Sahabat 3 Bangsa

Sahabat 3 Bangsa
Eps 25 : Menuju kota Fluon 3


__ADS_3

Masih di sudut pandang orang ketiga.


Ada apa ini? 3 sahabat dipertemukan disini? dalam perjalanan ini? yang benar saja!.


"Vier!?."


"Xander!?."


Mereka ber-empat terkejut termasuk Nala, dia mungkin tau hawa keberadaan mereka berdua tapi tetap saja dia terkejut.


"Hai, kurasa Nala berkembang pesat ya," puji Xander.


Nala hanya diam.


Wush


Sebuah pedang tipe longsword melesat ke arah Nala, berkat reflek Nala yang cepat. Dia dapat menghindari serangan kejutan itu.


"Natalia Lavender, aku Charlota Zavier menantangmu duel pedang," ujar Vier dengan seringaian.


"Oh? menarik, baik. Kita duel, pihak yang kalah harus menuruti 1 kemauan pihak yang menang, setuju?," balas Nala.


"Setuju."


Setelah itu Raeky, Max, Xander dan Lyra menyingkir, memberi ruang pada Nala dan Vier untuk berduel. Nala menarik katananya sedangkan Vier mengambil kembali longsword nya, mereka siap dengan kuda-kuda masing-masing.


"Longsword yang menarik."


"Katana yang unik."


Mereka diam, seketika menjadi hening. Suara berdesing.


"Jangan salahkan aku jika kau terluka."


"Huh.. coba saja."


Wush!


Setelah melontarkan kata-kata itu, Nala dan Vier melesat.


Ting


Pedang mereka saling beradu, menimbulkan gelombang kejut tipis, dilanjutkan dengan percikan api. Mereka terus beradu pedang dengan gerakan yang sulit diikuti mata manusia.


Vier melompat jauh ke belakang, menyiapkan sebuah sihir pedang.


"Wind slash!."


Seusai bergumam, Vier menebas udara kosong sebanyak 3 kali, 3 buah gelombang angin terbentuk dengan cepat melesat ke arah Nala. Di balik jubahnya, Nala menyeringai. Nala berputar 1 kaki dengan katana di tangan kiri.


"Wind disc dance."


Sebuah barier angin tercipta, menghadang 3 sayatan angin milik Vier. Vier terkejut.


'Dia menguasai sihir dewa angin?,' batin Vier terkejut.


Disaat lawan linglung, Nala menggunakan teknik yang baru dia pelajari.


"Moon arrow!."


Sambil mengatakan itu Nala melompat tinggi, memfokuskan diri, membuat seribu panah yang menargetkan Vier. Berbeda dengan seribu panah yang merupakan teknik dasar permata bulan (mata dewi bulan), Nala menggunakan tahap 2 mata dewi bulan yaitu moon arrow/panah bulan.


Vier yang sebelumnya linglung menjadi terkejut, dengan posisinya di udara membuat Nala bisa dengan mudah menargetkannya.


"Teleport!."


"Out!."


Bersamaan dengan hilangnya Vier, teknik milik Nala pun dilepaskan. Memang ga kena Vier tapi teknik ini tetap menargetkan Vier seperti thousand arrow.

__ADS_1


"Urk!."


Vier terkena serangan di seluruh anggota geraknya, bukan critical memang tapi cukup membuat Vier terjatuh.


"Ugh... teknik apa itu?," tanya Vier.


"Panah bulan, tahap 2 dari mata dewi bulan," jawab Nala sambil menyarungkan kembali katananya.


"Huh.. kau menggunakan skill seperti itu, harusnya ini hanya duel pedang!," kesal Vier sambil berdiri.


"Aku tau, yang kau tak tau adalah kau menjadi tikus percobaan ku terhadap skill itu," balas Nala dengan kekehan saat melihat Vier membeku di tempat.


"Sialan!."


Vier mengejar Nala yang sudah berlari lebih dulu, dia sangat kesal karena di permainkan oleh Nala.


