taman ini berbentuk segi 5 dengan 5 buah paviliun ber-cat putih di setiap sudut bagian,vdi tengah taman ada sebuah air mancur yang indah, di sekeliling gazebo itu terdapat taman bunga yang indah, pokoknya indah deh (cerita tambahan author/pemberitahuan tentang taman Lune).
SESAMPAINYA DI TAMAN LUNE
Aku melihat para pengurus OSIS sedang berlatih, saat melihatku mereka pasti penasaran kenapa aku ada di sini. Tak lama seorang gadis datang menghampiriku dengan wajah datar dan berkata.
"Nona Nala, silahkan ikut dengan saya. Ketua sudah menunggu anda di dalam gazebo" kata gadis tadi.
"Oh...baiklah" ucapku, lalu mengikutinya pergi ke paviliun yang di beritahu.
Benar saja Leon sudah menunggu di sana, aku bisa melihat dia sedang meminum segelas bir.
"Nona, silahkan duduk di sini" kata gadis tadi.
Setelah aku duduk Leon mengibaskan tangannya dan semua orang di gazebo itu keluar kecuali aku dan Leon.
"Kenapa anda meminta saya untuk datang lebih awal, ketua?" tanyaku dengan bahasa formal.
"Tidak usah terlalu formal" jawab Leon.
"Kamu bisa minum bir?" tanyanya sambil menuangkan bir ke dalam gelas lainnya.
"Tentu, tapi jangan terlalu banyak" jawabku.
"Bein" ucap Leon.
"Kamu bisa bahasa Prancis?" tanyaku agak terkejut dengan ucapan Leon tadi.
(Bein dalam bahasa Prancis berarti baik. -author)
"Iya" jawabnya.
"Ini untukmu" lanjutnya sambil memberikan gelas berisi bir.
"Terima kasih" ucapku sambil meraih gelas yang di berikan Leon dan meminum sedikit bir dalam 1 tegukan.
"Sama-sama" ucap Leon.
"Tadi anda belum menjawab pertanyaan saya, ketua" kataku kembali menggunakan bahasa formal.
"Sudah ku katakan untuk tidak menggunakan bahasa formal" kata Leon dengan kesal dan meminum bir dalam gelas dengan sekali tegukan.
"Baiklah, aku tuangkan bir lagi ya?" tanyaku, Leon hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
"Kamu jawab pertanyaanku tadi!" desakku pada Leon sambil menuangkan bir ke dalam gelasnya.
Leon tidak menjawab dia malah berdiri dan berbalik mengambil sesuatu, sebuah kotak berwarna ungu. Saat di buka di dalamnya terdapat sebuah gelang berwarna putih disekelilingnya dengan sebuah liontin berwarna biru berbentuk bulat.
"Ini untukmu, apa kamu suka?" tanya Leon, aku tertegun dan segera menganggukkan kepala.
Leon berjongkok di depanku yang sedang duduk lalu memasangkan gelang itu.
"Ini....bagus banget, makasih Leon" ucapku sambil tersenyum.
"Iya, sama-sama. Gelang itu cocok buat kamu" lanjutnya sambil tersenyum lalu ia berdiri dan duduk kembali di kursinya.
"Teman kamu udah dateng tuh" ucap Leon sambil meminum bir.
Benar saja, aku melihat Lyra dan Vier datang ke arah kami bersama Dika, Feter dan Arya. Leon beranjak dari duduknya.
"Teman-teman pengurus OSIS, kalian bisa kembali ke asrama masing-masing. Besok kita lanjutkan lagi latihannya" teriaknya pada pengurus OSIS.
"Baik, ketua" ucap mereka serentak lalu pergi keluar taman Lune.
"Li, ayo kita pergi" ajaknya sambil mengulurkan tangannya.
"Bein" ucapku sambil tersenyum lalu meraih tangan Leon.Leon menggenggam tanganku dan membawaku menemui Lyra dan Vier di dekat air mancur.
"Lyra! Vier!" panggilku,lalu melepaskan genggaman Leon, memeluk Vier dan Lyra.
"Eh...ada apa ini?" tanya Lyra.
"Ti-tidak ada" jawabku.
"Lepaskan aku!" kata Vier kesal,aku pun melepaskan pelukanku.
"Itu menggelikan" lanjut Vier.
"Hih....ga usah gitu juga kali" runtukku sebal sambil cemberut.
"Sudahlah, ayo kita kesana untuk memilih pertandingan apa yang akan kalian ikuti" ucap Arya sambil menunjuk sebuah tempat yang penuh dengan macam-macam senjata.
"Baiklah" jawabku dan Vier hampir bersamaan. Kami pergi ke tempat itu dan memilih senjata.
