
Lyra pov
Kerajaan Bluemoon
Ruang singgasana
Aku kini berada di kerajaan, di ruang singgasana. Ada beberapa laporan yang harus di dengarkan keluarga kerajaan, saat itu entah datang darimana sebuah kotak muncul di tengah-tengah ruang singgasana.
Semua orang terkejut, kotak itu mengeluarkan aura elemen yang kuat. Kalung ku tiba-tiba lepas dan terbang menuju kotak itu, kotak terbuka lalu sajak-sajak keluar. Aku mengerti sebagian sajak kuno itu.
Sajak pertama, elemen cahaya. Masuk ke dalam tubuhku, dadaku. Rasa hangat mengalir, lalu sajak lain mulai memasuki tubuhku.
Author : Entah bagaimana caranya semua elemen termasuk sajak elemen yang sudah masuk ke tubuh Vier bisa ada disana, di dalam kotak itu semua elemen ada lagi dan memiliki kekuatan yang sama. Sama seperti Vier, semakin lama semakin sakit pula prosesnya, terakhir adalah sajak elemen kegelapan.
Aku merasakan rasa sakit luar biasa, aku menahan napasku supaya tak berteriak tapi tak bisa! rasanya sangat sakit... akhh!! bagaimana... bisa!? akhhh!!!!!!.
"Uh.. uh... ugh... AKHHHH!!!! uhuk.. uhuk..." aku terbatuk mengeluarkan darah segar.
Sajak cahaya dan kegelapan keluar lalu membuat clone yang sama tanpa perbedaan kekuatan, lalu kembali masuk ke dalam tubuhku, clonenya kembali masuk ke dalam kotak. Kemudian sajak petir, psicionic, api, angin, besi ikut keluar.
Setelah itu kotak itu menghilang begitu saja. Saat itu pula aku jatuh pingsan, Raeky dan lainnya yang terdiam mulai bergerak, Raeky membawaku pergi. Setelah itu hilang, gelap.
Entah berapa lama aku pingsan, saat aku bangun aku sudah berada di kamarku. Tubuhku terasa ringan, napasku terasa lebih lancar, rasanya seperti terlahir kembali.
Aku merasakan elemen sihir mengalir di tubuhku, nyaman sekali. Aku turun dari ranjang dan mandi, berganti pakaian juga sedikit berdandan.
Aku kini menggunakan gaun berwarna merah darah di dominasi warna putih, kalung yang selalu kupakai, sepatu sandal merah, pita merah dan putih di rambutku yang di ikat kuda, poni tipis pun menambah kesan imut untukku.
Aku pun melangkah pergi tanpa sadar saat berjalan aku mengeluarkan aura yang menekan sekitar.
"Ups, sorry..."
Aku pun menekan auraku supaya ga menekan orang-orang lagi, begitu sampai di ruang singgasana semua orang menatapku.
"Syukurlah yang mulia putri baik-baik saja."
"Selamat, putri."
Sebagian dari mereka mengucapkan selamat dan lain-lain, aku hanya bisa mengangguk lalu duduk di singgasana. Ternyata aku pingsan sudah 2½ hari, gila. Aku baru tau dari ibu.
Seorang kasim membacakan sebuah berita, sepertinya berita itu baru saja di dapatkan.
"Sekolah matahari terbit di dunia manusia telah terbakar."
Aku terkejut mendengarnya, SMA itu mengalami kebakaran besar, api muncul secara tiba-tiba mengejutkan pihak sekolah. Kerugian yang di dapat cukup besar, untung saja dokumen penting masih bisa di selamatkan. Pak Reihan mengelurkan ultimatum untuk para murid manusia biasa akan di pindahkan ke sekolah lain.
Sedangkan untuk murid lainnya yang berasal dari bangsa-bangsa dan ras berbeda akan di minta datang ke seleksi penerimaan murid baru, ACADEMY SUNRISE.
__ADS_1
Academy Sunrise adalah akademi yang berada di sebuah dunia khusus, setiap 100 tahun sekali portal ke dunia itu akan terbuka dan tahun ini para murid akan mengikuti seleksinya. Perlu di ketahui hanya 100 orang yang bisa lolos ke akademi ini mengingat ini adalah akademi terbaik dan untuk menjadi murid diharuskan berusia dibawah 50 tahun.
Untuk 100 tahun ke atas akan di kirim ke tahan 2 akademi, di tahap dua ini para calon ksatria akan di uji kemampuan sihir, fisik dan pengetahuan. Ini rahasia umum dan lagi perpustakaan mereka juga dibagi menjadi 3.
Tahap akademi ada 3, tahap awal bagi orang dibawah 50 tahun, tahap menengah/tahap 2 bagi 100 tahun ke atas maksimal sih 150 tahunan, tahap akhir bagi orang 150 tahun ke atas sampai 200 tahun.
Para bangsawan juga mengirimkan anak-anak mereka untuk ikut seleksi, sekte sekte luar akademi juga ikut berpartisipasi. Aku termenung, pasti aku akan diseleksi tahap awal. Lumayan lah daripada engga sama sekali.
~oOo~
Vier pov
Kerajaan tersembunyi bangsa Iblis
Kastil keluarga Brandly
Kamar baru Vier
Hai, kembali lagi padaku. Ini adalah 1 hari sebelum sekolah matahari terbit terbakar. Aku sedang membaca buku sihir di kamar, setelah itu aku menggunakan sihir teleportasi instan ke taman belakang.
Boom!
