Sahabat 3 Bangsa

Sahabat 3 Bangsa
Eps 8 : Dia ketua OSIS?


__ADS_3

Nala pov


KEESOKKAN PAGINYA


Murid-murid sudah pergi untuk belajar, namun hari ini para guru sedang rapat jadi tidak ada yang mengajar. Kelasku dan kelas lainnya menjadi brisik. Tak lama kemudian ada beberapa orang mencariku, Lyra dan Vier katanya sih di panggil ketua OSIS, kami bertiga di minta datang ke ruang OSIS tapi tidak tahu untuk apa.Kami pun pergi ke ruang OSIS.


SESAMPAINYA DI RUANG OSIS


Kami pun di persilahkan duduk.Kami melihat seorang laki-laki duduk di kursi ketua, aku yakin dia itu orang yang memanggil kami, di sebelahnya ada 2 lelaki hmm.... mungkin mereka bawahannya atau temannya dan seorang lelaki duduk tak jauh dari kami.


"Kriet...." suara kursi di putar, oh ya kursi yang di duduki ketua modelnya kaya kursi kerja yang bisa di puter loh.


Ketua OSIS memutar kursinya yang semula membelakangi kami jadi menghadap kami. Aku terkejut saat aku tau ketua OSIS itu ternyata.....


"Hah.... kamu?!! ketua OSIS?!!" tanyaku karna terkejut.


Semua orang di ruangan itu menatapku seolah olah heran, aku merasa mereka ga asing sama sosok 'ketua OSIS ini', disisi lain aku juga yakin mereka penasaran bagaimana aku bisa kenal dengan ketua OSIS ini.


"Ya, aku ketua OSIS di SMA ini. Kita bertemu lagi ya, Nala" ucapnya sambil tersenyum.


Kalian tau ketua OSIS itu siapa? itu adalah....Leon!!!.


"Iya, kita bertemu lagi. Aku ga tau kalo kamu ketua OSIS" gumamku.


"Oh.. kamu ga tau?" tanyanya, eh malah heran tuh mungkin aku jarang liat mading kali ya, jadi gini.


"Gak tuh, aku jarang liat mading sih" kataku menjelaskan.


"Sudah kita langsung ke intinya saja, yang di sebelah kananku ini namanya Arya, yang di sebelah kiriku panggil aja Dika, yang duduk tak jauh dari kalian panggil aja Feter. Kami semua adalah senior kalian" katanya menjelaskan, lalu memberi kode ke Feter


"Kami memanggil kalian ke sini untuk meminta kalian berpartisipasi dalam lomba tahunan antar SMA, apa kalian mau?" tanya Feter. Kami bertiga saling melihat satu sama lain.


"Baiklah" kata kami bertiga bersamaan.


"Baguslah, pukul 2 siang nanti datanglah ke taman Lune"ucap Feter (Taman Lune itu taman khusus untuk OSIS).


"Baiklah" kata kami bertiga bersamaan.


"Kalian semua bisa kembali ke kelas kecuali Nala, kalian bertiga juga pergi ya" kata Leon.


"Eh...baiklah" ucap mereka bertiga (Feter,Dika dan Arya).


Setelah mereka semua keluar, Leon menghampiriku yang sedang duduk di sofa.


"Nala, boleh aku panggil kamu Li?" tanyanya sambil duduk di sampingku.


"Li? kenapa Li?" tanyaku.


"Natali, Li.Bagaimana?" tanyanya.


Li... aku merasa dia memanggil ku seperti itu ada tujuan lain.


"Boleh deh" kataku sambil tersenyum manis.


"Makasih" kata Leon, aku hanya membalasnya dengan senyum.


"Kamu udah bisa kembali ke kelas,nanti datengnya lebih cepat ya" katanya sambil tersenyum.


"Hmm...akan ku usahakan" kataku sambil berdiri.


"Ya sudah aku pergi ke kelas dulu ya,sampai jumpa nanti sore" lanjutku sambil berlalu pergi.


Aku berjalan secepat mungkin untuk sampai ke kelas. Sesampainya di kelas semua orang menatapku, aku melihat Lyra dan menghampirinya lalu duduk di kursiku dan bertanya.


"Ada apa ini?" tanyaku sambil berbisik.


"Kamu tau ga? kamu itu cewek pertama yang di perhatiin sama ketua OSIS tau" jawab Lyra sambil berbisik.