"Sepertinya matahari sudah terbit di barat yah..." komen Raeky melihat penampakan Vier mengejar Nala.


"Engga juga," balas Xander sambil tertawa kecil.


"Kukira mereka ga bisa akur lagi, ga tau nya... puft..." balas Max.


"Kalian ini seneng kita deket apa engga sih?," tanya Lyra, jelas sekali dia kesal dengan percakapan 3 remaja pria di sekitarnya.


"....."


Penjelasan kemampuan sihir tadi :


[Wind slash


Membuat 3-5 tebasan angin dengan kecepatan tinggi yang menuju target, tanpa mengonsumsi mana tapi mengandalkan kekuatan tangan dan kecepatan]


[Wind disc dance


Tubuh memutar berporos pada 1 kaki seperti sedang menari, menciptakan barier angin yang menghalau serangan, lemah terhadap serangan berelemen tanah tapi dapat menghalau serangan elemen tanah sebanyak 1-2 lapis]


[Moon arrow


Membuat 1-10 anak panah yang keluar dari portal, ukuran di sesuaikan dengan kemampuan pengguna, menargetkan musuh (lock), kemampuan bermata 2. Tahap 2 dari Thousand arrow]


Setelah beberapa menit, Nala dan Vier berhenti. Nala, sebagai pihak yang menang walau agak curang meminta Vier dan Xander untuk ikut dengan mereka.


Mereka berenam sudah sampai di ujung terowongan, saat mereka sampai matahari baru saja terbit.


"Huaaaahh... akhirnya... setelah semalaman melesat tanpa henti," keluh Xander.


Bletak!


"Brisik!."


5 orang di belakangnya langsung menjitak Xander, sejak awal memutuskan melesat tanpa henti semalaman, Xander terus saja merengek dan lain-lain. Karena itulah mereka berlima merasa kesal.


"Aduh... sakit tau, kalian ini kenapa?," tanya Xander.


Ada yang buat mereka ga ngerti, di satu sisi Xander sangat kejam, dingin, irit bicara dan cuek. Disisi lain Xander begitu kekanakkanakan dengan setiap kelakuannya yang menjengkelkan.


Kepribadian ganda ya? gaaahh.. Author pusing.


"Perjalanan masih panjang, kita ke kedai itu dulu buat makan," ujar Max sambil menunjuk sebuah kedai yang jauhnya sekitar ½ kilometer.


"Yosh!."


Mereka kembali melesat ke kedai itu, menaikkan tudung mereka dan menyembunyikan aura mereka.


"Pangsit nya 5 sama teh hijau 5," ujar Max pada pelayan.


"Aku teh limau, daging **** panggang, roti ayam, telur balado, es serut. Em.... sama ini," balas Xander.


"Jangan sampe mati loh," ujar Vier memperingati.

__ADS_1


"Iya tau."


Setelah makanan datang, Xander makan dengan lahap seperti ga makan 1 tahun, dasar... nambahin poin Gluttony tuh. Sisanya makan seperti biasa. Saat mereka makan banyak perhatian tertuju pada mereka karena menggunakan tudung dan jubah hitam, oh mereka berenam juga pake topeng yang nutupin mata.


"Katanya sekitar 3 minggu lagi akademi Sunrise ngadain seleksi."


"Aku dengar sih begitu, ingin ikut tapi pasti persaingannya ketat."


"Iya, mending jadi bandit aja. Dapet duit, bunuh orang. Kelar hahaha..."


"Hahaha..!."


Beberapa pengunjung membicarakan seleksi akademi Sunrise kali ini. Cukup banyak informasi yang di dapat rombongan Nala itu, ga afdol kayanya kalo ga ada keributan waktu lagi makan.


Sebuah kereta kuda mewah berhenti di depan kedai yang terbilang cukup sederhana itu, seorang remaja pria turun dari kereta kuda dengan pakaian mewah. Pasti bangsawan, batin mereka berenam.