Suara ledakan terdengar, aku terkejut, penghuni kastil juga terkejut. Aku sampai di taman belakang 100 meter di atas permukaan tanah, aku terjatuh mengikuti gaya gravitasi dengan cepat hingga terdengar ledakan. Bodohnya aku, aku secara tidak sadar menteleportasikan diri dan lupa menyesuaikan ketinggian😑. Untung aku iblis setengah vampir, eh.. vampir setelah iblis jadi ga mati kaya manusia biasa.
Xander, bibi baik –mamanya Xander, Erodas –bocah yang waktu itu, Ema dan Emi – gadis kembar waktu itu. Para maid, bocah-bocah iblis, prajurit iblis bahkan papanya Xander juga dateng ke taman belakang.
"Maaf.... ga sengaja," ujarku kikuk dengan perasaan ga enak.
"Huh... kakak irit omong, ati-ati dong. Kirain musuh tau gak," kesal Erodas, dih situ siape...? nyuruh-nyuruh.
"Emang kalo ada musuh kau turun tangan?," kesalku datar membuat Erodas memalingkan wajahnya kesal.
Oh iya, kastil ini malah terlihat seperti panti asuhan bocah iblis. Habisnya Erodas, Ema, Emi, bocah-bocah lainnya tinggal disini. Bisa dibilang anak angkat orang tuanya Xander. Rame sih rame, tapi brisik juga tau gak!?.
"Ya ampun.... Vier, kenapa ga bilang kalau mau belajar sihir, aku bisa bantu," ujar Xander memijit kepalanya, pusing kali.
"Aku ga mau ngerepotin kalian lebih banyak," balasku datar.
Kulihat Xander memutar bola matanya malas, perlahan para maid dan prajurit kembali ke tempat masing-masing. Kulihat papanya Xander terkekeh pelan melihat reaksi anaknya, pak dia itu anakmu setidaknya bantu dia sedikit, oh aku lupa Xander sudah besar fufufu😈.
Ku buat repot lagi ga yah? eum... lumayan lah ada hiburan hehe.
"Em... Xander, bisakah aku minta tolong?," tanyaku dengan suara seimut mungkin.
Ternyata reaksinya membuatku terkekeh! hahaha...! aduh aduh... senangnya menjahili Xander. Kalian tau apa reaksinya? dia mimisan gaes, puft! hahaha...
"Hentikan itu," kesal Xander.
__ADS_1
Dia memalingkan wajahnya dariku, hehe ternyata menjahilinya hanya perlu seperti ini, bibi baik –mamanya Xander– itu mendatangi kami dengan senyuman di wajahnya.
"Xander itu paling gak bisa liat yang imur-imut tapi cuma berlaku sama mahluk hidup," ujarnya membuatku tertawa dalam hati.
"Cukup, ayo ikut denganku. Kita belajar sihir," ajak Xander.
Seketika aku menghilang, aku di teleportasikan ke Lake Avitda, lagi. Kami, maksudku aku pun belajar mendalami sihir yang kudapat dari sajak kuno.
Beberapa jam berlalu, hari mulai gelap. Kami kembali untuk makan malam, skip pada malamnya Xander diam-diam mengajakku pergi ke Lake Avitda. Disana aku melihat ayahnya Xander, menungguku?.
"Jadi putri ratu Inez dari kerajaan iblis terkuat," ujar ayahnya Xander, jendral Gerald yang udah jadi raja.
Aku tidak mengerti, namun yang jelas paman Gerald mengajarkanku banyak teknik sihir tapi hanya teknik dasarnya karena aku yang harus mengkombinasikannya sendiri.
"Kau tau Vier? elemen angin bisa menjadi senjata, pertahanan, membantu healing juga bisa," celetuk Xander.
"Aku tau, aku juga tau kau punya 2 elemen, kegelapan dan angin," balas ku datar.
"Oohh..."
Boom!
Sebuah suara menggema di sekitar danau Avitda, kami terkejut. Lake Avitda tiba-tiba menampilkan sebuah gambar dari dalam air. Gambar yang agak kurang jelas, gambar berupa bangunan yang terbakar, aku jelas mengenalinya!.
"SMA MATAHARI TERBIT!," teriakku dan Xander bersamaan.
Kami pun pergi kesana dengan sihir teleportasi instan, disana ada seorang iblis dengan mahluk iblis pengikutnya yang sedang membakar sekolah itu, mungkin ada beberapa manusia biasa namun mereka tak bisa merasakan adanya mahluk mahluk itu.
"Cih.. iblis itu summoner?," gumam Xander geram.
"Xander lihat, ada seseorang disana," ujarku menunjuk seseorang di atas gedung yang terbakar.
Wujudnya samar-samar namun auranya terasa jelas, dia berbicara beberapa patah kata lalu....
Wushh!
Angin berembus kencang, api makin menjadi jadi, menjalar ke para iblis. Membakar mereka bagai api suci, hangus. Beberapa diantara iblis hangus terbakar lalu sisanya kabur.
Kami ikut menghilang di kegelapan malam, kembali ke Lake Avitda. Kami sudah sampai, disana paman Gerald... eh? kemana dia? aku hanya melihat, tunggu tunggu!.
"Mamah!?," ucapku kaget.
Aku memeluk mamahku dengan erat, dia menghilang akhir-akhir ini. Aku tau dia asli, auranya, wujudnya dan lain-lain.
"Kau menepati janjimu, Gerald," ujar mamah pada paman Gerald.
"Tentu yang mulia, saya tetaplah pengikut anda walaupun saya sudah menjadi seorang raja," balas paman Gerald.
__ADS_1
"Hem... kau memang jendral kerajaan," kata mamah bangga.
Setelah beberapa perkacapan, kami pun kembali ke kastil.