Sahabat 3 Bangsa

Sahabat 3 Bangsa
Eps 12 : Masalah


__ADS_3

Nala pov


"Eh....hujan?" gumamku, aku mempercepat jalanku menjadi lari supaya tidak kehujanan.


SESAMPAINYA DI ASRAMA


"Akhirnya sampai juga" kataku.


"Mending langsung ke kamar aja ah.." lanjutku, sambil berjalan ke kamar.


"Untung ga basah" gumamku, aku berjalan melintasi koridor asrama.


"Ceklek...." pintu ku buka dan ku tutup perlahan supaya Lyra dan Vier tidak tahu kalau aku keluar asrama.


"Ting......" suara notif chat WA masuk ponselku, dan ternyata itu Leon yang chat.


 


Leon ketua OSIS


 


Malem,Li -Leon


Malem,ada apa? -Aku


Kamu kangen aku ga? -Leon


Hmmm............ -Aku


Kamu dah sembuh? -Leon


Aku denger dari Lyra sama Vier kalo kamu demam tinggi,dah minum obat belum? -Leon


Udah kok -Aku


Li...kok kamu engga pamit dulu sih sama aku waktu pergi, aku khawatir tau -Leon


Iya maaf -Aku


Dan kamu jangan berantem kaya waktu itu lagi ya -Leon


Nanti kalau kamu terluka aku khawatir tau -Leon


Mereka dulu yang ajak berantem kok -Aku


Jangan diladenin biar aku aja -Leon


Ga papa kok,lagian aku bisa ngeluapin amarahku -Aku


Oh ya? -Aku


Emang kamu mau ladenin? -Aku


Kan aku ketua osis bisa bantu kamu dong -Leon


Pilih ladenin aku apa mereka? -Aku


Kamu lah masa mereka sih -Leon


Kalo gitu bantuin aku biar besok ga dapet hukuman, ya -Aku


Ya bakal aku usahain,sayang -Leon


Makasihhhhhhh -Aku


Sama-sama -Leon


Aku dah ngantuk nih, aku tidur dulu ya -Aku


Ya sampai ketemu besok -Leon


Selamat malem -Aku


Malem juga, sayang -Leon


Aku tersipu malu melihat balasan chat dari Leon.


"Nala.....! kamu jangan ketipu sama dia, dia itu bukan manusia" kataku sembari memukul kedua pipiku.


"Whoooam..." aku menguap,dengan segera aku membaringkan tubuhku di atas ranjang, karena obat yang di berikan Lyra sudah mulai bekerja,aku pun terlelap.


KEESOKAN PAGINYA


Aku sudah bangun dan bersiap untuk masuk sekolah, aku mengambil ponselku lalu berangkat bersama Lyra dan Vier yang menungguku di luar.


"Pagi!" sapaku pada mereka.


"Pagi!" balas Lyra dan Vier.


"Kamu udah sembuh kan?" tanya Lyra memastikan.


"Iya lah, buktinya aku dah mau berangkat bareng kalian" kataku sombong.


"Heh....sombong!" kata Lyra.

__ADS_1


"Sudahlah, ayo berangkat nanti telat" kata Vier singkat.


"Okd" jawabku dan Lyra hampir bersamaan, kami bertiga berangkat bersama, saat menyusuri koridor sekolah aku merasa orang-orang menatapku sambil berbisik.


"Eh,dia itu yang kemaren di gendong ketua OSIS kan?"


"Iya,cuma cantik doang ga ada hebat-hebatnya kok"


"Iya dia pasti godain ketua OSIS, sampe ketua OSIS deket sama dia"


Kira-kira kaya itu bacotan mereka


"Ga usah dengerin bacotan mereka,ga guna juga kok" kata Lyra.


"Gua sih bodo amat sama bacotan mereka" jawabku.


"Cuma gua agak risih aja" lanjutku


"Eh kok ngomongnya jadi lo gua?" tanya Vier.


"Kalo di depan mereka panggilku aja lo gua,ok" jawabku.


"Iya deh" kata Lyra dan Vier hampir bersamaan, kami mempercepat jalan kami karena bel masuk sebentar lagi berbunyi, saat sampai ke kelas semua orang memperhatikan kami.


"Mereka ini benar-benar ya" kata Lyra mengomentari.


"Sabodo" sahutku malas, kami pun berjalan ke kursi masing-masing, saat ku lirik sekeliling mereka semua menatapku dengan tatapan takut.


"Heh....mereka bisa takut juga ternyata, ga sia-sia kemaren aku berantem he..he...he..." kataku nakal dalam hati sambil tersenyum jahil, tak lama pelajaran pun di mulai.


"Kriiing.....kriiing......kriiing...." suara bel istirahat.


"Akhirnya selesai juga" kataku dalam hati.


"Nala!" panggil guru mapel membuatku reflek menoleh.


"Kamu ikut saya ke ruangan kepsek ya! " perintah guru mapel, aku mengangguk malas lalu berjalan mengikuti guru mapel.