__ADS_1
"Vier, apa yang kau pilih?" tanya Arya, Vier terdiam sejenak.
"Aku pilih anggar" jawab Vier.
"Anggar?kau pintar memilih tapi anggar agak sulit untuk di pelajari, apa tidak masalah?" tanya Arya dengan ragu.
"Tidak apa, aku pasti bisa menguasainya" jawab Vier
"Oh..ok, Lyra?" tanya Arya pada Lyra.
"Emm....aku...aku pilih berkuda saja" kata Lyra.
"Berkuda?aku bisa mengajarimu" ucap Dika.
"Oh...terima kasih" kata Lyra sambil tersenyum ramah, Dika hanya membalas dengan senyum tipis.
"Ok, kalau Nala?" tanya Arya,semua orang menatapku. Aku terdiam.
"Bagaimana kalau panahan?atau menembak?" usul Feter.
"Aku pilih keduanya" jawabku.
"Hah....!?" ucap mereka serentak karena terkejut dengan jawabanku.
"Kenapa pilih keduanya? kalau kau pilih keduanya takutnya kau malah kelelahan dan tidak bisa bertanding" tanya Arya heran.
"Aku hanya ingin mempelajarinya, karena aku tertarik dengan itu" jawabku.
"Boleh jika kamu pilih keduanya tapi kamu harus dalam pengawasanku saat berlatih" kata Leon.
"Maksudnya? aku harus di latih sama kamu gitu?" tanyaku pada Leon, Leon menganggukkan kepalanya.
"Kalau Nala boleh pilih dua aku juga mau pilih satu lagi, bela diri, bagaimana kalau wushu?" tanya Vier bersemangat.
"Kalau gitu aku juga mau satu lagi, biliar! aku mau kalian mengajari ku permainan biliar" ucap Lyra dengan sedikit memaksa.
"Baiklah, besok kalian bisa mulai latihan. Aku akan mengajari Vier anggar dan wushu, Dika akan mengajari Lyra berkuda dan biliar, Leon akan mengajari Nala panahan dan menembak, sedangkan Feter awasi para pengurus OSIS yang berlatih besok. Besok aku dan Vier akan latihan di dekat danau, Lyra dan Dika akan latihan di landasan pacu dan di tempat bermain biliar, sedangkan Leon dan Nala akan latihan di..." ucap Arya menjelaskan, namun di saat terakhir Leon memotong ucapan Arya.
"Aku dan Nala akan latihan di hutan" potong Leon.
"Hah...hutan!?" tanyaku dengan heran sekaligus terkejut.
"Ok...kalian akan latihan di hutan" ucap Arya.
"Tapi...itu hutan loh" ucapku dengan nada agak keras.
"Bagaimana kalau...." lanjutku tapi tidak ku lanjutkan lagi karena Leon berbisik di telingaku.
"Ok, sudah di putuskan kalian akan berlatih di tempat yang sudah di tentukan, kalian bisa kembali ke asrama masing-masing. Besok kalian akan kami panggil untuk mulai berlatih, sampai jumpa besok" ucap Feter.
"Baik, sampai jumpa besok" ucapku, Lyra dan Vier bersamaan.
Kami pun berlalu pergi ke asrama, di perjalanan menuju asrama kami bertemu dengan Andhina dan teman-temannya. Saat mereka (4 orang termasuk Dhina) melihat kami, mereka langsung mendekat ke arah kami.
"Hei!" panggil salah satu di antara mereka, dengan reflek ke arah mereka.
Saat aku melihat mereka aku mengubah ekspresiku menjadi datar begitu pun Lyra dan Vier.
"Ada apa?" tanyaku malas.
"Kalian habis dari mana?" tanya gadis di sebelah kanan Dhina dengan angkuh.
Aku melihat Lyra memutar bola matanya dia cukup muak dengan sikap mereka, sedangkan Vier heh... jangan di tanya dia malah sedari tadi memalingkan mukanya ke arah yang berlawanan dengan mereka.
"Kita baru aja keluar dari taman Lune" kataku dingin.
"Heh....oh ya? mana mungkin kalian baru saja dari sana" balas gadis di sebelah kiri Dhina, jujur saja aku sangat tidak suka dengan sikap mereka yang angkuh.
"Ini sudah petang, kalau mau debat besok saja. Kalau kalian ga percaya juga ga masalah kok, sampai jumpa" ucapku dingin sambil berlalu pergi menggandeng Lyra dan Vier yang sejak tadi diam saja.
"Hei!!!!" panggil gadis di sebelah kiri Dhina dengan kesal, aku tidak menghiraukannya dan memilih untuk mempercepat langkah, aku menarik Lyra dan Vier sampai ke koridor asrama.
