Sahabat 3 Bangsa

Sahabat 3 Bangsa
Eps 26 : Menuju kota Fluon 4


__ADS_3

Masih di sudut pandang orang ketiga.


Mengesampingkan rasa kesal Vier yang acara makannya terganggu, Nala, Lyra, Xander, Raeky dan Max tampak waspada karena mereka mulai memasuki hutan bambu. Kabarnya sebuah klan bernama klan Xiang tinggal di pedalaman hutan bambu, mereka juga terkenal kuat.


Mereka masuk ke dalam hutan bambu, suasana yang sunyi dengan pohon bambu di kanan kiri membuat suasana baru. Nala sendiri merasa familiar dengan kejadian ini.


"Rasanya seperti deja vu, dimana aku pernah mengalami ini ya?," gumam Nala pelan.


Suasana terlalu tenang bagi mereka, mereka mulai merasakan adanya kejanggalan. Semakin mereka masuk, semakin banyak pula jebakannya. Tak ingin berlama lama lagi, Lyra melompat tinggi. Dia mengeluarkan pisau kecil dan menargetkannya ke seseorang. Hasilnya adalah zonk tapi itu berhasil membuat orang yang bersembunyi keluar.


Tampaklah para ninja dengan pakaian hitam hitam, mereka dominan laki-laki tapi ada juga yang perempuan, seperti 2 ninja perempuan di lini belakang.


"Kalian... orang klan Xiang ya?," tebak Raeky.


Para ninja sudah tidak terkejut lagi, mereka memasang kuda-kuda dan bersiap melawan orang-orang ini. Ada hal yang harus diperhatikan, arah ke kota Fluon harusnya ke barat daya sedangkan mereka berjalan ke arah barat laut, bisa dipastikan mereka mengarah ke klan Xiang atau apapun itu.


"Mau apa kalian?," tanya seorang ninja dengan tatapan tajam.


"Siapa pun diantara kalian, mau mencoba?," tanya Nala pada teman-temannya.


"Biar aku saja," jawab Lyra dengan seringaian di balik jubah hitamnya.


Para ninja itu dengan cepat menghilang dari pandangan, sayangnya Lyra masih bisa menangkap pergerakan mereka, insting liarnya kambuh.


Tap


Tap


Tap


Tap


Dengan cepat Lyra melompat tinggi, seolah bisa berjalan di pohon bambu yang lurus, Lyra menunjukkan kebolehkannya. Di sekitar tempat mereka ada sebuah sungai yang tentu membuat keuntungan tersendiri bagi Lyra.


Dengan kemampuan pengendali airnya, Lyra yang berdiri di ujung pohon bambu mulai memejamkan matanya, berfokus mengendalikan sihir air. Tenang dan stabil.


"Matahari terbit di timur dan tenggelam di barat, sungai mengalir dari hilir hingga hulu. Sang pencipta alam semesta telah mengatur, tetaplah tenang dan stabil. Dapatkan kekuatan dewa air."


"Water needle!."


Gejolak aura makin terasa menekan setelah Lyra merapal mantra, bulir-bulir air melayang di sekitar Lyra, bulir-bulir itu kini membentuk seperti jarum tipis. Lalu jarum-jarum itu melesat, mengenai kaki para ninja, hanya sebagian sih. Sengaja, Lyra hanya melumpuhkan mereka sebagai peringatan.


"Kukira akan lebih menantang ternyata tidak, kawan-kawan. Ayo kembali ke jalur, mereka ga asyik," ujar Lyra sambil kembali berdiri di sebelah Raeky.


"Mereka kan belum kena semua, kenapa dah mau pergi aja?," tanya Xander.


"Males ngeladenin, makin panas. Ngantuk juga," jawab Lyra malas.


"Bilang aja takut," lirih Raeky.


Tuk!


"Aduh!."


Lyra memukul kepala Raeky cukup keras sampai si empu meringis.


"Cukup main-mainnya, kita sebaiknya cepat bergegas jika ingin istirahat lebih cepat," ucap Max menengahi.


"Kenapa sih kok buru-buru banget?," tanya Xander.


Nala melirik Xander sejenak lalu mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanan nya. Dia menunjukkan sebuah poster akan diadakan pelelangan dan juga festival cahaya? jadi mereka berdua buru-buru karena ini?.


"Kalian...."


Xander, Lyra, Vier dan Raeky benar-benar bungkam kali ini. Mereka ga habis pikir sama Nala dan Max. Pergi cepet-cepet ke kota Fluon demi festival cahaya dan lelang yang hanya diadakan seminggu sebelum seleksi akademi.


"Sudahlah, ayo pergi," ajak Nala datar, perilakunya sangat menunjukkan kalau dia bersemangat.


Mereka pun melesat pergi dari tempat itu, hutan bambu yang luas dan tajam itu :v. Segera tapi pasti mereka berhasil melewati hutan bambu. Dihitung-hitung mereka sudah pergi selama 4 hari lamanya.


"Yes! ada kota yang punya aray," gumam Max seneng.


"Bro, lu pake sihir teleport lo aja. Ngapain harus lewat aray?," ujar Xander.


Berhubung mereka udah lewatin pegunungan Hover jadi penangkal sihirnya udah ga ada.


"Bentar...."


Max membuat lingkaran sihir yang mampu membawa mereka berenam, segera Max menteleportasikan mereka ke kota terdekat dari Fluon, mereka ga bisa langsung ke kota Fluon karena ada pelindung anti sihir. Jadi mereka ke kota Denka.


Saat sampai disana, waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 sore. Mereka langsung mencari penginapan terbaik, hanya 1 yang tersisa. Penginapan angklung.


"Apa!?."


"Hanya tersisa 1 kamar berukuran besar!?."


Mereka berenam terkejut bukan main, bagaimana bisa penginapan di kota ini sudah penuh dan hanya menyisakan 1 kamar ukuran besar? pasti ada yang sudah menyewanya jauh jauh hari.


"Bagaimana tuan, apa anda mau mengambil kamar ini? hanya 5 koin emas saja," tanya resepsionis.


"Baiklah, ini uangnya," jawab Max sambil memberikan 5 koin emas.


Mereka bergegas ke lantai 3, tempat dimana kamar yang mereka pesan berada. Sepanjang koridor mereka berenam samar-samar mendengar suara desahan dari salah satu kamar.


"😑."


Serius? mereka harus tinggal disini? tanpa banyak bicara lagi mereka pergi ke kamar yang sudah mereka pesan.


Grek


Pintu kamar itu seperti pintu rumah di Jepang, yang di geser itu lho. Bisa di kunci sih, di dalam kamar itu malah kaya abad pertengahan dengan ranjang ukuran besar, bisa dibilang king size.


"Maaf, hanya ini yang tersisa. Mau tidak mau kita harus berbagi kamar," ujar Max ga enak sambil menggaruk rambutnya yang ga gatel.


"Iyaaahh... baiklah, para lelaki silahkan keluar. Kami mau ganti baju," perintah Lyra sambil melangkah ke tengah ruangan.


"Ha...?."


"Lyra benar, kalian bertiga keluar. Kami butuh privasi," Vier ikut menyambung ucapan Lyra.


"Aku setuju, kalau kalian ga keluar berarti kalian bukan laki-laki," sahut Nala.


Xander, Raeky dan Max hanya bisa tersenyum kecut. Dengan langkah gontai mereka keluar kamar, membiarkan para gadis berganti pakaian.


"Huh... padahalkan bagus kalo bisa liat," keluh Xander.

__ADS_1


Tuk!


Max menyentil kening Xander membuat Xander meringis.


"Tapi Xander bener, ngitip yok," ajak Raeky membuat Max dan Xander mengangguk setuju.


Begitulah aksi para pria yang mengintip para gadis dari luar, sedangkan di dalam.


"Aku sudah memasang sihir pelindung, dengan begini mereka tidak bisa melihat dan mendengar apa yang kita lakukan di dalam."


"Baguslah, kita bisa tenang."


"Iya, ayo cepat sebelum mereka menyadarinya."


Dimulai dari Vier yang menjelaskan sampai ajakan dari Nala, mereka langsung berganti pakaian sambil mengomentari tubuh masing-masing. Entah sejak kapan mereka jadi akrab gini.


