
Taksi yang membawa Ayah Syifa berhenti tepat di depan UGD rumah sakit X. Terlihat Gavin dan beberapa perawat lain mendorong brankar ke samping badan mobil.
"Apa yang terjadi, Pak?" tanya Gavin kepada Ayah.
"Tidak tahu, tadi tiba-tiba pingsan. Vertigonya memang sering kambuh kalau banyak pikiran, Mungkin dia mikirin Arman yang lagi di luar kota. Tolong selamatkan Anak saya ya Dok," jawab Ayah panik.
"Bapak tenang ya, Syifa akan baik-baik saja," ucap Gavin lalu membawa Syifa yang sudah terbaring di atas brankar masuk kedalam UGD.
Pemeriksaan dengan stetoskop pun langsung diterapkan oleh Gavin untuk memeriksa detak jantung dan juga denyut nadi dari Syifa. Sementara Seorang perawat lainnya memasang jarum infus di punggung tangan Syifa.
Ayah yang terlihat panik hanya bisa berdiri di samping brankar seraya berkomat kamit tidak jelas. Entah doa apa yang sedang ia baca demi keselamatan Sang Putri.
Tak lama Annisa terlihat memasuki ruangan UGD. "Vin, bagaimana keadaan Syifa?" saking buru-burunya untuk pergi ke UGD, nafas Annisa sampai tersengal-sengal.
Gavin menoleh melihat sahabatnya itu dengan tatapan bingung. "Nis, coba kamu yang periksa deh, aku pikir dia ...."
"Dia apa sih? Kamu kok ngomong setengah-setengah," ucap Annisa lalu mengambil alih stetoskop dari tangan Gavin.
Beberapa detik kemudian, mata Annisa pun membulat saat merasakan denyut nadi Syifa berbeda. Karena masih ragu ia pun memeriksa bagian perut Syifa dan menekannya perlahan. "Sus, tolong ambil sampel darahnya untuk pemeriksaan hCG."
"Baik Dok."
Annisa melangkah dengan lemas dan langsung duduk di samping Gavin. "Vin, kira-kira kita salah tanggap apa tidak ya? Aku benar-benar gugup, selama berbulan-bulan dan akhirnya--"
Gavin menutup mulut Annisa dengan telapak tangannya. "Tunggu hasil tes keluar deh baru kamu bebas berekspresi. Tadinya aku mau menelepon Arman tapi nanti dulu lah, takutnya tidak sesuai ekspektasi."
"Ah kamu benar juga. Kalau begitu lebih baik sekarang kamu ajak Ayah Syifa untuk ngopi di kantin biar tenang, aku yang akan menemani Syifa di sini."
Gavin pun segera beranjak menghampiri Ayah Syifa untuk mengajaknya keluar dari UGD. Sementara Annisa masih duduk di sana seraya memandangi Syifa yang belum juga sadarkan diri.
~
Pukul satu siang waktu Indonesia bagian barat. Syifa akhirnya sadar setelah dua jam terbaring. Kini ia sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.
Saat kesadarannya sudah pulih seratus persen, Syifa nampak heran karena Gavin, Annisa dan Ayah menatapnya dengan ekspresi wajah haru. "Kenapa melihat ku seperti itu?"
Ayah yang tidak bisa menahan perasaan senangnya langsung memeluk Syifa. "Akhirnya Syifa, kamu di berikan kepercayaan lagi, Ayah senang sekali." Ayah melepaskan pelukannya seraya menyeka air mata.
"Apa maksudnya ini"? tanya Syifa bingung.
__ADS_1
"Syifa, hasil pemeriksaan menyatakan jika kamu hamil," sahut Annisa.
Tentu saja Syifa terkejut saat mendengar ucapan Annisa. Ia bahkan tidak merasakan apa-apa, tiba-tiba setelah sadar dari pingsan ia di nyatakan hamil. "A-aku hamil?"
"Masih tidak percaya." Gavin menyodorkan sebuah amplop putih ke hadapan Syifa. "Ini hasil pemeriksaan tes darah kamu, dan hasilnya kamu positif hamil."
Syifa terdiam sebentar seraya membaca setiap kata yang tertulis di kertas tersebut. Selang beberapa saat tiba-tiba air matanya mulai mengalir di dari sudut mata. "Alhamdulillah ya Allah. Ini benar?"