"Lepaskan aku!" perintah Vier, aku pun melepaskan gandengan tanganku dengan Vier dan Lyra.
SAAT SAMPAI DI DEPAN KAMAR
"Kamu yakin mau cari masalah dengan mereka, besok?" tanya Vier agak ragu tapi dengan nada datar.
"Heh...Vier. Bukan aku yang mencari masalah tapi mereka, besok kita kan mau latihan, apa yang harus di khawatirkan?" jawabku santai.
"Iya sih,kamu licik juga ya" puji Lyra sambil tertawa kecil, eh....itu pujian atau sindiran?.
"Ih...itu sindiran apa pujian?" tanyaku sebal.
"Menurutmu?" tanya Lyra sambil tersenyum nakal.
"Ih....menyebalkan!" ucapku sambil cemberut, Lyra tertawa kecil melihat sikapku, saat aku melirik Vier aku melihat ia tersenyum tipis.
"Sudahlah,aku mau istirahat dulu, bye" kata Lyra lalu ia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu agak keras.
__ADS_1
"Brak...." suara pintu di banting agak keras.
"Ih...pelan-pelan kan bisa" runtukku, Vier hanya sedikit menggelengkan kepala melihat sikapku dan masuk ke dalam kamarnya.
"Ya sudahlah" ucapku lalu masuk ke dalam kamar.
Setelah mandi dan berganti pakaian,aku keluar kamar untuk makan setelah makan aku kembali ke kamar untuk belajar, setelah itu aku pun tidur.
"Tidak sabar menunggu hari esok, selamat malam" ucapku sebelum tidur.
~oOo~
Author pov
Melanjutkan percakapan Vier dan Lyra sebelum mereka pergi ke taman Lune.
"Kau yakin?."
"Hm... tidak."
"Kita latih dia? apa dia akan percaya? dia itu selalu berpikir logis dan aku agak tidak suka dengan pemikiran logisnya padahal di dunia ini ga ada yang ga mungkin." -Lyra.
"Hm..."
"Ham hem ham hem, bisa ngomong bener ga sih?."
"Bener dah:)."
"😲😤."
Lyra menjadi kesal mendengar jawaban Vier yang datar, mereka pun memutuskan untuk pergi ke taman Lune, di perjalanan mereka yang dibalut keheningan, Lyra dan Vier bertemu Dika dan Feter yang sedang berberes.
"Kak Dika."
"....."
"Sedang apa kalian disini? bukannya kalian di taman Lune? tadi kayanya Nala dah dateng tuh" tanya Dika beruntun.
"Dia duluan, ada urusan sama ketua katanya" jawab Lyra.
"Oo..."
"Ayo kesana bareng" ajak Dika.
Mereka ber-empat pun pergi ke taman Lune.
"Kak."
"Hng?."
"Kami berdua ingin melatih Nala supaya bisa membantu saat menghadapi ramalan itu."
Perkataan Lyra membuat Dika dan Feter terkejut dan menegang di tempat sampai menghentikan langkah mereka, Vier dan Lyra ikut berhenti lalu menatap mereka bingung.
"Ramalan itu terlalu berbahaya," lirih Feter.
"Ha?."
Vier terkejut, dugaannya benar.
"Ramalan itu untuk kami kan? kami bertiga yang bertanggung jawab atas 3 bangsa kan?" tanya Vier.
Feter dan Dika mengangguk pelan, wajah mereka menjadi kusut.
"Setelah ulangan nanti kami akan mengirim kalian ke akademi Sunrise" ujar Feter membuat Lyra dan Vier terkejut lagi.
"Akademi Sunrise? akademi di dimensi khusus itu? dimensi yang.. memisahkan 3 bangsa?" tanya Lyra ga percaya.
"Ya, hanya akademi itu yang bersifat netral juga memiliki dimensi khusus yang bisa menjadi perlindungan bagi kalian" jawab Feter.
"Hei, kalian sedang apa?."
Pertanyaan itu berasal dari Arya yang baru datang.
"T tidak ada, hanya.. sedikit berbincang."
Jawaban berasal dari Lyra, mereka pun kembali pergi ke taman Lune sesuai janji.
MALAMNYA
"Astaga... mereka mulai mengetahui itu? sepertinya kita harus memajukan hari kapan mereka dipindahkan."
Saat ini mereka semua (Leon, Arya, Dika dan Feter + Vivian dan Reihan).
"Pak Rei, apa yang harus kita lakukan?."
"Tidak usah dimajukan, kita lihat saja nanti."
Perkataan dari Leon mengundang tanda tanya dari yang lain.
__ADS_1
"Apa maksudmu?."
"Sudahlah, nanti juga kalian tau."