
Nala pov
Kerajaan Lavrandex
Setelah Lyra menerima sajak kuno
Hallo readers, hari ini aku sedang berjalan jalan di taman bersama Eva. Kami baru sampai di kerajaan, aku, Eva dan Max segera pergi ke kastil kerajaan. Disana aku sudah disambut oleh para prajurit dan maid, ada kak Wira, kak Ari dan kak Gu juga. Aduh.. mampos, kak Gu pasti interograsi aku, nanti.
Aku pun membawa Eva ke ruang singgasana, disana hanya ada keluarga kerajaan dan Max, Eva juga pak Ovel.
"Salam bunda, anak ini memberi hormat," ujarku sambil membungkuk dengan tangan depan kanan dada kiri lalu kembali berdiri tegak.
"Nala anakku, hentikan drama kerajaan ini. Bunda sudah bilang bukan untuk bersikap biasa saat hanya ada keluarga kerajaan bla bla bla," bunda mengomeliku dengan omelan super panjangnya.
"Baiklah baiklah bunda, maafkan aku tapi disini ada Eva dan Max juga," ujarku setelah menerima 1 buku tak tertulis yang hanya berisi omelan bunda, ga capek bund?.
"Hem? Eva yang kau maksud anaknya Malvin ya?," tanya bunda mengejutkanku.
Eva mengintip dari balik gaunku, dia lalu berteriak senang dan berlari ke arah bunda.
"Nenek!."
"Ha?."
Secara ga langsung perilaku Eva dan bunda membuatku, kak Ari dan kak Wira merinding. Apa ini artinya Max akan menjadi saudara kami? dengan kata lain apa kedua orang tua kami akan berpisah? semoga tidak, semoga tidak, semoga tidak.
"B b bunda..."
Max menepuk pundakku pelan seraya berbisik.
"3 tahun lalu saat aku baru mengangkat Eva sebagai anak, ratu menyuruhku membawa Eva ke hadapannya. Dia merasa seperti melihat anak-anaknya kembali jadi selama 1 tahun, ratu merawat Eva di dunia manusia. Kau ingat jika Eva pernah bermain bersamamu saat itu, aku sedang menjalankan tugas jadi secara gak langsung menitipkan Eva ke ratu."
Aku terenyuh sebentar lalu mengingat sosok bocah yang sempat di rawat ayah dan bunda, dipikir-pikir Eva mirip sama bocah itu ya, pikir ku kasar. Lalu aku tertawa kecil membuat Max diam-diam tersenyum.
"Kenapa kau tidak menceritakan ini sejak tadi hum?," tanyaku berbisik.
"Kau yang tidak bertanya, lagipula setelah 1 tahun aku mengambil kembali Eva dan berterima kasih dalam bentuk pengabdian pada kerajaan seumur hidup. Setelah itu ayah mengambil alih Eva selama setahun, barulah aku mengasuh Eva sejak Eva berusia 2 tahun."
__ADS_1
Aku termenung kembali, dengan kata lain Max meminta bantuan pada bunda dan ayah (Elvon) untuk mengasuh Eva selama dia bertugas, begitu...? aku mengerti sekarang.
"Kenapa kau menceritakan ini padaku?," tanyaku berbisik.
"Entah, aku hanya ingin kau tau," jawab Max pelan.
Max kembali ke posisi berdiri tegak namun santai, tadinya dia membungkuk karena dia tinggi dan tinggiku ga nyampe. Lupakan, jadi intinya dia berbisik dengan kepala di pundak kananku.
"Oh ya Malvin, bagaimana kabar ayahmu itu?," tanya bunda.
"Ratu, tidak bisakah kau memanggilku Max saja. Lagipula jika nanti identitas asliku terbongkar, apa ratu akan menanggungnya?," kesal Max.
"Haha.. ayolah Malvin, apa salahnya hum? lagipula ini hanya pertemuan keluarga kerajaan, tidak perlu khawatir," balas bunda.
"Lalu keberadaan orang-orang itu, jangan bilang ratu membiarkannya."
Arah pembicaraan mereka ga ku mengerti tapi yang jelas, Max tau tentang keberadaan anak buahku dalam bayangan.
"Itu kan hanya anak buah Nala. Baiklah begini saja, untuk kalian yang bersembunyi silahkan keluar," ujar bunda pasrah, seolah olah kalah debat dengan Max.
Lalu anak buahku muncul satu per satu, menghadapku dengan aura dan penampilan berbeda. Jelas mereka memiliki jejak elemen kegelapan.
Bukan hanya aku, kak Ari, kak Gu dan kak Wira ikut terkejut. Mereka menyebutkan elemen yang mereka kuasai, dominan elemen kegelapan tapi aku merasa ada setitik elemen cahaya dari aura mereka, hanya setitik itupun sangatlah samar.
"Kalian... punya setitik elemen cahaya, sepertinya aku harus merubah nama kelompok khusus ini bagaimana dengan pasukan Paradoxium?," tanyaku.
Mereka saling tatap sejenak lalu mengangguk sambil berlutut 1 kaki, menyatakan sumpah setia yang sekali lagi di dengar Nala.
"Cukup, kalian bisa berdiri," kataku tegas.
"Waw.. bunda, apa aku bisa memiliki pasukan seperti itu?," tanya kak Ari, tepatnya dia merengek.
"Astaga.. Ari, kau kan sudah punya pasukan tapi masih saja iri pada Nala," celetuk kak Wira yang langsung mendapat pelototan dari kak Ari.
"Cukup, kita semua punya pasukan yang membedakan adalah kualitas pasukan masing-masing," ujar kak Gu setelah sekian lama diam di pojok.
"Eh? Gu, akhirnya Gusion bicara! bunda dengar bukan, kami bisa membuat Gusion bicara hanya karena pertengkaran kami," ujar kak Wira membuatku tertawa kecil.
__ADS_1
Mereka merasa senang, disisi lain wajah kak Gu menggelap. Aku dan orang-orang disana hanya bisa menahan tawa.
Wush..!
Tiba-tiba sebuah kotak muncul di tengah-tengah ruang singgasana. Kotak itu langsung terbuka dan masih tetap melayang, aura elemen yang begitu kuat dapat kurasakan dengan sangat jelas, jika diukur pemilik aura ini mungkin sudah dapet grade SSS+++ kalo dalam game mungkin udah level lebih dari 500, gila sih.
Diluar dugaanku, sajak elemen keluar. Semuanya melayang mengelilingiku dengan perlahan, ah! aku tau kata-kata itu. Aku membacanya dalam hati lalu sajak kuno mulai memasuki tubuhku.
Author : Sama seperti kejadian sebelumnya, semakin lama semakin sakit pula prosesnya. Anehnya ada sebuah elemen lagi yang tampak aneh, bentuknya hitam putih tapi elemen kegelapan dan cahaya sudah masuk.
Apa itu? bola? aku menggapai lingkaran berbentuk hitam putih itu lalu...
Wush!
Angin berembus begitu kencang sampai bunda memasang perisai pelindung di luar. Mereka tetap tak bergeming, anak buahku, Max, kakak-kakakku, bunda, Eva dan pak Ovel tetap di tempat.
Bola itu masuk ke dalam dadaku, rasanya 5 kali sakit dari sebelumnya, aku terjatuh di topang lutut sambil memegangi dadaku, sesak. Aku kesulitan bernapas lalu berakhir pingsan, yang kutahu sebelum semua pandanganku memudar hanyalah kotak yang tertutup kembali dan terjatuh.
Ternyata ada sesuatu yang terjadi selama aku pingsan, di kamarku tiba-tiba ada ledakan aura yang begitu signifikan. Hanya orang-orang tertentu yang ga kepengaruh sama ledakan aura ini, dengan kata lain mereka adalah expert-nya.
Siapa mereka? mereka adalah Natasha, Gusion, Max, Leon dan Feter yang udah balik, penyihir penyembuh terbaik dan terkuat juga Ovel yang sama-sama kena dikit dampaknya seperti penyihir itu. Beberapa expert lain juga ada, termasuk rekannya Max fufufu.
Sedangkan mereka kebingungan, di alam bawah sadar. Aku tampak kebingungan berjalan kesana kemari dengan pakaian serba putih, kenapa aku tiba-tiba ada disini. Apa ini situasi hidup dan mati? entahlah, yang jelas saat ini aku melihat Lyra dan Vier bertarung disana.
"Elemen cahaya dan kegelapan digunakan untuk saling menyerang? hoi hoi, 2 elemen itu adalah elemen keseimbangan jika hilang salah satu bisa jadi masalah," gumamku.
"Bagus, bagus. Kau tau tentang itu rupanya."
Sebuah suara bergema, Lyra dan Vier menghilang. Aku tak terkejut lagi, ini adalah ilusi.
"Siapa kau?."
"Aku? kau bisa memanggilku Nata, aku adalah bagian dari dirimu. Aku terikat denganmu, sampai kau benar-benar bisa melampauiku maka aku akan menghilang."
"Tunggu, Nata. Apa ini artinya kau bagian dariku?."
"Ya, itu benar."
__ADS_1
Aku berpikir keras, mencoba bersikap realistis. Apa ini artinya aku berkepribadian ganda? sepertinya tidak, mengingat semua sikapku di dasari dengan otak kok. Aih... sepertinya ini situasi baru.