Salah Rahim

Salah Rahim
Bab.23


__ADS_3

...β€œWanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” - Hadits riwayat Bukhari...


...πŸ‚...


...πŸ‚...


...πŸ‚...


Dari ambang pintu yang sudah terbuka, Arman berdiri, terdiam sambil memandangi sang istri yang sedang tertidur lemas di brankar rumah sakit. Setelah mendengar cerita dari Annisa, ia mulai paham jika sebenarnya Syifa mempunyai banyak masalah yang tidak pernah di ceritakan.


Selama ini ia merasa menjadi suami tak berguna. Ia tak pernah bertanya apakah semua baik-baik saja, apa yang sedang di rasakan, dan apakah Syifa bahagia dengan statusnya sekarang.


Perlahan Arman melangkah mendekat, ia menggenggam tangan sang istri yang terasa begitu dingin dan berkeringat. Rasa bersalah terus saja menghantam hatinya melihat wajah pucat sang istri.


Semua masalah mu adalah bagian dari tanggung jawab ku, andai kesalahan prosedur itu tidak terjadi mungkin sekarang kamu sudah hidup bahagia dengan Firman. Syifa, apakah aku terlalu egois menggadaikan masa depan mu hanya demi kepentingan ku? Ya, aku sangat egois. Seharusnya kamu tidak perlu mengalami ini semua, batin Arman.


Arman berbalik saat mendengar suara langkah kaki mendekat, ia bisa melihat Devan masuk dan langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang rawat VIP itu. "Kak Devan, apa saya boleh bertanya sesuatu?"


Devan menoleh dengan malas, ia benar-benar lemas karena saat perjalanan ke rumah sakit Arman mengemudi dengan kecepatan tinggi, dan membuatnya mabuk perjalanan. "Mau nanya apa?"


Arman melangkah duduk di di depan Devan. "Apa Ibu Firman begitu membenci Syifa karena mengetahui Syifa hamil anak saya?"


"Jangan merasa bersalah, Ibu si Fir'aun memang sudah seperti itu sejak jaman dahulu kala. Andai bukan karena Ayah, mungkin aku sudah lama meminta Syifa untuk menjauhi keluarga itu. Syifa selalu di rendahkan hanya karena kami dari keluarga miskin, andai mereka tahu bagaimana perjuangan Syifa bekerja banting tulang untuk keluarga dan membiayai kuliahnya."


Ternyata sudah sejak dulu, sepertinya aku harus mengambil tindakan, jika tidak Syifa bisa saja kembali mengalami kejadian seperti tadi, batin Arman.


"Kak Devan, apa aku boleh minta alamat kediaman orang tua Firman?"


Devan yang tadi terbaring lemas di atas sofa kini bangkit dan menatap Arman dengan serius. "Mau ngapain? Kalau mau baku hantam aku ikut."


Arman tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak seperti itu, Kak Devan di sini saja, jaga Syifa sebentar. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan kepada Ibu Firman, agar kejadian ini tidak terulang lagi."


Mendengar penuturan sang adik ipar, Devan pun kembali merebahkan tubuhnya. "Baiklah, aku akan di sini. Tapi tolong kalau nanti kamu kesini lagi, bawakan aku pakaian ganti dan makanan, tadinya aku mau menelepon Ayah tapi nanti tensinya naik lagi mendengar Syifa masuk rumah sakit."

__ADS_1


"Insyallah, kalau begitu mana alamatnya?"


Walau bagaimanapun Arman adalah nahkoda di atas bahteranya. Ia harus melindungi, baik fisik ataupun batin wanita yang sudah menjadi bagian dari tanggung jawabnya.


Bukan untuk menghakimi dengan nada tinggi dan ancaman, tetapi Arman hanya ingin memperlihatkan bahwa Syifa bukanlah wanita yang bisa di rendahkan.


...~~...


Pukul lima sore, saat langit senja mendominasi semesta. Arman turun dari mobilnya ketika sampai di tempat tujuan. Kebetulan Ibu Firman sedang berada di halaman, menyirami bunga kesayangan dan beberapa tanaman lainnya.


Melihat kedatangan Arman, Ibu terlihat kaget sekaligus senang. Ya, tentu saja ia kenal karena sering melihat Arman saat menemani Firman ke acara tahunan perusahaan.


"Assalamualaikum," ucap Arman saat menghampiri Ibu di teras depan.