"Hah...beneran?" tanyaku tak percaya dengan nada pelan. Lyra mengiyakan apa yang dia katakan. Tak lama bel istirahat berbunyi


"Rriiing.... rriiing.... rriiing...." bunyi bel istirahat. Seluruh cewek di kelas menghampiriku.


"Bagaimana kau bisa kenal dengan ketua OSIS?" tanya salah satu dari mereka.


"Kenapa dia perhatian ke lo?" tanya yang lainnya.

__ADS_1


"Apa hubungan kalian?" tanya yang lainnya lagi. Ya ampun mereka ini sedang mengintrograsiku?.


"Aku dan Leon hanya sebatas teman biasa" kataku.


"Bahkan ketua memperbolehkan mu memanggilnya dengan namanya?" tanya salah satu diantara mereka.


"Aku.... aku hanya di minta untuk berpartisipasi dalam lomba saja kok, tidak punya hubungan spesial dengan ketua OSIS" jawabku.


"Baiklah tapi kami akan mengawasimu jika kau dan ketua memiliki hubungan spesial, kami akan membuatmu menderita, teman-teman ayo pergi" kata Andhina. Mereka semua pergi keluar kelas namun tidak dengan Lyra, Vier dan aku.


"Huh...akhirnya mereka pergi juga ya" kataku.


"Iya ya,kamu pasti merasa tertekan" kata Lyra dengan khawatir.


"Hmm...tenang saja" kataku sambil beranjak dari tempat dudukku, menghampiri Vier.


"Hei, Vier. Apa kau mau berteman dengan kami? dari pada kamu diam terus kan? lagian kamu ga ada temen juga" tanyaku.


"Iya,Nala bener. Daripada kamu sendirian terus kan?" kata Lyra.


"Hah.... ok, kita bisa berteman. Tapi kalian tidak boleh terlalu mencampuri urusan pribadiku" kata Vier dingin.


"Ok, tidak masalah" kataku dan Lyra bersamaan.


Vier sebenarnya anak yang cukup hangat dan agak peka, hanya saja bagi yang belum mengenalnya mungkin akan merasa kesal dengan sikapnya, sama sepertiku.


"Rriiing.... rriiing.... rriiing...." bunyi bel masuk kelas/istirahat telah selesai.


Murid-murid segera masuk ke kelas dan duduk di kursi masing-masing,guru pun masuk dan pelajaran di mulai


.


"Rriiing... rriiing.....rriiing....." suara bel pulang.


"Pelajaran sudah selesai, kalian bisa kembali ke asrama masing-masing, selamat siang" ucap guru mapel.


"Siang" ucap murid-murid serentak lalu mereka kembali ke asrama masing-masing.


Sesampainya di asrama aku segera mengganti pakaianku, belajar sejenak, menyiapkan jadwal untuk besok hingga pukul 1 siang. Aku pergi keluar kamar lalu ke kamar Lyra.


"Lyra, apa kamu ada di dalam" tanyaku.


"Kriet....." suara pintu di buka,kupikir itu suara pintu kamar Lyra tapi ternyata pintu kamar Vier yang terbuka, aku melihat Vier berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kemari kau, Nala!" panggil Vier.


"Eh...baiklah" ucapku lalu masuk ke kamarnya, saat di dalam kamar Vier aku melihat Lyra sedang terbaring di ranjang Vier.


"Hah...Vier, Lyra kenapa?!" tanyaku pada Vier dengan khawatir.


"Tadi aku melihat dia keluar asrama karena kelakuannya aneh jadi aku mengikutinya sampai di sebuah tempat dia memegangi kepalanya lalu pingsan" ucap Vier menjelaskan dengan nada datar, itu kalimat terpanjang yang pernah ku dengar dari Vier.


"Kenapa kamu ga bawa Lyra ke kamarnya? kenapa ga cepet kasih tau aku sih?!" ucapku kesal.


"Kamarnya di kunci tau! dan aku ga tau yang mana kuncinya, waktu aku mau ngasih tau kamu, Lyra itu ngigau terus!" ucapnya kesal.


"Mengigau? Lyra mengigau apa?" tanyaku dan emosiku pun mulai mereda.


"Dia mengigau -Jangan....jangan lakukan itu!- itu yang dia katakan" ucap Vier dingin, aku terdiam mendengarnya.


"Apa yang terjadi pada masa lalu Lyra?" tanyaku dalam hati.