Pria itu memasuki kedai dengan angkuhnya, seketika kedai menjadi hening. Aura yang dikeluarkan orang itu memang ga terlalu kuat tapi beberapa orang yang mengikutinya memiliki aura yang terbilang kuat.


Karena tidak ada tempat kosong lagi, pria itu mendekati rombongan Nala yang berada di dekat pintu masuk.


"Minggir, pengeran kekaisaran Fu mau duduk," ujarnya dengan angkuh.


Tentu saja ucapannya tidak di gubris Nala dan yang lain. Mereka asyik dengan makanannya sendiri seolah orang yang menggertak mereka tidak ada.


"Lancang! pangeran sedang bicara dan kalian berani mengacuhkan perintahnya!," bentak salah satu bawahan pangeran itu.


Masih gue pantau.... batin mereka karena kesal. Mereka kembali mengacuhkan ucapan pengawal pangeran itu. Sampai si pangeran memberi perintah untuk membunuh mereka berenam, segera sebuah cakram melesat ke arah Vier, berniat memotong kepala Vier.


Clang


Cakram itu terjatuh seperti menabrak dinding tak terlihat yang sangat kuat. Gejolak angin juga di rasakan semua orang di kedai. Sebuah gelombang angin tercipta dari lambaian tangan Vier membuat sebagian rombongan pangeran angkuh itu terpental.


Sekali lagi semuanya –kecuali rombongan Vier– terkejut, pangeran bodoh itu baru saja mengusik master hebat. Banyak yang merasa ketakutan dengan adanya Vier serta rombongannua.


"Selesai, ayo pergi," ajak Xander dengan senangnya.


Diikuti yang lain, mereka meninggalkan uang lalu menghilang dari hadapan semua orang. Sekali lagi itu membuat keributan di kedai.


~oOo~


Di sebuah hutan tak bernama


Sebuah rumah pohon yang tertutupi dengan baik


Di rumah itu ada beberapa orang, yaitu Leon, Arya, Feter, Dika lalu orang tak dikenal.


"Senior Evin, ngapain kita disini?," tanya Dika bingung.


Ya, mereka kini berada di tempat senior Evin. Seorang pria ber-ras Hybrid phoenix itu adalah pamannya Max, dulu dia pernah belajar di akademi Sunrise jadi otomatis dia itu seniornya Leon dkk apalagi Evin 100 tahun lebih tua dari mereka berempat.


"Senior Yun ada disini juga," balas Arya.


Yun yang mereka maksud adalah seorang vampir wanita cantik dengan pakaian biru muda sedikit terbuka yang saat ini sedang tersenyum ke arah mereka. Lalu ada pria berotot dengan tinggi ±189 cm, pria itu dari bangsa Werewolf, senior Gris.


Ada pula seorang wanita yang tampak seperti anak kecil padahal udah tua, namanya Letra, penyihir dari kerajaan Dwarf. Senior Trug, pria kurus dengan wajah pas-pasan, dia seorang pemanah dari ras elf. Dan lainnya, para senior akademi Sunrise berkumpul di tempat itu.


"Kita dipanggil tetua utama kembali ke akademi," ujar Evin serius.


"Untuk apa?," tanya Yun.


"Aku ga tau, Yun. Yang jelas kita semua di minta datang secepatnya, bahkan aku di berikan gulungan teleport ke akademi," jawab Evin.


"Bagus dong, kita jadi ga perlu ngadepin junior-junior baru," balas Letra.


"Senior Letra sepertinya terlalu malas menghadapi junior tahun ini," Feter terkekeh pelan melihat ekspresi malas Letra.


"Junior Foxyu, kau tau mereka itu sangat menjengkelkan.. me–."


"Cukup, bicaranya nanti saja Letra, Foxyu. Sekarang kita fokus kembali ke akademi," potong Evin.

__ADS_1


""Maaf""


Evin pun segera merobek gulungan itu setelah memastikan semuanya sudah lengkap. Mereka pun berteleportasi ke akademi Sunrise.


__ADS_2