
Nala pov (masih Nala pov gaes)
"Apa tujuan PANGERAN KEDUA membawa saya ke kastil ini?! " bentakku.
"........... "
Hening
"Tidak bisa menjawab ya?" tanyaku sinis.
"Aku tau kamu itu 'si jenius keluarga Lavender' " kata Leon akhirnya.
"Lalu?" tanyaku lagi.
"Aku butuh kamu" jawabnya mantap.
"Buat apa? harta? Heh..... Kamu itu udah punya kastil tapi masih aja mikirin harta, dasar lelaki! " cetusku.
"Bukan karna itu, tapi karna..... aku butuh kamu supaya 'dia' bisa bangun lagi" jelasnya.
"What?!!" aku kaget setengah mati.
"Apa maksud anda?! " bentakku lagi.
"Sudah kubilang kan, kalau lagi ngomong sama aku ga usah pakai bahasa formal" tegas Leon.
"Heh....rascal!!" gumamku.
".......... " hening lagi.
"Bagaimana dengan sekolahku? " tanyaku ketus.
"Kau bisa libur sampai ulangan akhir"
"Dengan alasan? "
"Berlatih menjadi atlet"
"Alasan sebenarnya? "
"Membangunkan kembali 'dia'"
"Untuk apa? "
"Kau tak perlu tau"
"Kenapa? "
"Karna aku mencintai 'dia', dan ingin 'dia' hidup kembali"
"Dengan menggunakanku? "
"Ya"
"Bagaimana kau melakukannya? "
"Perpindahan jiwa, jiwamu akan tetap ada, hanya saja bertambah jiwa lain yang berada di tubuhmu"
"Diriku memang sial ya, sejak bertemu denganmu"
"Sudah takdir"
"Terserah"
"Aku tak sudi jika ada jiwa lain dalam tubuhku" lanjutku marah
"Kau harus menerimanya, ini takdir, kau tak kan bisa menolaknya"
"Lalu? Kau juga melawan kehendak langit! Menghidupkan kembali seseorang juga melawan kehendak langit! " bentakku
"........ "
Hening cukup lama
"Lebih baik sekarang kau bersiap, karna kita akan latihan" Leon akhirnya berkata.
"Aku tidak mau"
"Harus mau! " bentaknya
"Kalau kau mau, bukankah kau juga bisa merasakan kasih sayangku kepadanya? " bentak Leon
"Dengan jiwa yang di gerogoti? "
".......... " dia diam kehabisan kata-kata.
"Kau tidak akan bisa pergi dari sini" kata Leon akhirnya.
"Hah? " aku terkejut.
"Masuk dan tangkap dia! " perintahnya.
Dengan segera banyak orang yang mungkin pasukannya datang ke kamar dan menangkapku, sontak aku memberontak tapi sia-sia mereka terlihat menggunakan sesuatu seperti sihir dan kutebak mereka wirazd..... Tak mungkin ini mustahil mereka wirazd??? Aku hampir kehilangan akal sehatku, itu sama sekali tak masuk akal
"Aahhh" teriakku sangat keras, hingga mungkin terdengar sampai keluar kastil.
__ADS_1
"Tolong aku..... aku tak mau melakukan ini.....ini melawan kehendak langit..... Tak masuk akal.... Br*ngs*k! Seharusnya aku tak mengenalmu hari itu" gerutuku dengan lemah, sial tubuhku makin melemah, benar-benar.....
Aku tergolek lemas, mereka membawaku kemana? Sial!! Kenapa jadi begini? Aahhh!!!, mereka meletakkanku di sebuah ranjang empuk di tengah..... menara? Atau tunggu! Ini seperti penjara, mengapa mereka mengelilingiku? Apa ini?
'Hai' suara seseorang menggema di telingaku.
'Si, siapa itu? ' tanyaku.
'Namaku Alice, Leon yang membawaku kemari'
'Oh jadi kau yang ingin Leon hidupkan' kataku sinis.
'Bukan di hidupkan tapi di bangunkan'
'Mengapa kau ada di sini? '
'Kau menerimaku atau menolak? ' tanyanya lembut.
'Aku MENOLAK!! ' tegasku
'Kenapa? '
'Aku tak sudi ada jiwa lain di tubuhku'
'Hmm.... Kalau begitu baiklah, terima kasih ya' serunya, lalu suara itu melemah
'Kenapa dia mengalah begitu saja? Pasti karna ini kemauan Leon, si Brengsek itu!', dengan setengah sadar aku terbangun
"Pangeran! Jiwanya kembali keluar! " teriak salah satu diantara mereka.
"Apa?! " seru Leon dengan nada terkejut.
"Dia menolaknya" terdengar suara Feter.
"Kenapa? " Leon meminta penjelasan.
"Kau memaksakan jiwa Alice untuk tidur"
"Lalu apa masalahnya!?"
