
Masih di sudut pandang orang ketiga.
Suasana berubah hening saat mereka beristirahat di danau beku, Nala sedang makan roti, Lyra sedang bermain dengan seekor serigala yang lagi berburu, mungkin. Raeky tidur. Max mengecek keadaan White dan Thunder.
"Kalian tidak membawa jubah hitam?," tanya Nala memulai pembicaraan dengan nada datar.
"Bawa, kenapa memang?," tanya balik Lyra dingin.
Seolah ada badai salju diantara mereka, membuat Raeky dan Max merinding.
"Pakailah, kalian tidak mau bukan identitas sebagai putri dan jendral muda kerajaan Bluemoon terbongkar," jawab Nala datar.
Dia menyimpan kembali roti yang baru dia makan setengah, hilang sudah selera makannya. Lyra dan Raeky termenung, Nala sudah mengeluarkan buku teknik pedang Permata Bulan dan membacanya. Lain dengan Max yang memilih diam.
Selang beberapa menit Nala menutup dan menyimpan kembali bukunya.
"Kita sudah cukup lama disini. Kuda-kuda sudah kembali prima, kalian mau melanjutkan atau bermalam disini?," tanya Nala datar.
Lyra dan Raeky berdiri, membersihkan jubah mereka dari salju, mengeluarkan jubah hitam lalu memakainya. Setelah itu mereka bergegas ke Thunder yang sudah bersiap. Sama seperti Lyra dan Raeky, Nala dan Max juga bersiap naik ke atas White tapi sesuatu mengganggu mereka.
Drrkk
Krak
Setelah guncangan cukup besar, permukaan danau beku itu menjadi retak. Tentu ini mengejutkan mereka berempat, tambahan 2 kuda :).
Retakan makin menjalar hingga seluruh permukaan danau hancur, sesosok mahluk menampakkan dirinya.
"Naga es!!?."
Lyra, Max dan Raeky cukup terkejut, berbeda dengan Nala yang bingung dan juga kagum. Secara kan Nala newbie di dunia ini :v.
Graaa
Raungannya cukup memekakkan telinga, tapi tidak bagi mereka berempat dan kuda. Naga es itu menatap ke arah mereka berempat.
"Manusia..."
Geraman sang naga membuat siapa saja terkejut, naga bisa ngomong!? kiamat ini mah, eits tapi itu malah jadi hal wajar bagi mahluk legenda seperti naga yang kek gini.
Mendengar geraman dan merasakan napas naga dari jarak dekat merupakan experience yang hebat, bagi mereka bertiga mungkin. Max sudah membungkuk hormat lalu berkata dengan tenang.
"Salam naga Astra, rupanya anda sudah bangun ya sejak ratusan tahun yang lalu."
Seketika naga yang bernama Astra itu membeku lalu tertawa keras, dia tampaknya tertarik dengan mereka berempat, bagaimana pun juga mereka tidak takut dengannya padahal dia ini naga legenda. Naga yang sudah lama hilang, dia sangat di hormati di kerajaan naga.
"Oh menarik, siapa kalian anak muda?," tanyanya.
"Nama saya Max, mereka bertiga rekan seperjalanan saya. Pria itu bernama Raeky, sebelahnya Lyra dan gadis yang bersender di pohon namanya Nala, kami dalam perjalanan ke kota Fluon," jawab Max lugas.
"Oh.. begitu, aku hanya ingin tanya. Apa kalian bisa mampir ke kerajaan Davigna, beberapa tahun mendatang mungkin. Aku ada beberapa hal yang perlu dibicarakan," ujar Astra.
"Tidak masalah, kami akan mencoba mengingatnya," balas Raeky.
"Baiklah, kalian harus datang karena sudah janji ya," setelah mengucapkan itu sang naga, Astra terkekeh pelan.
"Baiklah Astra, katakan dimana kami bisa menemuimu," ujar Lyra datar.
"Haha.. cari saja kastil Avcron, sampai jumpa anak muda. Jangan sampai mati dan tepati janjimu! haha..."
Setelah mengatakan itu Astra pergi dengan terbang menggunakan sayapnya.
"Naga yang cukup menyebalkan," gerutu Nala.
"Hm... ayo pergi," ajak Max.
