SAHABAT KECIL (Ari & Maya)

SAHABAT KECIL (Ari & Maya)
Maya kecil


__ADS_3

"duuh.... malu banget... sumpah deh si banteng,, bener-bener! kan dia bisa nyuruh gue ngambil sendiri, kenapa harus dia yang ambilin, udah gitu dia ngasih nya tanpa rasa bersalah lagi.. pliss... gue gak bisa lupain, malu bangeet... " gerutu Maya di dalam toilet.


selesai dengan kegiatan nya, Maya langsung kembali ke kantin. Nata dan lainnya heran kenapa Maya begitu lama di toilet.


"lo boker may, lama banget" tanya Aurel


"iih,, gak! tadi.. gue.. " Maya menghentikan kata-katanya.


"huh... gak papa kok, cuman ada masalah aja tadi" kata Maya dengan nada rendah


Hari tiba-tiba lewat dekat mereka. Maya tak berani melihat ke arah Hari, karna masih malu dengan kejadian tadi.


Hari yang melihat Maya mengalihkan pandangannya darinya merasa bingung, tapi tak mau terlalu peduli karna perutnya sudah sangat berisik dari tadi.


"eh.. bentar-bentar,,, may, kok lo iket jas nya Hari di pinggang lo sih, itu jasnya dia kan, ada namanya juga, kok bisa ada di lo sih" kata Syerli yang tak sengaja melihat jas Hari yang masih menempel di pinggang nya


"aduh.... mati!! kenapa malah lupa soal ini sih" batin Maya


"iya May, kok lo pakek jasnya si ketos itu" sambut Nata


"jangan jangan... lo ada apa-apa lagi sama dia" kata Aurel


"nggak apaan sih, tadi itu... gak sengaja... eemm.. itu.. " Maya tidak tau harus mengatakan apa lagi dia benar-benar bingung saat ini


siswa lain yang mendengar percakapan mereka juga menatap Maya dengan sinis, mereka iri dan tidak terima jika maya ada hubungan dengan Hari sang ketua osis, Maya merasa seakan sedang s berada di tengah-tengah kebakaran saat ini.


"mati nih, bisa di jadiin ayam bakar nih gue, apes lagi.. apes lagi" batin Maya


Hari yang juga mendengan suara mereka saat mengobrol hanya diam dan tersenyum.


"tiba-tiba gue dapet ide buat ngerjain ni anak, besok-besok gue lebih deketin dia lagi ah, biar dia jadi bahan pelototan siswi-siswi di sini, hahaha... emang gue tampan dan pinter" batin Hari yang tersenyum sambil mengunyah makanan nya.


"gimana nih.. gue harus jawab apa ya.. ohya.. " batin Maya


"mm.... tadi itu.. gu, gue.. kepeleset di toilet, terus rok gue basah, pas keluar dari toilet kakak ketua osis tiba-tiba nyamperin, terus kasih jasnya buat nutupin rok gue, itu aja kok, m.. kakak ketua osis kan orangnya baik banget.. ngelindungin siswa nya banget" kata Maya mengarang


para siswa yang juga ada di sana kemudian berhenti melirik Maya, mereka ada yang percaya kalau Hari hanya kebetulan menolong Maya, ada juga yang semakin iri, tapi tidak dengan Aurel dan lainnya


"heh.. kakak ketua osis... mimpi apa ni anak semalem... " batin Hari yang menahan tawa mendengar Maya sok sok polos dan lugu


"lo bilang apa? gue gak percaya" kata Aurel pelan


"kita juga gak percaya, lo harus ceritain nanti di kelas, titik" kata Nata juga dengan suara pelan agar teman-temannya yang lain tidak mendengarnya


"terserah" kata maya pasrah


"hehe,,, liat aja gak bakalan gue biarin lo jauh dari gue" batin Hari lagi dengan senyum devilnya.

__ADS_1


sore harinya, Maya sedang mencuci jas Hari, yang akan dia berikan pada Hari besok pagi. Maya sengaja memberikan pewangi supaya Hari tidak meledeknya nanti. selesai mencuci Maya langsung menjemurnya.


"may, pakaian siapa itu?" tanya bu sari yang baru saja datang


"eerr.... anu bu.. tadi si.. siang Maya gak sengaja ngotorin baju ketua osisku jadi aku tanggung jawab buat nyuciin baju nya" bohong Maya


"ooh.... ya sudah lah, ibu masuk dulu ya" kata bu sari yang percaya begitu saja


"huh... ! astaga... tumben banget nih aku bohongin ibu, aduh.... " gumam Maya panik


*****


malam nya Hari yang berada di kamar kepikiran dengan jasnya.