"Pertama, Alice tak suka dengan apa yang kau lakukan padanya
Kedua, jiwa Nala juga menolak
Ketiga, kau lupa bahwa 2 jiwa yang saling tolak menolak tak kan bisa bersatu dan satu lagi, kau belum melatih Nala" jelas Feter.
"Kalau begitu kurung dia di sini! " perintah Leon, aku benar-benar terkejut dengan ucapannya, aku di angkat dengan kedua tanganku dan kakiku di rantai terpisah, rambut hitam panjangku terurai menutupi wajahku, Leon menyiram air tepat di atas kepalaku membuatku terbangun.
"Kalau mau membunuhku, silahkan saja" kataku walau masih lemah.
"Aku tak kan membunuhmu, karna aku masih membutuhkanmu, terima dia dan bersatulah"
"Ctarr.... " dia mencambukku membuat luka di tubuhku.
"Lanjutkan saja, aku tetap tak kan berubah pikiran"
"Kalau begitu nikmati saja" katanya sambil berbalik dan pergi, Feter menatapku lalu menunduk memberi hormat dan pergi.
Aku terkunci di sana selama hampir 5 hari, setiap hari aku di cambuk, di siram air es, tepat di bawah kakiku mereka membakar dengan api, saat hampir mati mereka kembali menyembuhkanku dan menyiksa lagi begitu seterusnya, namun di hari ke 5 para penjaga berteriak.
"Ah! "
"Bruk... "
"Jangan...! Arghh... "
Suara pertumpahan darah dari luar, tiba-tiba rantai yang mengikatku putus, aku jatuh terduduk, tubuhku penuh luka tapi wajahku datar, seseorang membawaku pergi dari sana dan suara serigala serta kelelawar menggema di penjara itu, aku melirik ke orang yang membawaku pergi, siapa dia?! Dia.... Oh tidak kesadaranku!
Entah berapa lama aku terbaring di tempat ini, aku terbangun di kamarku di villa Clair de lune dengan perasaan yang campur aduk, lelah, lemas, benci dan lainnya.
"Kriet.... " pintu di buka perlahan dan wajah Lina muncul di baliknya.
"Nona..... Anda sudah bangun! " serunya gembira, aku mengisyaratkan dia untuk mendekat.
"Lina, kau orang yang sangat kupercayai, katakan siapa yang membawaku kesini? " tanyaku.
"Nona..... Kedua teman anda bukanlah orang biasa, mereka seperti nona dan kami semua, yang berbeda adalah.... " jelasnya.
"Nona.... Aku sangat khawatir pada anda" ucap Lina dengan mata yang berlinang air mata, aku tersenyum lalu memeluknya.
"Tak apa, kau mengenalku kan? Jangan khawatir"
"Tapi.... Kekuatan nona masih disegel"
"Hmm.... Tapi tak apa kok, oh iya siapa yang membawaku? "
"Mereka menunggu di bawah" katanya, rupanya dia sudah lebih tenang dan menghapus air matanya.
"Ayo turun, nona" ujarnya sambil tersenyum.
Kami berdua menuruni tangga dan aku melihat Lyra serta Vier di sana, jadi benar dugaanku, Lyra dan Vier yang membawaku kesini, Lyra yang melihatku langsung berdiri dan memelukku.
"Ya ampun... Akhirnya kau bangun! " seru Lyra.
"Hei sejak kapan kalian tahu tentang villa ini? "
__ADS_1
"Kau tahu Nala konyol, sejak kau pergi dengan Leon, Lyra terus mengkhawatirkanmu masih untung kau belum mati" jelas Vier.
"Bagaimana kalian tahu tentang itu? " tanyaku.
"Huh... Kemari dan duduk dulu" kata Lyra, kami semua berada di ruang tengah.
"Kami mau bicara serius" lanjut Lyra, aku melihat sekitar dan menyadari apa yang Lyra maksudkan.
"Mereka orang terpercayaku"
"Oh ok" jawab Lyra
"Begini.... " Lyra ragu-ragu
"Aku adalah Vampir dan Lyra Werewolf dan sejak awal kami tahu kalau kau seorang Wizard" jelas Vier.
"Tidak, aku mungkin punya kekuatan aneh tapi kekuatanku di segel oleh seseorang dan aku tak kan bisa menggunakannya" jelasku.
"Dan mungkin aku punya kemampuan melebihi orang normal tapi bukan berarti aku Wizard kan? " lanjutku.
"Kau selalu berfikir logis ya" ucap Lyra sambil tersenyum.
"Kita ini memang dilahirkan 16 tahun yang lalu tapi sebenarnya kita bisa mengingat kembali diri kita di kehidupan sebelunnya" jelas Lyra.
"Maksudnya? " tanyaku tak mengerti.
"Begini, Nala sayang. Kita bertiga dilahirkan di waktu yang sama walau berbeda belahan dunia, saat kita lahir terjadi fenomena alam, seperti gerhana bulan merah penuh di Jerman, Gerhana bulan penuh di Belanda dan..... Di Prancis.... " jelas Lyra tapi sepertinya Lyra tak tahu apa yang terjadi di Paris.