"Pak Arman, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu," ucap Ibu dengan sangat antusias.


"Alhamdulillah baik. Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Arman yang tak ingin berbasa-basi.


Arman menyungginkan senyumnya mendengar pernyataan Ibu itu. "Ya, Saya sangat kaget saat dia mengajukan surat pengunduran diri."


"Tuh kan, kalau begitu silahkan masuk Pak," ajak Ibu Firman.


Arman mengikuti langkah Ibu Firman masuk kedalam rumah dua tingkat dengan dengan desain minimalis itu. Ibu Firman adalah seorang PNS dan pengusaha katering yang cukup sukses.


Bisa hidup mandiri setelah perceraian membuatnya menjadi sosok yang angkuh dan selalu meremehkan orang lain. Syifa bukanlah kriteria menantu idaman, karena hanyalah wanita dari keluarga biasa.


"Silahkan duduk," ucapannya kepada Arman.


Ibu beralih memanggil asisten rumah tangganya yang kebetulan sedang membersihkan jendela. "Bi, buat minuman untuk tamu spesial saya ya."


"Baik, Bu."


Ibu beranjak duduk di hadapan Arman. "Maafkan Firman ya Pak Arman, saya masih membujuk dia untuk kembali bekerja kok. Posisinya sekarang sudah sangat penting ya di perusahaan Anda."

__ADS_1


"Kinerja Firman memang tidak saya ragukan tapi maksud utama kedatangan saya kesini bukanlah untuk membahas tentang itu."


Kening Ibu mengeryit heran saat mendengar pernyataan Arman. "Maksudnya?"


"Saya datang kemari ingin meminta Anda untuk tidak menganggu istri saya, Syifa."


"Apa!" Ibu terlihat begitu kaget, ia berharap hanya salah dengar saja, tapi raut wajah Arman mengisyaratkan hal berbeda. "Ja-jadi Pak Arman ini, suami Syifa?"


"Benar, saya sudah mengetahui tentang aksi penyerangan yang Anda lakukan kepada istri saya. Hubungan mereka sudah menjadi masalalu, jadi apapun yang putra Anda lakukan, tidak ada hubungannya dengan Syifa."


Ibu berdecak kesal saat mendengar ucapan Arman. "Wanita itu mengadu ternyata, dia memang pantas mendapatkan itu. Sejak dulu dia hanya bisa mengacaukan hidup anak saya, bagaimana mungkin saya diam saja."


"Sepertinya anda salah paham, Syifa tidak pernah mengadu apapun kepada saya. Dia selalu tersenyum ceria seolah tak ada masalah, tapi ternyata dia memendam semuanya. Hari ini saya merasa sangat terpukul melihat dia terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, mungkin hatinya kuat, tapi fisiknya tidak."


Braakk!


Ibu menghentak meja karena mulai tersulut emosi, ia tidak suka jika Ade seseorang yang membela Syifa. "Jangan pernah membelanya! Anda baru mengenal dia sementara saya sudah tau segala kebusukan di balik sikap polosnya."


Arman berdiri dari posisinya, menatap tajam kearah Ibu Firman. "Demi Allah saya menjadi saksi jika dia adalah wanita yang sangat baik dan selalu menghormati orang lain. Sikap Anda sekarang sama sekali tidak mencerminkan status sosial yang selalu Anda banggakan. Saya mohon, jangan menyalahkannya lagi, dia juga manusia biasa. Jika hal ini terjadi lagi, saya akan pastikan kantor kepolisian terdekat berkunjung ke rumah ini, Assalamualaikum."


Arman berbalik hendak melangkah keluar dari rumah itu, namun langkahnya terhenti saat melihat Firman turun dari lantai atas. Mereka saling memandang tanpa mengucapkan apapun.


Setelah beberapa detik Arman melanjutkan langkahnya keluar dari rumah itu. Firman yang penasaran langsung menghampiri Ibunya yang terduduk lemas di sofa. "Apa yang Ibu bicarakan dengan Pak Arman?"


Ibu yang sempat terpaku karena syok, beralih menatap Firman. "Kenapa kamu tidak bilang, kalau suami Syifa adalah Pak Arman!"


Bersambung πŸ’•


Bab selanjutnya ➑️ (Istri Soleha titipan Allah)


Gaes yuk mampir ke novel keren yang satu ini..


__ADS_1


__ADS_2