"Sudah semua kan?," tanya Vier.


"Sudah!."


Vier membatalkan sihir miliknya dan membuka pintu.


Gubrak!


Xander, Max dan Raeky terjatuh akibat gerakan tiba-tiba yang dilakukan Vier, mereka memasang senyum sok polos dengan perasaan canggung.


"Sudahlah, sebaiknya kalian ganti baju juga daripada pake jubah gitu," saran Lyra.


Xander, Max dan Raeky menurut saja tanpa menyadari maksud Lyra. Para ciwi ciwi berkumpul di atas ranjang sambil saling berbisik.


"Anjiir.. mata ku ternodai."


"Akh.. badannya bagus banget gilak."


"Aduh.. ai mimisan."


Ya.. mereka sepertinya... punya hobi yang sama. Penyuka tubuh pria atletis, kyaaa!! Author dah gila😵. Aduh... bayanginnya ga kuatt😵.


"Ada apa?," tanya Raeky polos saat mendengar 3 perempuan itu terkikik bahkan Lyra mimisan!.


"E engga..."


"Oh.. aku paham."


""Paham apa?""


"Lyra mimisan, aku baru sadar kalo mereka bertiga punya hobi sama, hihi..."


"A a apa sih!."


"Jan ngadi-ngadi deh Max!."


Segera mereka bertiga memalingkan wajahnya ke arah lain dengan wajah memerah tentunya.


"Eh Xander, Raeky. Kalian pernah liat Lyra sama Vier melongo pas liat cowo dengan tubuh atletis?," tanya Max.


"OOH!! PERNAH!."


Secara serentak Xander dan Raeky antusias mengatakannya. Mereka bertiga terkekeh jahil membuat Vier, Nala dan Lyra makin waspada.


"KYYAAAAA!!!!."


Ciwi ciwi berteriak histeris saat cowo cowo menaikkan pakaian mereka hingga terlihatlah tubuh atletis disertai otot kencang dan... dan... PERUT SIXPACK IDAMAN....!!.


PS : Fotonya ilang😭😭.


Aduh... apakah Author mimisan? apakah mereka mimisan? jawabannya iya, tapi hanya Lyra. Wajah Nala dan Vier merah padam, mereka bahkan sempat menampar Xander, Max dan Raeky.


"Aw... maafkan kami," ujar Xander sambil menunduk tapi dalam hati dia tertawa renyah.


Sama seperti Xander. Raeky dan Max menahan tawa dan sakit di pipi bekas tamparan Nala dan Vier. Vier dan Nala pun menoleh ke arah Lyra yang masih mencoba menghentikan mimisan nya.


"Lyra!."


"Kok bisa mimisan sih?!."


"Brisik, bantuin woy!."


Kepanikan melanda setelah candaan dari Xander, Max dan Raeky.


~oOo~


"Huh... untung saja dia gapapa," gumam Nala lega.


"Kalian sih! candaannya ga lucu!," kesal Vier.


"Maaf..."


Xander, Max dan Raeky jadi merasa bersalah atas kasus 'Lyra mimisan' yah.. mereka ga sepenuhnya salah sih.


"Dahlah, aku mau beli alat kemah. Buat jaga-jaga," gumam Nala sambil mengambil topengnya.


"Ngikut."


"Ga usah."


"Ratu sendiri yang memintaku untuk menjagamu bukan berarti aku bisa melalaikan perintahnya..."


".........huh... baiklah," ujar Nala akhirnya.


"Aku sama Lyra nitip, nih duitnya."


"Aku juga, boleh kan....?."


"Iya boleh."


Mereka berdua pun pergi ke toko setelah bersiap. Disisi lain suasana hening meliputi ruangan, Lyra sedang bermain ponsel sambil pake earphone, entah dapet darimana. Raeky duduk di sebelahnya yang tampak khawatir.


"Raeky apa kau serius dengan Lyra?," tanya Vier memulai. Lyra ga denger karena pake earphone.


"......."


Raeky termenung atau dia tidak dengar? hoi bangun.


"Entah, aku ga tau."

__ADS_1


Vier dan Xander hanya bisa menghela napas pendek.


"Bodo amat dah, aku mau jalan-jalan dulu," gumam Vier.