"Gerhana matahari total berpusat tepat di rumahku saat aku lahir" kataku melanjutkan.
"Dengan ketiga gerhana itu, bukankah sangat aneh? Bagaimana bisa 3 gerhana sekaligus terjadi di belahan dunia lain di tahun yang sama? Setelah mencari tahu itu tandanya kita bertiga memiliki takdir yang berkaitan, aku tak tahu itu takdir apa tapi kita harus mencari tahu ke kerajaan masing-masing" jelas Lyra panjang lebar.
"Kerajaan? " tanyaku bingung.
"Kerajaan di masing-masing tempat kita lahir " jawab Vier.
"Di Paris.... " gumamku.
"Ah! Nona mungkin kastil yang kita temukan hari itu" sahut Mei.
"Itu hanya kastil, Mei" protes Wang sik.
"Memangnya kenapa mungkin ada wizard di sana" lanjut Mei membalas protes Wang sik.
"Benar juga" kataku.
"Hmm... Terserah kau saja, nanti kami atau Wizard lain akan memberitahumu, kami pergi dulu" ucap Lyra, lalu dia melesat secepat angin bersama Vier.
"Mereka benar-benar bukan orang biasa" gumamku dalam hati.
Aku kembali beristirahat di kamar, tapi pikiranku entah memikirkan apa, Sial! Garaยฒ si br*ngs*k itu! Wang sik dan yang lainnya menjagaku dengan kemampuan mereka yang sama sepertiku walau tak setara, intinya melebihi batas orang normal , dengan penjagaan yang ketat semoga aku bisa tidur nyenyak!
Tapi... aku merasa orang yang menolongku bukanlah Vier dan Lyra, orang yang membawaku dari menara bukan Vier ataupun Lyra. Ada yang mereka sembunyikan.
~oOo~
Beberapa hari setelah Nala menghilang
"Aish... ini sudah 3 hari tapi Nala masih belum muncul?! kemana sih dia itu?!!," kesal Lyra.
Saat ini mereka semua berada di taman Lune, di taman ini ada Vier, Lyra, Raeky, Max, Xander, Arya, Feter, Dika, Daniel, Louis dan Bella serta beberapa orang lagi.
"Kemana Leon membawa Nala?," tanya Dika membuat Lyra makin gusar.
"Kerajaannya, pasti dia kembali ke kerajaannya," jawab Arya menebak.
"Hm...."
"Baiklah, begini saja...."
Vier menjelaskan sebuah rencana, awalnya dia ditentang namun setelah mendengarkan lebih lanjut akhirnya mereka sepakat menggunakan rencana Vier.
Hari ke-4 Nala menghilang mereka gunakan untuk menyiapkan barang-barangnya.
Hari ke-5
Wang sik dan lainnya juga ikut, mereka sudah tau ada yang ga beres dari salah satu rekan mereka. Wang sik, Mei, Lina dan Wendy (kalo ada yang kurang tulis aja di kolom komentar. Author ga liat eps lainnya sih alias lupa:v). Mereka berempat berani melakukan percobaan demi bisa menjaga dan berada disisi Nala. Mereka tau Nala bukanlah gadis biasa.
Malam itu dimulai dari salam pembukaan berupa kembang api yang diluncurkan dengan rendah. Mereka kecuali Feter pun berpencar, mencari cari dimana Leon dan Nala berada. Saat Max dkk merasakan aura Nala yang begitu lemah, mereka langsung menerjang ke menara tempat Nala dikurung.
Sekali lagi Max menyelamatkan hidup Nala, yah.. bisa dibilang begitu sih:). Leon? dia dihukum karena sudah berusaha mencelakai calon ratu bangsa Wizard. Max kembali merawat Nala dengan lembut, meskipun begitu dia tidak menunjukannya secara terang-terangan.
Ah.. kalian mau tau hukuman apa yang didapatkan Leon? dia dihukum 50 cambuk beracun, di kurung di menara penghukuman dengan api abadi yang dijaga hewan legenda.
"Kalian semua, tolong rahasiakan semua yang kulakukan pada Nala. Tolong..๐," ujar Max memohon.
"Emang kenapa sih kau ga bilang aja kalo selama ini kau yang jaga dan rawat Nala?," tanya Vier geram.
"Tau nih, ai aja bingung," balas Xander.
"Biarkan saja... itu caranya Max untuk menunjukkan kasih sayangnya," balas Raeky setelah menyeruput tehnya.
"Kau ga usah ikut-ikut deh," tegur Lyra membuat Raeky tersedak air liur.
"Uhuk.. uhuk..."
__ADS_1
"Hahaha.. The power of love๐๐๐," ujar mereka setelah tertawa membuat Raeky blushing dan Lyra kebingungan.
Bersambung......