DI DALAM KANTOR KEPSEK


"Nala....kamu kenapa berantem kemaren?" tanya kepsek.


"Kamu tau kan kalo.....bla bla bla...." jelas kepsek panjang lebar.


"Huh....males nih, malah di omelin deh sama pak tua satu ini, katanya Leon mau bantuin aku biar ga dapet hukuman" kataku dalam hati.


"Bla..bla...bla...." pak Reihan masih mengoceh padahal jam istirahat sudah selesai.


"Huh.....jadi kamu mau di hukum kaya gimana?" tanya pak Reihan.


"Kenapa dari tadi ga to the point aja sih?" tanyaku sebal dalam hati.


"Apa kamu mau bersihin halaman sekolah? " tanya pak Reihan.


"Hhhhh.....kok gitu sih,masa saya di hukum tapi dia ga! " kataku protes.


"Siswi yang kamu pukulin kemarin masuk rumah sakit tau! dan dia koma, ngerti ga! " teriak pak Reihan.


"Tok....tok....tok...." seseorang mengetuk pintu.


"Masuk! " perintah pak Reihan, ternyata yang mengetuk barusan itu Leon.


"Yes, ternyata dia beneran bantuin aku" kataku kegirangan dalam hati, aku melihat Leon tersenyum padaku jadi aku membalasnya.


"Ada apa Leon? " tanya pak Reihan.


"Saya kesini ingin..." kata Leon terpotong oleh pak Reihan.


"Jangan bilang kamu mau nolongin Nala supaya ga dapet hukuman! " potong pak Reihan.


"Ya elah, dasar pak tua! Pake tau segala lagi kalo Leon mau bantuin aku" kataku kesal dalam hati.


"Tidak pak, begini karena sebentar lagi akan ada perlombaan olahraga antar SMA dan Nala menjadi salah satu atletnya" jelas Leon.


"Jadi? " tanya pak Reihan.


"Jadi bagaimana kalau hukuman Nala itu berlatih dengan latihan yang keras? Dengan begitu selain bisa melaksanakan hukuman juga bisa berlatih supaya menjadi atlet yang berkualitas, bagaimana? " usul Leon.


"Hmmmm.....boleh juga" gumam pak Reihan.


"Baiklah, mulai sekarang hukuman Nala yaitu berlatih untuk perlombaan olahraga antar SMA" perintah pak Reihan.


"Iyaaaaa, pak" jawabku.


"Dasar pak tua ngeselin" kataku berbisik


SEDANGKAN ITU DI TEMPAT LAIN


Dika, Feter dan Arya sedang berunding di luar sekolah, di sebuah tempat yang indah dimana ada danau dan taman bunga yang bermekaran. Suasana di antara mereka hening, semuanya sedang berfikir, entah berfikir apa. Tak jauh dari tempat mereka berunding ada sebuah taman bunga yang indah, tepat di tengah taman tersebut ada tubuh seorang gadis cantik yang tampak seperti tertidur serta wajahnya mirip dengan....... Nala!


KEMBALI KE SEKOLAH


Aku mengikuti Leon sampai ke hutan, dan tiba-tiba Leon berbalik lalu membuatku pingsan


"Bruk.... " aku terjatuh.

__ADS_1


♪Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi♪-auto nyanyi deh bagi yang tau lagunya(author), dah balik ke cerita, ok.


Leon membawaku ke suatu tempat, saat aku sadar aku sudah berada di kamar yang asing bagiku, sangat asing.


"Dimana ini?" tanyaku, aku pun turun dari ranjang dan melangkah ke arah balkon, aku terkejut karena ini bukan di wilayah sekolah ataupun rumahku, ini seperti di sebuah kastil.


"Di, dimana ini? " tanyaku syok, tiba-tiba aku merasakan ada seseorang di belakangku dan dia berkata.


"Nona ada di kamar pangeran kedua" jelas seorang wanita paruh baya yang terlihat seperti pelayan.


"Si, siapa kau? " tanyaku dengan hati-hati.


"Saya adalah pelayan yang di tugaskan pangeran kedua untuk melayani kebutuhan nona" jawab pelayan itu.


"Pa, pangeran kedua?! " tanyaku lagi.


"Ya, nona. Pangeran kedua/pangeran Leon yang membawa anda kemari dalam keadaan pingsan" jawabnya sambil menunduk dan berwajah datar.


"Apa?! " teriakku, aku sangat terkejut dengan jawaban si pelayan, sedangkan pelayan itu hanya diam. Aku melangkah ke arah sofa lalu duduk.


"Kemarilah dan tuangkan minuman untukku lalu ceritakan lagi tentang pangeran-mu itu!" perintahku.


"Baik! " jawabnya sigap, dia menuangkan minum untukku, lalu menjelaskan tentang Leon si pangeran kedua kastil ini, Feter si penasihat dan peramal, Dika dan Arya pangeran dari kerajaan dan bangsa lain yang berteman dengan Leon sejak kecil, dan lainnya. Aku mendengarkan dengan seksama sambil meminum minuman yang di suguhkan. Setelah menjelaskan panjang lebar aku mulai bertanya tentang kerajaan/kastil ini.