Mereka pun melanjutkan perjalanan.
"Kau ini kenapa?," bisik Max pada Nala disaat kuda melaju cukup kencang.
__ADS_1
"Tidak ada," jawab Nala berbisik, secara ga sengaja mereka berdua lengah.
Bukan hanya mereka tapi Lyra dan Raeky juga sama, Lyra dan Nala yang di depan hampir saja jatuh terjembab ke depan. Tubuh mereka di tahan Raeky dan Max. Tangan Max di pinggang ramping Nala sedangkan tangan Raeky di dada kiri Lyra.
"Kyaaa!! mesum!."
Plak!
Mereka berhenti saat mendengar suara, Nala yang belum sempat bereaksi saat dia dipeluk Max pun tersadar. Mereka berdua kompak menoleh ke arah Lyra dan Raeky.
"Puft!."
Pemandangan lucu terlihat, dimana Raeky terjembab ke tumpukan salju dengan posisi kepala di bawah. Dia bangun dan wajahnya merah bekas tamparan, haha... aduh... ngakak.
Mereka pun mencoba menghilangkan perasaan ingin ketawa, kembali fokua ke jalanan. Setelah menempuh beberapa jam terus menunggang kuda.
Turun ke lembah, tempat dimana kota Yova berada. Mereka langsung mencari kedai untuk makan dan mengirim Thunder serta White ke dalam portal, maksudnya mengirim 2 kuda itu ke... semacam rumah dalam sihir gitu yang bisa dibawa kemana mana.
Disinilah mereka berada, beristirahat meminum coklat panas topping marsmello.
"Sepertinya salju disini ga terlalu tebel," guman Raeky mengomentari bagian luar toko.
"Ya, setelah ini apa kalian mau istirahat?," tanya Nala.
Mereka bertiga menatap Nala sejenak lalu berpikir, 1 minggu adalah waktu yang mereka butuhkan dari kerajaan ke kota Fluon. Belum lagi jika ada halangan lain.
"Kita langsung pergi saja tapi sebelum itu sebaiknya kita tidak menggunakan kuda karena katanya terowongan itu cukup sempit," saran Max.
"Setuju," balas Raeky semangat, Lyra hanya mengangguk.
Setelah itu mereka berempat pergi berjalan kaki ke terowongan yang dimaksud. Disana ada 2 knight yang menjaga terowongan, mereka mengenakan tarif 50 perunggu per orang. Malak bro? lu nyoba meras mereka?. Untung mereka lagi ga mood buat ngamuk.
"Yaelah, masuk ke terowongan aja pake tarif 50 perunggu per human, cih," kesal Raeky.
"Hentikan itu, kita harus bergegas," balas Lyra datar.
Mereka berempat melesat dengan kecepatan rata-rata bagi mereka, kalo bagi orang lain melihat mereka sudah melesat seperti angin lewat saja.
"Ini terowongan tanpa ujung ya? bgst!," kesal Raeky.
Dia terus mengumpat sedangkan teman-temannya yang lain bungkam, mereka sudah merasakan hawa keberadaan orang lain di ujung terowongan ini.
"Sial!."
Bukan hanya Raeky yang mengumpat, Max, Nala dan Lyra juga ikut mengumpat secara berkala. Bagaimana tidak? mereka ternyata menemukan sebuah lubang besar yang dihuni banyak orang, ini bahkan sudah seperti kota dalam terowongan!.
"Siapa kalian!," bentak salah satu diantara mereka saat menyadari kehadiran 4 orang asing di wilayah mereka.
"Harusnya kami yang bertanya, tempat apa ini!?," kesal Lyra makin menjadi jadi.
"Oh.. sebelumnya ku katakan 'selamat datang di kota Dable, kota dalam pegungungan Hover'," ujarnya menyambut membuat mereka berempat tidak bisa tidak terkejut.
"Kami hanya ingin lewat, biarkan kami pergi atau...."
Kali ini Nala yang bicara, dia tau ada bandit yang berbaur dengan masyarakat di sini.
"Atau apa hah!? kami adalah bandit yang menguasai tempat ini! kalian tak akan bisa kemana mana lagi hahaha..." ujar salah satu diantara mereka angkuh.