"baru nyadar gue, kok gue malah segitu pedulinya ya sama tuh cewek, dahlah yang penting jas gue gak rusak aja, hehe seru juga bikin dia jadi artis dadakan, dikenal semua siswa gara-gara dikira deketin gue, padahal gak ada hubungan apa-apa, dikira pacaran" kata Hari sambil tertawa kecil


"besok akting lebih bagus lagi, biar dikira pacaran, hahaha suka banget liat muka keselnya, hahaha" kat Hari lagi


pintu kamarnya tidak ditutup, pak Damar melihat putranya begitu semangat dan banyak tertawa hari ini, dia merasa bingung karena sebelum nya Hari adalah anak yang tak banyak bicara dan dingin, jarang tertawa lepas seperti itu, bahkan mungkin tidak pernah semenjak tinggal di kota, hanya tersenyum itu pun sudah jarang. pak Damar benar-benar penasaran, siapa yang membuat perubahan besar itu pada putranya. pak Damar masuk menemui Hari


"nak, " sapa pak Damar


Hari melihat ayahnya masih dengan senyum lebarnya


"iya yah, ada apa" tanya Hari


"ayah mau ngajak kamu pulang ke mansion, kamu mau kan kita pindah" kata pak Damar


benar juga, dia dan ayahnya adalah orang kaya sebenarnya, tapi untuk menutupi itu pak Damar sengaja mengajak Hari tinggal di rumah sederhana tempatnya saat ini


"iya, kamu mau kan" tanya pak Damar


"terserah ayah aja, Hari sih ngikut ayah" kata Hari


"mmm... ayah mau ngajak kamu mengunjungi ibu, tapi tunggu ada waktu" kata ayah


"hah! kita pergi kedesa yah?" tanya Hari dengan semangat


"apa dia sangat merindukan ibunya? atau karna ingin bertemu teman kecilnya juga?" batin pak Damar melihat Hari yang sangat bersemangat


"kamu sangat bersemangat, ada apa?" tanyanya pada Hari


"aku rindu ibu.... juga maya" lirih Hari dengan wajah sedih nya


"kita akan pegi menjenguk nya, tapi nanti saat kita ada waktu" kata pak damar dengan senyum


"ayah lihat dari tadi kamu tertawa lepas, siapa yang membuatmu merasa sebahagia ini? ayah gak pernah liat kamu seperri itu semenjak tinggal di kota kalau tidak hari ini" tanya nya pada Hari

__ADS_1


"itu.... ada siswa aneh dan lucu bikin aku tiap hari pengen ketawa yah, namanya juga kebetulan sama dengan Maya, dia selalu bikin Hari kesel tapi juga bikin pengen ketawa tiap hari" cerita Hari


pak Damar tersenyum, tumben banget Hari mau cerita. dalam hati mungkin orang yang ber nama Maya itu akan membuatnya kembali kesifat masa kecilnya yang selalu ceria dan periang. meskipun orang yang berbeda tapi mungkin saja Hari bisa berubah. itulah yang terpikir pak Damar saat ini.


"ya sudah ayah keluar dul.... ah.. ayah lupa, kamu dapat salam dari kakek mu, katanya mulai sekarang jangan panggil ayah dengan sebutan ayah, tapi papa, sebenarnya ayah juga tidak mau tapi kakekmu bersikeras" kata pak Damar


"Hari bakal coba yah.. eh maksutnya pa, hari bakalan coba" kata Hari


"baiklah, ay.. papa keluar dulu" pak Damar kemudian keluar dari kamar Hari


"tuan pasutrio emang orang yang selalu menjaga citranya, sekarang gue jadi cucunya, harus berperi laku kayak mereka yang orang kaya, rumit juga" gumam Hari


Hari teringat dengan Maya kecil, rambut kepang dua, poni yang sampai alis, dengan senyum tulus berlari membawakannya kotak makan. Hari sangat merindukan gadis itu, seperti apa dia setelah besar? apa dia akan tetap manis seperti dulu? atau dia sudah berubah menjadi orang lain dengan kepribadian yang beda juga? entah lah Hari juga tidak tau kabarnya sekarang.


Hari merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.


"May.... lo masih inget gue gak?" gumamnya


syuhhhhhh...... syuhhhh.......


angin sepoy sepoy menerpa wajah seorang gadis kecil yang duduk di sebuah rumah pohon yang tak asing bagi Hari. Hari mengerutkan wajahnya, seperti kenal dengan gadis itu.


gadis itu terlihat murung dengan memegang sebuah layangan. layangan dengan dua warna, kuning dan biru. serasa akrab dengan semua itu Hari mulai mendekati sang gadis kecil. tapi langkahnya terhenti saat gadis itu mengucapkan sebuah kalimat


"aii, kapan kamu pulang, maya udah gak punya temen buat main layangan lagi" kata gadis itu sambil menatap layangan yang ada di tangannya


seketika Hari merasa dunia berhenti berputar. tuggu... gadis ini... Maya.. diamasih kecil? pikirnya


"aii, besok kalok aii dateng, jangan lupa bilang ke maya ya" katanya lagi


entah apa yang Hari rasakan hingga meneteskan air mata


"may, aku pulang" kata Hari


tapi Maya kecil tidak mendengarnya, seolah dia tidak ada di sana. Hari sadar Maya tidak mendengarnya dia mendekati maya tapi maya berdiri dan masuk kedalam rumah pohon itu Hari mengikutinya


Hari terkejut begitu banyak gambaran di dinding kayu itu, gambar dia dengan maya yang makan, main layangan sekolah, dan banyak lagi meskipun gambaran yang sangat berantakan dan tidak bagus tapi mencerminkan kesepian dari seorang maya.


"May,,,, aku dateng" kata Hari dengan suara keras tapi Maya kecil tetap tidak mendengarnya.


maya kecil menaruh layangan itu di atas dinding kayu yang dia pasang kan paku.


"aii, besok Maya balik lagi ya, dadah aii" kata maya yang melambaikan tangan pada layangan itu


"may.... tunggu.. "


tiba-tiba Hari terbangun dari mimpinya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


SALAM HANGAT DARI AUTHOR😊 JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN NYA YAπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸŒΉπŸ™πŸ™


__ADS_2