"Em..." Lyra pun terbangun.


"Dimana aku?" tanya Lyra.


"Kamu ada di kamarku" ucap Vier dingin.


"Oh...maaf merepotkan mu Vier" kata Lyra merasa ga enak.


"Hmm...." kata Vier sambil meletakkan syal dan headphonenya di atas meja, saat Vier menyibakkan rambutnya ke belakang, aku melihat luka sayatan pedang di lehernya.


"Luka apa itu di lehermu, Vier? seperti luka sayatan pedang" tanyaku pada Vier.


"Tidak usah di bahas" jawab Vier agak dingin, aku melihat dari matanya ada kesedihan yang mendalam.

__ADS_1


Dia pun mengambil pakaian dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


"Huh... kupikir dia sudah tidak dingin lagi tapi ternyata.... tidak berubah sama sekali, gadis yang menjengkelkan" ucapku menggerutu.


"Sudahlah, sabar saja dengan sikapnya" kata Lyra menenangkanku. Tak lama kemudian Vier keluar dari kamar mandi dan melihat kami.


"Kenapa masih di sini? ga pergi ke taman Lune?" ucap Vier.


"Oh iya, Lyra, Vier. Ayo pergi bersama!" ajakku kepada mereka.


"Eh...sekarang kan masih jam setengah 2, emang mau ngapain dateng lebih awal?" tanya Lyra.


"Aku bilang ke Leon kalau mau dateng lebih cepat" kataku menjelaskan


"Oo... mending kamu pergi aja nanti kita nyusul" ucap Vier sambil tersenyum tipis, itu pertama kalinya aku melihat Vier tersenyum, aku yakin dia punya rencana.


"Benarkah?" tanyaku.


"Iya tidak apa-apa kok" jawab Lyra sambil tersenyum.


"Tapi kamu harus hati-hati dengan Leon dia itu cowok yang suka bermain perempuan" lanjut Lyra.


"Ya sudah aku pergi dulu ya, dah" kataku lalu berlalu pergi.


"Dah.." kata mereka berdua serentak.


Selama di perjalanan aku memikirkan apa yang di katakan Lyra.


"Apa Leon seperti yang di katakan Lyra?" tanyaku dalam hati


"Sudahlah lebih baik aku cepat pergi" lanjutku dalam hati.


Aku pun memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu dan mempercepat jalanku menuju taman Lune


~oOo~


Author pov


Di kamar Vier


"Sepertinya kau sudah tau tentang identitas asli ku dan Nala" celetuk Lyra sambil memperhatikan Vier.


"Hm.."


"...."


Hening, hanya suara detak jam yang berbunyi.


"Kimberlly Chamara Felmond, putri kerajaan Blue moon dari bangsa Werewolf. Seorang putri yang diberkati seorang dewi agung, tak kusangka kau bisa berteman juga dengan Nala itu"


Ucapan Vier membuat Lyra termenung.


"Biar kutebak, kau sudah mulai memiliki perasaan tulus pada Nala sebagai sahabat ya kan? lalu kerajaan Blue moon tepatnya ayahmu mengetahui berita itu. Dia marah dan mengirimkanmu telepati, kau berusaha mengelak namun akhirnya kau pingsan karna aura kemarahan ayahmu sendiri"


Perkataan panjang kali lebar Vier membuat Lyra tertegun, dia tak menyangka kandidat ratu vampir di depannya ini bisa se teliti itu.


"Lalu? apakah kerajaan Redmoon tidak menegurmu karna kau menolong putri kerajaan Blue moon dari bangsa Werewolf yang akan menjadi musuhmu dimasa depan?"


Kini Vier terbungkam dengan perkataan Lyra, dia menarik kursi dan duduk disana sambil menatap Lyra dingin.


"Kau mengingat... ramalan itu?"


Hening sejenak


Lyra terkejut tapi kemudian mengangguk.


"Ramalan yang membahas tentang kita dan raja iblis Lucifer, apa... kita akan bisa melakukannya dan mempertahankan kelangsungan hidup 3 bangsa berbeda?"


Ucapan Vier membuat Lyra termenung.


"Kurasa akan sedikit sulit" gumam Lyra.


"Yang paling terbebani adalah kelinci polos" balas Vier.


Lyra mengernyit bingung, Vier mengatakan bahwa itu julukan darinya untuk Nala, Lyra terkekeh kecil mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2