Salah Rahim

Salah Rahim
Bab.40


__ADS_3

Syifa tak kuasa menahan tawanya saat melihat Arman tak lagi bisa berlari. "Mas ayo dong kita jarang-jarang bisa olahraga pagi bersama seperti ini."


Ya, mereka sedang lari pagi di sekitaran kompleks perumahan mewah itu. Ini untuk pertama kalinya mereka menghabiskan waktu di sekeliling perumahan karena biasanya Arman adalah orang yang tertutup dan karena sikap ramah Syifa, akhirnya tetangga bisa lebih mengenal siapa pemilik rumah mewah di blok D.


"Kacau ini." Arman menggelengkan kepalanya seraya mencoba mengatur napas yang tersengal-sengal. "Gara keseringan duduk di belakang meja, aku jadi lupa olahraga raga. Baru beberapa putaran saja sudah capek."


"Oh jadi ceritanya stamina mulai berkurang karena umur, haha. Aku perhatikan perut Mas juga mulai buncit," seloroh Syifa lalu kembali tertawa.


Arman terlihat tidak terima ketika Syifa berkata bahwa ia kurang stamina dan perutnya mulai buncit. "Hah, ini tidak buncit sama sekali, nanti aku gempur lagi di tempat gym, biar otot-otot ku kembali seperti dulu."


"Haha, aku hanya bercanda Mas. Udah ah yuk lari lagi." Syifa menarik pergelangan tangan suaminya agar kembali berlari untuk menyelesaikan putaran terakhir.


Karena hari ini libur Arman bisa menghabiskan waktunya seharian bersama sang istri di rumah. Setelah kejadian beberapa bulan yang lalu mereka lebih banyak melakukan kegiatan positif seperti berolahraga, jalan-jalan ataupun pergi mengunjungi orang tua Syifa.


Luka akan kehilangan cabay mungkin masih terasa tetapi mereka percaya jika Allah sudah berhendak maka itulah yang terbaik. Hari ini dan seterusnya mereka akan melewati segala takdir yang sudah di gariskan dengan bergandengan tangan.


~


Setelah selesai olahraga pagi, Syifa memutuskan untuk segera mandi sementara Arman menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus Ia kirim filenya hari ini juga.


"Huftt selesai, lebih baik aku mandi." Ia melangkah keluar dari ruang kerjanya lalu beralih masuk ke dalam kamar yang terletak bersebelahan.

__ADS_1


Namun mata Arman terbelalak seketika, saat melihat lekukan tubuh yang mengoda iman di pagi hari. "Astaghfirullah, kalau lagi datang bulan kamu sebaiknya ganti pakaian di kamar mandi saja, Fa. Menyiksa suami itu namanya.


Sesaat setelah berpakaian, Syifa berbalik menatap suami dengan kening mengkerut tajam. "Siapa yang datang bulan? Malam tadi itu terakhir, ini sudah selesai mandi." Ia berjalan dengan santai keluar dari kamar melewati Arman begitu saja.


Masih di posisi yang sama, Arman diam terpaku sambil berusaha mencerna ucapan Syifa. "Ternyata sudah selesai, tau seperti itu aku olahraga pagi di kamar saja, kapan lagi. Besok aku sudah sibuk."


Arman segera berbalik untuk menyusul sang istri yang sepertinya turun menuju lantai bawah. Suasana rumah itu benar-benar sepi hanya ada mereka berdua karena Arman dan Syifa sudah sepakat untuk tidak mengambil asisten rumah tangga.


Syifa merasa bisa menangani suaminya sendiri tanpa bantuan orang lain. Tetapi jika kelak mereka dipercayakan untuk meminang buah hati mungkin Syifa akan mengambil seorang babysitter.


Sesampainya di lantai bawah Arman menoleh kanan kiri untuk mencari keberadaan istrinya. Aroma tumisan bawang membuat Arman tahu jika sekarang istrinya sedang berada di dapur.


Dengan malas Syifa menoleh melihat Arman yang berdiri di ambang pintu dapur. "Jangan lebay Mas. Seperti tidak pernah saja."


Arman melangkah mendekat dan langsung memeluk sang istri dari belakang. "Istri ku sayang, aku kerja enam hari dalam satu minggu. Kadang aku ketiduran sampai tidak sempat bermanja-manja dengan kamu."


Syifa berusaha menahan tawanya sambil terus melanjutkan aktivitasnya menumis buncis untuk menu tambahan sarapan pagi ini. "Anak kecil saja tidak semanja ini."


Arman menumpukan dagunya di bahu sang istri. "Kamu punya magnet tersendiri yang membuat ku tidak bisa jauh walau sebentar. Syifa apa kita bisa melakukannya di sini?


Bisikan Arman membuat sekujur tubuh Syifa memanas dan meremang. "Nanti saja Mas. Masa di dapur."

__ADS_1


"Tidak ada salahnya, mencari suasana baru. Kita juga hanya berdua di rumah ini." Ia membalik tubuh Syifa dengan satu sentuhan yang berhasil menghanyutkan mereka berdua ke dalam pusaran arus paling memabukkan.


Menggapai Gelora yang menggebu-gebu dalam hangatnya sentuhan yang memakai teknik tingkat tinggi seolah sudah begitu pro dalam urusan ini.


Setelah beberapa saat Arman melepaskan sentuhannya dari sang istri. "Aku akan melakukannya sekarang," ucap Arman dengan nada suara yang begitu berat. ia kembali menyentuh bagian leher sang istri dengan punggung tangannya.


Syifa yang sudah pasrah hanya bisa memejamkan mata. baginya, seorang istri tidak boleh menolak keinginan suami, kapan pun itu asal situasi dan kondisi mendukung.


Syifa hampir tak bisa bernafas saat sang suami kembali mendekatkan wajahnya, ia sudah begitu siap sampai akhirnya--


"Assalamualaikum, Devan Saputra datang!"


Arman melangkah mundur dengan wajah tertunduk. "Astaghfirullah, gagal lagi."


Bersambung 💕


jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰💖


Yuk mampir ke novel keren yang satu ini...


__ADS_1


__ADS_2