
Author pov
Yo readers, disini Author mau menceritakan eps ke 23 (aslinya 24) dengan sudut pandang orang ketiga karena nanti susah, em.. intinya 3 gadis akan kembali di pertemukan bersama pengawal mereka, bagaimana ya cerita kali ini? ufufufufu... santuy.
Check it out
Kerajaan Lavrandex
Di kerajaan bangsa Wizard ini, Nala baru saja selesai bersiap. Dia sudah menyempurnakan teknik pedang miliknya. Teknik pedang katana yang di tempa khusus dan bisa dialiri mana.
Kini dia tau bagaimana cara mengatur sihir dan lain-lain, dia juga tau seberapa besar potensi yang dia miliki dari kotak waktu itu. Nala membawa beberapa pasang gaun dan baju biasa disertai beberapa aksesoris simple dan dia juga membawa kotak serta jubah hitam untuk menutupi auranya.
Sudah 1 minggu sejak perintah dari pak Reihan di keluarkan, seleksi akademi Sunrise masih 3 minggu lagi namun karena perjalanannya jauh saatnya mereka pergi ke kota seleksi akademi Sunrise. Kenapa ga pake sihir aja? itu hanya akan sia-sia, mereka harus ke ujung benua.
Sebelum itu Author cuma mau bilang, dunia manusia dan dunia mereka tuh beda, bisa dibilang ini termasuk dunia paralel dan akademi Sunrise ada di dunia paralel khusus yang cuma bisa kebuka 100 tahun sekali.
Jadi untuk sampai kesana, mereka diharuskan pergi ke ujung benua, arah barat. Meskipun mereka bisa memutar tapi itu akan saaaaaaaaaaaangat lama, kenapa? itu karena mereka harus melewati samudra tak berujung di dekat kota yang dimaksud, mereka juga ga bisa pake sihir karena ada semacam kutukan setiap lewat sana, mereka masih bisa mengirim pesan tapi ga bisa pake sihir teleportasi.
Intinya mereka ga bisa lewat jalur timur, samudra tak berujung karena hanya akan memakan waktu 10000 tahun, mungkin.
Pertama mereka harus pergi ke kota dekat pegunungan Hover, gunung yang selalu bersalju. Melewati pegunungan bersalju –Hover– juga penuh rintangan, mereka harus menghadapi badai salju yang berlangsung minimal 1 hari sekali.
Lalu turun ke kota Yova, kota terpencil dan terisolasi di lembah. Lewat lembah itu mereka bisa memotong lewat terowongan yang dibangun karena bakal lama buuaaangett kalo harus lewat atas –pegunungannya panjang gan.
Setelah itu masuk ke hutan, lewat beberapa kota lagi mereka bisa pake altar teleportasi ke kota tujuan, kota Fluon, lama yah? iya, Author aja pusing bayanginnya :v.
Back to Nala
"Yakin mau pake jubah hitam juga? kamu kan dah pake jubah kek gitu loh," tanya Max ragu.
Dia melihat penampilan Nala sambil bersender di pintu kamar Nala yang terbuka. Saat ini Nala mengenakan pakaian musim dingin ditambah jubah hitam, jadi ngeliatnya gerah.
"Engga kok, aku ga jadi pake yang ini," balas Nala.
"Trus?😕," tanya Max dengan alis terangkat sebelah.
"Ini untuk kubawa kesana, aku hanya akan menggunakan pakaian ini," Nala mengangkat dan menunjukkan pada Max setelan pakaian hitam. Yang menjadi perhatian Max adalah....
"Dadanya hampir keliatan, ganti."
Dia seenaknya memerintah Nala, Max memalingkan wajahnya sedangkan Nala ga bisa berkata apa-apa lagi, wajahnya memerah malu.
"Ga mau! lagian nanti juga ketutup jubah, ga keliatan juga!," bantah Nala.
"Terserah, turun ke bawah 5 menit lagi. Kuda kita sudah siap," balas Max dia pun pergi.
__ADS_1
Nala mendengus kesal, dia pun segera berkemas kembali dan bersiap, Nala menyimpan barang-barangnya ke cincin penyimpanan. Berbeda dengan sihir, cincin ini bisa dibawa kemana-mana dengan kata lain praktis dan konsumsi mananya dikit.
Ah ada perubahan pada Nala, matanya memang tetap biru tapi rambutnya yang semula pirang kini memutih, apa efek elemen es? tapi ada sebagian hitam legam. Sungguh aneh.
Abaikan rambut yang amat putih itu:v
Saat sampai tentu saja Nala menjadi pusat perhatian, untung saja dia sudah memakai jubah jadi bagian yang terbuka jadi tertutup. Nala mendapat kuda putih yang memang kesayangannya sejak datang kemari.