"Kalau begitu ini tempat apa? " tanyaku


"Ini kastil Blood Moon, yang di pimpin oleh yang mulia raja Georgy dan yang mulia ratu Lexa, memiliki 2 putra dan seorang putri, tapi pangeran pertama tidak mau mewarisi kastil ini, jadi kastil ini menjadi milik pangeran kedua " jawabnya.


"Oh, apa aku bisa pulang? Bagaimana caranya? " tanyaku.


"Tentu nona bisa pulang tapi perlu persetujuan Pangeran Kedua" jelasnya.


"Lalu dimana Leon sekarang? " tanyaku.


Sepertinya aku harus menampakan diriku yang sebenarnya ya...? hehe.. tapi jika aku melawan kemungkinan besar aku yang kalah karena tempat ini bisa dibilang 'kandang' nya Leon.


"Pangeran kedua sedang menemui raja dan ratu di kastil utama" jawabnya, saat aku sedang bertanya dengan pelayan itu tiba-tiba pintu terbuka yang membuatku dan si pelayan reflek menoleh dan ternyata yang masuk itu Leon, lalu si Leon menyilangkan tangannya di depan dada.


"Kau bisa pergi! " perintah Leon.


"Baik pangeran kedua" jawabnya sigap.


"Tunggu, kau tetap disini! " perintahku.


"Baik saya akan tunggu diluar" jawab pelayan itu akhirnya.


"Kamu coba cari informasi dari pelayan itu kan? " tanya Leon.


"......." aku meletakan gelas di atas meja.


"Asal lo tau aja ya! Gua ga se-naif itu! " jawabku dengan nada sedikit membentak.


"Oh bukan, maksud saya PANGERAN KEDUA SAYA TIDAK SE-NAIF ITU " kataku sambil menekankan kata pangeran kedua menggunakan bahasa formal.


"Apa maksudmu? " tanya Leon.


"Harusnya saya yang bertanya, kenapa PANGERAN KEDUA membawa saya ke kastil ini?! " bentakku


~oOo~


Malamnya, saat Nala berada di hutan setelah menolong Ryan.


Di sebuah kerajaan


Ruang pertemuan


"Heh.. dasar gadis aneh namun licik dan hebat. Tanpa sadar dia menolong wadah raja iblis Lucifer, ck ck ck ck ck... terkadang aku kagum pada kemampuannya itu," ujar seorang wanita dengan liciknya.


"Madame... apa kita harus mengamankan bocah itu?," tanya seorang pria yang duduk di sofa ga jauh dari wanita yang dipanggil madame, julukannya Wrath si brutal.


"Ya... tidak usahlah, biarkan dia menikmati hidup sebelum akhirnya menjadi wadah bagi kakakku," jawab madame itu.


"....."


Hening terjadi, madame tadi mengamati keadaan luar jendela besar sambil meminum bir di tangannya. Keadaan di luar jendela sendiri begitu buruk, tanaman-tanaman menghitam dan hewan-hewan mati hingga menyisakan tulang belulang.


"Seven deadly sins, meskipun... Ryan melawan tapi kakakku akan tetap mengambil tubuhnya hahaha...😈."


"Madame Vatty..."


"Hng?."


"Apa kita juga perlu menyiapkan senjata pamungkas?," tanya lainnya yang memiliki julukan Gluttony dokter dosa.


"Tidak usah lah.. madame percaya dengan kemampuan kami bukan haha..," ujar salah seorang wanita yang duduk dengan pakaian terbuka, julukannya Lust sang penggoda.


"Jangan membuatku iri karena dia terlalu di perhatikan," ujar pria lainnya yang memiliki julukan Envy.


"Heh.. kau sudah seperti envy asli saja haha... benar-benar cocok dengan julukanmu. Kalau kalian meminta pendapatku sih, sebaiknya biarkan wadah itu di dunia luar supaya nanti kak Lucifer memiliki tubuh yang kuat. Dengan begitu kita tidak perlu menghabiskan banyak biaya," balas seorang gadis dengan pakaian formal namun glamor, dia menyandang julukan Greed si tamak.


"Brisik....," gadis dengan boneka imut itu menyandang julukan Sloth sang kemalasan.


"Sudahlah... kita patuhi saja perintah madame Vatty," ujar lelaki yang mengenakan jubah kebesaran, dia menyandang julukan Pride sang kesombongan.


"Hahaha😈."

__ADS_1


Suara tawa menggema membuat para prajurit diluar ruangan yang mendengarnya menjadi merinding. Seven deadly sins masih mengamati nih, kalian bagaimana? ikutan tegang? atau... ikut berpikir untuk menyusun rencana? haha.. ayo kita lihat pertunjukan yang akan mereka sajikan.


Bersambung........


__ADS_2