Mereka pun turun dengan topeng tentunya menyisakan Raeky dan Lyra yang ada di kamar.


~oOo~


Di luar penginapan


Nala dan Max sudah memasuki gang kecil, katanya ada toko perlengkapan terbaik dan tersembunyi di gang ini, tapi nyatanya.... mereka malah liat orang duel pake pelindung dan sihir kedap suara jadi suaranya ga sampe luar.


Trang!


"Dark slash!."


"Light arrow!."


Boom!


Gelombang kejut tercipta dari 2 skill dengan elemen berbeda itu. Membuat Nala dan Max harus melompat ke atap supaya ga kena imbas. Dibawah ternyata Louis dan..... entah siapa itu sedang bertarung dengan kata lain duel atau apalah itu.


"Itu kan Louis temen sekelas kita," ujar Nala yang melihat Louis.


"Iya terus kenapa? biarin aja," balas Max sambil menggiring Nala menjauhi pertempuran.


Sayangnya mereka berdua memang sial hari itu, Louis yang berhasil bebas dari cengkraman lawannya langsung melesat melompati atap hingga tanpa sadar dia menabrak Nala sampai Nala hampir jatuh. Max yang merasa geram langsung membawa Nala lebih jauh lagi.


'Sialan, Louis.... kau ingin kubunuh ya!?,' batin Max kesal.


"Kau kenapa? seperti marah," tanya Nala.


"Hm... lupakan, ayo pergi," jawab Max, dia menarik tangan Nala memasuki toko yang sudah berada di belakang mereka.


Kincring


Lonceng di atas pintu berbunyi saat Max dan Nala memasuki toko, di dalam ada seorang dwarf yang baru saja selesai menempa peralatan.


"Permisi, kami ingin membeli alat untuk berkemah. Apa anda mempunyainya?," tanya Nala ramah.


"Oh.. kemari, aku memiliki beberapa. Kalian bisa memilihnya."


"Biar aku yang urus."


Max mengambil alih sedangkan Nala berkeliling toko, sepanjang mata memandang banyak sekali senjata dengan tipe-tipe berbeda pula. Saat asyik melihat Nala menemukan cambuk hitam dengan pegangan merah, panjangnya sekitar 2 meter, bahkan lebih panjang lagi.


Anehnya Nala samar-samar merasakan aura kematian dari cambuk itu, berapa banyak nyawa yang melayang oleh cambuk ini? saking penasarannya Nala tidak bisa tidak bertanya pada dwarf itu.


"Eum.. maaf tuan, kalau boleh tau cambuk ini kenapa ya? saya samar-samar merasakan aura kematian," ujar Nala perlahan.


"Ah nona, kau memiliki indra yang peka. Cambuk ini saya dapatkan dari ketua bandit di kota ini, sebelum dia mati dia memberikan cambuk ini pada saya. Katanya suatu saat akan ada seseorang yang membeli serta menggunakan cambuk ini," balas dwarf tua itu.


"Kalau begitu kenapa cambuk ini masih ada di toko?," tanya Nala, sang dwarf tersenyum penuh arti.


"Sejauh ini tidak ada seorang pun yang bisa mengangkatnya kecuali diriku dan beberapa orang tertentu. Sebagian lagi karena cambuk itu kurang bagus," jelas sang dwarf.


"Hm.. apa kau mau membelinya?," tanya Max setelah mengamati keadaan.


"Em... aku ingin, tuan. Berapa harga cambuk ini?," tanya Nala pada dwarf.


"Harganya hanya....."


~oOo~


Kunjungan ke toko itu selesai dengan cepat, Max serta Nala membeli perlengkapan kemah termasuk selimut. Selain itu Max membeli beberapa cakram dan sebuah kusarigama unik. Katanya sih kusarigama dan cakram itu untuk Xander atau Raeky.


Saat mereka berbalik badan, toko itu menghilang, Max dan Nala dilanda rasa penasaran hebat. Tak lama mereka pun pergi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari hari berlalu, mereka sudah tinggal di penginapan Yun. Penginapan terbaik di kota Fluon yang sudah dipesan kerajaan.

__ADS_1


__ADS_2