"Iyakah?," gumam Nala.
Dia maju ke depan, teman-temannya hanya mengamati dari belakang.
"Jadi tikus percobaanku tidak masalah bukan hehe...😈," ujar Nala.
Dia berubah, mereka dapat merasakannya.
"The eyes of the moon goddess. Thousand arrow," gumam Nala pelan.
Tanpa menarik katananya, Nala membuat banyak portal seperti mata yang mengeluarkan banyak anak panah.
__ADS_1
"A apa itu!!?."
"Gila!."
"Semuanya tahan serangan itu!!."
"YAAA!!."
Bandit-bandit itu mencari perisai sebagai pelindung tapi tetap saja ada yang mati.
"Hahaha...! panahmu itu tak bisa melukai kami semua!."
"Hahaha!."
"Oh. Iyakah...?."
Salah satu diantara mereka tertawa keras diikuti yang lain.
Jleb!
"Urkk! b ba gai mana mung kin...!?."
Orang tadi berbicara tertusuk anak panah dari belakang, tepat di jantungnya. Dia langsung tumbang ke tanah, begitu pula yang lain tapi hanya sebatas luka berat saja.
"Aih... paman, ada yang harus kau tau. Panah dari kemampuan 'thousand arrow' sudah mengunci target masing-masing jadi sejauh apapun kau berlari, selihai apa kau menghindar. Panah itu akan terus mengikutimu hingga menusuk tepat di targetnya qiqiqi...."
Perkataan Nala membuat semua orang disana tertegun, kemampuan gila! tapi bukan berarti tidak mungkin.
"Hei, kalian hanya akan menonton nih? ga mau gabung?," tanya Nala.
"Aku bicara pada orang yang menguping sejak tadi. Bukan dengan kalian bertiga," lanjut Nala sebelum Raeky membalasnya.
~oOo~
Di tempat lain
Sepasang manusia setengah iblis sedang menikmati matahari terbenam di atas kota Yova, mereka bukanlah pasangan sungguhan. Mereka adalah rekan seperjalanan.
"Hoaaaammm... Vier, ayo lanjut. Semakin lama disini aku malah makin ngantuk," ujar pria di sebelahnya setelah menguap.
"Kau ini dari tadi protes terus, brisik tau gak!," kesal Vier.
"Ya maaf, aku kan juga punya stamina terbatas."
"Hm... dasar Xander," kekesalan Vier tetap ada.
Xander hanya bisa menghela napas pelan, dia dan Vier pergi ke kota Fluon bersama atas perintah ayahnya Vier, raja kerajaan Redmoon. Sedari tadi mereka melesat kesana kemari, menembus badai salju walau sedikit kesulitan. Yah.. mereka memang sudah mendahului Nala, Lyra, Max dan Raeky sih.
"Ayo pergi, kita langsung melesat. Ga usah peduliin knight yang berjaga," ucap Vier datar.
"Iyaaa...."
Sebelum mereka masuk, mereka berdua melihat rombongan Nala masuk ke terowongan. Atas inisiatif keduanya, mereka mengikuti rombongan Nala dari jarak aman, saat itulah Xander dan Vier sadar. Keberadaan mereka sudah di deteksi oleh Max dan Nala! tapi kok bisa? padahal mereka dah pake jubah penyembunyi hawa keberadaan.
Mana-nya kah? entahlah....
"The eyes of the moon goddess. Thousand arrow."
Vier terkagum dengan kemampuan milik Nala, harus dia akui. Nala cepat sekali belajar sihir, ck ck ck ck...
'Teknik apa tadi? sepertinya teknikku tidak seperti dia, aku tau itu teknik pedang tapi kok bisa dipake gitu?.'
Vier membatin, dia benar-benar kagum. Jadi pengen tanding, pikir Vier. Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari 10 menit, kan gila!. Walaupun pada akhirnya.....
~oOo~
"Oh.. kalian sudah tau sejak awal rupanya," guman Vier.
Dia dan Xander menampakkan diri di depan Nala, Lyra, Max dan Raeky. Pertemuan yang aneh, takdir memang ga bisa ditebak.
__ADS_1
Semua tokoh be lyke : Beda kalo sama Author, dia kan yang nulis pasti tau alur ceritanya.