Nala mengusap rambut kuda putih itu dengan sayang, Tasha menegurnya, memeluk dan mencium kening sang anak, mengatakan beberapa kalimat lalu dengan berat hati membiarkan Nala pergi. Gusion, Wira, Eva dan Ari juga melakukan hal yang sama.
Nala menggunakan tudungnya, lalu pergi dari sana sambil melambai.
Tuk
Tak
Tuk
Tak
Suara tapak kuda terdengar jelas di jalan masuk pegunungan Hover, hanya ada 2 orang yang naik kuda, kuda putih dan hitam. Dengan 2 orang berjubah dan bertudung hitam, mereka tampak misterius. Siapa lagi kalo bukan Nala dan Max.
Setelah melewati aray teleportasi, mereka kini sampai di jalan masuk pegunungan. Masih jauh rupanya.
"Max, apa badai salju sudah terjadi?," tanya Nala.
"Seharusnya sudah, menurut perhitunganku masih ada badai lainnya tapi itu kemungkinan saja. Mau tidak mau kita harus bergegas secepatnya," jawab Max menatap jauh di depannya.
Max membawa pedang seperti katana tapi agak lebih panjang, selain itu Nala dan Max sempet-sempetnya pake beban kaya besi gitu di badan mereka, kan kasian kudanya eh.....
~oOo~
Disisi lain
Lyra dan Raeky mengambil bentuk serigala lalu pergi dari kerajaan Bluemoon menuju akademi Sunrise. Mereka menyimpan barang di cincin penyimpanan, juga.
"Ya ampun.... pakaianmu ketat loh," komen Raeky begitu melihat Lyra sebelum mengambil wujud serigala.
"Huh... seenggaknya aku ga telanjang waktu balik ke tubuh manusia," kesal Lyra.
Raeky terkekeh, dia tau itu. Dia juga menggunakan pakaian yang sama, bedanya punya Lyra lebih ketat, walaupun keduanya bisa kamuflase sama bulu serigala dan bisa menyesuaikan dengan bentuk tubuh Werewolf itu.
Lyra dan Raeky buru-buru pergi ke kota dekat pegunungan Hover, untunglah belum ada bandit yang menghadang atau tamat riwayat bandit itu. Lyra sama Raeky kok di lawan mueheheh😈.
__ADS_1
"Astaga naga!."
Lyra tidak bisa tidak terkejut, dia melihat badai salju besar di depannya. Menghalangi dia menuju puncak, bagaimana ini?.
"Bagaimana? kau pilih lanjut atau kita kembali dan menunggu badai reda?," tanya Raeky menunggu jawaban Lyra.
"Lanjut aja lah, males kalo turun ke bawah lagi," jawab Lyra.
Mereka, dalam bentuk serigala segera menerobos badai salju di depannya, sayang sekali mereka terhenti karena badai cukup kuat. Lyra dan Raeky hanya bisa bergerak perlahan.
Oh btw, wujud serigala Lyra tuh spesial, bulunya bisa berubah menjadi putih saat di daerah bersalju dan abu-abu saat di daerah biasa.
Selanjutnya adalah Raeky dan Lyra bertemu dengan 'orang yang juga nekat nerobos badai salju pake kuda', pertemuan aneh.
~oOo~
Mereka kini sudah pergi hingga sekitar 5 kilo ada lah ya. Semakin tinggi mereka pergi, maka semakin dingin pula udaranya. Yang membuat mereka agak ragu adalah adanya badai salju yang begitu kuat di puncak sana.
"Apa boleh buat, trobos aja lah," seru Nala.
"Aku tau!," balas Max.
Mereka memaksakan diri melewati badai itu, begitu sampai puncak mereka dikejutkan 2 serigala, yang satu putih yang satu abu-abu. Apa-apaan?.
"Raeky!?," Max terkejut saat mengenali sosok serigala abu itu.
Tak lama badai berhenti tapi Raeky dan Max tetap membeku di tempat.
"Siapa?"
Nala bertanya ke Max dengan pandangan bingung, disusul 2 serigala yang ternyata Werewolf. Tebak siapa? Raeky dan Lyra lah!. Mereka berdua menghampiri Nala dan Max.
Segera Max dan Nala turun dari kuda, menyapa 2 teman mereka itu. Hanya Max dan Raeky sih, Nala dan Lyra engga.
"Bro, daripada pake wujud serigala mending naik Thunder aja," saran Max.
"Emang gapapa?," tanya Raeky, dia melirik ke arah Thunder –kuda hitam berotot milik Max– lalu melirik Lyra.
"Ra, kamu ga keberatan?," tanya Raeky.
"White, kau bisa menahan berat kami?," bisik Nala pada White –kudanya.
White hanya meringkik menandakan dia siap membawa Nala dan Max.
"Terserah, capek juga sih lari-lari mulu," balas Lyra cuek.
__ADS_1
Pada akhirnya Raeky dan Lyra naik Thunder sedangkan Nala dan Max naik White.