Gavin, Annisa dan Ayah tertawa bersama.
"Kamu masih ragu, apa kita harus melakukan pemeriksaan lagi?" tanya Gavin.
Perlahan Syifa menggelengkan kepalanya. "Tidak Dok, saya hanya terlalu senang."
"Syifa mulai sekarang kamu harus menjaga kandungan kamu baik-baik ya," ucap Ayah sambil menggenggam tangan sang putri, erat.
"Insyallah Ayah. Aku sampai tidak tahu harus berkata apa saking senangnya." Syifa memeluk kertas itu lalu kembali menangis haru saat mengetahui kehamilannya.
~
Arman memijat tekuk lehernya sambil berjalan keluar dari ruang pertemuan bersama Devan dan Shila. "Kita istirahat sebentar nanti sore lanjut ke Atmaja Grup."
"Siap. Man, tadi kamu benar-benar hebat saat presentasi, tidak sia-sia aku ikut," sahut Devan.
"Ini semua juga berkat kerja sama kalian yang semakin kompak. Ngomong-ngomong sudah jadian belum?" tanya Arman seraya melirik kearah Devan.
"Masih proses, sholawatin aja dulu," ucap Devan lalu tekekeh sendiri. Sementara Shila hanya diam tersipu malu.
Langkah Arman tiba-tiba saja terhenti ketika merasakan ponselnya yang berada di saku celana, bergetar. "Waalaikumsalam, baru saja Mas mau menelepon"
Kening Arman mengkerut saat mendengar suara Syifa terisak-isak. "Kamu menangis, ada apa?"
Devan langsung mendekat saat mendengar pertanyaan Arman kepada sang Adik. "Dia kenapa?"
Arman menoleh melihat Devan sambil menggelengkan kepalanya perlahan. "Hallo, Syifa. Kamu dengar Mas kan?"
[Mas ... aku sedang dirumah sakit sekarang.]
Wajah Arman berubah panik seketika. "Rumah sakit, siapa yang sakit? Kamu, ayah atau siapa?"
__ADS_1
[Tidak ada yang sakit, Mas.] Suara isak tangis Syifa masih terdengar jelas.
"Nah terus ... gini deh kamu bicara perlahan biar Mas tidak panik."
[Aku hamil]
Arman tediam sebentar, berusaha meyakinkan dirinya tidak salah dengar. "Tadi kamu bilang apa?"
[Aku hamil, Mas]
"Alhamdulillah ya Allah." Mata Arman mulai berkaca-kaca, antara percaya ataupun tidak. "Aku akan segera pulang, tunggu aku. Assalamualaikum."
Saat panggilan telepon itu berakhir, Devan segera menepuk pundak Arman. "Ada apa?"
"Alhamdulillah, Syifa hamil Kak."
Devan dan Shila pun terlihat kaget.
"Astaghfirullah," ucap Devan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Puk!
Satu tepukan yang cukup keras di berikan Shila tepat di pundak Devan. "Alhamdulillah, bukan Astaghfirullah."
"Eh iya Alhamdulillah."
Arman yang sempat terdiam sambil tersenyum-senyum sendiri, kembali melihat Devan dan Shila secara bergantian. "Kak Dev, Shila. Kalian handel pertemuan sore ini dan besok pagi ya, aku mau pulang ke Jakarta hari ini juga."
"Hah hari ini juga," sahut Devan dan Shila secara bersamaan.
"Aku akan ke hotel membereskan barang-barang ku, Shila tolong kamu carikan aku tiket, mau kelas ekonomi, bisnis, atau apapun itu, pokoknya saya harus pulang hari ini juga."
Tanpa menunda waktu Arman pun langsung berjalan cepat meninggalkan Devan dan juga Shila.
"Calon bapak-bapak hiperaktif, baru denger istri hamil langsung on the way pulang dengan lincahnya." Devan melirik kearah Shila. "Nikah yuk, aku sudah siap lahir batin."
Mata Shila membulat seketika. "Kamu siap, aku yang belum siap." Ia melangkah meninggalkan Devan.
Devan memandangi kepergian Shila sambil berkacak pinggang. "Hah, dasar perempuan sukanya jual mahal. Kita lihat saja nanti, kamu akan semakin tergila-gila dengan pesona Devan Syaputra."
__ADS_1
Bersambung 💕
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰💖